SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
SENJATA RAHASIA


__ADS_3

Melihat teman-temannya berjatuhan dan mati mengenaskan, Pimpinan rampok itu bersedih. Matanya memerah, menyimpan amarah yang sangat besar.


" Kalian... Kenapa kalian membunuhnya! Apa kalian tahu, siapa sebenarnya mereka? Mereka adalah orang-orangku yang sudah lama meninggalkan dunia kejahatannya. Kami semua telah bertobat. Satu anak buahku yang terlebih dahulu mati, istrinya sedang mengandung anak pertamanya. Dan kedua temanku yang telah kalian bunuh, mereka mempunyai tanggung jawab yang sangat besar. Keduanya memiliki rumah panti bagi mereka yang tidak punya rumah dan tidak memiliki orang tua. Kalian tega dan dengan sadar membunuhnya! Apa yang kalian pikirkan, seharusnya musuh yang sudah tak berdaya, kalian biarkan hidup. Mengapa kalian sampai hati membunuhnya! Sekarang, siapa yang akan bertanggung jawab memberi makan anak-anak asuh mereka!"


" Hei.. kau laki-laki tua munafik! Kau sendiri bagaimana.. apa jika kami kalah, kau akan membiarkan kami hidup? jangan sembarang bicara jika kau tak bisa berkaca!" teriak Raka dengan lantang.


" Bocah ingusan! kau tahu apa tentang kami? Kami ini sebenarnya terpaksa melakukan ini. Kami tak bersungguh-sungguh menyerang kalian! Apa kalian terluka oleh kami.. tidak, kan? Itu karena kami tak bersungguh-sungguh. Jika kami bersungguh-sungguh, sudah sejak awal kalian mati!"


" Terpaksa bagaimana maksudmu, orang tua? Jika terpaksa, mengapa kau masih mau melakukannya?" tanya Raka lagi.


" Kami memiliki hutang budi pada Bos kami. Disaat kami kesusahan, dia datang dan memberikan bantuan untuk kami. Tapi, kami tak tahu pada akhirnya dia meminta balas budi kepada kami. Dia menyuruh kami mengikuti kemauannya.


Awalnya kami setuju, tetapi kami terkejut ketika Bos kami meminta untuk melakukan kejahatan. Kami menolak dan akan mengembalikan semua yang telah ia beri. Tapi Bos kami menolak menerimanya. Dia akan membunuh kami jika tak melakukan apa yang ia perintahkan."


" Wijaya! Kenapa kau membantu orang tak pernah ikhlas!" teriak Tanu.


" Hahaha.. Tanu, di dunia ini tak ada yang gratis. Lagipula mereka juga bekas penajahat. Aku tak meminta orang baik untuk menjadi pengikutku."


" Tapi mereka sudah meninggalkan kejahatan mereka, Wijaya. Kenapa kau memaksanya!"


" Tanu! sebaiknya kau tak perlu banyak bicara! Itu bukan urusanmu! Lagipula sebentar lagi kau dan keluargamu akan ku musnahkan! Hahaha.."


" Kau takkan bisa membunuh kami, Orang tua sampah! Kami yang akan menang melawanmu!" teriak Raka sembari mengacungkan jari telunjuknya ke arah Wijaya.


" Hahaha.. bagaimana kau yakin, bocah ingusan? Lihat saja, siapa yang akan mati! Hei kamu... serang bocah sialan itu. Bunuh saudaranya juga, balaskan dendam atas kematian teman-temanmu!"


" Wijaya! Hutang budi kami kepadamu sudah lunas! Aku tak sudi lagi kau perintah! Aku memang akan membalaskan dendam atas kematian teman-temanku. Tapi bukan atas perintahmu!"


" Hahaha.. terserah kau mau bilang apa. Kalau kau bisa menang melawan mereka, aku akan melepaskanmu. Dan jika kau kalah... kau tahu kan, apa yang akan terjadi denganmu."


" Aku sudah tahu ini beresiko. Aku akan berjuang atas nama teman-temanku!"


" Baiklah... aku takkan mengganggumu." ucap Wijaya lalu ia kembali duduk diatas bongkahan pagar yang runtuh olehnya.


