
Sementara itu, untuk mengisi waktu kosongnya sebelum Wijaya kembali ke luar kota, dia menyempatkan diri berkeliling di setiap tempat yang menjadi incaran wisatawan.
Di tengah kota, di beberapa pantai, danau, bahkan di gunung pun dia kunjungi. Hingga akhirnya Wijaya menemukan tempat yang sangat indah di sebuah perbukitan yang tinggi.
Wijaya di temani anak buahnya menjelajahi sebuah bukit yang penuh dengan tanaman bunga. Dia mencoba mendaki hingga sampai ke puncaknya.
" Bono, aku rasa tempat ini cocok untuk investasi kita di masa mendatang." Ucap Wijaya pada Bono, pengawal terkuat Wijaya.
" Benar Bos, saya rasa jika tempat ini di buka untuk umum, akan menghasilkan pundi-pundi uang untuk kita." Ucap Bono menyatakan setuju dengan Wijaya.
"Kamu benar Bon, ini adalah kekayaan alam yang tersembunyi. Coba kamu tanya penduduk sekitar sini, siapa yang memiliki lahan seluas ini."
" Baik Bos, saya akan mencari tahu siapa pemiliknya." Ucap Bono lalu bergegas turun untuk mencari tahu siapa pemilik lahan itu.
Dengan hanya berlari ringan saja, Bono berlari secepat kilat. Tubuhnya seperti terbang di udara. Tak butuh waktu lama untuk sampai ke bawah.
Wijaya menunggu di puncak sembari menunggu Bono kembali dari pencariannya.
" Ahh.. di sini sejuk sekali meskipun hari masih terang. Sayang sekali kamu tak bisa ikut Papa ke sini Nak." Wijaya bergumam sendiri.
" Di sana tempat matahari terbenam, sepertinya aku akan menemukan kesenangan di daerah ini. Nanti aku akan memberitahumu Vin. Ternyata di daerah ini ada yang sangat menarik untuk di kunjungi."
Sembari menunggu anak buahnya kembali, Wira mendirikan tenda di atas bukit. Dia menyiapkan berbagai perbekalan.
" Bono belum memberiku kabar, lebih baik aku bikin kopi dulu."
Wijaya mulai mencari ranting atau dahan pohon di sekeliling puncak bukit. Dia mengumpulkannya satu demi satu. Setelah mendapatkan setumpuk ranting dan dahan, Wijaya mulai menyalakan apinya.
" Untung saja aku bawa air galon, kalau tidak, kemana aku akan mencari air untuk membuat kopi panas?" Pikir Wijaya dalam hati.
Saat Wijaya sibuk menyalakan api, Bono menelponnya.
" Hallo, " Wijaya mengangkat telponnya.
" Hallo juga Bos, Saya sudah menemukan pemilik lahan di puncak, Bos."
" Bagus, cepat sekali kamu menemukannya Bon." Ucap Wijaya memuji.
" Itu hal yang kecil Bos." Bono menjentikkan jari tangannya.
" Baiklah, terus bagaimana? Apa ada masalah?" Tanya Wijaya.
" Maaf Bos, sepertinya Ibu ini tidak mau bekerjasama dengan kita." Ucap Bono memprovokasi.
" Owh jadi begitu rupanya. Siapa nama Ibu itu Bon?"
" Namanya Rani Bos." Jawab Bono
" Rani? Apa dia seusiaku?" Wijaya mencoba menebak.
" Benar Bos, dia seusia bapak. Namun dia masih kelihatan sangat muda dan menawan." Bono mengiming-imingi Wijaya.
__ADS_1
" Benarkah Bon? Jangan becanda. Awas kalau kamu bohong!"
" Saya tidak bohong Bos, kalau tidak percaya, silahkan kemari." Ucap Bono meyakinkan Wijaya.
" Baiklah, aku percaya padamu Bon."
" Terima kasih atas kepercayaannya Bos." Bono tersenyum bangga.
" Eh, Bon. Kamu tawar berapa harga tanahnya? Beri dia harga yang lebih tinggi dari sebelumnya."
" Seperti perjanjian Bos, baik Bos. Akan saya laksanakan."
Di rumah Rani, Bono mencoba memberikan penawaran yang lebih besar.
" Bu Rani, Bos saya bilang, Kami akan membeli lahan di puncak tiga kali lipat dari yang kami tawarkan. Bagaimana? Apa Ibu mau melepaskannya?"
" Maaf sekali Pak, dibeli dengan harga paling tinggi sekalipun, kami tidak berniat menjualnya." Ucap Rani kesal karena Bono terus mempengaruhi agar ia mau menjual tanahnya.
" Anda keras kepala sekali Bu. Jangan sampai Anda menyesal kalau Tuan saya yang turun tangan sendiri. Saya mencoba lebih lembut. Namun kalau Anda tetap tak mau melepaskan lahan di atas sana. Jangan harap Anda bisa melihat mentari esok pagi." Kali ini Bono mengancam Rani.
" Kamu mengancam saya? Saya tidak takut padamu! Di sana lahan kami, tak ada satupun yang bisa merebutnya." Rani membentak Bono.
Bono kembali menelpon Wijaya setelah gagal mempengaruhi Rani.
" Hallo Bon, ada apa lagi?"
" Maaf Bos, Saya gagal mengambil hati Ibu ini. Saya heran, mengapa orang ini tidak takut sedikitpun dengan saya?"
" Baiklah Bos, saya akan mencarinya." Bono menutup telponnya.
" Bu Rani, apa Anda tahu siapa pemilik tanah yang dekat dengan tanah Anda?"
