SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
PERTEMUAN YANG MENEGANGKAN


__ADS_3

Setelah meninggalkan rumah Bibi Novi, Wira menuju ke pelabuhan. Ia menyelinap menaiki Kapal besar yang masih berlabuh. Wira menunggu di dalam kapal hingga kapal berlayar.


Sepuluh menit kemudian, kapal berlayar menuju Pulau di sebelahnya. Satu jam berlalu, kapal tiba di dermaga. Wira keluar dari kapal dengan berjalan kaki.


" Akhirnya aku tiba di Pulau kelahiranku. Aku akan naik taksi untuk melewati kota padat ini. Sesampainya di perbatasan kota, aku akan mencari hutan dan berlari menyusuri hutan belantara." Ucap Wira lirih.


Dua jam berlalu, Wira akhirnya sampai di perbatasan kota. Ia lalu turun ditepi jalan dan bergegas berlari secepat angin menyusuri hutan yang sunyi.


...----------------...


Di Puncak Bukit, Reza berkali-kali mondar mandir sembari memegangi perutnya. Ia sangat kelaparan, namun ia bingung harus bagaimana. Dia hendak mencoba membangunkan Satya, tetapi ia mengurungkan niatnya. Reza tak tega mengganggu Satya tidur.


" Akkhh.. perutku terus berbunyi. Apa tak ada makanan yang bisa kumakan di daerah sini. Sial sekali hidupku malam ini.." gumam Reza.


Tak kuasa menahan lapar, Reza pergi ke kamar mandi mengambil air dan meminumnya. Ia tak peduli air apa yang dia minum. Perutnya sudah beberapa jam belum terisi makanan. Seharusnya sore tadi, ia sudah makan banyak. Namun karena dalam perjalanan hingga ke Puncak Bukit tak menemui hewan buruan, ia terpaksa harus menahan rasa laparnya.


Niatnya minum air untuk mengisi perutnya yang kosong agar tak berbunyi lagi, namun malah membuat perut Reza semakin berbunyi tak beraturan.


Satya hampir tertawa mendengar bunyi perut Reza yang lumayan keras. Perlahan ia membuka matanya sedikit demi sedikit lalu melihat ke arah Reza. Ia pun hampir tak kuasa menahan tawanya, saat melihat Reza duduk bersandar di teras rumah Wira sembari memegangi perutnya.


Namun Satya bisa mengendalikan dirinya. Ia mampu menahan tawanya. Lalu ia kembali menutup matanya ketika Reza melihat ke arahnya.


" Perut sialan... kenapa tak henti-hentinya berbunyi.. Akhh.." Maki Reza sembari memukul-mukul perutnya yang terus saja berbunyi.


Lima belas menit kemudian, tak ada lagi suara berisik dari Reza. Satya mencoba menggerakkan badannya yang kaku akibat menahan gerakan terlalu lama.


" Akhh... rasanya tulang-tulangku kaku semua. Gara-gara menunggu Reza tidur aku harus rela menahan diriku agar tak bergerak. Tapi akibatnya, tubuhku seperti kaku. Saat ku coba untuk ku gerakkan, rasanya seperti ingin patah. Syukurlah dia sudah tertidur. Inilah saatnya membuat kejutan untuknya." ucap Satya lalu dengan cepat meninggalkan Reza sendirian di teras rumah Wira.


Satya mencoba menuruni bukit dan melompat-lompat dengan cepat hingga perbatasan desa. Kemudian ia menyusuri jalan kecil. Perlahan dia melangkah mengikuti sebuah suara yang samar-samar terdengar.


" Srakk..srakk..srakk.." terdengar suara langkah kecil dari kejauhan.


" Hemhh.. dimana suara itu? Oh, disana.." ucap Satya lalu kembali berjalan dengan cepat ke arah suara.


