
Sore hari pada pukul 03.00, restoran Wira mulai sepi. Ini kesempatan baik bagi Wira untuk menutup restorannya, khusus hanya untuk hari itu saja.
" Nov, sudah di tutup semua ruangannya?"
" Sudah Pak, hati saya yang masih terbuka."
" Terbuka bagaimana?" Wira merasa bingung.
" Masih terbuka untuk Pak Wira." Novi tersenyum malu.
Wirapun tak kalah malunya, dia hampir tak percaya bocah yang dia rawat, hingga dewasa, bisa membuat kata-kata yang membuat dirinya bergetar.
" Novi, sini kamu!"
" Iya, kenapa Pak Wira kasar begitu?"
" Sini sebentar,"
" Iya Pak Wira." Novi berjalan ke arah Wira tepat di hadapannya.
Tak berfikir panjang, Wira memeluk Novi erat dan menciumnya berkali-kali. Novi hanya pasrah mendapat ciuman yang bertubi-tubi dari Wira. Namun kemudian Novi sadar, dirinya belum sah jadi istri Wira. Ia melepaskan pelukan Wira dan menyuruh Wira berhenti menciumnya.
" Maaf Pak Wira, kita masih belum sah menikah. Saya tak ingin terbawa arus, dan melepas kesucian saya sebelum waktunya. Saya harap Pak Wira bisa mengerti dan menahan hasrat Anda. Saya berharap, kita bisa mengingatkan satu sama lain agar jangan sampai terjadi sesuatu yang saya tak sukai."
" Tidak perlu meminta maaf Nov, aku yang salah. Aku yang memeluk dan menciummu terlebih dahulu."
" Saya juga salah Pak, karena saya tak mencegah Anda melakukannya pada saya."
" Baiklah Nov, tidak perlu di bahas lagi. Ayo kita pergi sekarang."
" Naik apa kita akan pergi Pak?"
" Kita pakai mobil saja biar cepat. Lagi pula sekarang musim penghujan, jadi lebih aman kalau pakai mobil."
" Ya sudah, ayo sayang." Novi merangkul lengan Wira lalu berjalan menuju mobil Wira.
Perasaan Wira semakin tidak karuan, setiap kali Novi memanggilnya dengan kata sayang. Meskipun hanya sesekali, namun mampu membangkitkan gairah hidupnya yang telah lama padam.
Dalam perjalanan ke rumah Tanu dan Rani, banyak canda tawa yang mereka lepaskan. Sesuatu yang tak biasa terjadi diantara mereka. Keduanya memiliki kesamaan, sebelum mereka menjalin hubungan. Novi yang tak suka becanda, dan Wira yang tak suka banyak berkata-kata. Sewaktu Mereka hidup serumah, ketika Novi masih kecil, Wira tak pernah berkata apapun, atau bercerita apapun pada Novi. Dan sebaliknya, Novi juga tak pernah mengatakan sesuatu. Terkadang dia bingung harus bicara apa, dengan orang yang menggantikan kedua orang tuanya, yang telah tiada.
" Nov, Aku ingat sekali kita dulu saat tinggal bersama, tak seceria dan sebahagia ini. Dulu aku hanya menganggapmu anak kecil yang malang. Aku bingung bagaimana memperlakukanmu. Dan aku juga tak tahu harus menganggapmu apa.
Kadang aku berbohong dengan siapapun. Aku mengaku kalau kamu anakku. Namun anak dari siapa, itu pertanyaan yang selalu orang lontarkan kepadaku. Aku bilang ini anakku dari istri pertamaku, ternyata ucapanku membuat aku tertimpa masalah.
Keluarga Dinda, menuduhku berselingkuh, menuduhku penghianat, dan banyak sekali kata-kata yang tak pantas keluar dari mulut mereka. Aku hanya bisa terdiam mendengar kata-kata mereka, meskipun hatiku sakit.
Tapi aku tak mau memperkeruh suasana dan semakin memperbesar persoalan. Dan pada akhirnya aku harus meninggalkan desaku dan memilih untuk tinggal sendiri di rumah yang sekarang."
Di dalam mobil, Novi memeluk tubuh Wira, dia berusaha membayangkan dan merasakan apa yang dialami calon suaminya itu di masa lalu.
