
Tanpa berfikir panjang Tanu memberitahu Rani. Saat itu Wira dan Novi yang masih berada di rumah Tanu ikut mendengar berita kematian Vina.
" Tan, siapa yang meninggal?" Tanya Wira.
" Siswiku mas. Sayang sekali dia anak yang berprestasi di sekolah." Tanu memegangi kepalanya seakan kepalanya terasa pusing.
" Terus bagaimana? Apa kamu mau kesana?"
" Iya pasti, mas. Para Guru yang lain pasti juga datang. Mungkin kami akan berangkat dengan rombongan, mas."
" Kasihan sekali Vina itu mas. Anaknya baik, pinter, cantiknya nggak ada yang menandingi. Kayaknya, Vina itu multitalenta. Aku pernah sempat mendengar ceritanya, dia itu mencari uang sendiri lho untuk kehidupan sehari-harinya. Dia pernah cerita, meskipun orang tuanya kaya, tapi dia nggak tergiur dengan harta orang tuanya. Pokoknya Vina itu hebat. Seandainya saja kemarin Ayah.." Rani menghentikan bicaranya lalu memandang suaminya.
" Seandainya saja bagaimana maksudmu Ran?" Tanya Wira, sembari menatap aneh wajah Tanu dan Rani bergantian.
" Oh, tidak mas. Tidak apa-apa. Pokoknya, Vina itu anak yang sangat baik.."
" Sepertinya ada yang kamu sembunyikan dariku Ran."
" Hehe, tidak mas. Orang aku cuma bingung mau bicara apalagi kok tentang Vina."
" Yakin?" Tanya Wira.
" Yakin dong Mas." Jawab Rani.
Novi yang tidak tahu tentang Vina, hanya bisa diam mendengaran mereka berbicara. Dia pun tidak terfikirkan untuk bertanya tentang Vina.
" Ya sudah, kalau begitu aku mau mandi dulu, Mas Wira."
" Baiklah kalau begitu Tan, jangan lama-lama ya. Aku juga mau ke kamar mandi."
" Oh, begitu? Sekalian saja bagaimana?"
Rani, Wira dan Novi saling pandang. Dan mereka tertawa bersamaan.
" Ayah mau perang sama Mas Wira? Hehe."
" Aku tidak mau, mending sama Novi saja. Haha "
Novi memukul punggung Wira sambil berkata, " Saya juga tidak mau sama Pak Wira. Belum sah untuk berduaan."
" Tampaknya mas Wira sudah nggak tahan, Nov." Ucap Tanu sambil tertawa terkekeh.
" Makanya itu, aku cepat-cepat datang kemari untuk membahas pernikahan kami biar segera dilakukan,Tan."
" Sabar dulu Mas. Jangan terburu-buru. Hasilnya tidak baik lho." Sahut Rani.
" Iya, iya. Sudah. Pokoknya kita jalani saja prosesnya." Ucap Wira.
Pukul 06.00, Tanu dan yang lainnya sarapan bersama. Wira memutuskan untuk ikut bersama Tanu menghadiri pemakaman muridnya.
__ADS_1
Sementara itu, Tasya meminta bantuan teman-temannya untuk pergi ke rumah Vina membersihkan rumah Vina.
" Teman-teman, mohon kerjasamanya ya. Kalian bantu membersihkan rumah Vina. Karena, nanti akan banyak orang datang ke rumahnya. Aku akan ke rumah sakit untuk melihat jenazahnya."
" Baik Sya, Kami siap membantu. Demi Vina, kami siap melakukan apapun." Ucap salah satu teman Tasya.
" Ya sudah, Aku akan ke rumah sakit sekarang." Tasya bergegas meninggalkan teman-temannya lalu pergi ke rumah sakit.
Tiba di rumah sakit, Tasya melihat keadaan jenazah Vina. Dia menangis tersedu-sedu.
" Vin, aku nggak menyangka kamu akan pergi secepat ini. Sebenarnya kamu mau kemana? Mengapa, masih gelap keluar rumah sendirian?" Tasya menggenggam tangan Vina yang masih terasa hangat.
Kemudian melihat wajah Vina yang tersenyum, seperti merasakan kebahagiaan.
" Vina, mungkin ini sudah takdirmu. Kamu tidur dengan tersenyum, sayang. Aku yakin, kamu sedang bahagia. Mungkin saat ini, kamu sudah menemukan Mama kamu, dan sedang bersamanya." Tasya melihat di sekelilingnya, lalu mencium kening Vina.
Setelah beberapa saat, seorang suster dibantu dua orang pengantar jenazah datang membawa kereta dorong. Dia berkata pada Tasya,
" Dik, jenazah sudah siap dipulangkan ke rumahnya. Apakah keluarganya sudah bisa dihubungi?"
