SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
TIDAK BERMAKSUD MEMBUAT PAPA KECEWA


__ADS_3

Setelah menunggu Setengah jam lamanya, Wijaya dan Vina keluar dari rumahnya. Hari sudah gelap, Ini lah momen yang di tunggu Vina.


Dia sengaja dandan lebih lama untuk menunggu hari sudah gelap. Walaupun Papanya sudah berpesan agar jangan lama- lama, namun Vina tak menghiraukannya.


Nanti, atau mungkin besok, Papanya sudah kembali lagi keluar kota. Karena itu dia ingin sekali menghabiskan waktu, ketika bersama Papanya di malam hari .


Dalam perjalanan menuju rumah makan, Wijaya masih menyimpan rasa kesal di dadanya. Namun dia tak bisa menyembunyikannya. Dia pun berkata pada Vina,


" Lihat sudah jam berapa ini Vin? Sudah jam enam lebih lho. Papa kan sudah bilang jangan lama- lama, tetapi dandan saja lama sekali. Kaya mau kondangan saja." Ucap Wijaya sambil menunjukkan jam di Hpnya kepada Vina.


" Papa harap maklum, Vina kan anak cewek. Dandannya lama. Papa bisa ngerti Vina tidak ?" Ucap Vina pura-pura kesal.


" Iya, Papa mengerti. Tetapi Vina juga harus lihat kondisi. Papa kan harus segera kembali."


" Maaf, Vina memang sengaja melakukannya. Vina ingin lebih lama bisa bersama Papa."


" Ingin lebih lama bisa bersama Papa? Kamu saja mandi dan dandan sudah lama. Padahal Papa sudah siap dari tadi. Tapi kamu malah seenaknya saja membuang waktu." Wijaya tambah jengkel pada Vina, mendengar pengakuan Vina, kalau dia sengaja melakukannya.


" Papa tahu kamu butuh Papa. Tetapi tidak begitu caranya. Sekarang, misalnya kamu tidak lama di kamar mandi dan tidak lama dandannya, mungkin sudah dari tadi kita sampai di rumah makan. Bisa lebih lama sama Papa. Namun apa yang kamu lakukan? Kamu malah berlama - lama seakan menghindari Papa."


" Papa, maafkan Vina. Vina salah mengambil keputusan. Bisakah Papa perginya besok saja? Vina mohon.." Pinta Vina merengek.


" Maaf Vina, Papa tidak bisa. Sehabis makan nanti, Papa harus segera pergi. Bos Papa sudah menunggu. Ada masalah yang harus segera di selesaikan oleh Papa." Wijaya menolak permintaan putrinya.


" Vina mohon Papa." ucap Vina lalu merangkul Papanya dengan erat, dia sama sekali tak rela Wijaya pergi.


" Papa kan sudah bilang tidak bisa. Tidak usah merayuku."


" Papa tak ingin melihat Vina bahagia?" Ucap Vina ketus.


" Kenapa bilang begitu? Apa yang Papa lakukan selama ini, semua buat anak Papa. Kamu bisa merasakan jerih payah Papa kan? Kerja siang malam di luar kota, demi menghidupi kamu dan adik kamu. Jadi jangan pernah menanyakan hal yang konyol Vin."


" Papa keluar kota mencari apa? Apa lagi yang Papa inginkan? Papa sudah memiliki banyak uang. Yang Papa ingin berikan pada Vina di rumah tadi, Itu sangat banyak.

__ADS_1


Kita bisa hidup hanya dengan uang itu saja . Kita tinggal mencari tambahan saja di kota ini. Papa tidak perlu kembali ke luar kota lagi.


Bawa adik Vina ke rumah kita, Kalau Papa tak banyak waktu untuk menjaganya, biarkan Vina yang membantu Papa menjaga Xena.


Vina juga bisa kok merawat Xena. Papa jangan meragukan kemampuan Vina. Biarkan adik Vina tinggal di sini. Agar rumah kita tidak sunyi lagi. "


" Untuk saat ini, biarkan Xena bersama pengasuhnya dulu. Besok kalau sudah tiga tahun, Papa akan membawanya kemari. Papa harap kamu tidak memaksa Papa." Ucap Wijaya dengan tegas.


" Menunggu xena selama tiga tahun? Itu waktu yang sangat lama, Papa. Dan mungkin Vina sudah tak ada lagi di dunia ini. Jadi bagaimana bisa Vina merawat adik Vina.


" Kenapa kamu bilang aneh-aneh lagi. Jangan bikin Papa sedih. Malam ini kan Papa mau pergi lagi. Papa tak ingin saat pergi, melihat kamu bersedih."


Tak terasa saat Vina terdiam, dia meneteskan air mata. Hingga membuat hidungnya seperti sedang pilek.


Melihat hal itu, Wijaya menghentikan motornya.


" Benar kan dugaanku, pasti kamu menangis. Mirip sama Mamamu. Cengeng sekali."


" Papa jangan begitu, Papa harusnya mengerti, Vina dan Mama itu perempuan. Kami adalah kaum yang mudah rapuh hatinya. Papa jangan seenaknya bilang begitu pada kami."


