SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
EVAKUASI


__ADS_3

Rasa lapar yang Tama rasakan membuatnya makan dengan lahap. Sesekali ia terbatuk karena tersedak. Sementara Khalid memandanginya dengan aneh.


" Tama.. hati-hati makannya, nanti kamu akan tersedak terus." ucap Khalid.


" Sudah, tak apa Khalid. Biarkan dia menikmati makannya. Ibu rasa dia sangat kelaparan. Kasihan sekali kamu, Tama." ucap Arti lalu dengan lembut membelai rambut Tama.


Sembari menunggu Tama makan, Arti mencoba menghubungi kantor Polisi. Ia ingin melaporkan kejadian yang dialami keluarga Tanu.


Selang setengah jam, mobil polisi datang dan berhenti tepat di depan Arti beristirahat.


" Selamat pagi Bu.. apa benar anda yang menelpon ke kantor Polisi?"


" Benar, Pak. Tolong kami.." jawab Arti sembari menggendong Rama yang telah ia ganti bajunya dan membalutnya dengan kain miliknya.


" Ha? Ibu membawa mayat bayi? Apa ini anak Ibu?" tanya Polisi lagi dan terkejut ketika ia melihat Arti membawa mayat bayi.


" Iya, dia putra majikan saya Pak. Dan yang sedang makan itu adalah Kakaknya. Tolong kami, Pak. Kami tidak tahu menahu soal keluarga majikan saya. Kami berniat ke rumah majikan saya setelah sekian lama saya pulang ke kampung halaman saya. Majikan saya berjanji akan menjemput saya begitu saya tiba di terminal. Namun sampai sekarang, majikan saya sulit untuk dihubungi. Saya memutuskan untuk berjalan kaki bersama anak saya. Malah, saya bertemu putranya yang menggendong mayat bayi ini berjalan sempoyongan dari rumahnya. Saya khawatir telah terjadi sesuatu di rumah majikan saya."


" Baiklah, laporan kami terima. Sekarang apa Ibu bisa menunjukkan rumah majikan Ibu?"


" Saya tahu rumahnya, Pak. Saya juga sedang perjalanan mau kesana."


" Kalau begitu, Ibu ikut dengan Kami. Lebih baik sekarang kita segera ke sana."


" Baik, Pak. Khalid.. ayo ikut Bapak Polisi itu naik mobil. Bantu Ibu membawa masuk barang-barang kita." pinta Arti pada anaknya lalu ia membawa Rama dan menggandeng Tama masuk ke dalam mobil.


Tak berapa lama, mobil telah sampai di jalan setapak menuju rumah Rani. Polisi menghentikan mobilnya dan bergegas turun menuju halaman rumah Rani.


Betapa terkejutnya Polisi itu ketika melihat mayat bergelimpangan dimana-mana. Baunya sudah lumayan menyengat. Dan sebagian wajah mereka sudah tak bisa dikenali.


" Ya Tuhan.. siapa yang tega melakukan semua ini? Ini sungguh sangat biadab!" teriak Polisi itu lalu segera menghubungi ambulans.


Arti berjalan menghampiri setiap mayat yang berserak di halaman rumah Rani. Ia tiba-tiba menjerit setelah ia mengenali beberapa mayat itu adalah seluruh anggota keluarga majikannya.

__ADS_1


" Pak Tanu!!! apa yang terjadi disini. Kenapa semua menjadi begini? Pak Polisi, diantara lima mayat itu adalah majikan dan anak-anaknya. Siapa yang tega melakukan ini pada majikan saya!" teriak Arti sembari menangis keras.


Khalid mendekati Ibunya dan mencoba menenangkannya. Sementara itu, Tama masih tampak kebingungan. Kenapa wanita itu menjerit, begitu melihat orang-orang yang terbaring dihalaman rumahnya.


Ia pun mendekati Arti dan meminta Rama dari gendongannya.


" Bibi, biarkan Rama ikut bersamaku. Dia temanku satu-satunya meskipun dia tak mau ku ajak bermain."


" Tama.. adikmu sudah meninggal. Dia sudah tak bisa diajak main lagi. Bibi akan menguburkannya bersama Ayah dan Ibumu. Mereka semua sudah meninggal. Hanya tinggal kamu sendiri yang masih hidup."


" Apa itu meninggal, Bibi?"


" Meninggal itu mereka sudah tak bernyawa. Mereka sudah tak bernafas, tak bergerak. Mereka lambat laun juga akan berubah. Tubuhnya akan habis. Dan sisanya tinggal tulang."


" Apa seperti kucingku? Kalau begitu mereka sudah tidak bisa bicara denganku lagi?"


" Kucing? memangnya kucing kamu kenapa?"


" Dulu aku punya kucing, dia sering mengajakku bermain sebelum Rama menjadi teman bermainku. Sudah lama dia tak mau makan lalu ia tidur dan tak mau bangun lagi. Kata Ibu, dia sudah meninggal."


" Tidak.. aku tidak mau. Rama adalah temanku satu-satunya. Aku tak mau dia meninggal."


" Tama, ini sudah takdir.. adikmu memang sudah meninggal. Dia bukan sedang tidur lagi. Sampai kapanpun dia tak akan pernah bangun lagi. Sekarang, Bibi dan anak Bibi yang akan menjadi temanmu."


