SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
SAMPAI KAPAN MENYIKSA VINA


__ADS_3

Wijaya merenung sejenak. Dia penasaran dengan Tanu yang di sebut Vina dalam pesannya.


" Tanu, Tanu, Tanu.. Siapa lelaki itu? Apa dia Orang tua angkat Vina, tetapi tak mungkin. Vina tak pernah bilang mempunyai orang tua angkat.


Apa mungkin kekasihnya? Kenapa Vina mau mempunyai kekasih yang lebih tua darinya?" Wijaya bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.


" Apa sebaiknya ku tanyakan saja padanya,siapa Tanu itu. Tidak, tidak.. Jika Tanu itu hanya orang biasa, aku tak sudi menerimanya menjadi menantuku.


Lagipula Vina masih sekolah, dia harus meneruskan sekolahnya sampai perguruan tinggi." Ucap Wijaya lirih, khawatir Vina mendengar ucapannya.


Kemudian pandangan Wijaya dialihkan oleh sebuah buku, yang ternyata adalah buku diary Vina. Dia mulai membuka dari lembar ke lembar. Dalam buku diary Vina, sebagian berisi kisah sedihnya. Sementara kisah bahagianya hanya beberapa lembar saja.


Di lembar terakhir, Wijaya kembali menemukan nama Tanu, seperti pada sobekan kertas yang dia temukan di atas meja belajar Vina.


Belum sempat Wijaya membaca diary Vina tentang Tanu, telepon Wijaya berdering.


" Haloo.." Wijaya mengangkat telponnya.


" Hallo Wijay. Maaf ada sesuatu yang perlu kita bicarakan. Kapan kamu akan kembali?" ucap seseorang di dalam telpon.


" Sesuatu apa ya Pak, maaf kalau boleh tahu?" Tanya Wijaya pada orang di dalam telpon.


" Aku akan memberitahu kamu, setelah kamu kembali." Ucap Pria dalam telpon, yang ternyata, Bos Wijaya.


" E, Baik Pak. Saya akan kembali dalam waktu dekat ini."


" Bagus, baiklah aku tunggu kedatanganmu." Bos Wijaya menutup telponnya.


" Iya Pak." Ucap Wijaya lalu meletakkan HPnya dengan lemas. Tak berapa lama Kemudian, dia mengambil HPnya lagi dan meremas-remasnya.


" Padahal baru saja aku berdamai dengan anakku. Baru saja aku tiba di kotaku, tetapi kenapa kamu memanggilku dan menyuruhku datang kepadamu seenaknya?" Kembali Wijaya berkata dengan drinya sendiri.


" Brakkk." Wijaya memukul meja belajar Vina dengan keras.


" Siaall... Kenapa dengan dirimu! Kenapa kamu seenaknya memerintah orang?" Teriak Wijaya hingga meja Vina yang didepannya dia lemparkan ke dinding.


" Brakkkk... krakk.. " kaki Meja belajar Vina patah menjadi beberapa bagian, terbentur dinding dan jatuh ke lantai.


Dari dalam kamar mandi, Vina yang sedang mengguyur tubuhnya dengan air, mendengar suara samar-samar seperti benda jatuh.


Dia mencoba mematikan kran air, untuk memastikan suara apa yang baru saja dia dengar.


Namun setelah beberapa menit, suara tadi tidak terdengar lagi.


" Tadi suara apa ya? Apakah suara petir, tetapi bukannya sudah tidak hujan." Gumam Vina dalam hati, lalu dia melanjutkan menyiram kembali tubuhnya.


" Tok tok tok..." Kembali Vina mendengar suara mengetok pintu. Namun suaranya terdengar pelan tetapi lebih jelas.

__ADS_1


" Vina.. Kamu sudah selesai mandi belum? " Tanya Wijaya dari luar toilet.


" Oh, Papa ya. Tunggu sebentar, Vina belum sempat memakai sabun Papa. " Jawab Vina sambil menyiram lagi sekujur tubuhnya.


" Ayo buruan, Keburu malam." Ucap Wijaya sambil memegangi kepalanya. Pikirannya kacau karena panggilan Bosnya.


" Iya Papa, sabar.. Tunggu lima menit lagi ya. Papa harus maklum, Vina anak cewek."


" Baiklah, Papa tunggu di bawah ya. Jangan lama-lama lho." Ucap Wijaya mengingatkan Vina.


" Hemmm.. Iya Papa Wijay." Ucap Vina lalu mempercepat mandinya.


" Papa itu dari dulu tidak romantis dan tidak pengertian. Vina kan cewek, masa mandi saja di suruh cepat. Padahal Vina sebenarnya ingin sekali berendam di air hangat. Huh...


Memangnya Papa mau mengajak Vina kemana. Biar saja kalau keburu malam, lagi pula lebih enak kalau makan di luar saat malam hari kan." Ucap Vina kesal.


Lima menit berlalu, Vina belum juga keluar dari toilet. Wijaya semakin kacau pikirannya. Dia kembali naik ke atas, dan menuju toilet untuk memanggil Vina lagi.


