
" Telpon siapa tadi Yah ? Kok kedengarannya seperti anak perempuan ya." Tanya Rani pada Tanu yang sedang mengeluarkan sepeda motornya.
" Ini Ayah tadi telpon murid Ayah bu, Ayah khawatir padanya. soalnya Ayah memimpikannya semalam. " Tanu berkeringat mendengar istrinya menanyakan kepada siapa dia telpon. Dia takut bercerita, namun dia tidak berani berbohong dengan istrinya.
" Owhh.. memangnya siapa murid Ayah? Tumben Ayah peduli sampai kaya ketakutan gitu. " ucap Rani yang sepertinya mulai curiga dengan suaminya.
Tanu menggaruk garuk kepalanya meskipun dia tidak merasakan gatal. Namun dia berharap mendapatkan kata yang pas untuk memberitahukan hal yang sebenarnya kepada Rani.
" Gini Bu, tapi Ayah minta Ibu jangan marah. jangan memotong pembicaraan Ayah sebelum selesai bicara. Ceritanya gini... Ayah tu di sekolah di sukai murid perempuan Ayah. Dan dia ngotot sekali untuk hidup bersama Ayah. Dia hampir memberikan bunga untukku. Namun Ayah menolaknya. "
" Jadi murid yang mau janjian dan ketemu ayah di ruang kelas itu murid yang ini yah?
" Iya Bu, memang dia orangnya.
" Coba lihat Yah, Orangnya yang mana? "
" Ehhh.. sebentar , Ini ada fotonya bu." Tanu memberikn Hpnya pada Rani. Dia gemetaran, takut kalau Rani akan marah padanya.
" Wahhh.. Cantik bangettt ini murid Ayah. Jadi ini yang suka sama Ayah." Rani terus terusan memandangi foto Vina dengan hati-hati.
" Dia murid terbaik di sekolah bu, siapa yang sangka akan menyukai Ayah. Padahal dia tahu Ayah sudah berkeluarga. "
" Hemhhh.. anak jaman sekarang tu yaa... cinta cintaan.. sama Gurunya aja bisa cinta... ckcckckk.. Rani menggelengkan kepalanya. prihatin dengan anak jaman sekarang.
" Ya begitulah Bu.. yang namanya cinta tidak memandang usia." Ucap Tanu penuh dengan kelegaan. Dia tahu istrinya tidak akan menyinggung hal semacam ini.
" Owh jadi begitu ya... kalau memang cinta tak memandang usia, apakah Ayah juga mencintainya? " Tiba tiba hal yag tak terduga keluar dari mulut Rani.
Tanu yang semula lega, kini kembali gugup dan gemetaran. Dia tidak mengira Rani akan menanyakan hal itu padanya. Dia berharap masalah ini jangan sampai berbuntut panjang. Agar tidak mengganggu keharmonisan keluarganya
yang selama ini dia bina.
" Kenapa Ibu tanya begitu to... Cinta Ayah hanya untuk Ibu dan keluarga kita. Bukan untuk orang lain. Meskipun Vina murid Ayah yang patut di banggakan , namun Ayah tidak memiliki hak untuk mencintainya . Dia masih anak sekolah Bu, mungkin saat ini dia hanya menyukai sesaat. Besok mungkin dia akan berubah lagi. Jadi Ibu nggak perlu khawatir tentang ini . " Setelah berpikir keras akhirnya Tanu mampu menyusun kata untuk di ucapkannya pada istrinya.
" Hemhh.. iya Ibu percaya pada Ayah. Tapi Ibu takut kalau yang namanya Vina itu akan mempengaruhi Ayah untuk melakukan sesuatu yang melanggar aturan. "
" Sudahhh.. Ibu tenang saja.. masalah ini biar Ayah yang urus. Ibu jangan sampai memikirkan hal yang tidak penting ini." ucap Tanu sembari membersihkan motornya yang kotor akibat menerobos hujan kemarin.
__ADS_1
" Baik lah Ayah . Ibu nggak akan memikirkannya lagi. Yang penting Ayah jangan sampai salah langkah. " Ucap Rani kemudian masuk ke rumah untuk menyiapkan sarapan.
Sementara itu di kamarnya ,Bulan sedang asyik bermain dengan Tama. Pagi pagi sekali Rani menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Sehingga ketika Tama terbangun, Rani menitipkannya pada Bulan agar ada yang menjaganya.