" Tidak, Bi.. aku tidak mau. Berikan Rama padaku. Aku ingin bermain dengannya. Rama.. bangunlah Rama.. Ayo kita bermain. Ayo bicara sama Kakak. Rama.."


Mendengar ucapan Arti Tama menjadi bersedih. Ia tak mau kehilangan adiknya. Dia terus memaksa Arti untuk memberikan Rama kepadanya. Ia meronta-ronta meminta Rama dan ingin membawa Rama pergi dari rumahnya.


" Tama.. Bibi akan menguburkannya bersama orang tua dan Kakak--kakakmu. Kasihan dia. Dia sudah meninggal. Percayalah pada Bibi."


" Tidak.. tidak... Bi, berikan Rama kepadaku. Aku ingin menggendongnya. Aku ingin menciumnya." Tama terus merengek pada Arti.


" Tama.. adikmu harus segera dimandikan. Ia sudah meninggal. Dia harus segera dikuburkan. Kalau tidak, dia akan menjadi bau." Khalid pun ikut menenangkan Tama ketika Arti tak mampu membujuk Tama.

__ADS_1


" Dia itu adikku. Aku harus menjaganya. Aku sudah berjanji pada Ibu, suatu saat nanti aku akan belajar untuk bisa membuat adikku tertawa. Aku berjanji akan membuatnya berhenti menangis jika dia menangis. Aku tak mau orang lain mengganggunya."


" Tak ada orang yang mengganggunya, biarkan dia tidur untuk selamanya. Biarkan dia hidup bersama dengan Ibu dan Ayahmu di surga. Sekarang, aku adalah temanmu. Aku bisa menemanimu bermain."


" Tidak!!! adikku tidak boleh meninggal. Rama... ayo pergi dari sini.. Rama.....bangunlah, ayo kita bermain. Kakak rindu tertawamu. Ayo, bangun Rama!"


" Lihatlah.. adikmu sudah tak bergerak lagi. Dia sudah meninggal. Meskipun kamu berteriak memanggilnya, dia tak akan bisa mendengar suaramu."


" Kenapa? Kenapa kamu juga tak peduli denganku Rama. Apa Kakak juga bersalah kepadamu? jawab Rama.. Sekarang Kakak sudah tidak bisa mengajakmu bercanda lagi. Ibu.. maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga Rama. Kini ia sudah meninggal."


" Tama... pasti Ibumu sudah tahu kalau adikmu meninggal. Sudah, jangan menangis. Sekarang adikmu pasti sedang berkumpul dengan Ibu dan ayahmu juga Kakak-kakakmu di suatu tempat. Sekarang kamulah anggota keluarga yang tersisa. Teruslah hidup dan teruskan cita-citamu."


" Kenapa mereka semua meninggalkanku sendiri? Apa mereka tidak menyayangiku?"


" Tama, bukan mereka tidak menyayangimu. Tapi karena keadaan lah yang membuat mereka harus meninggalkanmu. Mereka semua meninggal karena ada orang jahat yang membunuhnya. Mereka menyiksa keluargamu lalu membunuhnya." Arti mencoba memberikan pengertian pada Tama.


" Jadi orang jahat itu yang membunuh Ibu, Ayah dan Kakak-kakakku?"


" Apa kamu mengenali wajahnya, Tama?" tanya Arti.


Tama menganggukkan kepalanya. Ia menerawang jauh. Pikiran dalam kepalanya seakan menjadi brutal. Anak kecil itu telah merekam semua kejadian yang membuatnya menderita. Ia pun mampu berpikir jika besar nanti, dia akan mencari penjahat itu. Dan melakukan hal yang sama dengan apa yang penjahat itu lakukan kepada keluarganya.


Setelah proses evakuasi selesai, Beberapa mobil ambulans datang ke lokasi lalu membawa jasad-jasad di halaman rumah Rani untuk di otopsi. Tama hanya bisa memandangi dengan sorot mata tajam. Ia tak percaya, jika orang yang selama ini dia anggap telah berubah, adalah keluarganya yang telah meninggal. Tama berulang kali mengusap air matanya yang terus mengalir.


" Ibu, Ayah.. Kakak.. Rama.. kalian mau dibawa kemana?"


" Tama, mereka akan dibawa ke rumah sakit. Setelah dimandikan mereka akan dikuburkan. Bibi tak tahu mereka akan dikuburkan kemana. Bibi akan mencoba menghubungi nomor-nomor di Hp Ibu kamu. Siapa tahu di Hpnya ada kontak keluarganya." ucap Arti lalu mencoba menghidupkan Hp Rani yang ia dapatkan dari Polisi yang bertugas mencari beberapa petunjuk untuk penyelidikan.


" Sebentar, oh ini nomor siapa. Kenapa Bu Rani berulang kali menelpon ke nomornya. Ah, biar Bibi coba menelponnya. Barang kali ini adalah sanak saudaranya."


Arti mencoba menelpon nomor orang yang terakhir kali Rani hubungi. Ia berusaha dengan keras menghubungi ke nomer itu. Ia tak ingin berhenti menelpon meskipun tak ada seorang pun yang mau mengangkat telponnya.


Arti membatalkan panggilannya, ia menggenggam erat hp di tangannya lalu beberapa menit kemudian mencoba menghubungi ke nomer itu lagi.

__ADS_1


Kali ini telponnya tersambung, Arti mengatakan tentang keadaan Rani dan keluarganya.


......................


__ADS_2