"Vin.. Vina.. Kenapa lama sekali? Ini sudah hampir petang lho." Ucap Wijaya agak kesal.


" Iya Papa, Vina sudah hampir selesai kok. Papa tenang saja. Tunggu Vina di bawah saja." Pinta Vina pada Wijaya.


Mendengar kata anaknya, Wijaya *******- ***** rambutnya, yang seperti di hinggapi ratusan semut di kepalanya. Lalu dia pun kembali ke bawah untuk menunggu Vina.


Vina yang tak tahu apa yang sedang terjadi, malah terlihat santai, dia kembali menyirami tubuhnya berulang kali, walaupun sudah berpuluh gayung ia siramkan ke tubuhnya.


Vina tak tahu kalau Papanya akan segera kembali keluar kota secepatnya. Oleh karena itu, Vina tetap saja santai dalam melakukan aktifitasnya.


Lima belas menit berlalu, Vina keluar dari kamar mandi.


" Papa, Vina sudah selesai mandi." Vina memanggil Papanya dari lantai atas.


Wijaya terdiam, dia tertidur di sofa ruang tengah. Kepalanya ditutup dengan bantal.


" Pa, Papa tidur ya?" Vina kembali memanggil Wijaya.


" Ihhh... baru di tinggal mandi sebentar saja malah tidur." Vina mulai berani mengomel.


Melihat Papanya tak merespon panggilannya, Vina masuk ke dalam kamarnya.


" Kenapa lagi ini Tuhan. Papa.. Apa yang Papa lakukan. Kenapa tak henti hentinya menyiksa Vina." Vina menangis lagi mendapati meja belajarnya pecah menjadi beberapa bagian.


Vina tak tahan lagi. Sungguh Papanya tidak bisa berubah baik. Vina menghampiri Papanya di ruang tengah lantai bawah.


" Papa.. Papa.. bangun!" Vina menarik bantal penutup kepala Wijaya.


" Eh, Jam berapa ini?" Wijaya tersentak seperti kebingungan. Dia melihat jam di tangannya. Lalu dia tersadar, seumur hidup Wijaya tidak pernah mengenakan jam di tangannya.

__ADS_1


" Papa, sampai kapan Papa akan menyiksa Vina? Kalau Papa tidak suka dengan Vina, mengapa Papa melarang Vina mati? Jawab!"


Kali ini tak hanya menangis, Vina juga meluapkan amarahnya. Wijaya masih terdiam. Dia masih tampak linglung setelah bangun dari tidurnya.


" Papa !" Teriak Vina.


Wijaya terkejut, teriakan Vina memekakkan telinganya. Sehingga membuat dia langsung sadar lagi.


" Apa teriak - teriak? Bisik Wijaya lirih.


Melihat anaknya menangis bercampur emosi, Wijaya meraih tubuh Vina dan memangkunya. Dia terus memandangi wajah Vina.


" Siapa yang buat salah, siapa yang dimarahi. Astaga..." Wijaya mencoba berkelit.


" Lepaskan Vina! Vina sudah bukan anak kecil yang bisa Papa pangku lagi." Vina mencoba berdiri dan melepaskan pegangan Wijaya.


" Anak Papa ini kenapa? Kamu kerasukan apa? Memangnya Papa ini siapa kamu, Papa pangku saja menolak." Ucap Wijaya protes.


" Vina tak peduli. Sekarang jawab Vina. Kenapa Papa Menghancurkan meja belajar Vina, setelah tadi sudah membuang seragam sekolah Vina?"


Wijaya menggaruk kepalanya, dia bingung mau menjelaskannya.


" Papa.. Jawab!" Vina kembali membentak .


Wijaya mencoba menahan amarahnya. Sekalipun dia tidak suka dimarahi sama keluarganya sendiri, namun demi keutuhan keluarganya, dia berusaha sekuat tenaga agar tidak terprovokasi.


" Sabar dulu.. Papa bisa menjelaskannya."


" Vina sudah tidak bisa sabar. Cepat katakan!" Vina mulai jengkel pada Wijaya.


" Iya.. Papa akan jelaskan. Dengar dulu, jangan membentak Papa."


Setelah Vina diam, Wijaya mulai menceritakan kejadiannya.


" Tadi Papa dapat telpon dari Bos Papa. Dia menyuruh Papa untuk kembali ke sana secepatnya. Vina tahu kan, Papa baru saja datang, dan sekarang harus pergi lagi. Papa jengkel, lalu tak sengaja melempar meja belajarmu."


" Serius? Papa tidak bohong kan?"


" Papa bersumpah. Papa ada buktinya." Wijaya memberikan HPnya pada Vina.


" Mana buktinya Papa? "


" Itu di HP. Di daftar panggilan masuk." Jawab Wijaya..


" Iya sudah, Vina percaya. Vina mau ganti baju dulu."


" Iya Papa tunggu. Buruan ya Vina." Ucap Wijaya memaksa.

__ADS_1


......................


__ADS_2