
Di luar ruang IGD, Rani dan Tama menunggu Tanu keluar dari ruangan. Sudah hampir setengah jam Tanu belum juga keluar. Apa yang sedang di bicarakan. Pikiran Rani mulai menerka - nerka. " Ayah kok lama ya Tama, ini sudah hampir setengah jam lho . Apa Ayah nggak memberi kesempatan kita masuk? Kok waktunya di habisin sendiri. Nanti waktu buat Ibu habis, karena udah siang. "
Karena nggak sabar, Rani menelpon Tanu. " Haloo.. Ayah sudah belum, sudah setengah jam lebih ini. Terus Ibu kapan bisa bertemu dengannya? "
" Iya haloo Ibu, Iya sudah sini Ibu masuklah.." Tanu mempersilahkan Rani masuk .
Dalam hati dia berkata," Pas sekali Ibu masuk, biar Ibu mengajaknya bicara. Aku sudah kehabisan kata - kata."
" Vina.. ini Istri Bapak, Kamu ngobrol lah sama Ibu. Bapak mau keluar dulu.. Takutnya nanti kena tegur sama suster. " ucap Tanu lalu berjalan keluar meninggalkan ruang IGD.
" Haii.. Vina.. gimana keadaanmu sekarang? maafkan suami saya ya yang sudah berkata keras. Sebagai istrinya saya juga menyayangkan hal itu. Saya tak pernah mendengar beliau berkata kasar. Makanya saya menyukainya. Tetapi hari ini beliau sangat berbeda. "
" Tidak apa - apa Bu, Vina yang salah. Vina yang nggak tahu diri, Vina terlalu berharap pada Pak Tanu. Apa yang di lakukan Pak Tanu adalah kesalahan Saya Bu. Maafkan saya yang hina ini Ibu... hu hu hu huuu.... " Vina mengakui kesalahannya lalu menangis menjadi jadi..
" Sudah nak.. jangan nangis lagi.. simpan air matamu. Cobalah kau tenangkan dirimu. berhenti memikirkan sesuatu yang akan semakin membuatmu bersedih. " ucap Rani menenangkan Vina yang tak bisa membendung air matanya.
" Vina, Ibu mau tanya... Seberapa besar perasaan kamu sama Bapak yang kamu pendam? Apakah akan berlangsung lama atau hanya sesaat ? " Tanya Rani untuk memastikan perasaan Vina yang sebenarnya.
" Ibu... Vina nggak tahu lagi harus bagaimana mengatakannya. Yang jelas Vina tak ingin berpisah dari Pak Tanu. Beliau yang mampu membuat saya tegar mnghadapi hidup yang pahit. Selama ini Beliau lah yang mampu menggantikan posisi Papa, orang tua Vina sendiri."
Meskipun bukan orang tua vina, namun kepribadiannya membuat Vina mengaguminya. Dan Vina ingin memilikinya Bu, Vina bersedia menjadi anak angkatnya. Namun seiring berjalannya waktu, perhatian yang diberikan Pak Tanu membuat Vina menyukainya. Rasa sayang, cinta tumbuh di hati Vina.
Awalnya Vina merasa kalau ini hanya cinta monyet. Makanya Vina hanya memendamnya saja.
Tapi lama kelamaan, cinta itu semakin besar dan Vina tidak bisa menahanya lagi.
Kemarin Vina mencoba mengutarakan perasaan Vina. Tapi sebelum megatakannya, Pak Tanu sudah mengetahui maksud Vina. Beliau menyuruh Vina untuk melupakan perasaan yang Vina rasakan.
" Vina sakit hati Bu. Apalagi saat kami sedang bicara berdua, Pak Satpam memergoki kami. Dia mengira kami melakukan perbuatan yang buruk. Dia membenci kami, meskipun kami menceritakan yang sebenarnya. Dan itu semakin membuat Pak Tanu membenci Vina. Beliau menyalahkan Vina. Itu membuat Vina senakin bersedih Bu. Huuu....huuuuuu huuu...... " curhat Vina yang membuatnya kembali menangis.
Rani yang dari tadi mendengar dengan teliti apa yang Vina bicarakan menjadi ikut bersedih. Dia pun ikut menangis bersama Vina. Dia memeluk Vina seperti anak sendiri.
" Jadi begitu kejadiaanya. Berarti kemarin pas pulang lebih awal ya kejadiannya. " tanya Rani sambil mengusap punggung Vina.
__ADS_1
Vina mengangguk lalu berkata, " iya Bu.. maafkan Vina ya Bu sudah lancang. Vina memang bukan orang baik. Tidak punya perasaan, egois, ingin merebut suami ibu. Vina merasa sangat hina saat ini.."