Pimpinan rampok bersiap menyerang Raka dan Riko. Dengan amarahnya yang besar, ia mampu membangkitkan kekuatannya yang telah lama ia pendam.


" Bersiaplah kalian, Bocah-bocah ingusan! Kalian akan merasakan yang namanya kematian. Berdoalah selagi kalian sempat, sebelum menghadap pada Sang Pencipta kalian!"


Mendengar ucapan Pimpinan rampok, Raka dan Riko seketika menjadi ciut nyalinya. Tanu pun mendekati mereka lalu memberikan mereka kepercayaan diri.


" Riko, Raka.. jangan takut. Hadapi dia dengan penuh keyakinan. Ingat, doa Ibu kalian dan adik-adik kalian menyertai kita. Ayo, kita serang secara bersama-sama."


" Baik, Ayah.." ucap Riko dan Raka bersamaan.


Usai berkata, Pimpinan rampok melancarkan serangan ke arah Riko dan Raka. Namun ia tak berniat menyerang Tanu. Tanu pun menghindar dan memilih menyingkir dari pertarungan.

__ADS_1


" Riko, kenapa hanya kita yang dia serang? Bukankah kita bertiga?" tanya Raka keheranan.


" Aku tidak tahu, Raka. Hati-hati.. jangan-jangan dia ingin menumbangkan salah satu diantara kita."


" Mungkin saja, Riko. Kita harus ekstra waspada. Jangan pernah lengah. Kita juga harus memperhatikan gerakan-gerakannya dengan cermat. Siapa tahu dia memiliki senjata rahasia."


" Kamu benar, amati setiap pergerakan tangannya, Raka. Aku yakin dia memiliki senjata rahasia."


" Baik, Riko.."


" Raka, awas!" Teriak Tanu ketika Pimpinan rampok melemparkan sebuah benda kecil ke arah wajahnya.


" Akhhh... mataku!!!" Teriak Raka karena matanya tak bisa melihat setelah Pimpinan rampok melemparkan semacam serbuk yang mampu membutakan mata.


" Hiyaaaattttt..." Disaat Raka sibuk mengurus kedua matanya yang terasa pedih dan panas, Pimpinan rampok menendang perut Raka dengan keras.


" Akkkkkhhhh..." Raka terdorong ke belakang hingga lima meter.


" Raka..." teriak Riko lalu berlari menolongnya.


" Riko.. mataku.. Aku tak bisa melihat. Mataku terasa panas."


" Tenanglah, aku akan membawamu ke Ibu, ayo. Ayah, aku serahkan orang itu kepadamu. Nanti aku akan membantumu setelah membawa Raka ke Ibu."


" Baiklah, Riko.. cepat bawa ia segera ke Ibumu. Biar orang ini, aku yang menghadapi."


" Aku tahu itu, Riko. Serahkan saja kepadaku."


Tanu segera mendekati Pimpinan rampok. Ia bersiap dengan kuda-kudanya. Namun, Pimpinan rampok itu terlihat sangat tenang.


" Hei, aku tak tahu siapa namamu! Tapi aku heran denganmu, orang sekuat dirimu mengapa tunduk pada Wijaya."


" Itu bukan urusanmu, dan sebaiknya kau tak perlu tahu namaku. Aku akan memberitahumu setelah kau sekarat!"


" Kita lihat, siapa yang akan sekarat terlebih dahulu."


" Kurang ajar! Bersiaplah, Tanu! Kau yang akan bertanggung jawab atas kematian teman-temanku!"


Pimpinan rampok kembali mengerahkan tenaga dalamnya. Amarah yang semakin membara, ketika ia mengingat ketiga temannya yang telah lebih dulu meninggalkannya.


Ia lalu maju menyerang Tanu dengan ganas. Serangan dari tangan dan kakinya, mengandung tenaga dalam yang cukup tinggi.