Satya terus menyusuri semak belukar yang tingginya hingga sampai lutut kaki. Suara langkah kaki semakin terdengar jelas saat dia telah melewati hampir separuh semak belukar.


Tak menunggu lama, Satya segera melompat dan menyergap dengan cepat.


" Haapp..." Sekali lompat, Satya berhasil menangkap hewan buruannya.


" Kena, kau..." ucap Satya lalu tertawa lega, karena akhirnya ia bisa menemukan hewan buruan.


" Seekor babi kecil ya, lumayan juga. Aku tak peduli Babi dilarang untuk dimakan, bagi seorang penjahat sepertiku, apa saja halal. Hahaha.."


Dengan wajah gembira, Satya membawa babi buruannya naik ke atas bukit, setelah sebelumnya ia telah membunuh dan membersihkan isi perut babi buruannya.


" Tunggu, Za. Aku takkan membiarkanmu kelaparan. Walaupun kau jahat, tapi kau cukup baik menerimaku sebagai temanmu. Meskipun seharusnya kita ini tak pernah sepaham dan sering berselisih, tapi aku sangat menghargai persahabatan kita."


Selesai berucap, Satya menata kayu bakar dari hasil memungutnya di sekitar bukit. Lalu ia menyalakan api dan memanggang babi buruannya.


Aroma harum daging babi panggang mengarah ke arah Reza. Ia pun perlahan membuka matanya dan menghirup bau sedap babi panggang seolah seperti telah memakannya.


" Ahhh... darimana bau ini berasal? Satya, dimana dia?" gumam Reza lalu berjalan menuju asal kepulan asap.


" Satya... apa yang kamu lakukan? Tengah malam begini memanggang daging. Sejak kapan kau mendapat hewan buruan?"


" Itu pertanyaan yang tidak penting, Za. Lebih baik segera duduk dan tunggu sampai dagingnya benar-benar matang."


" Babi? kau berburu babi?"

__ADS_1


" Iya, aku hanya mendapatkan binatang ini. Kalau kau tak suka, apa boleh buat. Aku sudah berusaha untuk mengobati perutmu yang kelaparan."


" Oh, tidak Satya.. aku suka daging babi. Apalagi kau sendiri yang memasaknya. Dari aromanya saja sudah membuatku tergugah. Kau sangat berbakat menjadi Koki, Satya."


" Sudahlah, makan ya makan saja. Tak perlu memujiku berlebihan. Aku tidak suka dipuji. Pujianmu tak membuatku kenyang. Yang ada, malah membuat perutku mual."


" Satya, terima kasih.. aku jadi terharu dengan perlakuanmu. Aku tahu kau mendengar dan melihatku menahan lapar, kan? Satya, aku pasti akan membalas budi baikmu. Seandainya kau itu kakakku, aku sangat bahagia bisa terus bersamamu."


" Za, kau itu mabuk atau ngelindur? kenapa omonganmu ngelantur? Kau tak perlu mengucapkan terima kasih kepadaku. Dengan memakan pemberianku saja aku sudah sangat senang."


" Aku berkata yang sebenarnya, Satya. Aku sadar dengan apa yang telah ku ucapkan. Aku tidak mabuk, aku juga tidak sedang ngelindur."


" Ya sudah.. kalau begitu, makanlah. Sepertinya, dagingnya sudah benar-benar matang."


" Baik, Satya.. aku juga sudah sangat lapar."


" Hahaha..." tiba-tiba Satya tertawa terbahak-bahak.


Tawa Satya membuat Reza mengurungkan niatnya untuk makan. Lalu dia bertanya pada Satya.


" Kenapa kau tertawa, Satya? Apa kau memberi racun pada makanan ini?"


" Racun, katamu? hahaha.. Reza, kenapa kau berpikiran buruk kepadaku? Apa aku pernah meracunimu?"


" Memang tidak pernah, lalu kenapa kau tertawa? Apa yang lucu, Satya? Jangan main-main denganku.."