" Pak, mungkin kita mempunyai kehidupan yang sama-sama pahitnya. Namun karena itu, kita bisa menerima satu sama lain. Kita tahu kekurangan dan kelemahan kita. Dan jika kita bersatu, kita akan saling mengisi, melindungi, dan menjaga hubungan kita."
__ADS_1
" Novi, mudah-mudahan aku tak salah jika memilihmu. Awalnya aku sempat khawatir jika kamu menolakku."
" Pak Wira, tak ada alasan yang tepat untuk saya menolak keinginan Anda. Saya dari dahulu dirawat dan dibesarkan oleh Anda, jika Anda meminta saya, saya selalu siap. Saya tak berani melawan."
" Nov, aku tak ingin kamu punya pemikiran seperti itu. Aku tak mau, kamu mau denganku karena jasaku. Aku hanya mau ketulusanmu Nov."
Mendengar ucapan Wira, Novi tiba-tiba melepaskan pelukannya.
" Apa Anda tak merasakan ketulusan saya Pak? Apa yang selama ini saya berikan ke Anda, belum cukup untuk membuktikan ketulusan saya?"
" Maksudku, ketulusan cintamu Nov. Bukan soal itu."
" Saya tak tahu tentang cinta-cintaan Pak, jadi jangan tanya itu kepada saya."
" Haha, baiklah Nov, yang penting kamu tahu cara memperlakukanku saja, aku sudah senang. Tak perlu lagi bertanya tentang ketulusanmu."
Novi hanya melirik ke arah Wira lalu memalingkan mukanya ke arah lain.
" Sudah bosan meluknya? Kenapa dilepas?" Tanya Wira dengan genit.
" Ihh, Pak Wira.. Jangan seperti itu. Nanti kalau saya peluk lagi, makin lama makin kebablasan."
Wira tersenyum. Dia memang sengaja memancing Novi, agar Novi mau melakukannya dengan Wira sebelum pernikahan tiba.
" Pak Wira, Anda jangan berfikiran kalau saya bakal tergoda dengan rayuan Anda. Saya sudah berjanji dengan diri saya sendiri. Sebelum pernikahan tiba, saya akan tetap menjaga kesucian saya."
Wira terkejut, lalu mengerem mobilnya secara mendadak. Novi pun tak sengaja memukul Wira karena kaget.
" Pak Wira! Nyetirnya yang benar dong. Anda ingin kita mati bareng begitu?" Novi teriak-teriak, bercampur emosi.
Novi memukul sekali lagi pundak kiri Wira.
" PLAKK.."
" Kenapa senyum-senyum sendiri? Sengaja ya? Menyebalkan sekali Pak Wira ini."
" Maaf dewiku, sungguh aku tak sengaja. Aku hanya heran saja, kenapa setiap aku memikirkan sesuatu, kamu bisa menebaknya. Aku jadi susah, kalau seperti ini." Ucap Wira sambil menepuk keningnya dan tertawa tertahan.
" Ha? Dewi siapa lagi itu? Saya nggak mau menikah dengan Pak Wira kalau masih ada hubungan dengan Wanita lain." Ucap Novi cemberut, sembari melipatkan kedua tangannya diatas perutnya.
" Dewi itu semacam bidadari. Intinya seorang wanita yang seperti bidadari. Atau seorang dewa perempuan, atau.. Apalah itu aku juga kurang mengerti. Aku hanya pernah dengar seorang lelaki yang merayu kekasihnya, dengan sebutan Dewi. Padahal namanya bukan Dewi."
" Anda bohong! Pokoknya kalau Pak Wira masih ada sangkut pautnya dengan wanita lain, saya tidak mau menikah dengan Pak Wira."
" Novi, percayalah padaku." Wira memegang kedua pundak Novi dan menghadapkan tubuh Novi kepadanya.
" Pak, saya tahu Anda dahulu pemain wanita. Saya sering melihat Anda pergi berduaan dengan banyak Wanita. Mungkin jika bukan saya, pasti orang akan berpikir seribu kali untuk menikah dengan Anda."
" Novi, itu kan dulu. Aku sudah insyaf setelah aku bertemu denganmu. Aku tak ingin kamu menjadi anak yang nakal. Sementara aku, yang seharusnya menggantikan orang tuamu mendidikmu, malah melakukan perbuatan yang tidak baik. Aku sangat menyesal Nov."