Rani hanya terdiam. Dia tak ingin berbicara. Dia lebih memilih mengajak bicara Tama. Seolah tak ada siapapun di rumahnya kecuali mereka berdua.
" Bu Rani, apa Anda tak mendengar saya bicara?" Sekali lagi Bono bertanya.
" Saya tidak tahu, dan tak mau tahu. Itu bukan urusanku." Ucap Rani ketus.
Mendengar perkataan Rani, Bono menjadi naik darah. Beruntung, Bosnya saat ini sedang baik. Jika tidak, mendengar kata Rani seperti itu, Bono sudah melapor pada Wijaya. Dan biasanya Wijaya lebih memilih cara yang kejam untuk mendapatkan yang dia mau.
" Perempuan bodoh! Di beri uang banyak tak mau. Baiknya aku cari orang lain yang mau menberitahuku."
" Apa kamu bilang? Mengatakan aku bodoh? Bukannya kamu yang bodoh, karena tak bisa mengambil hatiku?"
" Diam! Aku sudah tak ada urusan dengan Anda. Permisi." Dengan wajah marah, Bono meninggalkan rumah Rani.
" Pergi sana! Jangan pernah kembali! Mengganggu saja." Ucap Rani lalu membawa masuk Tama ke dalam rumah.
Bono hanya bisa mengumpat dalam hati. Dia tak mau berkata kasar saat ini.
" Mungkin saat ini aku sedang diuji kesabaranku, lihat saja Rani. Kamu akan menyesal telah mengusirku dan menolak menjual lahanmu pada kami."
__ADS_1
Dengan langkah tegap, Bono berjalan secepat mobil melesat, menyusuri perbukitan dan pergi ke rumah penduduk di bawah kaki bukit.
" Aku harus segera menemukan siapa pemilik lahan, di sebelah bukit Si Rani itu. Kalau tidak, Bos akan menggantikanku dengan yang lain menjadi pengawal setianya. Aku tak ingin itu sampai terjadi." Ucap Bono dalam hati, lalu dengan segera mempercepat langkahnya.
Di puncak bukit, Wijaya telah menghabiskan dua gelas kopi hitam kesukaannya. Dia masih menunggu kabar dari Bono. Sudah hampir dua jam, Bono belum juga kembali.
" Kemana si Bono itu, Sudah dari tadi belum juga kembali. Dia juga tidak menghubungiku. Apa ada masalah dengannya?" Gumam wijaya lalu menghabiskan kopinya yang tinggal satu tegukan.
" Ini sudah hampir petang, Kemana saja si Bono?" Wijaya lalu mencoba menghubungi Bono.
" Hallo Bos," Suara Bono dari dalam telpon.
" Bon, kemana saja kamu ha! Kenapa lama sekali mencari orang? Dimana keahlian kamu? Jangan main-main denganku!" Ucap Wijaya tegas.
" Eh, maaf Bos, saya.." Belum selesai bicara, seorang wanita bertanya pada Bono,
" Telpon dari siapa mas? kenapa seperti ketakutan begitu?"
" Hussh..Diam! Ahh mati aku." Bisik Bono pada wanita dalam telpon.
Melihat wajah Bono saat menyuruhnya diam, wanita itu segera diam. Dia merasa ketakutan. Lalu berlari menuju ke rumahnya.
" Bon, apa yang sedang kamu lakukan! Kamu mau menguji kesabaranku?" Wijaya semakin meledak emosinya.
" A, ampun Bos, maafkan saya. Saya khilaf. Saya sedang bersama wanita penduduk sini. Kami sedang berkenalan Bos."
" Apa! Jadi dari tadi kamu malah bermain wanita? Kurang ajar, Bon, Ku bunuh kamu!"
" Bos, bos Wijaya. Tunggu dulu, mohon dengarkan penjelasan saya dulu." keringat Bono mengalir deras di sekujur tubuhnya. Dia merasa sangat ketakutan.
" Penjelasan apa! Aku sudah menunggumu lama, tetapi kamu malah seenak jidatmu sendiri mempermainkan wanita!"
" Bos, saya hanya mencoba menjadi orang yang lembut. Saya tak ingin datang ke tempat ini dengan tampang kasar. Jika masih menggunakan trik dulu, saya pikir kita akan mendapatkan kesulitan Bos."
" Begitu rupanya? Baiklah Bon, terserah bagaimana caramu. Yang penting kamu harus segera mencari tahu siapa pemilik lahan di bukit sebelah punya Rani itu." Mendengar penjelasan Bono, seketika Wijaya menjadi lega.
" Baik Bos, saya akan segera mencari tahu."
" Apa wanita di sampingmu itu tidak tahu Bon?" Tanya wijaya dan berharap si wanita tahu.
" Haaah.. sayang sekali, dia berlari ketakutan melihat muka saya saat menyuruhnya diam tadi Bos." Bono menghela nafas, dia merasa kecewa tak bisa mendekati wanita itu.
" Ya sudah, cepat segera cari tahu pada penduduk yang lain. Aku sudah tidak bisa menunggu terlalu lama. Waktuku terbatas."
" Baik Bos, secepatnya akan saya temukan pemiliknya." Ucap Bono lalu menutup telpon dari Wijaya.
" Kemana wanita tadi pergi? Aku harus bisa mendapatkannya. Baiklah, aku akan mencarinya di setiap rumah penduduk."
Mendapat tugas dari Wijaya, Bono segera bergegas melakukan pekerjaannya. Dia tidak berani bermain-main lagi dengan perintah Wijaya. Namun setiap siapa yang ia temui di jalan, tak ada satupun yang mengerti, siapa pemilik lahan di puncak bukit sebelah milik Rani.
......................
__ADS_1