SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
SELAMAT JALAN VINA


__ADS_3

Hingga pukul 15.00, suara orang-orang terdengar, menyayangkan sikap orang tua Vina. Sudah hampir sore, Ayah Vina belum juga memberi kabar. Tanu dan kepala desa belum berani bertindak.


" Bagaimana Pak Kades? kapan kita akan memakamkan jenazah Vina?"


" Saya sependapat dengan usul pak Tanu tadi saja, Pak. Saya sendiri tidak berani memutuskan, meskipun saya Kades disini. Saya takut, orang tuanya tak rela."


" Tapi bagaimana kalau sampai hari ini tidak datang? Sampai sekarang, Papanya Vina belum memberikan kabar apapun."


" Saya juga bingung Pak. Disisi lain, saya kasihan jenazahnya terlalu lama di makamkan, namun jika terburu-buru dimakamkan, saya khawatir, pihak keluarga menuntut kita Pak Tanu."


" Saya merasa kalau Wijaya tidak akan kembali hari ini Pak Kades. Apalagi dia sedang berada diluar kota. Butuh waktu satu hari untuk sampai sini."


" Sebentar Pak Tanu, saya akan minta pendapat para warga."


" Baiklah Pak Kades."


" E, mohon perhatiannya sebentar Bapak-bapak, dan Ibu-ibu sekalian yang hadir ditempat ini. Ada hal yang ingin saya sampaikan. Dan juga, saya ingin meminta pendapat kalian perihal pemakaman Vina. Berhubung, sekarang ini sudah sore, dan Papanya dik Vina ini belum kembali, saya mengusulkan untuk memakamkan dik Vina pukul 04.00 sore ini. Apa para bapak ibu sekalian ada yang sependapat dengan saya?"


Semua terdiam mendengar pembicaraan Pak Kades. Mereka juga kebingungan memutuskan mau pilih ya atau tidak. Setelah berdiskusi sekian lama, akhirnya di putuskan, Vina di makamkan Sore ini pukul 16.00.


" Jadi, Bapak-bapak, Ibu-ibu sekalian setuju dengan usul yang saya sampaikan ya. Baiklah kalau begitu segera saja kita mulai prosesi pemakamannya."


Hingga pukul 15.40, Papa Vina masih belum bisa dihubungi.


" Pak Tanu, apa sebaiknya kita makamkan saja jenazah Vina sekarang saja? Jam segini Pak Wijaya belum menghubungi kembali. Tidak mungkin hari ini dia akan datang."


" Saya rasa begitu Pak Kades. Saya kasihan pada Vina jika terlalu lama disini."


" Baiklah, Pak Tanu. Jika Pak Wijaya datang kemari dan mengamuk, saya yang akan bertanggung jawab menjelaskannya."


" Baik Pak Kades."


Pukul 16.00 Vina diberangkatkan dari rumahnya menuju ke tempat pemakaman umum, dimana Mamanya di makamkan di tempat itu. Derai tangis air mata mengiringi pemakaman Vina.


Perempuan cantik luar biasa, yang memiliki banyak sekali kemampuan, kini harus tidur dibawah tanah yang sempit, gelap dan sepi. Semasa hidupnya sering membantu anak yatim piatu, mendonasikan uang hasil usahanya ke panti- panti asuhan. Kini tiada lagi yang bisa diharapkan dari seorang Putri Vina.


" SELAMAT JALAN VINA." Ucap Tasya sambil menutupi kedua matanya yang bercucuran air mata.


"Tenang di surgaNya ya, Vin." Ucap Bagus yang kebetulan ikut dengan rombongan ke rumah Vina.


" Vina, semoga kebahagiaan yang sejati akan segera kamu temui." Ucap Tanu sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


" Vina, Ibu sudah menganggapmu seperti anak Ibu sendiri, temuilah Mamamu di surga ya Vin. Tenang dan bahagialah disana." Ucap Rani sembari menggenggam sejimpit tanah lalu meremas-remasnya, karena menyesal Vina yang semuda itu, harus Tuhan ambil dari dunia ini.


" Kak Vina, tidur yang indah ya di surganya Tuhan." Ucap anak-anak panti asuhan, yang sudah mengangap Vina keluarganya sendiri.


