SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
MENUNGGU DI RUMAH SAKIT


__ADS_3

Tiba di rumah sakit, Bara langsung di cerca banyak pertanyaan oleh Bono. Kekhawatirannya pada Tama membuat dia berkali-kali mondar-mandir kesana- kemari memikirkan nasib Tama.


" Bara.. Bara.. bagaimana dengan Tama? Katakan padaku apa dia selamat dari kebakaran itu?"


" Eh..tenang dulu, Bon. Sebaiknya kau menata nafasmu. Lalu kau boleh bertanya kepadaku." ucap Bara menenangkan Bono.


" Baiklah... huuppp.. haaahh... Sekarang katakan padaku, apa kau menemukan Tama?"


Bara menggelengkan kepalanya, lalu ia menjawab, " Aku tidak menemukannya. Sepertinya saat kebakaran terjadi, Tama sudah tidak berada di dalam rumah."


" Apa?! lalu kemana dia pergi?"


" Menurut dugaanku, dia dibawa pergi oleh Pelaku. Tapi, untuk memastikannya kita harus menunggu Bi Arti tersadar."


" Ah, iya.. sudah dari tadi Bi Arti belum juga tersadar. Sepertinya dia mengalami depresi yang sangat berat. Aku khawatir, dia akan..." tiba-tiba Bono menghentikan ucapannya.


Khalid menatap ke arah Bono dengan tajam. Ia lalu memberanikan diri untuk bertanya pada Bono.


" Paman, apa Ibuku baik-baik saja?"


Bono terkejut, ia tak sadar jika anak yang bersama Bara adalah anak dari Arti.


" I..iya, Ibumu pasti akan baik-baik saja. Kamu tak perlu khawatir."


" Lalu, Ibuku sekarang dimana? Aku ingin menemuinya, Paman."


" Eh, Ibumu sekarang lagi di ruang ICU. Dokter sedang menangani Ibumu. Doakan saja, Ibumu akan baik-baik saja. Ia juga cepat tersadar dari tidurnya."


" Oh, begitu.. jika Ibuku kenapa-kenapa, kalau aku sudah besar. Aku akan membalas orang-orang yang membuat Ibuku sakit."


" Apa?? Bara.. kau dengar ucapan anak ini? Dia akan menuntut balas atas apa yang membuat Ibunya sakit. Apa yang kau ajarkan padanya?"


" Ahh... kau ini sembarang menuduh saja. Aku tidak mengajarkan apa-apa kepadanya. Dia sendiri yang berkata, kenapa aku yang kau salahkan." ucap Bara sedikit jengkel pada Bono.

__ADS_1


" Hehehe.. maaf, Bara. Tapi seharusnya anak seusia dia tidak boleh berpikiran seperti itu. Akan sangat berbahaya jika dia sudah besar."


" Mungkin dia sudah terdidik begitu. Masa hidupnya kemungkinan penuh dengan kekerasan. Pasti dia sudah mengalami hidup menderita yang sangat pahit."


" Khalid, apa kamu ingin membalas dendam?" tanya Bono sembari merundukkan badannya.


" Iya, Paman.. aku berjanji akan selalu menjaga Ibu. Jika Ibuku kenapa-kenapa karena aku, aku tidak akan memaafkan diriku. Tapi jika Ibuku disakiti orang lain, aku akan membalasnya."


" Bara.. kau mendengarnya, kan. Aku berharap Bi Arti tak kenapa-kenapa. Kala u tidak, dia akan tumbuh menjadi orang yang jahat. Dia mirip denganku." bisik Bono pada Bara.


" Mudah-mudahan saja, Bono. Aku bukannya tidak khawatir dengan sifatnya yang seperti itu. Tapi aku kasihan jika ia harus kehilangan Ibunya. Kita semua tahu, Tama baru saja kehilangan semua keluarganya. Dan sekarang dia entah kemana. Jika Bi Arti tak bisa diselamatkan, bagaimana dengan Khalid. Bono, aku sungguh tak bisa membayangkan."


" Khalid, jangan berhenti berdoa untuk kesembuhan Ibumu, ya. Kita akan berusaha agar Ibumu segera sembuh dan cepat pulang dari sini." Bara mencoba menenangkan Khalid yang sudah mulai resah menunggu ingin bertemu Ibunya.


" Iya, Paman." ucap Khalid.


Dari sudut matanya mengalir air mata yang hangat. Iya sebenarnya sangat mengantuk. Namun Ia tak bisa tidur karena memikirkan keadaan Ibunya.


