SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
MEMBUNTUTI


__ADS_3

Usai berbicara dengan Kepala sekolah, Wijaya keluar dari ruang Kepala sekolah menuju Pos satpam. Bagus mengetahui kalau Wijaya akan datang menemuinya. Ia pun diam-diam dan pura-pura tak melihat kalau Wijaya bemaksud menemuinya. Ia kemudian pergi ke kamar mandi untuk menghindari Wijaya. Namun, niat Bagus diketahui oleh Wijaya, lalu ia memanggil Bagus.


" Gus.. mau kemana?"


" Eh, sa.. saya mau ke kamar mandi, Pak." Ucap Bagus dengan gelagapan.


" Tunggu dulu.. aku mau bicara denganmu. Jawab dengan jujur. Apa maksudmu tadi? Kau bilang Guru yang bernama Tanu itu, berhubungan erat dengan kematian Vina. Apa itu benar?"


" Iya, Pak.. memang Pak Tanu lah yang menyebabkan Vina meninggal. Saya bisa menduganya."


" Menduga? Gus... jangan main-main denganku!"


" Eh.. Pak, anda boleh tidak percaya sama saya. Tapi saya punya cerita yang mungkin bisa membuat Anda percaya sama saya."


" Apa itu? Tak perlu bertele-tele.. katakan, cepat!"


" B.. baik Pak.." Ucap Bagus. Rasanya, ia seperti terkencing-kencing melihat sosok tubuh Wijaya yang kekar dan besar.


" Saya akan mulai bercerita. Mohon jangan memotong cerita saya sebelum saya berhenti bicara."


" Baiklah, mulai bicaralah.."


" Begini, Pak.. awalnya, Vina itu menyukai Pak Tanu. Ia rela melakukan apa saja agar mendapatkan balasan dari Pak Tanu. Bahkan, ia sempat memesan bunga dan ingin memberikannya pada Pak Tanu. Sebelum pelajaran sekolah berakhir, ada seorang kurir datang mengantarkan bunga dan menitipkannya di Pos. Kebetulan saat itu saya sedang berjaga, dan saya juga yang menerima bunga itu.


Tak lama kemudian, Vina mengambilnya. Katanya buat seseorang tapi dia tidak bilang siapa orangnya."


" Maksudmu, yang ingin dikasih bunga itu Tanu? Dimana ia memberikan bunga itu?"


" Saya memergokinya, mereka sedang berduaan di parkiran sekolah, Pak. Saya melihatnya mereka habis berciuman. Setelah saya menyapa dan menegur mereka, Vina marah pada saya. Katanya, saya ini mengganggu. Ya, walaupun saya sakit hati dibilang pengganggu, tapi saya tetap memegang teguh tanggung jawab saya.


Jika ada apa-apa disekolah, saya juga yang kena imbasnya. Saya tidak mau itu sampai menimpa saya. Makanya, saya menasehati mereka dan langsung menyuruh mereka pulang."


" Lalu, apa mereka berdua pulang bersamaan?"


" Tidak, Pak.. Vina pulang lebih dulu. Sementara Pak Tanu pulang, beberapa menit kemudian."


" Gus, lalu mana yang kau bilang, Tanu itu penyebab kematian Vina?"


" Sepertinya, Pak Tanu tidak mau menerima cinta Putri Anda, Pak. Dia sudah mempunyai keluarga yang bahagia. Mungkin saja, Pak Tanu takut keluarganya tercerai berai."


" Mana? mana yang menyebabkan Vina meninggal, Gus? Jangan berbicara terlalu panjang, aku tidak suka mendengarkan ocehan."


" Tunggu sebentar, Pak Wijaya. Saya menceritakan awal mula kejadiannya, agar Anda tidak kebingungan."


" Baiklah, kalau begitu bisakah kamu mempersingkat ceritamu? Aku sudah mulai bosan mendengar kau mendongeng.."


Bagus kembali gugup, ia tak ingin salah berbicara. Orang yang ada di hadapannya bukanlah orang sembarangan. Bisa saja ia mati karena kesalahan dalam ucapannya.


" Setelah Pak Tanu menolak cinta Vina, Vina menjadi berubah. Ia lebih suka menyendiri. Wajahnya tampak murung. Ia juga pernah sakit selama beberapa hari setelah Pak Tanu menolak cintanya."


" Kurang ajar! Tanu, aku akan membuat perhitungan denganmu." Wijaya tiba-tiba berteriak namun ia masih bisa mengendalikan emosinya.

