SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
PERTARUNGAN DI TEPI DANAU


__ADS_3

" Baiklah Pak Tua, aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi di lain hari, Pak Tua."


" Silahkan Tuan, semoga kebaikan selalu menyertaimu, Tuan."


" Terima kasih atas doanya Pak Tua." Bono pergi meninggalkan Pak Tua sendirian. Lalu berjalan menyeberangi hutan yang gelap.


Di markas Rendra, Rendra sedang sibuk memandikan dua gadis kakak beradik simpanannya. Setelah selesai, dia memindahkan jasad Dini dan Karin di kamar lantai tiga. Kemudian menutupinya dengan selimut tebal agar jasadnya terlindungi.


" Dini, Karin.. Aku telah menelpon ambulans untuk kalian. Aku akan mengantar kalian kepada orang tua kalian. Maafkan aku, yang tak bisa membahagiakan kalian dan melindungi kalian. Sekarang aku akan pergi untuk menuntut balas." Rendra menutup pintu, lalu keluar dan turun menuju halaman markas besarnya.


Tiba di halaman, dia berdiri dan kepalanya menengadah ke atas. Lalu dia berteriak dan bersumpah atas dirinya.


" Tuhan... Aku bersumpah akan membalaskan dendam atas kematian calon istri-istriku yang tak bersalah! Berilah aku kekuatan untuk melenyapkan mereka yang telah membunuhnya! Berikan aku kekuatanMu, berikanlah Tuhan." Teriak Rendra di tengah sunyinya malam.


Tiba-tiba petir menyambar-nyambar, angin bertiup kencang. Dedaunan kering jatuh dan berterbangan setelah Rendra berteriak dan bersumpah.


Beberapa menit kemudian, angin dan petir itu tiba-tiba berlalu. Rendra merasakan perbedaan pada tubuhnya.


" Ahh, sepertinya tubuhku terasa ringan sekali. Apakah Tuhan mendengar sumpah dan permohonanku? Baiklah.. Bono, tunggu aku! Kau yang akan terakhir mati setelah aku membunuh Wijaya! Tunggulah sampai aku mencabut nyawamu Bon!" Kembali Rendra meneriaki Bono yang jelas tidak ada di dekatnya.


Setelah dirinya merasa tubuhnya terisi tenaga yang sangat besar, ia memusatkan perhatiannya pada Wijaya yang sekarang ini berada di pinggiran sungai, dekat dengan sebuah danau tempat Rendra bertemu dengan Dini dan Karin.


" Jay! Dengarkan aku! Tunggulah aku, aku akan membunuhmu! Jangan pergi kamu!" Rendra menghubungi Wijaya melalui kontak batin.


" Ndra, aku menunggumu. Kita tentukan siapa yang terkuat. Aku atau kamu! Ku tunggu kamu di tepi danau Si umbul." Sahut Wijaya sambil duduk di batu besar di tepi danau.


Rendra memutus kontak batinnya dengan Wijaya. Dia lalu berlari secepat angin menuju tempat Wijaya berada. Tak berapa lama, dia sudah menemukan Wijaya yang duduk di atas batu besar, dua puluh meter dari dirinya.


" Cepat sekali kamu, Ndra. Kemampuanmu meningkat pesat. Mungkin saat ini, aku bukanlah tandinganmu." Ucap Wijaya sembari turun dari batu besar dan menghadap ke arah Rendra.


" Jangan banyak mulut kamu Jay! Aku sudah muak mendengar suaramu! Inilah saatnya kematianmu! Hyyaatt.."


Rendra menerjang kearah Wijaya, namun Wijaya berhasil meloloskan diri. Hasilnya, batu besar tempat Wijaya duduk sebelumnya, hancur menjadi berkeping2 hingga menjadi serpihan batu kecil-kecil.


