
" Mau kemana kamu, Rik?" Tanya Punto pada Rika yang diam-diam, mau keluar rumah pagi buta, namun ketahuan kakeknya.
" Eh, kakek. Rika mau mencari angin. Di dalam rasanya gerah."
" Kenapa pagi-pagi sekali keluar rumah. Ini saja belum adzan subuh."
" Iya Kek, Rika tiba-tiba ingin keluar saja. Rika cuma mau duduk-duduk di teras kok."
" Rika, jangan berpikir kalau kamu mau meninggalkan Kakek sendirian. Apa kamu tidak khawatir dengan Kakek?"
" Kek, siapa yang mau meninggalkan Kakek? Rika cuma mau menghirup udara segar saja kok. Memangnya nggak boleh?"
" Boleh, tapi tunggu sehabis shalat subuh dulu. Ini baru jam tiga lebih seperempat. Buruan masuk kamar. Tidak baik anak gadis masih petang keluar rumah."
" Kakek ini terlalu khawatir dengan Rika. Padahal Rika nggak kenapa-kenapa. Rika bisa jaga diri kok."
" Sudah, jangan bandel. Katakan yang sejujurnya. Sebenarnya kamu mau kemana? Jangan ada yang disembunyikan dari kakek."
" Rika nggak keman-kemana Kakek. Rika hanya ingin duduk di sini. Seperti kakek semalam. Rika juga merasa kesepian. Di luar sini pemandangan sangat luas. Jadi tidak terlalu membosankan untuk diihat. Coba kalau di kamar, hanya lihat itu-itu saja. Malah yang ada, Rika selalu teringat dengan orang tua Rika. Kalau sudah begitu, Rika akan sedih, Kek."
" Aku mengerti perasaanmu. Tapi tetap saja tidak dibenarkan, kalau kamu pergi keluar malam-malam begini. Berbahaya untukmu."
" Kakek, Rika bisa jaga diri. Lagipula siapa yang akan berbuat jahat di desa ini. Semua bersikap baik pada Rika."
" Kamu tak tahu isi hati orang itu seperti apa. Jadi jika terlihat baik, belum tentu dia orang yang baik. Berhati-hatilah menilai orang. Apalagi orang yang baru kamu kenal."
" Lalu Rika harus bagaimana Kek? Apa dengan kondisi gerah begini, Rika akan tetap berada di dalam kamar?"
" Tidak juga, kamu bisa duduk di ruang tengah seperti Kakek semalam. Itu masih di dalam rumah. Jadi aman untukmu."
" Hemhh.. Kakek ini. Rika itu sudah besar Kek. Jangan memperlakukan Rika seperti anak kecil."
" Rika, Kakek begini juga demi keselamatanmu. Dulu Ibumu juga selalu kakek larang jika meninggalkan rumah malam-malam."
" Hemhh, ya sudah kek. Rika turuti saja nasehat kakek. Rika akan masuk Kek."
Rika masuk rumah lalu masuk ke kamarnya. Sambil menggerutu Rika menutup pintu kamarnya setengah membanting.
" Rika! Jaga sikapmu! Kenapa kamu tiba-tiba saja berubah seperti itu? Kakek tidak pernah mengajarkanmu membanting pintu."
" Maaf kek, habisnya Rika kesal sama kakek."
" Lalu kenapa kamu membanting pintu. Kalau begitu kamu sama saja dengan Reza. Begitu kelakuannya, jika sedang emosi."
" Jangan samakan Rika dengan mas Reza. Rika kan hanya sekali saja melakukan kesalahan."
" Tapi itu akan menjadi kebiasaan jika dibiarkan. Kakek tidak akan membiarkanmu menjadi anak yang kurang didikan."
" Iya kek, kalau begitu Rika minta maaf. Rika nggak akan mengulanginya lagi. Rika janji."
" Baiklah, kakek memaafkanmu. Tapi lain kali jangan ulangi lagi."
" Iya Rika janji, kek."
Punto pun meninggalkan kamar Rika, dia mengelus dadanya karena ulah Rika yang tiba-tiba berubah. Dia berpikir mungkin Rika tidak nyaman dengan rumah barunya sekarang. Uang yang digunakan adalah pemberian Wira secara cuma-cuma. Tapi siapa yang menyangka, saat Wira memberinya uang, Wira lebih sering meminta bantuan Punto untuk kepentingan Wira.