__ADS_1


" Dan puncaknya saat kecelakaan itu, Vina mencari teman untuk mencurahkan isi hatinya. Dia bermaksud pergi ke rumah temannya, untuk menceritakan keluh kesahnya karena cintanya ditolak. Namun, karena Vina tidak fokus, dalam posisi naik motor dengan kencang, ia oleng setelah motornya melewati jalan berlubang yang dalam. Ia pun jatuh, dan akhirnya meninggal dunia di tempat kejadian."


" Ba****an! akan ku bunuh kau, Tanu! Aku bersumpah, akan membantai keluargamu!"


" Sabar, dahulu Pak. Jangan terburu-buru. Saya juga membenci Pak Tanu, Kita harus mencari cara untuk bisa menghancurkan karirnya. Kita akan buat hidupnya menderita."


" Aku sendiri yang akan membunuhnya. Sebaiknya kau kembali ke Posmu. Dan jangan bicara apa-apa pada siapapun."


" Maksud Anda, akan membunuh Pak Tanu?"


" Iya! kenapa?"


" Sebaiknya, jangan Pak.. saya khawatir Anda akan terjerat kasus hukum."


" Kau takut pada hukum?"


" Maaf Pak, saya orang yang taat hukum. Jadi, saya tidak berani melakukan tindakan yang melanggar hukum." ucap Bagus dengan nada gemetar. Ia takut jika Wijaya benar-benar membunuh Tanu.


Jika Wijaya melakukan sesuatu pada Tanu, sungguh akan menjadi masalah yang besar jika sampai itu terjadi. Bagus menjadi merasa sangat bersalah. Tubuhnya lemas setelah Wijaya meninggalkannya di Pos satpam.


Ia kemudian mencari cara agar Wijaya mengurungkan niatnya mencelakai Tanu. Dendam yang seharusnya ia kubur, kenapa harus muncul. Kini ia menyesali ucapannya karena telah bicara dengan Wijaya.


" Ah.. apa yang harus aku lakukan? Kenapa dengan bodohnya aku mengatakan hal yang akan menimbulkan masalah yang sangat besar. Aku memang bodoh! Maafkan saya Pak Tanu.. saya keceplosan bicara sama Pak Wijaya. Saya benar-benar minta maaf jika suatu hari, akan ada kejadian yang akan merugikan Anda." Gumam Bagus di Pos satpam sembari meremas rambutnya berulang kali.


Ketika jam istirahat tiba, Tanu datang ke Pos Satpam mendatangi Bagus.


" Pak Bagus.." sapa Tanu dengan lembut.


" Ini, Pak Bagus.. saya ada oleh-oleh untuk Pak Bagus. Kebetulan kemarin anak saya pulang. Mereka membeli oleh-oleh. Karena terlalu banyak, anak saya menyarankan untuk memberikan pada Pak Bagus. Mudah-mudahan Pak Bagus suka."


" Eh... terima kasih Pak Tanu. Wah, saya menjadi tidak enak. Pak Tanu sudah mau repot-repot membawakan oleh-oleh untuk saya. Sekali lagi terima kasih Pak Tanu.."


" Sama-sama Pak Bagus. Oh iya, saya juga ada sedikit rejeki untuk Pak Bagus. Mudah-mudahan bisa membantu Pak Bagus. Dan, ini ada juga titipan untuk Ibu Pak Bagus. Saya dengar, Ibu Pak Bagus sedang sakit. Saya tidak bisa menjenguknya. Titip salam saja untuk Ibu, mudah-mudahan segera sembuh."


" Oh, terima kasih banyak Pak Bagus. Saya sungguh sangat menyesal. Ternyata Anda sangat baik. Anda lah orang pertama di sekolah ini, yang tahu Ibu saya sakit. Maafkan saya Pak Tanu."


" Maaf untuk apa Pak Bagus?"


" Eh, itu Pak Tanu. Anu.. saya.." Bagus gelagapan, ia hampir saja mengaku kalau ia bilang pada Wijaya, bahwa Tanu lah penyebab Vina meninggal.


" Hehe.. kenapa Pak Bagus? Santai saja.."


" Eh, iya Pak Tanu. Saya hanya gugup saja. Maafkan saya Pak.."


" Tak perlu gugup. Kalau begitu saya permisi dulu, Pak Bagus. Sebentar lagi jam istirahat sudah selesai. Saya harus segera kembali ke ruang guru mengambil buku. Lalu, kembali mengajar di kelas XII."


