
" Maaf Pak, saya rasa Anda tidak pantas menikahi saya. Masih banyak wanita lain yang lebih sempurna di dunia ini. Jika dengan saya, takutnya saya hanya menambah beban di hidup Anda."
" Nov, aku tidak butuh kata-kata seperti itu. Yang aku mau, jawaban dari kamu. Mau atau tidak?" Wira berkata dengan tegas.
" Pak Wira, saya mohon pikirkan kembali keinginan Anda untuk menikahi saya. Anda mempunyai segalanya, Anda berhak mendapatkan yang terbaik dan yang sempurna."
" Saya sudah putuskan dari awal, kamulah yang benar-benar aku inginkan Nov."
" Saya ini hanya seorang bawahan Anda Pak, saya tak ingin orang lain berfikir, saya menikah dengan Anda, karena harta Anda."
" Biarkan saja orang lain berkata begitu, yang penting kita sudah tahu asal usul kita. Masa lalu kita, tak perlu kita memikirkan hal yang tak berguna."
Novi hanya terdiam. Kata apalagi yang harus ia katakan. Rasanya dia sudah kehabisan kata.
" Novi, Apa kamu tak ingin memiliki suami, dan anak juga?"
Novi tersipu malu lalu berkata,"Tentu saja mau Pak Wira. Saya masih normal."
" Lalu dengan siapa kamu akan menikah Nov?"
" Menurut Anda siapa yang pantas untuk menikahi saya?" Novi menatap Wira dengan senyuman.
" Kalau menurutku, akulah yang pantas menikahimu." Wira menjawab tanya Novi dengan tenang.
Novi semakin lama tersenyum mendengar jawaban Wira lalu dia berkata,
" Kenapa Anda terlalu percaya diri?" Tanya Novi pada Wira.
" Aku hanya merasa, keyakinanku tidak bertepuk sebelah tangan." Jawab Wira penuh keyakinan.
" Kalau kenyataannya bertepuk sebelah tangan, bagaimana Pak?"
" Aku tidak mungkin mengalami hal yang seperti itu. Novi, katakan padaku kapan kamu akan siap menikah?" Ucap Wira sembari memegang kedua pundak Novi.
Novi menunduk, dia tidak berani menatap Wira lagi.
" Kenapa diam Nov? Aku menunggu jawaban dari kamu."
Novi menggelengkan kepalanya, lalu dia mencoba mengatakan hal yang sebenarnya pada Wira.
" Sebenarnya, tiga bulan ini saya sedang dekat dengan seorang laki-laki Pak. Dia seumuran dengan saya. Namun kami belum pernah saling bertemu."
Mendengar Novi sudah mempunyai pasangan, Wira tertunduk lemas. Dia melepaskan pundak Novi, lalu duduk bersandar di sofa.
Novi merasa bersalah dengan Wira. Dia tak mampu lagi meneruskan kata-katanya.
Dan Wira sendiri, tak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Hatinya hancur, dia sangat malu dengan dirinya sendiri. Dia merasakan kaku. Tubuhnya seperti tak bisa untuk bergerak. Menatap wajah Novi pun ia tak sanggup lagi. Baru kali ini dia merasakan patah hati karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
" Pak Wira." Novi mendekatinya lalu duduk di depan Wira.
__ADS_1
" Apa Anda tak menyukai hubungan saya dengannya."
Wira membuang mukanya ke arah lain." Nov, pulanglah. Tinggalkan aku sendiri."
" Baik Pak saya akan pulang. Maafkan saya Pak Wira." Novi pergi melangkahkan kakinya meninggalkan Wira.
Betapa hancur hati Wira mendengar Novi dekat dengan laki-laki lain. Awalnya, dia mengira Novi tak pernah berhubungan dengan laki-laki manapun setelah sekian lama menyendiri.
Namun kenyataannya sekarang Novi mempunyai orang spesial di hidupnya. Keinginannya untuk mendekati Novi dan menikahinya kini sirna.
Di dalam rumahnya sendiri Wira berteriak. Dia memaki dirinya sendiri.
" Dasar bodoh! Kenapa aku tak berfikir sejauh itu? Novi, ternyata aku salah menilaimu. Selama ini aku iba kepadamu, karena ku pikir kamu tak pernah memiliki kekasih.
Aku selalu melihatmu sendiri. Kamu berjuang sendiri di dalam hidupmu. Sehingga aku merasa kasihan kepadamu. Aku ingin menjadi pendamping hidupmu. Agar kamu tak sendiri lagi.
Aku bisa membantumu kapanpun dan dimanapun. Kita akan selalu bersama, melakukan pekerjaan bersama. Itulah mimpiku Nov, jika kamu tahu. Tapi.." Suara Wira terhenti sejenak.
namun saat dia berhenti, emosinya meluap. Dia mencoba menahannya. Semakin dia menahan, emosi Wira berkumpul menjadi satu dan,
" Akkh.." Wira berteriak sangat keras.
" Prang! prang! prang! prang!"
Empat jendela kaca yang ada di ruang tamu seketika retak, dan pecah hingga berkeping-keping.
Wira menyadari, jendela rumahnya di ruang tamu pecah, hingga terlihat dari luar. Namun dia tak terlalu memikirkan itu.
" Novi! Apa yang harus ku katakan lagi jika bertemu denganmu? Sungguh aku sudah tak mempunyai muka lagi untuk menatapmu. Aku harus bagaimana?"
Nafas Wira terengah-engah, dia tak sanggup lagi menahan gempuran emosinya. Pikirannya yang kacau, sudah tak mampu lagi untuk berpikir jernih.
