SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
TAKUT MELIHAT KEMATIAN


__ADS_3

Petir menyambar-nyambar ketika pertarungan sedang berlangsung. Langit mulai gelap. Tak ada lagi bintang ataupun Bulan yang bersinar. Yang terasa hanyalah suasana yang mencekam dan mengerikan di lereng Bukit Barat di rumah Tanu.


Disaat Rani dan Bulan sedang berdoa, Rama dan Tama terbangun dari tidur mereka. Rama menangis keras seolah merasakan sesuatu yang sangat mengerikan.


" Bulan, adikmu bangun. Coba, Nak bawa kemari. Tama juga jangan lupa dibawa kemari jika sudah bangun."


" Baik, Bu."


Bulan segera berdiri dan mengambil Rama dan Tama yang berada di kamar mereka.


" Eh, Rama dan Tama, sudah bangun ya. Cup.. jangan menangis, Rama. Kakak disini, kok. Tama, ayo kita ke tempat Ibu di ruang Tamu. Ibu sedang menunggu disana sembari berdoa."


Tama mengikuti langkah kakaknya yang sedang menggendong Rama menuju ruang tamu. Ia berjalan sembari mengusap kedua matanya yang belum bisa melek sempurna.


" Ibu, bagaimana? apakah Ayah dan kakak berhasil menaklukan mereka?" tanya Bulan pada Ibunya lalu menyerahkan Rama kepada Ibunya.


" Sepertinya pertarungannya masih seimbang, Bulan. Tapi yang jadi permasalahannya, sampai kapan mereka akan kuat bertahan jika bertarung selama satu jam lebih. Dan lagi, Wijaya belum ikut bertarung. Mereka masih sangat unggul."


" Bu, apa Bulan boleh bertarung membantu mereka? Bulan kan, juga bisa bela diri."


" Bulan... walaupun kau bisa bela diri, tapi kau masih di tingkat tengah. Belum seperti Kakak-kakakmu. Jika kau kesana membantu mereka, kau yang malah akan membuat repot mereka."


" Tapi Bulan gatal, ingin memukul manusia-manusia sampah itu. Mereka harus dimusnahkan dari muka bumi ini."


" Sudahlah, Bulan.. kita sebagai wanita cukup berdoa saja. Kita tak mempunyai daya dan upaya seperti Ayahmu dan kedua kakakmu. Lebih baik kita tunggu sampai hingga pertarungan berakhir."


" Baik, Ibu.."


" Tama, kau tampak serius sekali melihat pertarungan mereka. Kelak, kalau kau besar jangan menjadi seperti mereka, ya. Lebih baik kamu jadi Dokter saja agar bisa mengobati orang sakit."


" Ibu benar, Tama.. Kakak juga setuju dengan Ibu. Lebih baik, kau besok sekolah yang jurusannya ilmu kedokteran saja." Ucap Bulan sembari mengelus kepala Tama.


Namun Tama tak menghiraukan perkataan Ibu dan Kakak perempuannya. Ia terus fokus pada pertarungan Ayah dan kedua kakak laki-lakinya. Ia juga tak jarang melihat ke arah Wijaya. Ia tahu, dalam sosok diri Wijaya terpancar aura yang sangat jahat.


" Ibu.. siapa orang itu?" tanya Tama dengan cidal.


" Oh, orang yang duduk disebelah sana itu? dia adalah Wijaya. Teman sekolah Ibu dan Ayah. Ada apa sayang?"


" Tidak, Bu. Jika dia berani menyakiti Ibu dan kakak, Tama takkan memaafkannya."


" Hehehe.. Tama, kamu itu masih kecil. Jangan suka menyimpan dendam. Nanti hidupmu tak tenang seperti orang itu. Dia seperti itu karena menyimpan dendam kepada Ayah dan Ibu. Lihatlah, dari sinar wajahnya. Dia tidak merasakan kebahagiaan sama sekali di hidupnya karena banyak menyimpan dendam."