" Papanya sedang di luar kota, Sus. Saya sudah berkali-kali menghubunginya, tapi tidak ada yang mengangkat telpon saya."
" Terus jenazah adik ini mau dipulangkan kapan?"
" Sekarang saja, Sus. Saya sudah mengatur semuanya. Di rumahnya sudah banyak orang kok."
" Silahkan Sus."
Tasya keluar dari kamar jenazah. Dia terus menggenggam Hp hasil meminjam Ayahnya. Dia berharap Papanya Vina segera menghubunginya, agar tahu keadaan Vina sekarang.
Mobil ambulans mulai berangkat, sirine tanda kematian dibunyikan. Tasya bergegas mengikuti mobil ambulans menuju rumah Vina.
Pukul 08.00 Jenazah Vina tiba dirumahnya. Disana sudah banyak orang yang menanti kedatangannya.
" Teman-teman, bagaimana kerja kalian? Sudah beres semua?" Tanya Tasya pada teman-temannya.
Namun mereka hanya saling pandang, lalu seorang teman penanggung jawab kebersihan rumah Vina berkata,
" Kami tidak melakukan apa-apa, Sya. Saat tiba kesini, rumahnya dalam keadaan bersih, wangi, tak ada sampah bercecer sedikitpun. Kami kebingungan mau melakukan apa. Jadi kami hanya diam disini tidak tahu harus bagaimana."
Tasya menangis, dia berlari ke dalam rumah Vina. Mulai lantai bawah, dia memandanginya setiap sudut ruangannya. Semua tertata rapi, bersih dan wangi. Kemudian ia menaiki tangga ke lantai atas. Perasaannya semakin tidak karuan. Sungguh Vina pergi setelah membereskan semua pekerjaannya. Di kamar Vina, Tasya duduk tersimpuh dan menangis sesuka hatinya.
" Vinaa..." Jerit Tasya. Dia tak tahan melihat tingkah laku baiknya sebelum pergi untuk selamanya. Apa yang dia lihat dirumah Vina, membuktikan bahwa ia sudah serius untuk pergi. Namun dia tidak lupa dengan tanggung jawabnya. Menjaga rumah, agar selalu bersih sesuai apa yang diperintahkan Papanya.
" Kenapa, Kenapa Engkau memanggil sahabat baikku secepat itu, Tuhan? Engkau tahu, aku sangat menyayangi sahabatku itu. Mengapa dia Engkau ambil di saat aku sedang menikmati hari-hariku bersamanya?" Tasya terus meratapi kepergian Vina.
Tasya mencoba berdiri, dia memandangi seisi kamar Vina. Dia membuka almari baju Vina, sungguh sangat menyayat hati Tasya. Baju dan semua pakaian Vina tertata rapi. Semua baju yang tergantung juga sudah sempat Vina setrika.
" Vin, aku benar-benar nggak tahu harus bicara apalagi, Vin. Aku mohon kembalilah." Tasya menutup kembali almari pakaian Vina. Lalu duduk di kasur, sembari menatap ke arah jendela.
__ADS_1
Tiba-tiba saja pandangan Tasya tertuju pada buku kecil diatas meja yang masih tertindih pena diatasnya.
Perlahan dia membuka buku kecil yang ternyata adalah buku diary Vina. Di buku itu dia setiap hari menuliskan kata-kata di dalamnya. Dari semenjak Mamanya meninggal hingga sebelum akhir hidupya.
" Vin, ternyata dugaanku benar. Setiap hari kamu, terlihat selalu ceria. Seperti tidak ada masalah. Tapi, di buku ini, aku baru menyadari. Kamu terlalu pintar, menutupi masalahmu."
Tasya membuka tiap lembar ke lembar berikutnya. Dari isinya, tak ada sesuatu yang baik yang dituliskan ke dalam buku diarynya.
Dia terus menghapus air matanya yang tak berhenti mengalir.
" Kalau tahu akan begini, lebih baik aku tinggal bersamamu saja Vin. Jadi aku punya waktu yang banyak untuk bersamamu." Tasya kembali membuka lembaran diary berikutnya.
Di tiga lembaran terakhir, tertulis tanggal dan hari terakhir Vina diberikan nafas di dunia ini, Ia menuliskan pesan untuk tiga orang penting di hidupnya.
Yang pertama, untuk Tanu. Dia menyampaikan perasaan hatinya pada Tanu. Walaupun keinginan untuk hidup bersama Tanu, pupus. Namun rasa cintanya pada Tanu tidak pernah berubah.