" Baiklah, saya tak ingin membuat Anda membahas masa lalu yang membuat luka hati Anda terbuka."
__ADS_1
" Terima kasih Nov, sudah mau mengerti aku."
" Iya, tapi Pak Wira harus jujur dulu sama saya, saat ini Pak Wira masih berhubungan dengan Wanita lain atau tidak?"
" Menurutmu, aku memiliki kekasih atau tidak?"
" PLAAKK.." Novi kembali memukul bahu Wira.
" Ditanya malah ganti tanya. Jangan buat saya marah. Kalau tidak mau terus terang, lebih baik tidak jadi menikah."
" Eit, jangan.. Aku tetap akan menikahimu. Sebentar lagi, kamu akan jadi milikku."
" Iya, tapi ada satu yang terlewatkan Pak. Siapa yang akan jadi wali nikah saya? Sementara saya tidak tahu keluarga atau saudara saya dimana." Novi tiba-tiba terdiam dan menunduk. Wajah cantiknya tampak memerah, air matanya perlahan menetes.
" Novi, Novi.. Sttss.. Jangan menangis, pasti masih ada jalan keluar untuk menemukan keluargamu. Kita ke rumah adikku dulu, sampai disana kita bahas bersama masalah ini. Jangan putus asa dulu." Wira mencoba menenangkan Novi.
" Tapi bagaimana caranya Pak? Saya benar-benar sudah tidak tahu sanak saudara saya. kakek saya pun saya tak tahu tinggal dimana."
" Kita akan mencari jejak tempat tinggal kamu, mudah-mudahan saja disana kita bisa menemukan titik terang."
" Ayo, sekarang saja, kita kesana Pak. Pergi ke rumah adik Pak Wira, besok saja bisa kan?"
" Tidak bisa Nov. Kita harus kesana sekarang juga. Nanti disana aku akan mengenalkanmu dengan adikku. Disana kita juga bisa meminta solusi bagaimana jika kamu tidak memiliki wali nikah. Harus dengan siapa, jika orang tuamu saja sudah tiada, dan juga kamu tak tahu dimana sanak saudaramu berada."
Mendengar tolakan dari Wira, Novi terdiam. Dia merasa kesal. Novi memang memiliki sifat yang keras. Jika meminta, wajib dipenuhi. Jika tidak, dia akan berdiam diri dan tak mau melakukan pergerakkan apapun.
" Nov, kenapa diam?"
" Nggak tahu!" Ucap Novi kesal.
" Baiklah kalau begitu. Kita akan cari keluarga kamu dahulu." Wira kembali menyalakan mobilnya dan melanjutkan perjalanan. Bukan ke tempat Rani, tetapi mencari saudara Novi."
" Pak Wira." Novi kembali memeluk Wira yang wajahnya sedikit bimbang karena memikirkan Novi.
" Apa saya salah jika bersikap seperti tadi? Kalau Anda tidak suka, Anda boleh menegur saya. Jika saya salah, saya akan langsung meminta maaf."
" Nov, kamu tidak salah. Aku tidak masalah denganmu. Aku bisa terima kamu, yang seperti apapun. Entah itu kamu pemarah, manja, atau bawel, pokoknya aku tidak pernah mempermasalahkan itu."
" Serius Pak?"
" Heem." Wira mengangguk.
" Tapi, lebih baik kita batalkan saja mencari keluarga saya Pak. Sekarang sudah hampir sore. Kalau sampai sana malam hari, sama saja, kita tidak bisa mencarinya. Kita kembali ke tujuan awal Anda saja. Ke rumah adik Pak Wira."
"Huuuh.." Wira menghela nafas.
Novi tersenyum lalu tertawa melihat sikap kesal Wira.
" Hahaha.. Jangan kesal begitu dong. Pak Wira harus mengerti kemauan saya. Lagipula kita tidak jalan kaki."
" Masalahnya kita harus putar balik lagi sayangku. Harusnya di persimpangan tadi kita belok kanan, kita malah ke kiri. Hampir sepuluh menit lho sampai ke persimpangan tadi." Ucap Wira sambil menepuk keningnya.
__ADS_1
Novi kembali tertawa, namun ketika melihat Wira tak ikut tertawa, dia menghentikan tawanya. Lalu dengan wajah manisnya, dia memberikan senyuman kepada Wira, dan memeluknya dengan erat.
......................