" Serangannya semakin berbahaya, aku harus lebih berhati-hati dengannya. Orang ini sekilas seperti orang yang lemah. Namun ia begitu kuat. Gerakannya lemah lembut, namun saat berdekatan dengan lawan, ia begitu cepat. Seharusnya orang biasa tak bisa lagi menghindari serangannya hanya dalam satu pukulan saja." gumam Tanu dalam hati.


" Tanu.. jangan melamun, atau kau akan terluka dan mengalami nasib yang sama seperti anakmu."

__ADS_1


" Itu tidak akan terjadi, aku bisa mengamati dengan jelas pergerakanmu. Seharusnya kau yang lebih berhati-hati."


" Hahaha... kau menyuruhku berhati-hati? apa kau pikir seranganmu berbahaya bagiku? Satupun seranganmu tak ada yang bisa merobek kulitku."


" Baiklah, kalau kau pikir aku tak bisa melukaimu. Sebenarnya aku juga tahu kalau kau hanya bermain-main dengan kami. Aku pun mengimbangi permainanmu. Tapi kau licik, kau membuat anakku cacat. Aku tak bisa membiarkanmu. Kau harus bertanggung jawab!"


" Bertanggung jawab? bagaimana dengan teman-temanku? Apa mereka mau bertanggung jawab?"


" Mereka tak bersalah, mereka hanya anak kemarin sore yang tak tahu apa-apa. Seharusnya kau memberitahu mereka, jika tak ingin bersungguh-sungguh dalam bertarung."


" Ahhh.. tak ada waktu lagi untuk berdebat. Semua sudah terlanjur. Sekarang kau harus mati ditanganku!"


" Baiklah, semua memang sudah terlanjur. Kalau begitu ayo segera akhiri pertarungan ini. Keluarkan seluruh kemampuanmu."


Tanu dan Pimpinan rampok meningkatkan lagi serangannya. Mereka tak juga merasa kelelahan meskipun bertarung hingga dua jam lamanya.


Sementara itu, Raka sedang dirawat oleh Ibunya. Rani membersihkan mata Raka dengan sangat hati-hati.


" Aduh, mataku sakit sekali Ibu. Aku tak bisa melihat. Perutku juga sangat perih. Orang itu benar-benar licik. Riko, balaskan dendamku kepadanya. Balaskan rasa sakit ini, Riko. Berjanjilah kepadaku."


" Raka, sebaiknya kau jangan banyak bertingkah dulu. Ibu akan membersihkan matamu dulu." ucap Rani.


" Ibu, aku tak bisa melihat. Bagaimana aku bisa tenang. Kenapa ini terjadi kepadaku.." keluh Raka sembari menanis meratapi nasibnya.


" Tenanglah, Ibu sudah mencoba menghubungi Dokter untuk kemari. Sebentar lagi dia akan datang."


" Benarkah, Ibu? Suruh dia untuk cepat kemari. Aku sudah nggak tahan.."


" Tenanglah dulu Raka. Sebaiknya kau beristirahat dulu. Berdoalah dan ucapkan istighfar yang banyak."


" Baik Ibu. Ibu jangan kemana-mana, Raka butuh Ibu."


" Iya, Ibu nggak kemana-mana. Ibu akan menunggu kamu."


" Dimana Bulan, Bu? kenapa aku tak mendengar suaranya?"


" Dia sedang menidurkan Rama.. Tama juga bersamanya. Ada apa Raka?"


" Nggak apa-apa, Bu. Raka hanya tiba-tiba khawatir saja kepadanya."


" Tenanglah.. dia aman kok, dikamar Ibu. Tumben kamu khawatir padanya. Biasanya sering debat kalau dekat dengannya."


" Ibu, walapun sering debat memangnya Aku nggak boleh khawatir padanya? Dia kan, juga saudaraku."


" Boleh kok.."

__ADS_1


Usai Rani berkata, tiba-tiba suasana menjadi hening. Raka mencoba memanggil Ibunya berkali-kali, namun Rani tak menjawab panggilan Raka. Ia lalu berjalan ke sembarang arah, hingga terjatuh berkali-kali. Kemudian ia berdiri kembali dan memanggil Ibunya. Namun tak ada siapapun di dalam rumah yang menjawab panggilannya.


......................


__ADS_2