" Tama... sini dek... kakak punya sesuatu untukmu. "
Tama yang belum bisa bicara namun tahu apa yang di katakan kakaknya. Tama menjawab dengan sepatah kata ,
" epaaahhh? " Tama menjawab artinya apa.
" Taaaaa raaaaa.... jeng jeng jeng... " Bulan mengeluarkan kalung dari perak, yang mempunyai bandul berbentuk bulat. Dan bandul itu bisa di buka dan di tutup. Di dalamnya Bulan memasukkan foto keluarganya.
Lalu Bulan memakaikan kalung itu di leher adiknya. Tama hanya pasrah di berikan kalung di lehernya oleh kakaknya.
" Nahh cakep kan adik kakak.. " ucap Bulan sambil mencium pipi adiknya dengan gemas.
" Bulan... lan... Bulann... " tiba tiba Ibunya memanggilnya.
" Iya Bu.. Ada apa? jawab Bulan penasaran.
" Ayok turun.... bawa adikmu juga. Kita sarapan dulu. "
" Sini biar Tama sama ibu dulu. Kamu sama Ayah sarapan dulu. " Ucap Rani lalu mengambil alih Tama dari gendongan Bulan.
" Iya baik Bu...."
Bulan segera mencuci tangannya lalu pergi ke ruang makan untuk sarapan bersama Ayahnya.
Saat ini di rumah Tanu hanya ada Tanu, Rani, Bulan dan Tama. Riko dan Raka kembali ke asrama karena menjalani masa kuliah jauh di luar kota. meskipun hanya berjarak sekitar tiga jam perjalanan, namun mereka lebih memilih untuk tinggal di asrama, daripada bolak balik pulang pergi yang malah menghabiskan waktu dalam perjalanan.
" Ibuu.. Ayokk Ibu juga sarapan. Masa kita berdua saja yang sarapan. " ujar Bulan protea karena Ibunya nggak mau menemaninya sarapan.
" Ibu kenapa? sakit? kok nggak mau sarapan?" tanya Tanu lalu berpikir apakah Rani memikirkan masalahnya sehinga dia kehilangan nafsu makannya.
" Ibu nggak kenapa kok Yah, Bulan.. Hanya saja Ibu kurang enak badan. Rasanya mual. Owwwekkkk..."
Belum selesai bicara Rani hampir muntah di hadapan suami dan anaknya makan , namun Rani masih bisa menahannya dan berlari menuju toilet untuk mengurangi mualnya.
__ADS_1
Bulan dan Tanu , mereka bertatap-tatapan. Mereka menduga kalau Tama akan memiliki adik lagi.
Bulan membisikkan ke telinga Tama yang ditinggalkan begitu saja oleh ibunya dan pergi ke kamar mandi.
" Tama kita akan mempunyai adik lagi.. Yeeeeyyyy..." Ucap bulan kegirangan.
" Uweeeeekkkk... Hoeeeeekkkks.. " terdengar suara Rani muntah berkali kali.
Tanu menyusul Rani ke kamar mandi, lalu bertanya pada Rani. " Ibu kenapa? "
" Nggak tahu ini Yah, mungkin masuk angin kali ya. " ucap Rani keheranan.
Tanu pun penasaran, kenapa tiba tiba Rani mual mual.
Apakah memang istrinya ini sedang hamil. Dia pun menanyakan sesuatu pada istrinya.
" Ibu kapan terakhir haids? "
Rani terkejut mendengar pertanyaan Tanu. Dia tak pernah berpikir kalau dia bakal memiliki anak lagi.
Dia mencoba mengingat kapan terakhir dia haids. setelah ingat dia mengatakannya pada Tanu.
" Sepertinya kalau nggak salah, Ibu sudah tiga bulan ini nggak haids Yah."
" Apa itu benar Bu?"
Rani menganggukkan kepalanya lalu berkata " Iya Yah benar.."
" Syukurlah apa yang aku fikirkan ternyata benar." Ujar Tanu lalu memeluk istrinya.
" Pasti anak anak akan senang mendengar kabar ini Bu."
" Iya Yah.. tapi ini kita belum tahu apa ibu benar hamil atau masuk angin lho Yah."
" Hehe.. Ayah berharap kalau Ibu hamil."
" Ya sudah nanti setelah pulang ngajar antarin Ibu cek ke dokter ya Yah. "
__ADS_1
" Baik Bu.. nanti Ayah akan izin pulang cepet biar bisa langsung tahu hasilnya.
......................