
Dua jam berlalu, Bono dan Bara masih resah menunggu Dokter keluar dari ruangan. Sesekali Bara dan Bono bergantian melihat keadaan Arti di ruangan lain.
" Bara, hatiku benar-benar merasa berdebar-debar. Bi Arti dan Tama sama-sama kritis. Aku sangat mengkhawatirkan mereka berdua."
" Aku juga sama, Bono. Lebih baik kita jangan berpikiran buruk dulu. Kita berdoa semoga saja mereka berdua segera membaik."
" Aamiin.. Aku juga berharap bisa melihat Tama dan memeluknya. Entah kenapa ketika melihat Tama, aku merasa melihat diriku di masa lalu. Apalagi dengan keadaannya yang seperti sekarang ini. Ingin rasanya aku memukul diriku sendiri karena telah membiarkan seorang anak kecil berada dalam bahaya. Bagaimana perasaan Pak Tanu dan Keluarganya jika mereka tahu, anak semata wayangnya yang tersisa, malah hidup terlunta-lunta."
" Iya.. Aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Aku juga berpikir, bagaimana jika Pak Tanu dan keluarganya mengetahui akan hal ini. Pasti mereka akan menangis dan menjerit sekeras-kerasnya. Aku sangat berharap, Dokter segera memberikan kabar baik untuk kita. Jika Tama bisa tertolong, aku berjanji akan merawatnya. Dan tak akan membiarkannya sendiri lagi."
" Tidak, Bara.. Aku yang akan merawat Tama. Aku akan mengangkatnya menjadi anakku. Dia yang lebih mirip denganku. Lagipula, sebelumnya aku lah yang ditugaskan menjaga keluarga Pak Tanu."
"Tak bisa begitu, Bon. Aku juga sangat menyayanginya. Aku takut kehilangan dia, Bon. Aku juga berhak mengadopsinya."
" Bara.. Kau sudah memiliki putra. Lebih baik kau besarkan anakmu itu dan tambah lagi agar kau punya banyak anak."
" Kamu juga sudah memiliki Putra yang hebat, Bono. Lebih baik kamu besarkan anakmu dulu sebelum merawat Tama. Aku takut jika perhatianmu terpecah, perhatian kepada anakmu akan terpecah. Dan malah membuat Anakmu menjadi anak nakal seperti Bapaknya."
" Kurang ajar! Jangan menghinaku, Bara. Aku sudah bukan yang dulu lagi. Aku sudah bertobat dan tak ingin kembali pada kehidupanku yang dulu."
" Hahaha.. tak perlu marah-marah begitu, Bon. Aku cuma bercanda. Aku tak bermaksud membuatmu tersinggung."
" Aaahh... Entahlah.. Aku pusing. Pokoknya, hak mengasuh Tama ada pada tanganku."
" Iya.. Iya.. Aku mengalah saja. Lagipula berdebat dengan mantan preman sepertimu aku tak akan pernah menang. Apalagi jika sampai kita saling bertengkar."
Bono hanya terdiam dan mengacuhkan ucapan Bara. Ia sedikit tersinggung dengan ucapan Bara. Meskipun hidupnya tak lagi kelam seperti dulu, namun jika ia teringat tentang masa lalunya, ia akan merasakan kembali kepedihan yang begitu sangat menyesakkan hatinya.
" Ceklekkk.. Ngekkkkk.." Dokter keluar dari ruangan lalu melepas maskernya. Ia kemudian menanyakan tentang keluarga Tama.
" Maaf orang tuanya anak yang bernama Tama dimana?"
" Saya, Pak.." ucap Bono dan Bara bersamaan.
Dokter bingung melihat Bono dan Bara, yang sama-sama mengaku jika mereka adalah orang tua Tama.
" Maaf, saya bertanya baik-baik. Jangan bercanda. Siapa orang tua Tama yang sebenarnya?"
" Eh, begini Pak. Sebenarnya kami bukan orang tuanya. Orang tua kandungnya sudah meninggal beberapa hari yang lalu. Dan sekarang Tama sudah tak punya siapa-siapa lagi. Dan kami ini adalah teman baik orang tua Tama. Kami yang menggantikan mereka merawat Tama."
__ADS_1
" Jadi kalian yang sekarang menggantikan orang tuanya? Lalu kalian apakan anak itu sehingga kondisinya seperti itu?! Apa-apaan kalian ini. Datang kemari mengaku sebagai pengasuh pengganti, tapi kalian tak bisa merawatnya dengan baik!" ucap Dokter itu sembari marah-marah pada Bono dan Bara.
" Ceritanya panjang, Dok. Sekarang kami butuh kabar dari Dokter bagaimana kondisi Tama saat ini. Dokter jangan berprasangka buruk dulu kepada kami. Kami memang bersalah, tapi itu bukan kesengajaan kami."
" Benar kata teman saya, Dok. Kami kehilangan anak itu dua hari ini. Kami juga sudah mengerahkan polisi untuk mencarinya, namun sampai saat ini belum ada kabar apapun dari pihak Kepolisian. Kami malah tak sengaja mengetahui anak itu berada disini dari orang lain."
" Baiklah, saya tak bisa mendengar cerita kalian terlalu banyak. Masih ada tugas lain yang harus saya kerjakan. Saat ini kondisi anak itu sudah membaik. Tolong, jika kalian ingin melihatnya, sebaiknya bergantian."
