
Pagi hari di puncak bukit, Keluarga Tanu sedang berkumpul bersama. Seperti biasa, mereka selalu sarapan pagi bersama. Ada canda tawa di setiap pagi, saat berkumpul dalam satu meja makan.
Namun pagi itu, suasana menjadi sepi ketika Tanu bercerita sering bermimpi buruk dalam dua bulan terakhir. Dan kejadiannya sama. Mimpi yang sama juga dialami oleh Rani, Riko dan Raka serta Bulan juga memimpikan hal yang sama.
Mereka sangat resah dengan mimpi yang mereka alami.
" Ayah, kenapa kita bisa memimpikan hal yang sama sekeluarga. Apa ada yang ingin mencelakai keluarga kita?" Tanya Bulan sambil menangis tersedu.
" Ayah tidak tahu Bulan, lebih baik kita berdoa saja. Ayah juga akan tanyakan hal ini pada mas Wira."
" Ayah, Ibu juga merasa ada sesuatu yang mengincar keluarga kita. Ibu khawatir dengan keadaan keluarga kita. Apa kita perlu mengungsi?"
" Ibu, kita tak perlu mengungsi. Kemanapun kita pergi, jika takdir kita harus begitu, mana bisa kita menghindarinya. Serahkan semua teka-teki hidup ini pada Tuhan."
" Tapi Ibu tak tenang Ayah. Ibu penasaran, apa yang melatarbelakangi mereka mengincar keluarga kita."
" Mudah-mudahan ini takkan terjadi Ibu, Apa Ibu dulu pernah berselisisih dengan orang? Kalau Ayah rasanya belum pernah."
" Ayah, sejak dulu Ibu kan jarang keluar rumah. Apalagi semenjak tinggal disini, Ibu nggak pernah bertemu orang lain.
Nggak mempunyai tetangga.
Dan dulu waktu kita tinggal di kota, Ibu nggak pernah mempunyai musuh. Semuanya ibu anggap teman. Dan Ibu tidak pernah membicarakan keburukan orang lain, Ayah. Jadi Ibu rasa, Ibu tak pernah mempunyai masalah dengan mereka."
" Lalu mengapa ada orang yang menginginkan keluarga kita, Bu?"
" Ibu juga tidak tahu, Ayah. Sudahlah, Ibu tak ingin memikirkan tentang ini Ayah. Namun Ibu khawatir dengan Rama. Dia masih kecil Yah. Lalu bagaimana dengan Tama?"
" Mudah-mudahan saja ada pertolongan dari Tuhan untuk kita Bu. Yang penting diantara kita jangan ada yang berhenti untuk berdoa."
" Baik Ayah, kami akan selalu berdoa untuk keluarga kita." Ucap Riko sembari merangkul saudara kembarnya, Raka.
" Ayah, Ibu, Bulan takut. Sebenarnya ada apa ini? Apa kita terkena guna-guna, sehingga membuat kita resah." Ucap Bulan sembari memeluk Tanu dan Rani lalu kembali menangis.
Tama hanya duduk terdiam melihat orang tua dan saudaranya saling berbicara satu sama lain. Dia tahu Kakaknya, Bulan menangis. Namun dia tak tahu harus berbuat apa. Sedangkan Rama, dia juga terus menangis setiap malam. Seolah seperti ada sesuatu yang akan terjadi pada keluarga Tanu.
Hingga waktu terus berjalan, Tanu dan keluarganya tak henti-hentinya meminta doa kepada Tuhan. Mereka masih dilanda keresahan yang membuat hidup mereka tak tenang. Namun disaat mereka menyadari keresahan mereka, faktanya tak ada apa-apa, bahkan tak ada tanda bahaya yang mengancam keluarga mereka.
Pada siang hari, pada hari minggu berikutnya Rani berbicara empat mata dengan Tanu di puncak bukit.
" Ayah, Ibu sebenarnya tak percaya dan sebenarnya ingin tertawa. Kenapa keluarga kita harus seresah ini hanya karena memimpikan hal yang sama dalam keluarga kita. Ibu rasa, mungkin ini adalah pertanda dan pengingat agar kita lebih mendekatkan diri pada Tuhan kita, Ayah."