" Haaah.. Rika, Rika.. Maafkan kakek Rik. Gara-gara kakek menerima uang dari Pak Wira, kita jadi seperti ini. Dan kamu, dulu tidak pernah berkelakuan begini. Dahulu, kamu begitu menyayangi rumahmu. Kau keluar masuk rumah dan membuka menutup pintunya dengan sangat hati-hati agar tidak rusak. Sekarang kau punya rumah yang bagus, namun kau tak menjaganya." Ucap Punto dalam hatinya sembari melihat ke arah kamar Rika lalu masuk ke kamarnya untuk kembali berzikir.
" Hemh, bagaimana caranya agar aku bisa keluar rumah tanpa ketahuan kakek. Lewat pintu depan, pasti ketahuan. Apa aku harus lewat jendela? Iya, aku harus lewat jendela. Pasti kakek takkan melihatku. Aku bisa langsung pergi lewat jalan belakang desa." Ucap Rika lirih. Dia berencana untuk meninggalkan rumah mencari Bono.
Rika pun membuka jendela kamarnya. Dengan susah payah dia melompat dari jendela. Terdengar suara seperti buah nangka jatuh. Punto mendengar suara itu. Dan dia sudah tahu, kalau suara itu adalah suara orang yang melompat dari atas dan jatuh ke tanah.
" Rika, kamu memang keras kepala. Apa yang membuatmu seperti itu. Hemhh.. Baiklah, semoga saja Tuhan melindungimu. Aku sudah tak kuat lagi untuk berlari mengejarmu. Jam segini, teriak-teriak juga hanya akan mengundang kedatangan warga. Aku tunggu kabar apa yang kamu bawa Rika." Gumam Punto dari dalam kamarnya.
__ADS_1
Suara kokok ayam mulai bersahutan, adzan shalat subuh mulai berkumandang. Sebagian wargapun mulai keluar rumah melakukan aktifitasnya. Namun sebagian besar warga pergi ke masjid untuk menunaikan kewajibannya. Jalanan mulai ramai oleh orang menuju ke masjid. Namun Rika telah sampai diluar batas desa. Dengan senter kecil dia menyusuri jalanan kecil untuk keluar dari desa lereng bukit.
Satu jam perjalanan, Rika mulai kelelahan. Dia memutuskan untuk beristirahat sebentar dan berteduh di bawah pohon besar yang berada di dekatnya. Namun saat dia akan duduk, Rika menemukan sebuah mobil yang terparkir di sepuluh meter jauhnya dari tepi jalan. Dia pun mencoba melihat siapa yang ada di dalam mobil itu.
" Srakk srakk srakk.." Suara langkah kaki Rika yang menginjak dedaunan kering.
" Bono, Bono! Buka pintunya, Bono!" Pangil Rika pada orang yang ada di dalam mobil yang ternyata adalah Bono.
" Ha! Siapa ya, Hantukah?" Sambil menggeliat Bono menengok ke arah jendela kaca mobilnya yang berembun.
" Bono, buka pintunya. Aku mau bicara sama kamu."
Bono pun mengelap jendela kaca mobilnya. Setelah dipastikan dia mengenalinya, Bono pun membukakan jendela.
" Rika? Ada apa? Baiklah kalau kau tidak mau menikah denganku. Aku tidak akan mengganggu kamu. Aku masih disini karena merasa sangat mengantuk. Aku tidak punya maksud lain disini. Hanya menumpang berhenti untuk istirahat."
"Bono.." Rika tiba-tiba menangis dan memeluk Bono dengan erat.
" Rika, ada apa ini? Kupikir kamu gadis baik-bai. Kenapa tiba-tiba memelukku erat seperti ini?"
" Ceritanya panjang, aku butuh pertolonganmu Bono."
" Aku siap membantu Rika, kamu tak perlu memikirkanku. Aku akan bekorban apapun untukmu meskipun kamu bukan lagi orang yang bisa aku kejar."
" Itu masalah belakang. Kamu akan mendapat hadiah yang pantas, asal kamu mau membantuku."