" Hampir saja! Kemampuannya memang tak bisa diremehkan. Apa yang harus aku lakukan. Dengan tendangan seperti tadi dapat membuatku bergetar begini. Kenapa aku jadi tak percaya diri dengan kemampuanku sendiri." Gumam Wijaya, lalu menjauh dari Rendra beberapa langkah untuk menggunakan jurusnya.


" Ayo, serang aku Jay! Tunjukkan kekuatanmu padaku! Hahahaha.."


Wijaya tak mempedulikan kata-kata Rendra. Dia mengalirkan tenaga dalam ke kakinya lalu menghentakkannya ke tanah.


" Ilmu itu sudah bisa ku tebak dan ku baca Jay. Kau takkan bisa menyerangku menggunakan itu. Hahaha.."


Angin besar bergulung diatas permukaan tanah dan mengarah dengan cepat menuju ke arah Rendra. Namun Rendra terlihat masih berada di tempatnya saat angin bergulung menuju kearahnya.


" Blaarr..blaarrr.. blaaarr.." Terdengar suara ledakan hingga tiga kali dari arah Rendra berdiri. Asap tebal menyelimuti di sekitar Rendra berdiri.


" Hahahaha! Matilah kamu Ndra! Ternyata kamu tak sepintar yang aku duga. Akhirnya dendamku terbalas! Vina..Pulanglah dan temani Mamamu dengan tenang Nak. Papa sudah membunuh orang yang membuatmu meninggal. Sampaikan salamku pada Mamamu jika bertemu dengannya.. " Teriak Wijaya dengan rasa gembira.


Semenit kemudian, asap tebal sisa ledakan ilmu Wijaya berangsur menghilang. Namun jasad Rendra tak ada di tempatnya.

__ADS_1


Wijaya berlari dan memastikan ke arah Rendra yang terkena jurusnya. Meskipun malam hari, bulan purnama yang menyinari bumi mampu membuat danau dan di sekitarnya tampak terang. Wijaya masih mampu untuk melihat di sekelilingnya.


" Apa? Kemana mayat Rendra? Apa dia jadi abu? Tidak mungkin! Apa dia berhasil lolos dari seranganku?" Wijaya bertanya-tanya dalam hatinya.


Dia melihat disekitarnya. Tak ada tanda-tanda pergerakkan. Rendra seperti hilang ditelan bumi.


" Sial! Apa dia melarikan diri? Jika benar, seharusnya dia terluka parah oleh seranganku. Aku harus mencari di sekitar danau ini, siapa tahu dia bersembunyi di dasar danau."


Wijaya menyusuri di pinggiran danau, dia tak menemukan tanda-tanda apapun. Lalu dia mulai berputus asa mencari Rendra. Dia kemudian duduk bersandar dibawah pohon besar untuk memulihkan tenaganya.


Tiba-tiba dari atas, sebuah batu besar sebesar tong aspal jatuh mengarah pada Wijaya yang bersandar di bawah pohon.


Wijaya berhasil menghindarinya. Dia melompat ke arah samping kiri sejauh Sepuluh meter dan berguling-guling ke tanah. Ketika dia berusaha bangun, batu besar yang hampir mengenai Wijaya, kembali melayang ke udara menuju ke arahnya. Wijaya tak menyangka bahwa batu besar itu bisa bergerak cepat, dia terlempar ke udara puluhan meter ke tengah danau saat batu besar itu mengenai tubuhnya.


" Akhhh.." Wijaya berteriak kesakitan sebelum akhirnya jatuh ke danau.


Wijaya tenggelam, namun dia berusaha untuk berenang naik ke atas permukaan.


" Hahaha.. Matilah kau Jay! Tenggelamlah, dan matilah bersama dengan Putrimu yang terlebih dulu menyusul mamanya"


" Tak semudah itu Ndra! Aku belum mengaku kalah." Ucap Wijaya.


" Hahaha.. Silahkan saja kalau kau bisa Jay! Aku akan memberimu kesempatan untuk mengalahkanku, tapi kalau kau bisa..