" Vin.. kamu itu anak yang baik, kalau masalah hati memang semua orang bisa melakukannya. Kata orang dulu, cinta itu harus di perjuangkan. Dan untuk memperjuangkannya kita harus siap berkorban. Berkorban apa, ya semampu kita, sebisa kita. Apapun pengorbanan yang kita lakukan, itulah perjuangan kita.
Dan Ibu bisa lihat perjuangan kamu. Kamu rela membuatmu di bentak oleh Bapak karena perjuangan kamu. Perjuangan kamu itu lah pengorbanan kamu. Ibu sangat menghargai apa yang kamu lakukan. Hanya saja kamu salah memilih orang..
Bapak itu Orangnya kokoh pendiriannya. Dahulu sudah berapa banyak Wanita yang menggodanya. Mengejarnya sampai datang ke rumah. Saat itu kami masih pacaran. Namun siapapun, secantik apapun orang yang mengejar Bapak, beliau tetap memilih Ibu. Sampai akhirnya kami menikah. " Niat hati mau menghibur, Rani malah curhat tentang hubungannya dengan Tanu.
" Bu... apakah Vina salah kalau mencintai Pak Tanu? Apakah Vina salah kalau ingin hidup bersamanya? Bu.... bagi Vina, Pak Tanu sangatlah penting di hidup Vina. Beliau yang lebih bisa memahami hidup Vina. Lebih banyak mengajarkan kebaikan kepada Vina. Namun kalau Ibu dan keluarga ibu menentang keinginan Vina, pupus sudah harapan Vina."
" Kalau Ibu sih misalkan beliau mau menikah lagi, Ibu memperbolehkannya. Tetapi bagaimana dengan anak - anak kami, pasti mereka semua menolaknya. Mereka sangat menyayangi Ayah mereka, jika ada orang yang berani mengusik rumah tangga kami maka dia berurusan dengan mereka. "
" Terus Vina harus ngapain Bu? Vina nggak bisa melupakan Pak Tanu. "
" Kamu yang sabar ya Vin.. nanti pada saatnya pasti ada jalan keluar. Syukur malah kalau bisa mendapatkan jodoh yang usianya tidak terlalu jauh dari kamu. "
" Bu.. kalau bisa bujuk keluarga Ibu agar bisa menerima Vina. Dan jangan sampai lama - lama ya.." Vina memohon pada Rani agar membujuk keluarganya.
" Yang penting kamu Fokus dulu sama sekolahmu. Nanti kalau sudah lulus baru boleh menikah. "
Rani sudah tidak tahan bicara dengan Vina yang tidak bisa di bujuk dan nasehati. Vina seperti orang yang kehilangan urat malunya. Seharusnya jika dia normal, tidak akan mampu dia bicara pada istri orang yang dia sukai. Dan mengutarakan maksud hatinya secara terang terangan padanya.
Namun berbeda dengan Vina, murid Tanu ini lebih agresif dari anak seusianya. Apa yang membuat Vina terdorong untuk menyukai Tanu yang sudah tidak perjaka.
" Buu... kenapa diam ? Vina tahu Ibu nggak menyetujui kan , kalau Vina sama Pak Tanu ? " ucap Vina pada Rani yang kelihatannya mulai bosan mendengarkan curahan hatinya.
" Kamu ini ngomong apa, diam bukan berarti Ibu tidak setuju. Ibu hanya nggak tahu harus bilang apalagi ke kamu. Kamu itu cantik, pintar, baik, kenapa menginginkan suami Ibu yang sudah tak muda lagi. Apa nanti kamu nggak menyesal mempunyai suami yang sudah tua?"
" Bu.. Vina tidak mencari rupa, tidak pula memandang usia. Yang Vina mau dia yang masuk kriteria Vina Bu. Asalkan mampu membuat Vina jatuh hati, dia lah orang yang Vina cari.."
" Jadi begitu... apa suami Ibu masuk kriteriamu? " Rani kembali bertanya untuk memastikan keseriusan Vina.
" Iya Bu.. Bagi Vina Pak Tanu orang yang sempurna. sebenarnya bukan hanya Vina sendiri yang menyukai beliau. Tapi masih ada puluhan siswi lain yang kagum dan bahkan sama - sama ingin memiliki Pak Tanu. Tak heran kalau banyak murid cewek yang mendekatinya, mencari perhatian Pak Tanu. Saya sering cemburu sama mereka.
__ADS_1
Vina takut kalau Vina bakal kedahuluan yang lain. Untuk itu Vina memberanikan diri terus terang pada beliau. Tapi Pak Tanu tidak suka pada Vina. Beliau ingin Vina melupakan perasaan Vina Bu. Pak Tanu jahattt.. huuuu..huuu...huuuu..."
