SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
Pecundang Tetaplah Pecundang


__ADS_3

Hari sudah semakin sore namun pertarungan masih terus berlanjut. Seharusnya bagi Ketiga anak buah Wijaya, menghabisi semua lawannya itu mudah. Namun mereka sedang tak ingin terburu-buru. Menghabisi nyawa orang adalah hobi bagi mereka. Setelah sekian lama mereka tak beraksi, dan ketika mereka mendapatkan kesempatan, mereka sangat menikmati. Apalagi Leo yang paling haus membunuh. Ia tak segan-segan menyerang Reza dengan keras. Beruntung Reza bukanlah lawan yang lemah. Ia mampu mengimbangi kekuatan Leo sehingga berkali-kali serangan Leo berhasil ia patahkan.


" Kurang ajar! Reza memang tak bisa diremehkan. Berkali-kali seranganku bisa dia patahkan. Hemm.. Tak heran, dia adalah orang yang paling dekat dengan Bos Wijaya. Sedangkan aku, aku hanya orang baru yang bergabung dengan Bos Wijaya. Reza mewarisi jurus dari Bos yang bisa membuat lawan menjadi berkeping-keping. Sedangkan aku, aku hanya mengandalkan tangan kosong. Beruntung aku mempunyai ilmu kebal, dan aku tahu kelemahan jurus yang biasa Reza gunakan."


" Kenapa, Leo..kenapa kamu terdiam? Jika tak sanggup melawanku, menyerah saja dan tinggalkan tempat ini."


" Hahaha.. Kau itu jangan sombong. Lihatlah, anak buahmu dan teman-temanmu banyak yang tewas. Dan Kau masih bisa sombong. Aku hanya tidak ingin terburu-buru. Membunuhmu itu mudah. Tetapi saat ini aku sedang ingin bersenang-senang. Melawan orang kuat sepertimu itu adalah sebuah tantangan yang menyenangkan."


" Mudah, katamu? Kalau begitu, maju lah. Tunjukkan kehebatanmu. Aku pikir kita ini sama saja. Merasa paling kuat. Tapi bagiku, merasa paling kuat untuk membela desaku itu suatu kebanggaan. Ternyata membuat orang-orang disekitarku nyaman itu menggembirakan. Kau tahu, mereka meminta kepadaku untuk menyelamatkan desa kami. Mereka mempercayakan semuanya kepadaku, kepada teman-temanku.


Dan perasaan ini tak pernah ku dapat saat aku bergabung dengan Bos Wijaya. Yang bisanya cuma menyuruh tapi tak memperhatikan kebahagiaanku."


" Reza.. Reza.. Aku tidak tertarik dengan kata-katamu. Jangan mencoba mempengaruhiku. Aku sudah senang dengan hidupku. Dan aku tak akan pernah mau meninggalkan kehidupanku."


" Aku hanya menceritakan hidupku saja, Leo. Jika kau terpengaruh dengan perkataanku, aku sangat senang. Tapi jika kau tak tersentuh, itu tidak apa-apa. Tapi ku harap, kelak sebelum ajalmu tiba, ku harap kau telah berubah, Leo."


" Hahaha.. Berubah? Aku tak akan pernah berubah, Reza! Kau tak tahu bagaimana kehidupanku, dulu! Jadi jangan berkhutbah dihadapanku!"


" Jika kau tak bisa memaafkan masa lalumu, kau akan terbawa oleh perasaan itu dan akan berbalik menyerangmu. Leo, meskipun aku ini lebih muda darimu. Tapi bukankah, kata-kataku ini bisa kau pahami. Kau punya anak dan istri. Apa kau tak nemperhatikan nasib mereka?"


" Diam kau, Reza! Aku tidak butuh ocehanmu. Semakin kau banyak bicara, semakin membuatku muak! Bersiaplah, Reza. Terima seranganku.. Hiatttt!!!!!


" Kau memang keras kepala, Leo. Baiklah, aku akan menghentikanmu. Hiyaaattt!!!"


Leo kembali meneruskan pertarungnnya dengan Reza. Kata-kata Reza membuat pikirannya menjadi ruwet. Ia berusaha melawan kata-kata Reza dalam pikirannya. Dan dengan menyerang Reza, pikirannya kembali kepada jiwanya yang seorang pembunuh.


Dia menyerang Reza dengan membabi buta, hingga Reza tak sempat mengeluarkan jurusnya. Reza pun terdesak. Dengan tubuhnya yang tak sekokoh dulu membuat serangan-serangannya melemah. Berbeda dengan Leo. Tubuhnya yang kekar dan energik membuat dia lebih leluasa menyerang Reza.

__ADS_1


Sepuluh menit berlalu, Reza mengalami kekalahan. Luka robek di bagian dadanya akibat sabetan pisau milik Leo, membuatnya kehabisan darah. Namun Reza bukan orang yang lemah. Meskipun darah terus keluar bercucuran, ia masih bisa menyerang Leo dengan tepat sasaran.


" Ayo, Reza.. Keluarkan semua kesaktianmu! Mana yang katanya kau itu kuat? Orang pertama Bos Wijaya itu kamu. Tapi kenapa kau itu loyo. Aku jadi merasa kasihan kepadamu. Hahaha.."


" Diam kau, Leo! Kau pikir aku senang dengan belas kasihanmu? Aku tak butuh, Leo! Yang aku butuhkan hanyalah kau segera menyingkir dari sini, dan tinggalkan tempat ini!"


" Apa? Apa aku tak salah dengar? Kau menyuruhku pergi hanya dengan omonganmu yang besar itu? Hahaha.. Jangan panggil aku Leo jika aku pergi karena gertakanmu. Jika kau bisa mengalahkanku, aku akan tinggalkan desa ini dan tak akan pernah menyentuhnya lagi."