" Ibu, mimpi ini tidak biasa. Bisa jadi memang ada orang lain yang ingin mencelakai keluarga kita. Ibu boleh lega, karena sampai sekarang tak ada tanda-tanda apapun yang mengancam keselamatan keluarga kita. Tapi, Ibu tetap harus waspada. Bisa jadi ini ada hubungannya dengan orang-orang di masa lalu kita saat masih muda Bu."
" Ah, Ayah.. Itu tidak mungkin. Kenapa masih berpikiran tentang masa lalu Ayah. Masa lalu adalah masa lalu. Semua sudah terjadi. Kita tidak perlu mengingatnya. Lagipula tak ada masalah yang berarti dalam pernikahan kita. Ayah tak perlu khawatir."
__ADS_1
" Hem, Ibu ini. Baiklah. Kalau itu bisa meyakinkan Ibu hingga membuat Ibu menjadi tenang. Ayah pun akan berusaha untuk tenang. Nanti sore Ayah akan menemui Mas Wira. Ayah mau minta bantuannya untuk mengawasi keluarga kita."
" Bantuan? Untuk apa Ayah? Kita jangan sampai melibatkan mas Wira. Dia itu calon Ayah, jika dia kenapa-kenapa bagaimana dengan calon bayi dan istrinya. Kasihan kan, mereka."
" Ibu benar juga, baiklah kalau begitu biar Ayah yang akan menhadapi masalah ini sendiri jika memang ada bahaya yang mengancam keluarga kita."
" Ayah, Ibu.. Kalian berdua tenang saja. Aku juga Riko akan turut membantu keamanan keluarga kita. Kami kan bisa Taek Kwondo. Kami juga ingin mengasah kemampuan kami. Atau mau minta bantuan polisi? Kami punya nomer kantor polisi yang bisa dihubungi."
" Terima kasih Riko, Raka. Tapi sepertinya ini sangat berbahaya sekali. Lebih baik kalian jangan ikut campur dalam bahaya ini." Tanu menolak kedua putra kembarnya ikut melawan ancaman apa yang mengincar keluarganya.
" Tapi Ayah, jika ayah melawan seorang diri, apa Ayah akan sanggup?" Ucap Bulan.
" Bulan, Ayah ini dulu juga bisa bela diri. Sama seperti Mas Wira. Tapi Ayah tidak menekuninya. Sementara Mas Wira terus berlatih setiap hari."
" Bulan, Ibu juga tahu kehebatan Ayahmu. Dulu dia juara satu dalam laga antar sekolah se provinsi. Ayahmu mampu bersaing dengan anak seusianya dalam satu provinsi. Kamu tak perlu cemas. Kita sebagai wanita, hanya mendoakan saja supaya yang laki-laki bisa menang menghadapi lawan-lawan, yang mengganggu kita." Ucap Rani sambil menepuk-nepuk punggung Bulan dengan lembut.
" Baiklah, jika Ibu yakin kita bisa menghadapi ini semua, Bulan lebih tenang sekarang."
" Iya Bulan, kamu nggak perlu khawatir. Serahkan semuanya pada Ayah. Tapi kami tetap akan membantu jika Ayah terdesak."
" Iya, Kakak berdua harus membantu Ayah. Kalau tidak, kalau Ayah sampai kenapa-kenapa, aku takkan pernah memaafkan kalian."
" Huuuu.. takut.. Punya adik cewek satu galaknya melebihi harimau." Canda Riko sambil menyembunyikan kepalanya di belakang Raka.
Usai sarapan, Tanu dan keluarganya kembali pada aktivitasnya masing-masing. Di halaman depan, Rani dan Rama seperti biasa, duduk di kursi ayunan. Sedangkan Tama terlalu asyik memberi makan ikan Koi kesayangannya, di kolam kecil sebelah kiri, dekat kursi ayunan.
Rani kemudian mengambil Hpnya untuk menelpon Arti. Dia menanyakan kabar Arti dan anaknya. Rani berharap, Arti segera datang ke rumahnya untuk membantunya mengurus anak-anaknya yang masih kecil.
" Halo, Arti.. Kapan kamu akan kemari? Cepatlah, aku seperti mempunyai firasat yang sangat buruk. Seperti ada yang menginginkan keluargaku agar hancur."
" Iya Bu, maaf saya masih menunggu hingga seratus hari suami saya. Mohon pengertiannya ya Bu. Saya sangat mencintai suami saya. Rasanya masih berat meninggalkannya walaupun di sudah tak ada." Ucap Arti sembari menangis.