" Tenanglah Khalid.. jangan khawatir kalau kau tak bisa makan. Paman akan memberimu makan. Istri Paman akan membuatkan makanan yang enak untukmu. Kamu tak perlu bersedih."


" Tapi, Paman.. aku lebih suka makan dengan Ibuku. Kami selalu makan bersama. Bahkan, Ibuku selalu menyuapiku. Aku nggak akan bisa makan jika tidak bersama Ibuku."


" Khalid.. Paman mengerti maksud kamu. Seandainya, atau kalau seandainya Ibu kamu tidur untuk selamanya, bagaimana?" tanya Bono.


" Bono!!! jangan sembarang bicara. Kamu bisa melukai perasaannya. Meskipun dia masih kecil, tapi dia sangat menyayangi Ibunya. Kau dengar sendiri, kan. Dia bilang tidak akan bisa makan jika tidak bersama Ibunya."


" Ahh.. maafkan aku. Aku hanya tak ingin ia menjadi anak yang cengeng. Seberat apapun ujian dihidup kita. Kita tak boleh untuk mengeluh dan berhenti berjalan."


" Itu bagi kita.. bagaimana dengan Khalid? Dia masih kecil.."


" Bara.. aku tak bermaksud membuat dia menangis ataupun bersedih. Aku hanya ingin mendidik dia agar selalu bisa hidup mandiri. Kita harus bisa berusaha sendiri tanpa bantuan orang lain."


" Bono.. jangan samakan dirinya denganmu. Kau jauh lebih kuat dari dia di usianya yang sekarang. Dia itu masih Balita."

__ADS_1


" Iya.. iya.. aku tahu itu. Aku minta maaf." ucap Bono. Ia sangat menyesal mengatakan sesuatu yang mungkin saja membuat Khalid menjadi bersedih.


" Paman.. aku sudah terbiasa bersedih. Apalagi jika melihat Ibuku. Dia selalu bekerja keras. Aku tak tahu harus bagaimana, jika hidup tanpa Ibuku."


" Khalid.. sabarlah.. Ibumu akan baik-baik saja. Doakan saja Ibumu segera tersadar. Dan bisa kembali berkumpul bersamamu lagi seperti dulu."


" Iya, Paman.. semoga saja Ibuku segera pulih dari sakitnya. Bisa bercanda lagi, bisa naik bis berdua lagi. Aku senang bersama Ibuku."


" Iya, pasti Ibumu akan sehat lagi. Dokter pasti akan mencoba melakukan yang terbaik untuk Ibumu."


...----------------...


Tak berapa lama kemudian, saat Bono dan Bara juga Khalid terdiam, Dokter keluar dari ruang ICU. Dengan wajah berkeringat, Dokter itu berkata pada Bono.


" Maaf, Pak Bono. Sepertinya butuh waktu lama untuk Ibu itu untuk tersadar. Mungkin saja dia mengalami kejadian yang sangat membuat dirinya terpukul. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Ibu itu? Kenapa sampai separah itu?"


" Eh.. saya kurang tahu, Pak. Saya baru kemarin bertemu dengannya. Dia adalah asisten rumah tangga teman saya. Sebelumnya, dia terpukul karena saat kembali ke rumah teman saya, dia menemukan satu keluarga majikannya, terbunuh di rumahnya sendiri. Dan hanya menyisakan satu anak kecil, yang masih berusia dua tahun lebih .


Terakhir, satu-satunya anak kecil majikannya yang tersisa, terbakar di dalam rumahnya. Bi Arti melihat pembakaran rumah majikannya itu oleh orang-orang yang tak dia kenal. Ia lalu menjerit dan tiba-tiba terjatuh dan tak sadarkan diri."


" Apa? jadi satu keluarga yang jenazahnya dibawa kemari adalah majikan Ibu itu? Menurut saya, itu adalah kasus pembunuhan paling terkeji yang pernah saya dengar."


" Itulah yang kami prihatinkan. Kenapa ada orang yang setega itu menghabisi satu keluarga. Apa yang sebenarnya orang itu inginkan."


" Pantas saja, kejadian itu membuat mental Ibu itu menjadi turun. Saya sangat menyayangkan kejadian itu."


" Iya, Dok. Oh iya.. apakah kami boleh melihat keadaan Bi Arti?" tanya Bono.


" Eh.. silahkan, Pak Bono. Tapi maksimal satu orang."


" Baik, Pak.. terima kasih banyak."


......................

__ADS_1


__ADS_2