" Jadi kau ingin aku mengusirmu dengan kekerasan, Leo? Baiklah jika itu kemauanmu. Aku akan tuntaskan waktumu disini, Leo!"


Reza menahan amarah yang sangat besar. Dia berharap, Leo mendengarkan perkataannya dan segera meninggalkan desanya. Namun Leo malah menantang Reza. Jiwa mudanya tersulut. Ia kemudian mengumpulkan tenaga dalamnya dan menyalurkan ke seluruh tubuh. Ia lalu memusatkan ilmunya ke telapak tangannya. Tak lama kemudian dia menghentakkan tangannya ke tanah. Lalu angin tipis bergulung-gulung ke arah Leo.


Beberapa detik kemudian terdengar ledakan yang sangat dahsyat. Serangan Reza yang ia tujukan ke arah Leo mengenai tempat kosong. Leo berhasil menghindari serangannya. Reza berpikir, serangannya mengenai Leo. Ia pun terduduk ke tanah dengan lega.


Selang beberapa detik kemudian setelah kepulan asap menghilang, Reza merasakan bulu kuduknya berdiri. Leo tiba-tiba berdiri di belakangnya dengan memghunuskan pisau ke arah punggungnya.


" Akkkkhhhh...!!!" terdengar suara Reza yang menjerit kesakitan.


" Kurang ajar! Aku pikir dia tak akan bisa menghindari seranganku. Tetapi kenapa dia bisa tahu kelemahan jurusku. Akkhh.. Aku tak sanggup lagi untuk berdiri. Lukaku terlalu besar. Bagaimana ini. Aku tak bisa menyelamatkan desaku. Maafkan aku, semuanya. Aku memang hanya seorang pecundang. Aku memang tak pernah berubah. Pecundang tetaplah Pecundang. Akhhh... Sial! Apa aku harus mati dengan keadaan seperti ini." gumam Reza sembari menahan raaa sakitnya yang begitu dalam.


" Reza.. Sepertinya ajalmu sudah dekat. Apa kau punya pesan terakhir untuk beberapa orang yang kamu sayangi? Hahaha.."


" Akhhh!! Berisik! Leo, aku bersumpah kelak kau akan bernasib sama denganku!"


" Bicara apa kamu, Reza? Aku tak akan pernah bernasib sama sepertimu. Karena kita ini beda. Jangan menyamakan aku denganmu."


" Kita memang beda, tapi kau akan bernasib sama denganku, Leo. Tunggu saja, akan ada orang hebat yang akan mengakhiri kejahatanmu dan Bos Wijaya kelak di masa yang akan datang!"

__ADS_1


" Sudahlah..jangan banyak bicara. Nyawamu sebentar lagi akan melayang." ucap Leo lalu membiarkan Reza terkapar dengan tubuh yang tertusuk oleh pisau milik Leo.


" Lucky, Dante..ayo cepat habisi mereka. Kalau tidak, biar aku saja yang menghabisi mereka. Lama sekali kalian ini." ucap Leo pada Lucky dan Dante yang masih membiarkan lawannya tetap hidup.


" Leo.. Kami belum puas. Biarkan saja kami nenikmati pertarungan ini. Jika kau telah selesai, duduk saja dan pulihkan energimu." ucap Lucky.


" Apa.. Jadi Reza sudah kalah. Ini gawat. Aku bisa apa jika Reza saja sudah tak berdaya melawan mereka. Ternyata semua memang percuma. Aku sudah kehabisan tenagaku dan teman-temanku juga sudah mati, tapi tak satupun dari mereka yang terluka." gumam Rio dalam hati.


Hal yang sama juga dipikirkan oleh Bary. Setelah hanya dirinya sendiri yang tersisa, kini dia sudah tak bisa berharap pada siapa-siapa. Mencoba menghubungi Bono, tapi nomer yang di tuju tidak aktif.


" Leo.. Lebih baik kau tunggu saja. Kalau kau lapar, barangkali ada makanan di rumah-rumah warga yang masih tersisa. Geledah saja dan makan sepuasmu." ucap Dante dengan wajah tenang.


" Tidak.. Aku belum lapar. Cepat habisi mereka. Sebelum aku rebut jatah kalian."


" Leo, kau sendiri belum menghabisi Reza. Kenapa kau mau menghabisi lawan kami. Mereka hanya orang-orang tak becus. Bukankah kau lebih senang menghabisi orang yang kuat."


" Aku memang mencari lawan yang kuat. Tetapi Reza itu payah. Lihat saja, dia sudah terkapar dan sebentar lagi dia akan tewas karena kehabisan darah."


" Apa? Jadi si Reza kaki tangan Bos Wijaya itu sudah tak berdaya. Hahaha.. Orang seperti itu dijadikan kaki tangan. Mungkin Bos Wijaya sudah buta, kalau tidak, mungkin dia hanya kasihan saja pada Reza." ucap Lucky sambil tertawa lebar.


" Ah, sudahlah.. Tak perlu mengurus orang itu. Lebih baik kau habisi mereka yang tersisa sekarang juga. Setelah itu kita bumi hanguskan tempat ini."


" Leo, kau itu tak sabaran orangnya. Sudahlah, jangan mengganggu. Kami masih ingin bersenang-senang dengan mereka." ucap Dante. Ia menolak menuruti kata-kata Leo.


" Baiklah..terserah kalian. Aku mau jalan-jalan ke atas Bukit sana." ucap Leo lalu berjalan meninggalkan arena pertarungan.


" Pergilah, Leo.. Nikmati tempat itu sesukamu dan sepuasmu. Sebelum tempat ini hangus oleh api. Hahaha.." ucap Dante lalu bersiap kembali melajutkan pertarungan.

__ADS_1


......................


......................


__ADS_2