" Iya, aku bersedia. Lalu apa yang bisa ku bantu?"
" Aku ingin pernikahanku dengan Mas Reza dibatalkan. Kamu harus membuat acara pernikahanku gagal. Aku memintamu memikirkan cara agar acaranya ditunda, atau buat mas Reza jera untuk menikahiku."
" Dibatalkan? Kenapa tiba-tiba bilang begitu? Kau tidak sedang memancingku kan, Rika?"
" Memancing bagaimana maksudmu? Aku datang kesini sendirian, untuk mencarimu. Beruntung kita bertemu disini. Aku merasa lega sekarang."
" Tidak! Aku tidak seperti itu. Hilangkan pikiran burukmu itu. Aku sedang serius. Aku sedang menghadapi banyak masalah. Bantu aku untuk menyelesaikannnya."
" Apa kamu yakin membatalkan pernikahanmu dengan pemuda sombong itu?"
" Iya, aku tidak menyukainya. Dan dari awal aku hanya terpaksa saja menerima lamarannya. Dia terlalu keras, kasar dan tidak memiliki tata krama. Dia sempat membentakku dan membentak Kakekku. Makanya aku tak mau dia membali ke rumah dan menjadi bagian dari hidupku. Ayolah, bantu aku Bono. Ayo turun.." Rika menarik lengan Bono yang kekar agar keluar dari mobilnya. Bono pun pasrah. Dia sudah tak berharap Rika akan menjadi miliknya, namun saat ini Bono masih tidak percaya dengan apa yang dia alami. Dia pun meminta Rika mencubit wajahnya.
" Rika tunggu dulu. Coba cubit aku." Apakah aku bermimpi atau hanya halusinasiku?"
Rika pun mencubitnya, Bono berteriak kesakitan.
" Aaww.. sakit!" Ucap Bono pada Rika yang baru saja mencubitnya.
"Sudah percaya kan kalau nggak bermimpi?"
" Iya, ini nyata. Angin apa yang membawamu kemari?" Ucap Bono sambil senyum-senyum sendiri.
" Angin cinta." Jawab Rika dengan tersipu malu.
Dalam hati Bono, rasanya seperti terbang ke langit. Sepatah kata Rika mampu menggoyahkan hatinya yang semula beku.
" Rika, apa kamu mencintaiku?"
" Eh, jangan terlalu percaya diri. Aku hanya bercanda."
"Oh begitu.." Ucap Bono lalu menunduk diam.
" Tapi aku menyukaimu dan mengagumimu." Ucap Rika lagi, agar tak menyinggung perasaan Bono.
" Rika, sudahlah. Kalau kau tak mencintaiku, jangan memberiku harapan. Sekarang aku akan membantumu. Setelah semua selesai, aku akan meninggalkan tempat ini."
__ADS_1
" Apa kamu tersinggung dengan ucapanku? Bono, terus terang aku menyukaimu dan mengagumimu. Aku juga mencintaimu, tetapi baru setitik saja perasaan cinta itu kepadamu. Aku tak semudah itu memberikan hatiku untuk orang lain. Apalagi orang yang baru aku kenal, dan orang itu seorang penjahat."
" Setitik pun tidak apa-apa. Rika, sudah aku bilang aku sudah berubah. Aku akan tunjukkan sikap baikku saat hidup bersamamu."
" Kenapa harus menunggu saat hidup bersamaku? Sekarang buktikkan padaku. Apa yang berubah dari dirimu?"
" Aku tak tahu bagaimana menunjukkan bukti perubahanku padamu. Tapi aku akan buktikan, ketika kamu terkena masalah."
" Kalau begitu ayo, tunggu apalagi?" Rika kembali menarik lengan kekar Bono.
Bono pun menjadi tersipu dan tubuhnya bergairah kembali. Apalagi saat dia melihat bagian bawah tubuh Rika. Kakinya yang putih mulus, sangat terjaga sekali. Membuat jantung Bono berdetak dengan sangat cepat.
Bono iseng menanyakan sesuatu pada Rika.
" Rika, apa kamu hanya pakai ****** ***** saja?" Ucap Bono sambil berjaga jarak dengan Rika, agar jika Rika tersinggung dan memukulnya, dia sempat untuk menghindarinya.