" Tama, benar apa yang dikatakan Ibu. Kamu jangan pernah menyimpan dendam pada siapapun. Nanti akan menjadikan boomerang bagi dirimu sendiri. Apapun yang terjadi jangan pernah dendam pada orang lain, Tama."

__ADS_1


Tama terdiam, ia kembali tak menghiraukan kata-kata Ibu dan kakaknya. Sorot matanya sangat tajam. Ia seperti melihat, sesuatu yang buruk akan menimpa keluarganya.


Diluar, di depan halaman rumah Tanu, pertarungan masih terjadi. Kedua belah pihak masih sama-sama ngotot melancarkan serangan. Hingga bertarung lebih dari satu jam lamanya, kedua kubu masih terlihat kokoh.


" Riko, Raka.. apa kalian sudah lelah?" tanya Tanu.


" Belum, Ayah. Kami masih menyimpan banyak tenaga. Ayah sendiri bagaimana?"


" Ayah juga masih sanggup menghadapinya. Namun kenapa musuh kita juga belum bisa kita kalahkan."


" Ayah.. wajar saja jika mereka terlalu tangguh untuk kita robohkan, mereka pasti sudah sangat terlatih. Dan pastinya pengalaman bertarung mereka sudah sangat banyak. Kita masih beruntung, tidak pernah bertarung tapi masih bisa menghadapi mereka." ucap Riko.


" Iya, Riko.. mungkin saja ini berkat doa dari Ibu dan adik-adikmu. Semoga saja kita bisa memenangkan pertarungan ini tanpa sedikitpun terluka."


" Iya, Ayah. Pasti doa mereka didengar oleh Tuhan. Rasanya tubuhku juga ringan, seperti ada kekuatan yang mengalir dalam tubuhku."


" Ayah juga merasakan seperti itu. Kalau begitu, ayo selesaikan ini dengan cepat, Riko."


" Baik, Ayah.."


" Raka, ayo kita segera selesaikan pertarungan ini. Tak ada gunanya mengulur waktu. Selama ada kesempatan bagus, langsung saja gunakan kesempatan itu untuk menyerangnya secara telak."


" Bagaimana kalau nantinya mereka akan terbunuh, Riko?"


" Raka, mau tidak mau kita harus menang. Jika membiarkan mereka tetap hidup, mereka akan semakin mempersulit kita. Setidaknya kita bisa mengurangi jumlah mereka."


Setelah Tanu Riko dan Raka sepakat untuk meningkatkan daya serang mereka, pihak musuh menjadi semakin terdesak. Dua anak buah Wijaya terluka. Dan satu lagi sudah merasa kelelahan. Sementara pimpinan rampok juga kewalahan melawan Tanu yang gesit.


Hingga pertarungan berjalan satu setengah jam lebih, ke empat anak buah Wijaya sudah tak berdaya. Mereka sangat kelelahan karena usia mereka yang sudah lumayan tua. Dan mereka juga sudah lama tidak bertarung lagi.


Dan satu persatu anak buah Wijaya pun tumbang. Mereka mencoba melarikan diri dari pertarungan. Salah satu yang paling lemah, berlari dengan kencang lalu masuk menyusuri hutan-hutan di depan rumah Tanu.


Namun ketika ia masuk ke dalam hutan, Wijaya terlebih dahulu menghadangnya.


" Haaa..." teriak salah satu anak buah Wijaya.


" Kau mau kabur kemana?" tanya Wijaya dengan santainya.


" Eh, saya tidak kabur Bos. Saya hanya kebelet ingin buang hajat." ucap anak buah Wijaya sembari memegang perutnya.


" Oh, begitu. Kalau begitu, pergilah." ucap Wijaya lalu membiarkan anak buahnya berlari.


Ketika salah satu anak buahnya berlari sekitar lima puluh meter dari Wijaya, tiba-tiba angin besar datang dari arah belakang menuju salah satu anak buah Wijaya yang sebenarnya berniat melarikan diri.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian suara ledakan besar disertai jeritan seorang lelaki terdengar mengerikan.


