
" Syukurlah, kita sudah sampai Tama." Rani mencoba menghibur Tama yang sejak perjalanan menggeliat terus Karena gerah.
" O iya Ayah lupa Bu, tadi Bulan ingin ikut juga ke dokter. Tapi Ayah tadi janjiannya siang. Ini kita pergi lebih awal. " Tanu meggelengkan kepalanya lalu menepuk keningnya.
Akhir akhir ini masalah dengan Vina membuat beban dipikirannya. Sehingga membuat dia menjadi mudah lupa, tidak fokus dan sering melamun.
" Ya sudah apa boleh buat Yah. Di kabarin saja kalau Kita sudah di tempatnya dokter. " ucap Rani sambil menurunkan Tama dari gendongannya.
" Aduh.. gimana ya.. Ibu saja deh, yang ngabarin Bulan. Ayah enggak enak ngomongnya. "
" Ya sudah biar Ibu saja yang telpon. " Rani mengambil HPnya lalu mencoba menelpon Bulan.
" E ... sebaiknya nanti saja Bu, Bulan mungkin sedang mengikuti pelajaran. Ayah Takut nanti malah mengganggu dia dalam belajar. " Ucap Tanu Sebelum Rani menelpon Bulan, Tanu telah terlebih dulu melarangnya.
" Owh begitu Yah.Ya sudah mendingan sekarang kita masuk dulu saja Yah. " Ajak Rani lalu menggandeng Tama masuk ke dalam, di ikuti oleh Tanu di belakangnya.
Ketika Tanu Rani dan Tama masuk ruangan, seseorang yang tak terlalu jauh dari ruangan itu menyebut- nyebut nama Tanu.
" Eh Vin... itu bukannya Pak Tanu ya? " ucap seseorang yang ternyata dia Tasya.
" Dimana?Bagaimana mungkin Pak Tanu ke klinik. Orang dari kemarin dia baik baik saja kok. " ucap Vina membantah .
" Sumpah, Itu tadi Pak Tanu baru saja masuk ke ruangan.. " jawab Tasya meyakinkan apa yang sudah ia lihatnya.
" Ruangan yang mana?" Vina semakin penasaran.
" Ruangn khusus untuk ibu hamil." jawab Tasya sambil menunjukkan dimana rungannya.
Baru saja Tasya menunjukkan ruangan tempat dimana Tanu masuk, Vina terus berlari menyusul Tanu. Dan benar saja saat Vina masuk ke ruangan, di sana sudah ada Tanu, istri dan juga anaknya sedang duduk di kursi tunggu.
Vina mendekatinya lalu memanggilnya. Dia tidak menghiraukan Rani dan anak kecil yang bersamanya.
" Pak Tanu..."
__ADS_1
Tanu dan istrinya melihat ke arah dimana suara itu berasal.
" Vinaa..."
Melihat Vina datang ke arahnya , Tanu berdiri dari duduknya. Vina segera berlari mendekat ke arahnya dan memeluk Tanu.
Tanu yang tak sempat menghindar, akhirnya tubuhnya pasrah di peluk erat Vina, yang merasakan rindu berat kepadanya.
Namun dia berusaha melepaskan pelukan Vina, akan tetapi Vina terus berusaha merangkul tubuhnya.
Rani yang dari tadi melihat itu merasa tidak nyaman lalu berkata,
" Ehmm... jadi begitu rupanya... "
Tanu gugup, walaupun dia berusaha melepaskan pelukan Vina, Vina terus saja meronta tidak ingin melepaskan pelukannya.
" Sabar Bu, Inii.. Vinnn.. Vinnnaa.. lepaskan Bapak.. Ini di tempat umum. Ada istri dan anak Bapak juga di sini.Jangan menambah masalah lagi. Sudah cukup yang kemarin itu saja. Jangan memulai lagi. " ucap Tanu dengan ketegasan.
" Vina... Lepaskann ! Tanu dengan tegas membentak Vina.
Semua orang terkejut mendengar teriakan Tanu. Rani pun juga kaget mendengar teriakan suaminya. Dia tak menyangka suaminya kalau berteriak, sekeras itu.
Sementara Vina yang tadinya merangkul Tanu, sekarang dia melepaskannya. Vina menangis tersedu- sedu. Air matanya membanjiri pipinya. Vina merasa malu sekali dibentak oleh orang yang sangat dia sayangi. Tetapi kemana dia akan membenamkan wajahnya?