" Alhamdulillah.. baik, Dok. Terima kasih karena telah menyelamatkan Tama. Sekarang saya merasa sedikit lega." ucap Bono kegirangan.
" Iya, sama-sama." ucap Dokter lalu bergegas pergi meninggalkan Bono dsn Bara.
" Bara, sebaiknya aku dulu yang masuk melihat Tama." ucap Bono.
Namun Bara sudah terlebih dahulu masuk ke ruangan untuk melihat Tama. Bono pun ikut menyusulnya hingga depan pintu.
" Heh.. Dokter bilang kita harus bergantian melihat keadaan Tama. Apa kau sudah lupa kata Dokter tadi?" ucap Bara.
" Ahh.. Kamu curang, kenapa mendahuluiku."
" Kamu sudah memintanya untuk menjadi anak angkatmu. Jadi, apa salahnya jika sekarang aku akan puas-puaskan diriku untuk bertemu dengannya."
" Aku tak bisa.. aku sudah terlebih dahulu masuk ke ruangan ini. Lagipula bukankah kau akan lebih sering bersamanya untuk kedepannya."
" Aku tidak peduli, yang penting aku harus masuk terlebih dahulu. Usiamu lebih muda dariku, kamu harus mengalah."
" Tapi aku juga ingin segera bisa melihatnya. Pokoknya aku juga tak mau menunggu terlalu lama."
" Bara, jangan membantahku. Kalau masih membantah.."
" Kenapa, mau menghajarku? Ayo.."
" Bukan, bukan begitu maksudku."
" Lalu apa? Aku takkan kalah denganmu."
Ketika Bono dan Bara berebut untuk bisa masuk ke dalam ruangan tempat Tama dirawat, mereka mendengar suara rintihan Tama. Suaranya sangat halus memanggil-manggil Ibu dan adiknya.
" Ibu.. Rama.. Aku sudah tak tahan. Aku ingin ikut kalian. Apa kalian sudah tak sayang kepadaku? Aku kesepian. Tolong jemput aku. Ayah, Kakak..tubuhku susah untuk bergerak. Aku ingin digendong seperti dulu." ucap Tama namun dalam keadaan matanya masih terpejam.
__ADS_1
" Ah, Bono.. Sepertinya Tama sudah mulai sadar. Aku akan melihatnya."
" Iya, aku juga mendengarnya. Ayo kita lihat bersama."
" Bono, apa kamu tak ingat perkataan Dokter tadi. Kita harus masuk bergantian. Jangan semuanya masuk. Apa kamu ingin membuat kondisi Tama memburuk lagi?"
" Ahh.. Baiklah, terserah kamu saja, Bar. Aku akan menunggu. Jangan lama-lama. Aku juga tak sabar ingin bisa mengobrol dengannya."
" Tenang saja, aku tidak akan berlama-lama." ucap Bara lalu bergegas masuk menemui Tama yang masih terbaring di tempat tidur rumah sakit.
" Tama, ini Paman Bara. Bagaimana keadaanmu sekarang?"
" Paman, apa kau teman Ayahku?" ucap Tama namun matanya masih terpejam.
" Benar.. Aku teman Ayahmu. Sudah dua hari ini aku mencarimu. Namun aku tak menemukanmu. Kau pergi kemana?"
" Aku tidak pergi kemana-mana, Paman. Aku hanya sembunyi di semak-semak sembari menunggu penjahat itu meninggalkan rumahku."
" Tama, seharusnya pada waktu itu kau mau ikut bersama Paman. Kamu tak akan pernah mengalami nasib seperti ini jika kamu menurut sama Paman."
" Maaf, Paman. Aku tak bisa ikut dengan Paman karena sebelum orang tuaku pergi, mereka mengatakan kepadaku agar jangan mudah percaya pada orang lain. Aku takut Paman hanya menipuku."
" Hehehe.. Menipu bagaimana maksudmu, Tama? Paman tak pernah menipu siapapun. Termasuk kamu. Paman sangat menyayangimu. Paman tak akan pernah melepaskanmu dan membiarkanmu hidup sendirian di dunia ini. Aku akan menemani hidupmu sampai akhir hayatku."
" Terima kasih Paman. Aku sangat berhutang budi kepadamu. Mungkin segala kebaikan yang Paman lakukan, tak akan bisa ku balas."
" Sudahlah, tak perlu memikirkan hal itu. Kamu itu masih kecil. Tak boleh memikirkan sesuatu yang berat. Nanti kamu malah sakit lagi. Sekarang, bagaimana keadaanmu?"
" Tubuhku lemas, Paman. Rasanya aku tak bisa menggerakkan tubuhku."
" Baiklah.. Sebaiknya kau istirahat terlebih dahulu. Semangat! Jangan menyerah. Kau harus tetap hidup untuk mewujudkan mimpi-mimpimu. Kau juga harus berjuang meneruskan perjuangan orang tuamu."
" Iya, Paman." ucap Tama lalu tanpa sengaja dia tertidur akibat rasa kantuknya yang berat.
Bara menatap wajah Tama dalam-dalam. Hatinya seperti ingin menjerit. Dia tak bisa membayangkan jika dirinya adalah Tama. Bocah balita yang hidupnya tersita. Bocah yang seharusnya masih bermain bersama keluarganya. Kini harus hidup seorang diri tanpa kasih sayang orang tuanya.
Bara tak kuasa menahan air matanya. Ia pun berjalan keluar meninggalkan Tama yang sudah tertidur pulas.
......................
__ADS_1