" Brengsek, kau meremehkanku Ndra! Baiklah, aku akan turuti semua keinginanmu. Kita buktikkan siapa yang terakhir tertawa! Hyaaattt.." Wijaya melompat dari danau dan menyerang ke arah Rendra dengan cepat. Dia mengepalkan tangannya dan hendak menghantam di bagian dada Rendra.


" Kurang ajar! Dasar pengecut! Ayo serang aku secara jantan! Jangan hanya mengandalkan ajian sampah seperti itu. Serang aku menggunakan jurus yang hebat!" Teriak Wijaya karena kesal dengan Rendra, yang sudah dua kali berubah wujud, hingga membuatnya gagal melancarkan serangan.


" Hahaha.. Jay! Ilmu apa yang kau inginkan? Menghadapi jurus ini saja kau tak mampu."


" Sialan, sombong sekali dia. Ilmu apa yang bisa mengalahkannya. Aku belum mempelajari jurus yang bisa menandingi kehebatannya." Gumam Wijaya.


" Kenapa Jay? Apa kamu ingin menyerah? Hahaha.. Lihatlah dirimu sekarang, Kau yang mencoba datang padaku hanya untuk mengantarkan nyawa. Apa kamu sudah kehabisan akal untuk mengalahkanku, Jay?"


" Brengsek! Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Maafkan Papa Vina, Papa tidak bisa membalaskan dendam Papa atas kematianmu. Papa akan berusaha menyerangnya walaupun Papa harus mati." Ucap Wijaya lirih.


" Hiyaatt..." Tiba- tiba Rendra datang ke arah Wijaya dengan cepat, dan menghantam tubuh Wijaya yang sedang gundah memikirkan cara untuk mengalahkannya.


" Akhh.." Wijaya mengerang kesakitan karena tubuhnya terbentur batu yang besar.


" Ooeekk.." Wijaya muntah darah. Hantaman kaki Rendra yang penuh dengan energi dan kemarahan yang besar membuat tubuh keras Wijaya tak mampu menahannya.


Wijaya merasakan nyeri di dada sebelah kanannya, tulang rusuknya retak di bagian paling bawah.


" Akhh.. Sialan! Rasanya sakit sekali. Bono, kemana dia?"


" Hahaha.. Tamatlah riwayatmu Jay! Katakan padaku, apa ada yang ingin kau sampaikan pada Bono si bodoh itu, sebelum kamu aku binasakan. "


" Cihh! Apa kamu yakin bisa membunuhku Ndra?"

__ADS_1


" Hahaha.. Apa yang kamu bilang Jay, aku sudah mengalahkanmu dan sebentar lagi akan mencabut nyawamu. Kenapa kamu masih meragukanku?"


" Ndra, aku mohon lepaskan aku. Kita memang sudah bukan Bos dan anak buah lagi. Tapi kita bisa bekerjasama Ndra. Aku ingin kita bisa berjalan bersama menguasai dunia yang hitam." Ucap Wijya untuk mempengaruhi Rendra agar membiarkannya hidup.


" Cihh! Aku tidak perlu bekerjasama dengan siapapun Jay. Apalagi bekerjasama dengan seorang pengkhianat! Aku sudah tidak bisa memaafkanmu. Kau telah membunuh banyak pengikutku. Dan telah membuat kekasihku mati secara tidak terhormat. Anak buahmu menyetubuhi kekasih yang akan aku nikahi. Ba****an itu dan kamu harus segera ku lenyapkan!"


" Ndra, aku tidak menyentuh kekasihmu. Bono lah yang tega menodainya. Aku tidak melakukan apapun dengnnya."


" Diam! Apa kau lupa, Kau lah yang menyuruh Bono menodainya! Aku tak kan bisa melupakan apa yang telah kalian lakukan! Sudahlah, katakan apa pesan terakhirmu!"


" Brengsek! Orang ini susah untuk diajak berunding. Akkhh!" Ucap Wijaya dalam hati, namun akhirnya dia kesakitn saat mencoba berdiri untuk menghadapi Rendra.