" Memang seharusnya begitu kan Papa, Laki-laki harusnya bisa mengalah. Istri marah, suami mendengarkan dan menenangkan. Jangan malah jika istri marah, suami juga lebih marah. Kasihan istrinya. Papa tahu seberapa kuat seorang perempuan itu jika marah- marahan dengan laki-laki, apalagi suaminya? Kebanyakan, jika suami tidak mau mengalah, Istri lah yang mengalah, dan hanya bisa menangis." Ucap Vina menggebu- gebu seakan pernah mengalami kejadian yang dia katakan.


" Iya Papa tahu itu, Papa mengerti. Tapi sayangnya, saat Papa sudah menyadari hal itu, Mama kamu sudah tak bersama kita." Ucap Wijaya disertai tangisan lirih.


"Papa..." Vina kembali memeluk Wijaya.


Dibawah sinar lampu di tepi jalan yang sepi, Kedua Bapak dan Anak, saling berpelukan dalam tangisan. Kematian Dinda cukup membuat mereka tersiksa. Dimana saat Dinda masih hidup, Vina dan Wijaya sangat membutuhkannya.


" Papa, Vina khawatir Mama merindukan Vina. Vina ingin sekali bertemu dengannya. Saat sebelum Mama menghembuskan nafas terakhirnya, dia tersenyum setelah melihat Vina."


" Sudah Vin, tidak perlu diteruskan lagi. mengingat Mama kamu hanya akan menambah luka. Ikhlaskan saja dia. Papa yakin dia lebih bahagia dengan hidupnya yang sekarang. Sekarang kita yang masih tinggal di sini harus kuat. Kalau kita selalu bersedih atas kepergian Mama kamu, pasti dia akan sedih juga.


Bukan tangis kita yang dia harapkan, tapi doa kita. Jangan pernah berhenti mendoakannya. Mama kamu pasti bisa tertidur lelap di sana."

__ADS_1


" Ayo, usap air matamu. Kita segera mencari makan." Ajak Wijaya pada Vina yang masih menangis.


Mendengar perintah Papanya, Vina menurut. Lalu membonceng Papanya di belakang.


Setiba di Rumah makan, Vina terkejut.


" Wah, bagus sekali tempatnya Pa." Ucap Vina kegirangan.


" Iya pasti Vin. Rumah makan ini milik teman Papa. Kalau makan di tempat ini, Papa selalu dilarang membayar. Makanya Papa jadi canggung."


" Wah pasti mahal makanannya. Vina belum pernah makan di restoran sekelas ini Papa."


" Papa kan tiap bulan kasih kamu uang banyak, kenapa tak pernah makan di restoran mahal? Terus uangnya buat apa?"


" Uang Papa sebagian Vina tabung dan sebagian untuk memberi mereka yang membutuhkan. Vina tak pernah gunakan uang Papa."


" Astaga... Terus kamu makan sehari-hari uangnya darimana?" Wijaya mulai cemas dengan jawaban yang akan Vina katakan.


" Vina kan anak pintar, Vina sekolah tak pernah bayar. Karena Vina dapat beasiswa. Makan pun dari usaha Vina sendiri. Uang Papa, Vina belum pernah memakainya sedikitpun."


" Baikklah, tidak apa-apa kalau Vina mampu berusaha sendiri. Besok lagi Papa tak akan kirim uang lagi. Jadi Papa selama ini menabur garam di lautan ya." Ucap Wijaya kesal lalu menutup kedua mata dengan tangan kanannya.


" Papa tersinggung ya. Maafkan Vina. Vina tak bermaksud membuat Papa kecewa. Vina hanya ingin menunjukkan kalau Vina mampu hidup mandiri. Vina hanya ingin membuat Papa bangga, karena putri Papa ini mampu mencari uang sendiri meskipun masih sekolah. Tetapi Vina tak bermaksud merendahkan Papa." Ucap Vina menyesali perkataanya.


" Sudah, tidak apa-apa Vina. Papa tidak marah, lakukan apa yang bisa kamu lakukan. Jika itu bisa membuatmu senang, Papa tidak melarang. Tetapi ingat, suatu saat nanti jangan mengungkit Papa, dan bilang jika Papa tak pernah memberi nafkah."


" Vina tak akan pernah mengungkitnya, Papa. Vina berjanji. Ini kemauan Vina sendiri. Vina tak akan menyesali apa yang Vina lakukan."


" Iya Vina." Ucap Wijaya, lalu membuang muka ke arah lain karena kedua matanya berair.


Vina melihat titik air mata di sudut mata Papanya. Dia tahu Papanya kecewa. Tak seharusnya dia mengatakan kalau tak pernah memakai uang Papanya. Vina pun ikut bersedih. Dia mencoba membayangkan jika berada di posisi Papanya. Saat Papanya harus bekerja membanting tulang sendiri demi anaknya, tetapi anaknya tak memakai uang tersebut. Hati Vina menjerit, namun dia mampu menahan air matanya.


" Papa jangan bersedih. Maafkan Vina." Vina memeluk lengan kekar Wijaya dan memiringkan kepalanya ke pundak Wijaya.

__ADS_1


......................


__ADS_2