" Silahkan, Pak.. sekali lagi terima kasih atas oleh-olehnya dan juga atas perhatian Pak Tanu pada Ibu saya."


" Sama-sama, Pak Bagus."


Tanu kembali ke ruang guru, sementara Bagus semakin gemetaran. Ia tidak tahu harus berbuat apa agar Wijaya tidak jadi melakukan sesuatu untuk menghancurkan Tanu.

__ADS_1


" Ya Tuhan.. aku sangat berdosa besar telah dengan sengaja mencelakai orang lain. Apa yang harus aku lakukan. Aku memang dendam padanya. Dia juga yang membuat aku kehilangan Vina. Cewek paling cantik yang aku sukai. Tapi, Pak Tanu sangat baik kepadaku, dia juga peduli kepada Ibuku. Satu-satunya orang yang mau menanyakan kabar Ibuku, apalagi sampai memberikan titipan pada Ibuku. Hanya Pak Tanu saja. Aku tidak akan menyia-nyiakan kebaikannya. Aku harus berbuat sesuatu."


Setelah bergelut dengan hati kecilnya, Bagus diam-diam memata-matai Wijaya. Ia mencoba mengawasi gerak-gerik Wijaya, tanpa sepengetahuannya.


Pukul dua siang, pelajaran telah berakhir. Semua murid di SMA BANGUN JAYA, berhamburan ke parkiran sekolah mengambil kendaraan mereka lalu pulang ke rumah mereka masing-masing.


Saat itu, Tanu sedang mengambil motornya, di parkiran guru. Diam-diam dari jauh, Wijaya mengawasinya."


Ketika Tanu melewati Pos satpam, Bagus menyapa Tanu lalu menyuruhnya agar berhati-hati di jalan.


Tanu pun pergi meninggalkan sekolahan. Tak lama kemudian, Wijaya dengan mobil mewahnya, melaju mengikuti Tanu.


Kebetulan sekali Jam dua adalah jadwal pergantian shift jaga. Bagus memanfaatkan kesempatan ini untuk mengikuti Wijaya. Ia kemudian mengambil motornya lalu melaju mengikuti mobil Wijaya.


Di depan gerbang sekolah, SMP BANGUN JAYA, Tanu menghentikan motornya. Ia menunggu Bulan keluar dari kelasnya.


Wijaya pun berhenti sekitar seratus meter dari Tanu. Sementara, Bagus mendahului dan lebih memilih berhenti di warung tepat lima puluh meter dari posisi Tanu berhenti.


Sepuluh menit kemudian, Bulan keluar dari kelas dan keluar menuju gerbang sekolahan.


" Ayah.." sapa Bulan sembari berlarian menghampiri Ayahnya yang masih duduk di motornya.


" Tumben... jam dua lebih, baru keluar. Apa ada jam pelajaran tambahan?"


" Oh, enggak Ayah.. tadi Bulan membersihkan ruang kelas Bulan dulu. Hari ini jadwal piket Bulan. Jadi, Bulan terlambat pulang. Maaf, ya Ayah.. Bulan nggak bilang dulu pada Ayah."


" Tidak apa-apa.. lagipula, Ayah juga belum lama menunggu disini."


" Baiklah.. kalau begitu kita pulang sekarang saja, Ayah. Bulan sudah kangen sama Tama dan Rama."


" Siap, Bosku. Hehe.."


" Ih.. Ayah, Bosnya itu Ayah. Bulan jadi anak buah saja."


" Hehe.. memangnya kenapa? Jadi Bos kan, enak."


" Bulan nggak mau jadi Bos. Enak jadi anak buah. Tapi anak buahnya Ayah. Nggak mau jadi anak buah yang lain."


" Hehe.. boleh.. kalau begitu, kapan mau jadi anak buah Ayah?"


" Sekarang juga bisa.."


" Kalau begitu, sekarang kamu yang duduk didepan."


" Didepan bagaimana?"


" Kamu yang bawa motornya, Ayah yang bonceng."


" Hemmh.. baiklah, Bos. Ayo jalan.."


Bulan pada akhirnya memegang kendali motornya. Tanu membonceng di belakang. Ia tahu jika ada orang yang mengikutinya. Ia memilih untuk membonceng, agar tahu siapa yang mengikutinya.

__ADS_1


......................


__ADS_2