SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
PERTARUNGAN ANTAR ORANG KEJAM


__ADS_3

Melihat kehebatan Bono, hati para penduduk berdebar-debar. Haruskah mereka mengambil resiko kehilangan nyawanya hanya untuk melindungi seorang gadis di kampungnya.


Tak ada lagi yang bisa melawan Bono. Mereka semua merasa ketakutan, namun tak ada lagi tempat bagi mereka untuk melarikan diri.


" Bagaimana ini Ketua? Salah satu diantara kita tak ada yang mampu mengalahkannya. Bahkan kita serang bersama-samapun, tak ada serangan kita yang mengenai dia." Ucap salah satu warga.


" Benar Ketua, Kita tak akan sanggup melawannya meskipun jumlah kita lebih banyak." Ucap warga yang lain.


" Aku juga tidak tahu. Orang ini seperti bukan orang. Tubuhnya keras seperti batu intan. Kecepatannya seperti angin ****** beliung yang menggulung.


" Sepertinya kita tidak akan bisa menang melawannya. Jika kita terus menyerangnya, kemungkinan dia yang malah akan membunuh kita." Ujar Ketua warga.


" Lalu, apakah kita akan berdiam diri begitu saja ketua? Dia mengacak-acak desa kita, dimana harga diri kita?" Ucap wakil ketua.


" Apa kamu mau mati konyol? Dia bukanlah manusia sembarangan. Apa kamu tak melihat, puluhan orang kita, bisa dia robohkan dengan begitu cepat. Lebih baik kita mencari aman saja." Ujar ketua warga.


" Apa kamu mau jadi pengecut? Aku tak percaya, kamu besar di mulut saja. Kalau kalian tidak mau menyerangnya, biar aku sendiri yang menyerangnya." Tegas Wakil ketua sembari bersiap melakukan penyerangan.


" Hentikan! Aku ketua disini. Aku yang berhak memutuskan. Ini demi keselamatan kita. Apa kamu mau membuatnya marah dan memusnahkan teman-teman kita? Berpikirlah yang jernih. Kita coba pikirkan cara yang terbaik, untuk mengurangi korban." Ujar Ketua tegas.


Mendengar teguran Ketua, Wakil ketua terdiam. Dalam hati, dia membenarkan kata Ketuanya. Tetapi dia tak ingin harga dirinya di injak-injak begitu saja.


" Kenapa? Apa kalian sudah kehabisan akal untuk melawanku? Tanya Bono, karena warga sudah tak melawannya lagi.


" Jangan sombong Kau Nak! di atas langit masih ada langit. Jangan kira, hanya kau yang kuat." Teriak Wakil ketua.


" Bary! Jangan memprovokasinya. Apa kamu mau dia menunjukkan kekuatan aslinya? Pergilah! Tinggalkan tempat ini." Kembali ketua membentak wakilnya.


" Ketua! Kalau kamu sudah tidak mempunyai malu, sebaiknya mundur! Biarkan aku yang menanganinya. Aku rela mati demi kampungku." Wakil ketua balik membentak.


" Bary! ini bukan tentang harga diri, tapi demi keselamatan kita. Jangan membuatku marah! Pergi, kembalilah ke rumahmu."


" Aku tidak peduli, ketua. Aku tetap akan menyerangnya."


Tanpa mempedulikan kata-kata Ketuanya, Bary menyerang Bono dengan cepat. Dia menghunuskan pedangnya ke arah Bono.


Melihat seorang warga menyerang ke arahnya, Bono dengan sigap mengumpulkan tenaga dalamnya, lalu dengan segera menyerang balik kepada Bary hanya dengan sebuah tiupan kecil.


" Huuffhh.." Sebuah angin kecil menyembur dari mulut Bono. Dan,


" Akkhh.." Bary terlempar ke udara hingga ke belakang barisan Warga.


" Bary!" Teriak salah satu warga, diikuti warga yang lain.


Akibat tiupan berisi tenaga dalam Bono, Bary terluka parah. Beberapa warga membawanya mundur untuk menyelamatkannya.


Namun, Bono terlanjur marah kepadanya. Sebelum Warga membawanya pergi, Dia melompat ke arah Bary. Dan bermaksud menyerang dengan menginjak kepala Bary.

__ADS_1


Warga dan Bary yang tak siap menghadapi Bono, hanya bisa menyerah. Mereka tak sempat mempunyai persiapan untuk menghindari serangan Bono.