" Baiklah kalau begitu Arti. Aku akan menunggumu. Oiya, bagaimana keadaan Khalid?"
" Dia baik-baik saja Bu. Namun dia akhir-akhir ini wajahnya murung."
" Murung kenapa Arti? Apa kamu membuatnya dia murung?"
" Tidak Bu, saya kurang tahu. Dia seperti marah dengan keadaan kami yang sekarang. Tiap hari dia menanyakan keberadaan Ayahnya terus. Dia merindukan Ayahnya Bu."
" Arti, apa kamu sudah memberitahukan kepadanya kalau Ayahnya sudah tiada?"
" Dia sudah tahu Bu, dia juga sudah mengerti kalau Ayahnya tak mungkin kembali. Namun dia tetap saja menginginkan bisa bertemu dengan Ayahnya lagi."
" Aduh, dia mungkin merindukannya Arti. Kasihan dia, masih kecil sudah ditinggal Ayahnya. Eh Arti, coba kamu ajak dia jalan-jalan. Siapa tahu bisa menghilangkan kemurungan dihatinya."
__ADS_1
" Saya juga inginnya seperti itu Bu. Tapi.."
" Tapi apa Arti? Tenanglah.. Aku akan mengirimi kamu uang lagi. Kamu butuh berapa?"
" Eh tidak Bu. Ibu sudah banyak membantu saya. Saya memang butuh mengajak anak saya jalan-jalan Bu. Tapi saya tak ingin menghabiskan uang hanya untuk itu. Apalagi itu pemberian Ibu."
" Tak apa Arti. Aku masih punya uang yang sangat banyak. Jadi kamu nggak usah khawatir uangku habis. Ya sudah sekarang kamu ajak anak kamu pergi. Aku akan segera mentransfer kamu uangnya."
" Tapi Bu, saya tidak enak sama Ibu."
" Tak perlu tak enak padaku, Arti. Kamu sudah ku anggap sebagai saudaraku sendiri. Kalau ada apa-apa, bilang saja padaku. Semoga aku selalu bisa membantumu."
" Maafkan saya Bu, saya hanya bisa membuat Bu Rani kerepotan. Semoga Bu Rani selalu mendapatkan perlindungan dari Tuhan. Dan diberikan rejeki yang melimpah, Aamiin."
" Terimakasih Arti atas doanya. Kita sama-sama saling mendoakan ya. Semoga kita selalu bersama, Arti."
" Iya Bu Rani. Kalau begitu saya mohon izin dulu, mau mencuci pakaian saya dan Khalid Bu."
" Baiklah Arti. Kalau begitu aku akan menutup telponku. Aku juga mau menidurkan Rama dulu."
" Baik Bu."
Rani menutup telponnya dan masuk ke kamar untuk menidurkan Rama. Di depan kolam, Tama masih melihat-lihat ikan Koi kesayangannya. Lalu datang seorang laki-laki kekar di depan pagar rumah dan memanggil Tama.
" Hei, bocah.. Kemari." Ucap seseorang yang berada diluar pagar dan ternyata adalah Wijaya.
Tama menoleh ke arah suara. Dia pun menuruti kata Wijaya untuk mendekat kepadanya.
"Hei Bocah, namamu siapa? Dimana orang tuamu?" Kembali, Wijaya bertanya kepada Tama.
Tama hanya memandang Wijaya dengan tatapan tajam. Dia tak tahu apa yang dikatakan Wijaya. Tama pun hanya diam dan tetap melihat ke arah Wijaya.
" Hei Bocah! Apa kamu tak mendengar perkataanku? Namamu siapa dan orang tuamu dimana?"
Tama menjadi takut mendengar Wijaya yang semakin bersuara keras. Dia lalu menoleh ke pintu rumahnya. Kemudian kembali menoleh pada Wijaya.
" Dasar bodoh! Ditanya tak menjawab malah kaya orang bingung."
Tama semakin ketakutan, lalu dia kemudian berlari meninggalkan Wijaya dan masuk rumah memanggil Ibunya.
" Ibuu.." Panggil Tama sembari menangis karena ketakutan.
" Ibuu.." Tama masuk ke dalam kamar Ibunya lalu memeluk Ibunya sambil menangis."
......................
__ADS_1