" Vina, kamu yang terhebat, terpandai, tercantik di sekolah dan mungkin di dunia ini. Meskipun kamu sudah tak ada di dunia ini lagi, kamu tetap takkan tergantikan di hati kami Vin." Ucap salah satu teman sekelas Vina.


Seusai acara pemakaman, suasana di makam tempat Vina dimakamkan menjadi sepi. Hanya menyisakan Tasya, Tanu, Rani dan Tama yang masih bertahan di depan makam Vina.

__ADS_1


" Ayah, sudah hampir petang, ayo kita pulang." Ajak Rani pada Tanu yang masih duduk menemani Tasya mendoakan Vina.


" Sebentar Bu, Ayah mau menemani Tasya dulu. Dia belum mau beranjak dari sini. Kasihan kalau ditinggal sendirian."


" Pak Tanu, pulanglah. Tasya berani kok. Ada Vina didalam sini. Tasya tidak sendiri."


" Sya, ayo pulang bersama kami. Tidak baik lama-lama disini." Bujuk Rani pada Tasya agar mau pulang.


" Tasya masih ingin disini Buk, Ibu sama Pak Tanu juga Tama pulang dulu saja. Ada yang masih ingin Tasya ungkapkan sama Vina disini."


Tanu dan Rani hanya bisa menghela nafas melihat sikap Tasya.


" Ibu, Pulanglah dulu saja sama Tama. Ayah tak tega meninggalkan Tasya disini. Dia anak perempuan Bu."


" Baiklah kalau begitu Yah, Ibu sama Tama pulang dulu ya. Sudah mau maghrib soalnya. Kalian cepatlah pulang."


" Iya Bu, Eh maksudnya pulang ke rumah Vina lho Bu. Bukan pulang ke rumah Kita. Nanti Ayah pulangnya naik apa kalau Ibu pulang ke rumah kita."


" Hehe.. Iya Ibu tahu kok Yah." Ucap Rani, Kemudian meninggalkan Tanu dan Tasya berdua di tempat pemakaman.


Tasya kembali mengalirkan air mata saat keheningan membawa dirinya kembali kedalam kesedihannya.


" Vin, kamu tahu nggak? Aku merasa sangat kehilangan kamu. Kenapa kamu pergi secara tiba-tiba? Dulu kita berjanji untuk selalu bersama-sama. Sekolah di sekolahan yang sama, kuliah juga di kampus yang sama, menikah pun kalau bisa juga bersama. Tapi janji kita hilang Vin. Kenapa kamu lebih dulu pergi meninggalkanku? Dimana janji kita Vin?" Tasya kembali menangis keras saat ungkapan hatinya bisa tersalurkan lewat kata-kata yang dari tadi ia pendam.


" Sya, Vina sudah hidup tenang di alam sana. Jangan di tangisi lagi. Mungkin ini jalan yang terbaik untuknya. Kita hanya perlu mendoakan saja." Tanu berusaha menenangkan Tasya.


" Ya sudah Sya. Ini sudah lewat waktu maghrib, sebaiknya kita pulang sekarang saja. lagipula disini sudah gelap dan tak ada orang."


" Tapi Saya masih ingin disini Pak, Saya ingin menemani Vina untuk malam ini saja."


" Sya, biarkan Vina beristirahat disini dengan tenang. Kamu disini hanya akan menyiksa tubuhmu. Sebentar lagi sepertinya, akan turun hujan. Ayo kita pulang. Disini tak ada tempat untuk berteduh."


" Pak Tanu pulang saja, jangan memaksa Tasya Pak. Saya masih ingin menemani Vina untuk malam ini saja."


" Serius Sya? Sudahlah.. jangan seperti ini, ayo kita tinggalkan tempat ini."


" Tasya belum mau pulang Pak."


" Sya, ini sudah hampir hujan. Ayo pulang."


" Nggak mau, Pak Tanu."


" Ya sudah kalau kamu keras kepala, besok Bapak nggak akan mengajar dikelasmu lagi."


" Kenapa begitu Pak?"


" Salahnya, Tasya tak mau Bapak ajak pulang."


