
Di rumah Dinas Bupati Kota Apel, Bono merasakan tubuhnya berkeringat terus menerus tanpa henti. Ia mengalami demam. Tubuhnya sebentar dingin sebentar panas. Rika menyuruhnya untuk berobat ke dokter, namun Bono menolak.
Ia sebenarnya tidak merasakan sakit apapun. Namun karena kegelisahan yang mendalam, membuat dia seperti itu.
Karena tak fokus, Bono menabrak pintu kaca Rumah Dinas dengan keras, hingga roboh dan pecah. Hal ini membuat Bupati dan keluarganya merasa heran dengan Bono.
" Pak Bono.. dirimu terbuat dari apa sehingga membuat pintu ini roboh?" tanya Bupati Kota Apel penasaran, namun ia juga merinding melihat Bono.
" Saya bukan orang hebat Pak. Saya tidak sengaja menabrak pintu ini karena kepala saya pusing. Tapi saya juga bingung, kenapa pintu sebesar ini bisa roboh." jawab Bono dengan santainya.
" Kamu sedang sakit? kalau begitu, kamu pulang saja. Biar digantikan sama yang lain."
" Eh, mungkin saya memang harus pulang Pak. Saya khawatir pingsan disini dan malah membuat repot seluruh penghuni rumah."
" Baiklah Bono.. pulanglah. Periksakan dirimu ke dokter, agar kamu tahu, kamu itu sakit apa."
" Iya Pak Bupati. Terima kasih. Kalau begitu saya izin pulang dulu."
Bono pun berkemas-kemas lalu mengambil motornya di belakang rumah Bupati, lalu dengan segera melaju pulang.
...----------------...
Sementara itu di rumah Tanu, seluruh penghuni rumah berkumpul diruang tamu. Mereka semua gugup dengan kejadian yang melanda Tanu dan Bulan. Sepertinya, bahaya semakin mendekati mereka.
" Ayah, bagaimana ini? Bono tidak bisa kita hubungi. Handphonenya tidak aktif. Ibu sudah berkali-kali menelpon tapi tidak tersambung."
" Jadi Paman Bono tidak bisa menjaga kita, Bu? Aduh.. bagaimana ini?" ucap Bulan sembari menangis.
" Tenangkan dirimu, Bulan. Masih ada Ayah dan Kakak-kakakmu yang jago bela diri. Tak perlu cemas. Kita pasrahkan saja hidup kita pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Semoga saja, kita mendapatkan pertolongan dariNya." ucap Riko mencoba menenangkan Bulan.
" Iya, Riko benar. Ibu, Bulan.. sebaiknya kalian jangan terlalu khawatir. Jangan-jangan apa yang terjadi nanti, tak seburuk dengan yang kita pikirkan." Tanu juga berusaha menenangkan Rani dan Bulan.
" Ayah, Ibu.. apa kita perlu meminta beberapa Polisi atau tentara terlatih untuk menjaga rumah kita lagi seperti dulu?" Raka memberikan saran pada Ayahnya.
" Itu ide bagus, Raka. Kita memang butuh beberapa orang yang kuat untuk menghadapi Wijaya. Salah satunya, Polisi atau Tentara. Kalau perlu, kita memakai dua-duanya."
" Tapi, bukankah Wijaya itu bukan orang sembarangan, Ayah? Dia bisa saja melakukan apa saja yang ia mau. Seorang Jendral saja tunduk pada Wijaya."
__ADS_1
" Iya, Ibu.. tapi kita tidak punya cara lain. Wijaya mempunyai kenalan orang-orang hebat. Dia tidak bisa dihukum meskipun ia melakukan kejahatan besar sekalipun."
" Terus, sekarang kita mau melakukan apa, Ayah? Seandainya mas Wira masih ada..." Ucap Rani sembari menangis.
" Ibu, jangan mengeluh. Mas Wira sudah tenang di surgaNya. Ia meninggal dalam keadaan sahid. Kita doakan saja dia, dan jangan bersedih atas kepergiannya. Kita harus bisa mengikhlaskannya."
" Tapi, jika ada Mas Wira kita tak akan sepanik ini, Ayah."
" Ibu, Paman Wira meninggal di tangan Reza. Anak buah Penjahat itu. Jika Paman Wira masih hidup pun, tak kan mampu mengalahkan Bosnya Reza. Jangan sesali kepergian Paman Wira."
" Semuanya, Bulan tak bisa berpikir apa-apa lagi. Sepertinya mimpi kita selama ini akan menjadi kenyataan." ucap Bulan sembari meremas rambutnya.
" Bulan... disini masih ada Kakak dan Ayah, jangan panik. Jangan menyerah karena mimpi buruk itu. Berharaplah, mimpi buruk itu menjadi mimpi yang baik. Kita harus berpikir positif."
" Tapi bagaimana caranya, Kak? Hidup kita itu sudah diambang batas. Kita nggak tahu sampai kapan kita masih bisa bernafas. Mungkin saja hari ini kita masih bisa bernafas lega. Tapi, bisa jadi detik ini adalah riwayat terakhir hidup kita."
" Aduh.. Ibu, Bulan.. kenapa kalian takut sekali? Aku malah merasa tertantang dengan bahaya ini. Aku ingin sekali menjajal ilmu bela diriku. Sudah lama aku tak mencobanya." Raka mencoba mencairkan suasana walaupun sebenarnya ia sangat takut mati.