" Jangan tegang.. ayo, cepat makanlah. Kalau tak mau, ya tak apa-apa. Aku tidak marah kalau kau tak mau memakannya. Lain kali, aku tak mau membuatkanmu masakan lagi."


" Eh, jangan.. aku doyan. Daging babi ini sangat lezat. Satya, jangan kapok membuat makanan yang lezat seperti ini untukku."


" Za, kau pikir aku pembantumu? Seenaknya saja, menyuruhku memasak untukmu. Hanya karena kita pergi dalam tugas yang sama saja, aku mau memasak makanan untukmu. Jika tidak, aku takkan pernah sudi."


" Hahaha... Jadi kau tak jadi memakan daging ini? Kalau begitu kembalikan daging yang kau bawa itu."


" Oh, kau mau mengambil apa yang sudah kau beri untukku? Baik.. akan ku kembalikan setelah aku menghabiskannya."


" Jadi kau mau mengembalikan apa jika kau memakannya?" tanya Satya sambil tersenyum.


" Tulangnya.. aku akan kembalikan tulangnya."


" Hahaha.. Reza, sudahlah. Makanlah yang tenang. Habiskan saja daging panggangnya, aku sudah terlalu kenyang."


" Kau baru memakan lima potong daging. Ini masih terlalu banyak, Satya."


" Iya, tapi aku sudah sangat kenyang. Habiskan saja, kalau kau tak sanggup, sisakan saja untuk besok."


" Daging babi panggang ini sangat lezat, Satya. Aku takkan melewatkannya. Jika disisakan untuk besok pastinya sudah tidak terlalu enak. Lebih baik aku menghabiskannya."


" Terserah kamu saja. Jangan lupa setelah kau selesai memakan, matikan apinya. Kita tidak boleh mengotori tempat ini. Bebakaran akan menimbulkan asap yang tebal dan mengganggu lingkungan. Aku takut jika bukit ini menjadi rusak."


" Baiklah, kau mau kemana?"


" Aku mau tidur, aku sangat lelah." jawab Satya lalu merebahkan tubuhnya di teras rumah Wira.


Tak berapa lama, Reza telah menghabiskan semua daging babi panggang buatan Satya. Ia pun menyusul Satya menuju teras rumah Wira. Perlahan ia memejamkan matanya, lalu tanpa di sadari, ia telah tertidur pulas.


...----------------...


Masih tersisa Sepuluh kota lagi yang harus Wira lalui untuk menuju ke rumahnya di Puncak Bukit. Ia terus mepercepat langkahnya berlari menyusuri jalanan setapak di tengah hutan belantara. Meskipun gelap, Wira masih mampu untuk melihat jalan yang ia lewati.

__ADS_1


Wira, Wijaya dan Bono adalah orang yang sama-sama memiliki mata yang istimewa. Mereka mampu melihat dalam kegelapan, dan mampu mengetahui siapa target yang ia inginkan dalam jarak satu kilometer.


Menit berganti menit, jam berganti jam. Tak terasa hari sudah pagi. Wira telah melalui sembilan kota dan masih tersisa satu lagi, kota yang ia lewati untuk menuju rumahnya.


" Ahh.. akhirnya aku hampir sampai dirumahku. Tunggulah aku, Reza.. aku ingin tahu apa yang kau lakukan di rumahku."


Wira semakin bersemangat melangkahkan kakinya dengan cepat. Sebelum hari berubah menjadi siang, ia harus sudah tiba di depan rumahnya.


" Ayolah Wira... lebih cepat lagi.." Ucap Wira dalam hati.


Ia pun menambah kekuatannya agar langkahnya menjadi semakin cepat. Tak terasa, dia telah sampai di perbatasan desa Lereng Bukit.


Para Petani sudah berada di sawah-sawah mereka, untuk mengolah sawah mereka. Wira menyapa Paijo yang saat itu sedang mengaliri sawahnya.