" Hemm.. Bapak ngajar ataupun nggak, Tasya nggak akan pernah bertemu Bapak lagi. Jadi silahkan saja Pak kalau nggak mau ngajar di kelas Tasya lagi."

__ADS_1


" Lho, memangnya kamu mau kemana Tasya?"


" Pak Tanu, sebenarnya besok saya mau menemui Vina dirumahnya. Dan menginap disana. Saya bermaksud untuk pamit sama dia, karena saya harus pindah sekolah.


Om saya, menginginkan saya sekolah diluar negeri, Pak. Saya senang, cita-cita saya bisa terwujudkan. Seminggu lagi, saya akan meninggalkan rumah kami disini, dan membangun rumah di luar negeri.


Agar Vina tak bersedih, Tasya bermaksud untuk menginap di rumahnya selama seminggu.Ya, sebagai tanda perpisahan. Tapi..." Sesaat, Tasya menghentikan kata-katanya. Air mata Tasya jatuh membanjiri wajahnya.


" Iya, Sya. Tak perlu di lanjutkan lagi. Saya sudah tahu kelanjutannya." Tanu mencoba menenangkan Tasya yang tak bisa berhenti menangis.


" Vin, Kamu jahat. Kenapa malah pergi meninggalkanku duluan. Tanpa pamit, lagi. Apa itu namanya teman sejati?" Ucap Tasya sembari mengusap air matanya berulang kali.


" Sya, sudahlah. Ayo, tak ada gunanya kamu menangisi Vina seperti itu. Biarkan dia kembali pada Tuhannya. Sekarang dia sudah memiliki penjaga yang baik. Kamu tidak pelu khawatir kepadanya." Kembali Tanu mengingatkan Tasya untuk segera pulang.


" Baik Pak. Vina, aku pulang dulu ya. Istirahatlah dengan tenang. Lupakan msalah duniamu, temukan kebahagiaanmu di alam sanai. Selamat jalan Vin." Tasya mengucapkan kata terakhir di depan makam Vina, lalu pergi meninggalkan makam diikuti Tanu di belakangnya.


" Pak, boleh tidak kalau saya minta tolong sama Bapak?"


" Boleh, jika Bapak mampu, akan Bapak bantu."


" Tasya mau minta tolong, Bapak bisa nggak mencarikan seseorang untuk merawat makam Vina. Tasya ingin, makam Vina selalu terlihat bersih rapi dan wangi. Dahulu, saat Vina masih hidup, dia selalu membersihkan rumahnya sendiri. Rumah besar peninggalan Mamanya ia rawat sendiri. Untuk itu, Tasya juga ingin rumah Vina yang sekarang, terawat dengan baik Pak. Saya akan transfer uang ke rekening Bapak tiap bulan. Untuk membayar upah, orang yang merawat makam Vina."


" Iya, nanti akan bapak carikan Sya. Yang penting sekarang kita pulang dulu."


" Iya Pak. Terimakasih sudah mau membantu Tasya dan Vina."


" Iya, Sya. Serahkan semuanya pada Bapak."


" Hehe.. baik Pak."


Tanu dan Tasya bergegas pulang ke rumah Vina. Hujan turun dengan deras, ketika mereka telah sampai di depan rumah Vina. Disana telah menanti, Rani dan Tama yang duduk di teras rumah Vina.


" Lho, kemana orang-orang Bu? Kenapa sepi?"


" Sudah pada pulang, Yah. Ibu kembali dari makam, sudah tidak ada orang. Makanya Ibu duduk saja disini sama Tama."


" Wajar saja Pak, kalau sudah sepi. Tidak ada keluarga Vina yang mengurusi."


" Iya juga ya Sya, kasihan Vina." Tanu mengelus dada.


" Pak, Ibu, mau nggak kalian menginap disini. Kita bacakan doa untuk Vina malam ini."


" Cuma bertiga saja Sya?" Tanya Rani.


" Saya akan undang teman-teman untuk kesini Buk. Jangan khawatir. Sampai tiga harinya kami akan mengadakan doa bersama untuk Vina di rumah ini."


" Kalau begitu Ibu setuju, Sya." Ucap Rani kemudian mulai menata tempat untuk persiapan doa bersama.


......................

__ADS_1


__ADS_2