Vina kembali menangis setelah kembali mengingat Tanu yang menyuruhnya menghapus perasaannya. Tanu tak pernah mengerti seberapa jauh pengorbanan Vina untuk sampai tahap itu. Vina yang dulu pendiam namun nakal, suka berantem, suka berdebat dengan Guru. Namun setelah mengenal Tanu, Vina menjadi lunak. Dia bahkan merubah penampilannya. Gaya dia bicara lebih lembut, lebih sopan, sehingga membuat para lelaki yang belum pernah mengetahui asal usulnya mengaguminya.
Dengan penampilan barunya setahun setelah mengenal Tanu, Vina terlihat lebih cantik, lebih menawan, menarik, bak Putri Raja dari khayangan.
Namun semua itu dia lakukan untuk bisa mendapatkan perhatian Tanu. Bukan hanya penampilan saja. Vina lebih giat belajar dan terus belajar. Tidak peduli waktu. Yang dari kelas x dia bahkan belum pernah mendapatkan rangking di kelas. Setelah mengenal Tanu, nilai Vina naik pesat.
Dia selalu mendapat rangking pertama di setiap ujian semester. Dan nilai ulangan hariannya pun selalu sempurna. membuatnya mendapatkan beasiswa prestasi.
Itu semua pengorbanan Vina yang sebenarnya bertentangan dengan kepribadiannya. Semenjak mengenal Tanu, Dia sudah melupakan dirinya yang asli. Yang tak bisa menghargai orang lain, hidup foya foya, suka kelua malam, apapun itu kebiasaan buruk yang Vina alami telah ia tinggalkan demi mendapat perhatian Tanu.
Akhirnya setelah sekian lama, Vina mendapat kesempatan lebih dekat dengan Tanu. walaupun tidak sesuai yang dia harapkan.
" Vina.. sudah jangan memikirkan macam macam lagi. Yang penting kamu harus sehat dulu. Pulihkan kondisimu. Kalau sudah baikkan, baru kita fikirkan , kita musywarahkan dengan keluarga Ibu tentang keinginanmu itu. "
" Janji ya Bu.. Kalau Vina sudah sehat apakah Ibu akan memperjuangkan Vina? "
" Iya Ibu janji Vin.. Ibu akan meminta mereka menerima kamu menjadi istri barunya suami Ibu. " Dan kamu berhak tinggal di rumah suami Ibu di rumah yang sekarang. "
" Buuuuu... sudahh... Cukup Bu.. Vina berubah pikiran. Vina nggak akan merebut Pak Tanu dari Ibu. " Tiba tiba saja kata - kata tak terduga keluar dari mulut Vina.
Rani menjadi bingung mendengar ucapan Vina. Dia sudah rela bersedih dan rela siap kehilangan segalanya, demi Vina namun Vina malah membatalkan keinginannya.
" Kenapa begitu? Vinn.. Ibu tegaskan kepadamu, jangan bermain - main dengan perasaan. Karena nanti kamu akan melukai banyak orang. Ibu sudah merelakan kalau nantinya kamu akan bersama suami Ibu, dan meninggalkan rumah demi kalian berdua bisa hidup bahagia. Tapi kenapa kamu tiba -tiba berubah pikiran?"
" Ibu masih belum mengerti.. Kata Pak Tanu , hidup berumah tangga itu harus mempunyai persiapan. Entah apa itu Vina lupa. Satu yang Vina ingat, bahwa hidup berumah tangga nggak boleh egois. Jika Vina ingin berumah tangga dengan Pak Tanu, sementara Vina tidak memikirkan keluarganya apa namanya kalau bukan Vina itu egois Bu.."
Mendengar kata kata Vina , Rani hanya terdiam dan mengangguk - anggukan kepalanya. Vina memang sama dengan dirinya. Jika bicara, panjang seperti kereta. Tidak memberikan kesempatan lawan bicara untuk berkata.
" Ibu kalau mempertahankan suami Ibu hanya buat Ibu itu juga egois Vin, Jika masih ada yang mau sama suami Ibu ya silahkan saja. Ibu nggak melarang. Asalkan suami Ibu bisa seimbang dalam memberi nafkah ya nggak apa - apa. "
" Tidak Bu... itu hak Ibu mepertahankan suami Ibu. itu bukan egois namanya. Hemhh.. sudahlah Bu, Vina akan mencoba melupakan Pak Tanu, Vina akan mengosongkan hati Vina buat siapapun. Hanya ada Pak Tanu di dalam hati Vina dan akan Vina bawa sampai Vina mati. "
__ADS_1
......................