" Apa kamu masih mempunyai tenaga untuk melawanku Jay? Kalau begitu lawan aku sekuat yang kau mampu. Ayo serang aku! Hahaha.."


Wijaya terdiam tak bisa berkata-kata lagi. Dia pasrah dan menerima semuanya jika dia harus mati ditangan Rendra.


" Jay! Ku beri kamu waktu satu menit untuk memberikan pesan terakhir untukku, Ini kesempatanmu yang terakhir! Katakan!!"


" Baiklah Ndra, aku mengaku kalah. Bunuhlah aku! Aku takkan mengatakan apapun. Aku sudah tidak mempunyai siapapun lagi sekarang. Habisi aku!" Ucap Wijaya dengan pasrah.


" Baiklah jika itu maumu. Aku akan segera mengakhiri hidpupmu, Jay! Bersiaplah.. Hiyaaatt!!!"


Rendra bersiap menyerang Wijaya yang sudah tak sanggup berdiri lagi. Dengan Kapak kecil di tangannya, Rendra mencoba menebas ke arah kepala Wijaya.


Namun tiba-tiba saja, bayangan hitam melesat dan menendang perut samping Rendra. Dia terlempar dan terjatuh sejauh sepuluh meter.


" Kurang ajar! Siapa yang berani menyerangku secara mendadak? Dasar pengecut! Ba****an!"Rendra berteriak memaki-maki orang misterius yang menyerangnya.


" Rendra! Akulah yang menyerangmu. Bagaimana? Kau menyukainya kan?" Ucap laki-laki misterius yang tak lain adalah Bono.


" Kau! Masih hidup kau rupanya Bon! Ku kira kau sudah mati! Masih berani juga menampakkan wajah busukmu!"


" Hahaha.. Aku tak semudah itu dikalahkan. Apalagi mati olehmu. Kau hanya besar mulut bagiku Ndra! Ayo kita tentukan, siapa yang paling unggul diantara kita!" Ucap Bono dengan penuh kesombongan.


" Baiklah. Akan ku biarkan kamu bernafas lega sebentar Jay. Sekaran giliranku untuk menghabisi Bocah keparat ini! Ayo, Bon! Aku akan membalaskan kematian Dini yang telah kau setubuhi. Sampai matipun kau tetap akan ku kejar! Hyattt.."


" Aku juga takkan membiarkan orang yang telah memperkosa Ibuku hingga membunuhnya hidup berkeliaran di dunia ini. Ndra! Rasa sakit yang kurasakan takkan pernah ku lupakan, Kau tega memperkosa ibuku, membunuh Ayahku dan adik-adikku, saat aku masih kecil. Kau Ba****an Ndra! Hyaatt!!"


" Bon! Dengarkan aku! Aku tidak pernah memperkosa Ibumu! Tapi aku memang telah membunuh ayahmu dan kedua adikmu."


" Persetan dengan mulut busukmu! Aku takkan memercayaimu Ndra! Dari dulu aku bergabung denganmu, Kau bahkan tak memberikan kami keistimewaan. Kau selalu jadikan kami umpan. Dalam mencari keuntungan, kamulah yang mendapat bagian yang terbesar. Sedangkan kami, kau bayar kami dengan uang yang sepadan dengan buruh kapal!"


" Kau salah sangka Bon. Percayalah padaku. Aku bukan pemerkosa Ibumu. Aku bersumpah demi apapun."


" Tidak! Kaulah yang telah memperkosa ibuku dan membunuhnya! Sekarang terimalah pembalasan atas kekejianmu! Hiiyaaattt!


Bono terus menyerang Rendra tanpa ampun. Tenaganya semakin bertambah seiring kemarahannya yang meledak-ledak. Malam semakin larut, namun pertarungan mereka masih terus berlangsung. Wijaya yang masih merasa kesakitan, menggunakan kesempatan itu untuk memulihkan tenaganya dan menyembuhkan lukanya


......................

__ADS_1


__ADS_2