Wijaya telah menyerangnya dan tepat mengenai sasaran. Salah satu anak buahnya yang mencoba melarikan diri, kini hangus seperti terbakar. Tubuhnya pun terpisah-pisah.


Semua orang yang berada di rumah Tanu, termasuk anak buah Wijaya sendiri merasa merinding melihat kejadian itu. Seakan semua yang berada ditempat itu sudah tak ada lagi kesempatan untuk hidup.


" Hei..Kalian! jika tak ingin bernasib sama seperti teman kalian, jangan pernah mencoba berdusta kepadaku! Siapa dari kalian yang ingin mencoba melarikan diri?"


Ketiga anak buah Wijaya yang tersisa hanya terdiam. mereka menundukkan wajahnya sembari berlutut.


" Maaf, Bos.. kami tidak berniat berbohong kepada Anda. Kami setia dan patuh pada perintah Anda." ucap Pimpinan rampok dengan nada gemetar.


" Baiklah, kalau begitu selesaikan pertarungan kalian. Tunjukkan padaku kesetiaan kalian. Bunuh mereka semua!" Perintah Wijaya.


Para anak buah Wijaya pun segera melaksanakan perintah Wijaya, mereka bertarung satu lawan satu. Adu serangan pun kembali terjadi. Kedua belah pihak kembali meningkatkan serangan mereka.


Hingga pukul Setengah sepuluh malam, pertarungan masih terus berlanjut. Namun anak buah Wijaya semakin kewalahan dengan serangan Tanu dan kedua anaknya. Dua anak buah Wijaya pun mengalami kekalahan.


" Riko, aku yakin bisa mengalahkannya. Ayo kita serang dengan kekuatan penuh kita."


" Raka, aku juga yakin bisa mengalahkannya. Kalau begitu ayo kita lakukan." balas Riko lalu menyerang musuhnya dengan sangat cepat.


Pertarungan berdarah tak terelakkan lagi. Kini Riko dan Raka tak segan melukai lawan meskipun harus menghilangkan nyawa lawannya.


Riko dan Raka bertukar lawan, mereka bermaksud mengelabuhi lawan dengan serangan-serangan baru yang belum sempat mereka keluarkan.


Lima belas menit kemudian, trik mereka dalam mengelabuhi lawan membuahkan hasil. Kedua anak buah Wijaya berhasil ditumbangkan. Tanpa berpikir panjang, Raka yang sudah seperti kerasukan setan, mengamuk membabi buta melawan musuhnya yang telah terkapar.


Begitu juga dengan Riko, melihat musuhnya tak berdaya, ia segera melompat ke arah musuhnya yang terbaring. Lompatan Riko tepat dan kakinya mendarat di dada musuhnya. Seketika terdengar suara tulang patah disususul suara jeritan anak buah Wijaya yang mengerikan.


" Riko.. kau membunuhnya?" tanya Tanu karena ia terkejut dengan kedua anak mereka yang dengan mudahnya membunuh orang.


" Iya, Ayah. Aku tidak punya pilihan. Setidaknya, kita bisa mengurangi jumlah mereka, Ayah."


" Bukan itu maksud, Ayah. Sebenarnya Ayah ingin mengatakan sesuatu pada kalian. Tapi sudah terlambat. Mereka sudah tewas."


" Ayah.. katakan apa yang ingin Ayah katakan. Apa kami salah jika membunuh musuh kami?"


" Menurutnya kau bersalah besar, aku yakin pimpinan mereka akan membalaskan dendam atas kematian anak buahnya.


Riko dan Raka terdiam mendengar ucapan Ayahnya. Mereka merenungkan nasib mereka .


Bagaimana jika pimpinan mereka benar-benar membalas dendam atas kematian kedua temannya. Pasti pimpinan mereka tak akan pernah tinggal diam.

__ADS_1


Malam pun semakin meninggi, namun rasa takut menghantui Riko dan Raka. Mereka takut akan kematian. Di usianya yang masih muda, Riko dan Raka belum siap untuk melihat kematian.


......................


__ADS_2