" Ihh, apa yang kamu pikirkan Bono? Jangan macam-macam. Tunjukkan kalau kau memang orang yang baik."
" Aku hanya berpikir begitu, tidak ingin macam-macam. Pikirannya buruk sekali."
" Bono, aku terbiasa memakai Rok yang cenderung diatas lutut. Aku sudah terbiasa sejak kecil. Jadi sampai sekarang masih memakai rok yang sama. Kenapa kamu menanyakan hal yang nggak penting? Pikiranmu sangat mesum."
" Rika, wajar saja kalau aku begitu. Semua laki-laki normal juga akan mengalami hal yang sama denganku."
" Terus kamu mau apa? Mau memperkosaku dan meninggalkanku disini sendiri, lalu kamu pergi sesuka hatimu?"
" Rika, aku tidak berniat begitu. Aku mencintaimu. Aku tidak punya pikiran sekotor itu kepadamu. Aku menanyakan hal itu sebenarnya hanya mengingatkanmu agar jangan memakai rok pendek seperti itu lagi."
" Memangnya kenapa kalau aku memakai rok pendek? Bukan urusanmu, kan."
" Rika, aku tak ingin laki-laki lain bernafsu ingin memilikimu karena kamu memakai pakaian seperti ini. Pakailah pakaian yang sopan, yang tak membuat laki-laki lain bernafsu ingin memilikimu."
" Bono, aku tak mudah menjatuhkan pilihan pada orang yang salah. Aku juga tak mudah tergoda bujuk rayu laki-laki busuk. Jadi kamu tak perlu mengkhawatirkanku."
" Rika, aku mohon.. Dengarlah permintaanku. Aku hanya ingin jiwa ragamu menjadi milikku. Aku tak ingin laki-laki lain ikut menikmatinya meskipun hanya melihat tubuhmu yang indah."
Rika tertawa mendengar kata-kata Bono, dia menjadi malu karena ada orang yang pernah melakukan kejahatan tetapi orang itu malah menasehatinya.
" Bono, terima kasih atas sarannya. Aku akan berusaha membenahi penampilanku."
" Terima kasih Rika, aku senang sekali kamu mau mendengarkanku." Ucap Bono sambil tersenyum.
" Kenapa senyum-senyum? Aku sudah bilang jangan terlalu percaya diri, aku menerima saranmu bukan berarti aku menerima cintamu. Setelah aku pikir, saranmu memang ada benarnya. Aku hanya ingin memberikan jiwa ragaku untuk orang yang akan benar-benar menjadi jodohku. Aku tak ingin orang lain memilikinya."
" Ya sudah, yang penting aku senang kamu mendengarkanku. Masalah jodohmu siapa, aku tak ingin ambil pusing. Setelah urusanku selesai, aku akan meninggalkan desamu."
" Kenapa begitu? Kamu akan meninggalkanku begitu saja?"
" Katanya aku tidak boleh terlalu percaya diri, ya sudah. Aku tak mau terlalu berharap." Bono menatap sepintas wajah Rika, lalu menatap ke arah lain karena tak ingin terus terbayang dengan wajah Rika, saat dirinya tak ditakdirkan berjodoh dengannya.
" Bono.." Rika memeluk tubuh Bono dengan erat.
" Rika, lepaskan. Kita hanya berdua ditempat ini. Jangan mengundang setan."
" Aku mohon yakinkan aku kalau kamu memang mau menjadi suamiku dan akan menjagaku."
" Aku akan buktikkan Rika, Aku janji." Bono tak kuasa menahan nafsunya saat Rika memeluknya. Ada yang bergejolak didalam dirinya. Seakan menyuruhnya mengajak Rika untuk bercinta didalam mobil.
" Bono.. ahhh.." Rika mendesah menikmati tubuh Bono yang hangat. Diapun sedang dilanda keinginan untuk bercinta dengan lawan jenisnya. Seumur hidup, Rika belum pernah merasakannya.
" Rik, lepaskan. Jangan sekarang. Tunggu kalau kita berjodoh dan akhirnya menikah, kita akan merasakan kenikmatan yang belum pernah kamu rasakan."
......................
__ADS_1