Tetapi tiba-tiba, sebelum kaki Bono menginjak kepala Bary, segumpal asap tebal meluncur dengan cepat dan melindungi Bary.


Seketika itu, Tubuh Bono yang kekar, terpental jauh ke udara hingga dua puluhan meter. Serangannya yang cepat dan terarah, membuat Bono terbanting mengenai pohon, sebelum jatuh ke tanah.


Semua warga terkejut melihat kejadian itu. Hingga Ketua mengira, Bary mempunyai ilmu yang sangat tinggi yang sengaja dia sembunyikan.


Namun sebelum mereka berpikiran terlalu jauh, asap tebal yang muncul berubah menjadi sosok manusia berbadan kekar seperti Bono.


" Kurang ajar! Siapa yang bisa memukulku seperti ini!" Teriak Bono sambil mengumpat.


" Bono! Sepertinya kamu memang sudah bosan hidup! Aku akan mengakhiri hidupmu disini!" Teriak seorang laki-laki misterius penyerang Bono.


" Ha? Bo bosss? Ampun Bos, saya khilaf. Maafkan kesalahan saya." Tak bisa berdiri, Bono merangkak ke arah Wijaya.


" Aku sudah mengingatkan kepadamu berulang kali. Namun kamu tak pernah patuh terhadap perintahku."


" Maaf Bos, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Saya bersumpah Bos."


Bono bersujud di kaki Wijaya. Dia terus memohon ampun atas semua kesalahan yang telah dia lakukan. Tetapi, seolah tak mempedulikan permohonan maaf Bono, Wijaya tiba-tiba memendang perut Bono dengan sangat keras.


" Dukkk.." Tubuh Bono terlempar ke udara Hingga tiga puluh meter, dan sebelum Bono jatuh ke tanah, Wijaya telah siap di bawahnya dan hendak menyerangnya lagi.


" Bukk.." Satu pukulan mendarat lagi di perut Bono, dan dia terlempar lagi ke udara hingga jatuh mengenai rumah warga.


Bono yang telah babak belur dihajar Wijaya, bangun dari reruntuhan rumah warga yang tertimpa dirinya. Dengan langkah gontai dia berjalan menuju ke arah Wijaya.


" Bagus, Bono! Kemarilah, maju dan serang aku!" Wijaya berteriak-teriak bak orang kerasukan.


" Bos, aku tak sanggup melawanmu. Meskipun aku bisa saja lebih kuat darimu, aku tak akan mau melawanmu." Ujar Bono yang malah semakin membuat Wijaya naik darah.


" Bisa-bisanya kamu mengaku dirimu lebih kuat dariku. Ayo, kalau begitu tunjukkan kehebatanmu. Ayo Bono! serang aku!" Emosi Wijaya semakin memuncak.


Semakin Wijaya berteriak, kekuatannya menjadi semakin besar. Melihat Bono tak membalas serangannya, Wijaya merasa seperti terhina. Dia menampar Bono hingga membuatnya terlempar bergulung-gulung di tanah.


" Bos, Ayo pukul saya. Kalau perlu, bunuh saya. Saya tak akan menghindar dan tak akan membalas seranganmu." Ucap Bono lirih.


" Apa kupingmu sudah hilang pendengarannya,Bono? Ayo! Kita tentukan siapa yang terhebat!"


Meskipun Bono tak membalas serangan Wijaya, namun Wijaya tetap menyerangnya terus menerus. Tubuh keras Bono seperti menjadi pelampiasan yang baik untuk kemarahan Wijaya.


Tak lama setelah dia menyerang Bono untuk ke sekian kalinya, Wijaya berhenti sejenak untuk memikirkan cara agar Bono mau melawannya. Dia ingin mengetahui kehebatan Bono, sebagai pengawal setia dan terhebatnya.


Setelah terdiam beberapa menit, Wijaya menemukan cara agar Bono terprovokasi dan menyerangnya.


" Bono, ada satu hal yang ingin ku sampaikan kepadamu. Mungkin ini sudah saatnya aku membocorkan rahasiaku kepadamu."

__ADS_1


" Apa Rahasiamu Bos?" Tanya Bono pada Wijaya, hingga mengerutkan keningnya karena penasaran.


" Sebenarnya kematian orang tuamu dua puluh tahun yang lalu, aku lah yang membunuhnya. Aku lah yang meniduri Ibumu, hingga dia tewas bunuh diri, karena merasa dirinya menjadi orang yang hina setelah aku menodainya.