Rasanya Vina ingin berlari dari tempat itu secepat kilat. Agar semua orang tak bisa lagi melihatnya. Tatapan yang mereka arahkan kepadanya membuatnya terasa terhina.
Vina mencoba berlari namun badannya yang masih lemas, dan juga syok akibat bentakan Tanu membuatnya terasa seperti bunga yang hampir layu. Kemana dia akan mencari air yang mampu memberikan kesegaran dan kesejukan di hati dan jiwa raganya.
Pada akhirnya Vina terduduk lemas di depan Tanu. Dia menutup wajahnya dengan jari - jari lentiknya. Isak tangisnya terdengar memilukan. Kesedihan yang dia alami baik sekarang maupun dulu terkumpul menjadi satu. Dia meratapi kisah hidupnya. Mengapa hidupnya seperti ini.
" Nggeeeeeekkkkkkkkkk... " suara pintu kaca di buka.
" Vinaaaaaaaaaaaaa...... " Tasya berlari menghampiri Vina yang terduduk lemas dan menangis di depan Tanu.
__ADS_1
Melihat Tasya datang, Tanu segera meninggalkan Vina dan menghampiri Istrinya. Dia merangkul Rani yang terlihat cemburu,suaminya di peluk bocah kemarin sore.
" Ibu.. " Panggil Tanu sambil mengelus elus lengannya..
" Ibu ini kenapa enggak melarang Vina ketika mencoba memeluk Ayah?"
" Enggak apa-apa Ayah. Lanjutkan saja. Anggap saja Ibu tak pernah melihatnya.
" Ibu.. jangan menyindir Ayah seperti itu ." Ayah jadi bingung mau ngapain "
Sementara itu Vina yang masih terduduk di lantai, sedang mendapat pertolongan dari Tasya.
" Bangun Vin, memalukan jika kamu duduk di lantai seperti ini. Di sini bukan di rumah, ini tempat umum. Apa kamu enggak merasa malu?" Tasya mengangkat bahu Vina, mencoba untuk membantunya berdiri.
Vina merangkul tubuh Tasya yang empuk. Saat ini Tasya lah yang bisa menjadi tempat untuk berkeluh kesah.
" Tasyaaa.... huhuhu... " Tangis Vina semakin lama semakin menjadi.
" Vina... ayo kita segera ke dokter. Di sini bukan tempat yang kita tuju. Kita butuh dokter di ruangan sebelah. Ayo tinggalkan tempat ini." ucap Tasya sembari menuntun Vina melangkah meninggalkan ruangan dokter untuk Ibu hamil.
Vina pun pasrah melangkah meninggalkan Tanu. Sungguh berat cobaan hidupnya. Namun baginya, bentakan Tanu jauh lebih berat di banding dengan yang sudah pernah dia alami.
Dia tak mengira kalau Tanu akan mampu berkata keras. Padahal selama ini dia terkenal dengan kelembutannya. Sopan , ramah , dan juga suka memberi pertolongan pada orang yang membutuhkan .
Hancur redam Hati Vina. Tak tahu lagi apakah hatinya masih berbentuk atau tidak. Yang dia rasa saat ini adalah keinginan untuk bisa melupakan semua yang telah terjadi.
Setelah Vina dan Tasya meninggalkan ruangan, Rani berkata kepada suaminya." Ayah.. Ibu kasihan padanya. Kejarlah dia Ayah. Ibu rasa dia tak pernah mendapatkan kasih sayang . Carilah dia, turuti apa maunya. "
" Ibuu... jangan begitu, kita akan punya anak lagi. Ayah tidak akan menelantarkan Ibu, demi murid Ayah. Biarkan saja dia Bu. Biarkan dia merenung dan menyadari kesalahannya. "
" Ayah... Jika Ibu di posisi dia, Ibu juga akan sakit Yah. Dia masih bocah. emosinya masih labil. Apa Ayah tidak khawatir dia akan sampai berani bunuh diri setelah apa yang dia alami? " ucap Rani guna menyadarkan Tanu yang menjadi keras karena ulah Vina .
" Ayah nggak bisa begitu .. Ayah bukan tipe orang yang begitu mudahnya berpindah tangan.. Sudah lah Bu, jangan pikirkan anak itu. Vina sudah ada yang menemani. Ayah rasa Tasya mampu menenangkannya." ucap Tanu menolak keinginan istrinya.
__ADS_1