" Kak Raka.. Paman Wira yang hebat saja, kalah oleh anak buah penjahat itu. Kakak mau mencoba melawannya? Membunuh kecoa saja tidak berani apalagi mau mengalahkan penjahat itu."
" Menyelamatkan bagaimana, Kakak saja takut pada penjahat itu. Bagaimana mau menyelamatkan kami.."
" Ihh... cerewet... Bulan, makin lama kamu makin tajam lidahnya. Sini kakak ikat lidahnya biar nggak bisa ngomong."
"Coba saja kalau bisa, wekkkk.." Ucap Bulan lalu menjulurkan lidahnya.
" Sini! kalau berani sama kakak." Teriak Raka lalu mengejar Bulan yang berlari ke atas menuju kamarnya.
" Raka, Bulan.. kenapa kalian malah ribut sendiri? Kita sedang dalam masalah besar, jangan bercanda." ucap Rani kesal.
" Raka, Bulan.. kembali kemari. Jangan sampai terpisah. Kita harus berdoa bersama agar bahaya yang mengancam kita segera berlalu."
" Baik Ayah.." ucap Raka dan Bulan secara bersamaan.
Bulan dan Raka pun turun dari lantai atas. Wajah mereka berdua tampak murung, mereka berpikir besok takkan lagi bisa bercanda seperti itu lagi.
" Bulan, Raka dan semuanya.. Wijaya sebenarnya mengincar tanah ini. Jika kalian ingin selamat, kita harus menyerahkan tanah ini. Itu satu-satunya cara kita bisa selamat dari ancaman Wijaya." Ucap Rani.
__ADS_1
" Ibu, bukankah tanah ini warisan yang harus kita jaga. Kita tidak bisa memberikannya pada orang lain. Aku tidak mau, kalau sampai itu terjadi. Sekarang, biar aku sendiri yang menghadapi penjahat itu. Jika kalian ingin selamat, tinggalkan saja tempat ini. Dan jangan pernah kembali sebelum aku mengalahkannnya."
" Aku setuju denganmu, Raka. Ibu.. aku masih ingat betul, amanah yang diberikan nenek waktu itu. Beliau menitipkan pesan pada Ibu, agar jangan menjual tanah ini pada siapapun, berapapun harganya. Aku dan Raka akan tetap mempertahankan tanah ini demi menjaga wasiat Nenek." Ucap Riko menggebu-gebu.
" Kak, kalian berdua ini kenapa masih mengurus soal itu. Kita masih ingin terus hidup, kan? Kenapa kalian malah menantang bahaya?" Bulan menyela pembicaraan Rani dan Kakak kembarnya.
" Bulan! kamu tidak mengerti. Sebuah wasiat itu harus dilaksanakan. Jika kamu ingin selamat, menjauhlah dari sini. Kami akan tetap mempertahankan rumah dan tanah kita ini." Bentak Raka karena jengkel dengan adiknya.
" Raka.. kamu tidak boleh membentak adikmu. Wajar, jika dia ingin tetap hidup. Dan lebih memilih jalan aman dengan menghindari bahaya." Tanu melerai kedua anaknya yang berselisih.
" Ayah, baiklah.. kita mempunyai jalur masing-masing. Siapa yang ingin selamat, pergilah dari sini. Tetapi kami tak akan gentar melawan penjahat itu. Lebih baik kami mati daripada memberikan tanah ini tanpa perlawanan."
Perdebatan di dalam keluarga Tanu membuat suasana di dalam rumah menjadi panas. Membuat Tama yang berada ditengah-tengah mereka menjadi bingung. Ia lalu melihat satu persatu wajah-wajah mereka.
" Ayah, Kakak.." ucap Tama lalu menyodorkan kertas berupa gambar yang ia gambar dan telah diberi nilai oleh Rani.
" Tama.. ini gambar siapa? Kamu yang menggambar?" tanya Bulan sembari mengelus kepala Tama.
Tama mengangguk, ia bermaksud memberikan gambarnya agar keluarganya kembali utuh dan tidak ada pertengkaran seperti sekarang ini.
" Bulan, Tama itu menggambar kebersamaan keluarga kita. Lihatlah dengan hatimu. Apa yang kau pahami di dalam gambar itu?"
" Bulan nggak mengerti, Ibu. Ini seperti gambar kita yang sedang kumpul dan berfoto bersama."
" Iya, itu memang gambar kita sedang foto bersama, tetapi didalam gambar itu, ada harapan yang diimpikan oleh Tama."
" Harapan? Bulan semakin tidak mengerti. Tama, ayo bicara sama kakak. Apa yang kamu harapkan tentang gambar ini?"
Bulan bertanya pada Tama, namun Tama hanya melihat Bulan dengan tatapan kosong. Ia tidak bisa mengatakan keinginannya. Dia tak tahu bagaimana menjelaskan perasaannya. Lalu Raka mengambil gambar itu dan melihatnya.
" Kalau aku lihat, Tama menggambar kebersamaan keluarga kita. Kebersamaan yang akan terus terjaga sampai akhir hayat kita."
" Apa itu benar, Tama?" tanya Bulan.
Tama menganggukkan kepalanya. Ia lalu menangis, setelah ia kesulitan untuk menjawab pertanyaan Bulan. Namun ia merasa lega, Kakaknya yang lain masih mengerti apa makna dari gambar yang ia buat.
......................
__ADS_1