" Novi! Dengarkan aku! Hanya aku yang mampu membahagiakanmu. Hanya aku yang sanggup menuruti semua kemauanmu. Hanya aku yang tulus setia mencintaimu.
Semua laki-laki di dunia manapun yang kamu temui, hanya memanfaatkanmu. Percayalah padaku Nov. Percayalah!!"
" Hiaa.." Satu teriakan lagi dari Wira.
" Glarrrr." Pintu depan rumah Wira hancur terhempas beberapa meter.
Teriakan Wira yang terakhir membuat tenaganya terkuras habis. Tubuhnya ambruk seketika.
" Novi, haruskah aku seperti ini karenamu? Mengapa aku yang jadi gila ingin memilikimu? Bukankah aku seharusnya menganggapmu sebagai anak, mengapa aku bisa menginginkanmu menjadi istriku? Bodoh! Bodohnya diriku yang terlalu berharap kepadamu."
" Istriku, maafkan aku. Kesetiaanku kepadamu hampir saja luntur. Kini aku menanggung malu yang sangat besar. Apa kamu tak rela aku memiliki istri lagi?" Wira menatap foto istrinya lalu membelai wajahnya.
Berulang kali air mata Wira menetes pada foto dirinya bersama keluarganya. Hingga dia berulang kali mengusapnya agar bisa melihat wajah keluarganya dengan jelas.
" Istriku, entah kenapa aku terasa sangat rindu ingin bertemu denganmu. Menatap wajahmu dalam foto saja rasanya masih kurang." Wira berpikir sejenak.
__ADS_1
" Sepertinya aku harus menemuimu. Baiklah, aku akan datang padamu, istriku. Aku akan membawakan bunga untukmu. Tunggulah aku."
Dengan tenaga yang tersisa, Wira mencoba berdiri. Tubuhnya yang kehilangan hampir seluruh tenaganya membuat dirinya terasa berat. Namun dia tetap berusaha berjalan keluar.
Dengan tergopoh-gopoh ia berjalan menuju mobilnya. Dan melajukan mobilnya menuju toko bunga.
......................
Sementara itu Novi yang sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya, merasakan firasat yang membuat hatinya cemas. Dia merasa bersalah karena membuat Wira kecewa kepadanya.
Tiba di rumahnya, Novi langsung menuju ke kamarnya. Lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
" Pak Wira, sepertinya Anda kecewa berat sama saya. Seharusnya saya tak perlu bicara tentang sesuatu yang tak berguna."
" Haaah.." Novi menghela nafas panjang.
" Pak Wira, Pikiran Anda terlalu jauh. Anda telah salah paham dengan saya. Sebenarnya saya dengan laki-laki itu hanyalah berteman biasa. Bukan pacar ataupun kekasih.
Kami hanya sebatas teman, Pak Wira. Seharusnya Anda mendengarkan dulu cerita saya sebelum Anda mengusir saya."
Berulang kali Novi menghela nafasnya. Pikirannya sangat tak tenang. Dia merasa gelisah. Dia khawatir Wira bertindak lebih jauh.
" Apa ku coba hubungi Pak Wira ya. Aku ingin bilang sebenarnya aku ini hanya berteman dengan laki-laki itu.Tapi, apakah Pak Wira mau mendengarkanku? Ah, sudahlah. Aku jadi pusing begini, memikirkan hal yang menjengkelkan."
" Ahh.. Aku ingin tidur, aku lelah. Tetapi kenapa aku kepikiran terus pada Pak Wira. Ayo lah Nov, tenangkan pikiranmu. Tidurlah biar kamu bisa berpikir jernih." Novi mencoba menghibur diri.
" Ihh.. Kenapa tetap nggak bisa. Aduh, Pak Wira. Maafkan saya Pak."
" Baiklah. Novi! Ayo kamu harus bisa, dan berani hubungi Pak Wira." Novi terus menyemangati dirinya.
" Tut..tut..tut.." Novi mencoba menghubungi Wira.
" Ayo, Pak Wira angkat telpon saya."
Novi mencoba menghubungi Wira berulang kali, namun Wira tak mengangkat telpon Novi.
" Baiklah, sekali lagi Nov. Semangat!"
" Tut..tut..tut.." Novi menelpon sekali lagi.
" Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. cobalah untuk beberapa saat lagi."
" Ha? Pak Wira mematikan Hpnya. Pak Wira, apa Anda benar-benar marah pada saya?" Novi terkejut Wira mematikan Hpnya.
" Tidak, Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Aku tak mau hubunganku dengan Pak Wira hancur berantakan. Pak Wira, saya tak akan mau membuat Anda kecewa. Saya bersedia menjadi istri Anda. Tapi jangan bersikap seperti ini."
Kegelisahan kembali menghampiri Novi. Dia keluar kamarnya. Berganti pakaian lalu keluar rumah menggunakan motornya pergi ke rumah Wira.
Beberapa menit kemudian, Novi tiba di rumah Wira. Dia terkejut melihat kondisi rumah Wira yang berantakan. Pintu rumahnya jebol, jendela kamar tamunya semua pecah. Dia kemudian melihat di sekeliling rumah Wira. Dia tak menemukan Wira. Mobil Wira juga tak ada di rumahnya.
__ADS_1
" Kemana Pak Wira pergi? Aku harus segera mencarinya."
Novi bergegas meninggalkan rumah Wira. Dan mencoba mencari Wira di restorannya. Tanpa berpikir panjang Novi melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Dia tak memikirkan apapun kecuali hanya untuk menemukan Wira.