Pada kalimat terakhir yang ditujukan untuk Tanu Vina berpesan,
" Pak Tanu, Walaupun saya tidak di dunia ini lagi, namun perasaan Vina tidak akan pernah berubah sedikitpun. Bersyukur Vina masih diberi hati. Sehingga Vina tidak merusak hubungan Pak Tanu dengan Ibuk. Vina juga lega, tidak sampai terjerumus ke hal yang demikian. Jadi di saat Vina pergi, tidak ada cacat yang membawa nama Vina. Terima kasih Pak, sudah bersabar menghadapi keegoan Vina selama beberapa hari kemarin. Maafkan Vina mungkin sikap Vina membuat Bapak membenci Vina. Vina janji, mulai hari ini tidak akan pernah mengganggu Bapak lagi. Sekali lagi, terima kasih telah menemani Vina dan menjadi Guru terbaik di hidup dan hati Vina. Sebenarnya Vina tadi mau telpon Pak Tanu lagi, mau pamit, siapa tahu besok sudah tidak bertemu Vina lagi. Tapi nggak jadi. Takut mengganggu Bapak. Ya sudah, mudah-mudahan lewat tulisan ini, bisa mewakilkan kepergian Vina."
Selamat tinggal Pak Tanu sampai
bertemu di dunia setelahnya ya.
Tasya kembali mengusap air matanya. Seakan air matanya tidak pernah berkurang sedikitpun. Terus dan terus mengalir.
Kemudian dia membuka lembar selanjutnya. Khusus untuk dirinya. Dia membacanya dengan teliti. Sambil mengusap air matanya hingga penglihatannya jelas, dia membaca pesan terakhir untuknya.
" Tasya sahabat baikku, sebenarnya aku ingin bercerita banyak kepadamu. Tapi kenapa Hp kamu rusak. Aku jadi tak bisa bicara apa-apa denganmu. Padahal aku sangat ingin bertemu. Tapi tak apa, nanti aku akan ke rumahmu setelah menulis pesan untuk Papaku. Tapi misalnya aku tidak sampai ke rumahmu, aku hanya ingin berpesan, sampaikan pesanku untuk Dua orang tua yang sangat berarti dalam hidupku. Pak Tanu dan Papaku. Aku yakin kamu akan datang ke kamarku dan membaca buku diaryku. Aku mohon sampaikan pesanku pada mereka ya Sya.
O iya, mungkin besok kita nggak bisa sama-sama lagi ke sekolahnya. Jangan bersedih ya kalau nanti kamu nggak ada temannya di kelas karena aku sudah nggak sekolah lagi. Pasti kamu heran kenapa aku bilang begini. Aku mau ceritapun takut kalau meleset. Lebih baik biar kamu tahu sendiri saja apa yang akan terjadi kepadaku. Sudah dulu ya Sya. Sambung nanti kalau aku ke rumahmu. Itupun kalau sampai. Kalau tidak, ya sudah. Biar semua jadi rahasiaku saja.
" I Miss You My best Friend
Good bye... Jaga diri baik-baik Sya."
Setelah membaca pesan untuknya, Tasya membuka lembaran buku paling akhir. Disana tertulis pesan untuk wijaya. Namun karena takut mendengar nama itu, dia tak jadi untuk membacanya. Dia lalu menutup kembali buku diary Vina dan membawanya turun dari kamar Vina.
Tiba di lantai bawah, jenazah Vina sudah ditempatkan di ruang tamu. Banyak orang yang datang menshalatkannya. Teman-teman Vina, juga para guru semua berdatangan. Hingga memenuhi rumah dan halaman depan rumah Vina.
Tasya melewati kerumunan orang-orang dan menuju motornya diluar pagar rumah vina untuk menyimpan buku diary Vina ke dalam jok motornya.
Sejenak Tasya melihat di sekeliling rumah Vina. Lalu dia meliha Hpnya. Namun Wijaya tidak kunjung menghubunginya meskipun sudah ratusan pesan, dan puluhan kali Tasya menelponnya.
Tasya kembali meneteskan air matanya. Lalu dala hatinya dia berkata,
" Vin, kasihan sekali kamu. Saat meninggalnya kamu pun, tak ada keluarga ataupun saudara yang datang mengunjungimu. Sungguh, jika aku jadi kamu, pastinya aku takkan sanggup melihat ini. Jika kamu bisa melihatnya, kumohon jangan bersedih ya, masih banyak kok teman dan tetangga yang peduli sama kamu. Jika memang Papa kamu tak datang, biar aku saja yang memutuskan kapan sebaiknya untuk mengebumikanmu." Lalu Tasya kembali masuk ke rumah Vina untuk bergabung dengan teman-temannya menemani jenazah Vina
......................
__ADS_1