" Pak Paijo.." Sapa Wira dengan tiba-tiba.


Paijo terkejut hampir saja terperosok kedalam sawah yang sudah teraliri air.


" Eh, Pak Wira.. Sejak kapan Anda tiba? Saya tidak melihat Anda berjalan melewati jalan ini. Kenapa Anda tiba-tiba sudah berada dibelakang saya?"


" Kau tak perlu tahu, Paijo. Oh iya, apa Reza masih ada disini?"


" Mas Reza? Iya, mereka masih ada disini, Pak Wira. Semalam saya lihat dari rumah saya, ada api unggun yang sepertinya berasal dari rumah Pak Wira. Kemungkinan mereka bermalam disana, Pak Wira."


" Baiklah kalau begitu, Jo. Aku akan menemui mereka. Teruskan pekerjaanmu."


" Terima kasih Pak Wira." Ucap Paijo sembari merunduk.


Saat ia ingin memberitahu sesuatu pada Wira, ia terkejut setengah mati karena melihat Wira sudah tak ada lagi di depan matanya.


...----------------...


" Kurang ajar! ternyata ada dua begundal yang beraninya tidur dirumahku tanpa permisi. Kalian.. bangun!" Teriak Wira, saat tiba di depan rumahnya dan melihat Reza dan Satya yang tidur di teras rumahnya.


Reza dan Satya terbangun dari tidurnya. Dalam keadaan setengah sadar, Satya dan Reza berdiri. Ia kemudian mengucek matanya berkali-kali hingga penglihatan mereka jelas.


" Wira... akhirnya kau datang juga, kami sudah menantimu semalaman ini." ucap Reza sembari melangkah mundur menjauhi Wira dan keluar dari teras rumah Wira.


" Za, apa dia orangnya? Pemilik tanah ini.." Tanya Satya pada Reza.


" Aku pemilik tanah ini. Mau apa kalian datang kemari tanpa seizinku?"


" Maaf, kami tidak bermaksud apa-apa. Kami kemari atas perintah Bos kami. Bos kami menginginkan tempat ini. Dia akan membelinya dengan harga berapapun yang kamu mau."


" Katakan pada Bos kalian, aku tidak menjualnya. Sekarang pulanglah.. tinggalkan tempat ini!"


" Satya, hati-hati.. dia mempunyai ilmu tenaga dalam yang sangat luar biasa." ucap Reza, sembari berjalan mundur selangkah demi selangkah untuk menjaga jarak dengan Wira.


Satya tetap tenang meakipun Reza telah mengatakan kemampuan Wira. Berbeda dengan Satya, Reza malah terlihat tegang. Ia takut menghadapi Wira yang badannya kekar seperti tubuh Wijaya.


" Reza, ini adalah tugasmu. Dia menolak memberikan tanahnya meskipun aku menawarkannya dengan harga berapapun yang ia mau."


" Satya, sebaiknya kau yang terlebih dulu maju. Aku belum siap menghadapinya."


" Aku tidak mau, Za. Sudah ku bilang aku hanya mengawalmu. Bukan untuk membantumu. Apalagi bertarung melawan dia. Kau sendiri juga bilang, kau yang akan menangani ini sendiri. Ayo, tunjukkan bukti yang nyata kepadaku, Reza."


" Siall... Satya brengsek ini susah sekali untuk dibujuk. Mau tak mau aku harus menanganinya sendiri." ucap Reza dalam hati. Ia pun maju menghadap kepada Wira.


Dengan tangan dan kaki gemetar, Reza berjalan menuju ke arah Wira. Kepalanya merunduk, ia tak mampu menatap mata Wira. Dan pada saat itu lah, Reza hanya bisa mengandalkan mulutnya yang tajam untuk mengancam Wira jika ia tidak mau, memberikan tanahnya pada Wijaya.

__ADS_1


......................


__ADS_2