Dan Ayahmu, dia tewas di tanganku beberapa hari setelah mengetahui aku yang menodai dan membuat ibu kamu bunuh diri.


Dia datang kepadaku meminta pertanggungjawaban kepadaku. Namun karena diliputi emosi yang besar, Ayahmu mencoba membunuhku dengan pedang panjang.


Dia tak tahu aku telah menguasai ilmu pedang tingkat tinggi. Saat dia ingin menebasku dengan pedangnya, aku berusaha menghindarinya, lalu dengan sigap memegang tangan kanannya yang membawa pedang.


Lalu aku, menggerakkan tangan kanannya untuk mengenai dirinya sendiri. Tak berapa lama, dia tewas tertusuk pedang panjangnya sendiri tepat di jantungnya."


Mendengar cerita Wijaya, Bono terduduk lemas tersimpuh. Jantungnya berdegup cepat. Darahnya mendidih, matanya memerah karena amarahnya meluap.


" A, Apa cerita itu sungguh benar Bos Wijaya?" Bono berusaha tidak mempercayai cerita Wijaya. Namun amarahnya telah meluap, meskipun dia masih bisa menahannya.


" Itu benar, Bon. Aku lah orang yang kamu cari. Hahaha.." Untuk menambah daya tempur Bono, Wijaya sengaja membuat amarah Bono semakin meluap.


" Ja, jadi selama ini aku melindungi orang yang salah. Kurang ajar, Wijaya! Aku akan balaskan kematian orang tuaku!


" Hiaaaaat.." Seperti tak pernah merasa sakit meskipun sudah babak belur, Bono berlari secepat peluru melesat ke arah Wijaya.


Pertempuran antar orang kejam terjadi begitu sengit. Bono mampu mengimbangi serangan- serangan Wijaya. Semakin Bono mengingat kematian Orang tuanya, kekuatan Bono semakin meningkat. Namun, Wijaya juga bukan orang sembarangan. Dia mampu menaikkan kekuatannya, hanya dalam hitungan detik tanpa berteriak ataupun meluapkan emosinya.


Warga yang melihat pertempuran itu menjadi semakin ketakutan. Mereka berhamburan meninggalkan kampungnya untuk melarikan diri.


Namun kakek Rika, yang paling lama tinggal di kampungnya tidak ingin pergi. Dia lebih memilih mati daripada meninggalkan sejuta kenangan semasa hidupnya.


" Kakek, ayo kita pergi." Bujuk Rika sembari memegang tangan kakeknya.


" Kakek takkan pergi. Kakek sudah bahagia tinggal disini. Seandainya mereka membuat kerusakan di kampungku, hingga membuatku mati, aku takkan menyesal. Setidaknya, di akhir hidupku, aku masih berada di dalam kampung halamanku yang memberiku banyak kenangan."


Karena Kakek rika tak mau pergi, Rika pun tak mau meninggalkan kakeknya. Dia bersumpah untuk selalu bersama kakeknya. Menjaga dan merawatnya sampai Tuhan memanggilnya kembali.


Hingga satu jam lamanya, pertempuran Wijaya dan Bono belum berakhir. Keduanya saling memukul dan menendang, berbagai jurus telah mereka keluarkan. Bono yang memang ilmunya ,dua tingkat di bawah Wijaya kini mulai lemah. Dia terkapar lebih dahulu sebelum serangannya mengenai Wijaya.


" Buukkk.. " Bono terjatuh dan tersungkur ke tanah. Tubuhnya tertelungkup, tak mampu bergerak. Darah bercucuran di sekitar wajahnya.


Kalung yang melingkar dilehernya, bandulnya yang diberi foto Ayah Ibunya di dalamnya terbuka. Sebelum pingsan tak sadarkan diri, Bono berkata lirih dengan foto kedua orang tuanya.


" Ayah, Ibu.. Aku telah menemukan siapa yang membunuh kalian. Tapi, aku tak bisa membalasnya."


Setelah beberapa detik, Bono tak sadarkan diri. Dari kedua matanya mengalir tetesan air mata yang lembut dan hangat.


Setelah melihat keadaan Bono yang tak sadarkan diri, Wijaya mendekatinya. Dia tersenyum sesaat, ketika melihat air mata Bono. Kemudian Wijaya membawa tubuh Bono pergi dari tempat itu untuk mengobatinya.


......................

__ADS_1


__ADS_2