
" Vin, apa kamu tak menyukai tempat ini? " Tanya Wijaya pada Putrinya, di depan Wira.
Vina kaget. Dia tak tahu harus berkata apa. Sementara di depannya ada pemilik restoran. Teman Papanya sendiri.
" E, Kami mohon maaf Jay, jika pelayanan kami kurang memuaskan. Dan mungkin tempat ini bagi kalian kurang menarik. Kalian boleh memberikan saran, agar kami bisa membenahi kekurangan kami." Ucap Wira.
" Papa, Vina memang lagi tidak nafsu makan. Tetapi Vina haus. Vina pengen minum. Tetapi harga minuman di sini mahal." Ucap Vina, namun was-was kalau Wira tersinggung.
" E, memang untuk menu restoran berkelas di tempat kami harganya segitu. Dan itu sudah standar restoran Nak. Kami tidak memberikan harga lebih ataupun kurang daripada restoran yang lain." Ucap Wira menjelaskan pada Vina.
" Vin, kamu itu tidak pernah masuk restoran jadi jangan heran. Harga minumannya memang segitu kalau di restoran. Tidak seperti di warung kecil. Harganya mungkin masih tiga ribu.." Ucap Wijaya pada Vina.
" Memang Vina tak pernah masuk restoran, Papa. Vina kan orangnya sederhana."
" Iya Papa tahu. Terus bagaimana sekarang? Masih mau pesan atau tidak?" Wijaya bertanya pada Vina.
" Kalau menurut Vina, mungkin lain kali saja Pa, Di sini terlalu ramai." Bisik Vina ditelinga Papanya.
" Terserah kamu. Kalau masih mau disini, Papa akan temani kamu."
" Ya sudah ke tempat lain saja, Papa. Kalau bisa yang seperti ini. Tapi enggak terlalu ramai orang." Ucap Vina.
" Eh, Jay. Kalian mau kemana? Tanya Wira saat Wijaya beranjak dari kursinya.
" Maaf Wir, lain kali aku datang lagi. Putriku kurang nyaman dengan keramaian. Jadi aku harus mencari tempat lain dahulu." Jawab Wijaya sembari mnggandeng tangan Vina untuk menuju keluar.
" Wah, sayang sekali. Padahal kalian belum sekalipun mencicipi masakan dari restoranku." Ucap Wira kecewa.
" Wir, lain waktu aku akan kemari membawa banyak teman, Jadi pastikan tempat ini benar- benar memadai. Perbesarlah restoranmu ini agar tidak banyak yang kecewa, karena tak dapat tempat duduk.
" Baiklah Jay, aku akan mempertimbangkan saran kamu. Sering-seringlah datang kemari." Ucap Wira berharap.
" Jangan khawatir Wir, aku yakin usahamu akan mengalami peningkatan yang sangat pesat. Asal kamu mampu mengatur keuanganmu, restomu ini akan berkembang dengan sendirinya." Ucap Wijaya sembari berjalan ke tempat parkir dibarengi Vina.
" Baik Jay, terima kasih atas motivasinya. Dan juga kepercayaanya kepada kami.
" Sama-sama Wir." Ucap Wijaya sambil berjalan mengambil motornya lalu melambaikan tangannya.
__ADS_1
Setelah Wijaya dan Vina meninggalkan restoran Wira, Manajer resto menghampiri Wira.
"Maaf Pak, kenapa Orang itu tidak jadi memesan makanan atau minuman sedikitpun di tempat kita?" Tanya manajer dengan penuh hati-hati.
" Novi, lain kali kalau bicara dengan orang yang tak kamu kenal, apalagi pengunjung di resto kita, berhati-hatilah. Hampir saja kamu mencelakakan kita dan restoran kita." Ucap Wira memperingatkan Novi.
" Maaf Pak, sebenarnya ada apa?" Tanya Novi kebingungan.
" Wijaya itu orang yang terkenal kejam. Jika berhadapan dengan orang, entah itu perempuan ataupun laki-laki, dia akan memukulnya tanpa ampun. Aku pun pernah dihajarnya hingga babak belur. Dan sempat opname satu minggu di rumah sakit."
" Apakah dia sekejam itu dan sehebat itu Pak? Dari sorot matanya dia terlihat baik, dan jika saya lihat fisiknya, dia hanya orang biasa. Hanya saja dia berbadan kekar." Ucap Novi, meremehkan Wijaya.
" Kamu jangan pernah meyinggung dia lagi, dan jangan pernah meremehkannya. Dia mungkin menyembunyikan kekuatan dahsyatnya. Memang sekilas, dia terlihat lemah dan seperti tidak mempunyai apa-apa, karena bersama Putrinya." Ucap Wira sampai berkeringat karena membayangkan Wijaya yang mengerikan.
" Maaf Pak, saya jadi penasaran ingin mencoba kemampuanya. Sudah lama saya tidak mencoba ilmu saya. Saya mau tahu seberapa hebat orang itu. Seandainya saja Anaknya tak melarang dia memukulku, bisa saja itu menjadi kesempatanku mencoba kemampuannya. Sayang sekali, Kami gagal bertarung karena Putrinya." Ucap Novi dengan lantang.
" Novi! Saya sudah mengingatkanmu. Jika kamu masih saja berniat bertarung dengannya, jangan disini. Dan jangan pernah bawa-bawa nama restoran ini dan jangan mencariku." Ucap Wira kesal.
" Sepertinya Anda takut padanya, hingga mengucurkan keringat sederas itu. Jangan khawatir, saya tidak akan melibatkan Anda. Saya yakin hanya dengan tangan ini, sanggup menghadapinya." Ucap Novi penuh percaya diri.
Melihat Wira marah, Novi mencoba menghiburnya.
" Sabar, Tuan Wira yang terhormat. Anda tak perlu takut kepadanya. Saya mempunyai banyak teman yang lebih hebat dari dia. Jika saya mengalami kesulitan, pastinya mereka akan membantu."
" Kamu memang membuat kesabaranku habis. Apa kamu sudah bosan ikut denganku? Silahkan angkat kakimu dari sini! Tapi tunggu dulu, akan aku persiapkan pesangonmu." Wira seperti kehabisan akal, bicara dengan Novi. Dan diapun mengancam akan memecatnya. Lalu Wira berjalan menuju ruang bagian keuangan.
Mendengar Wira akan memecatnya, Novi terdiam. Dia menunduk dan mempertimbangkan ucapannya. Dengan cepat dia mampu berpikir cerdas dan kemudian berlari mengikuti Wira. Sebelum sampai di ruang bagian keuangan, Novi berkata,
" Eh, maaf Pak Wira. Saya masih butuh pekerjaan. Tolong jangan pecat saya. Maafkan saya karena telah berambisi bertarung dengan Wijaya."
" Tidak Nov. Kamu tetap saya pecat." Wira tetap bertahan dengan keputusannya.
" Pak wira, saya mohon. Berikan kesempatan saya untuk tetap bekerja disini. " Pinta Novi lalu bersujud di hadapan Wira.
" Novi, berdiri.. cepat! Jangan pernah bersujud dihadapanku. Aku tak pantas untuk dirayu seperti itu."
Novi tetap tak mau berdiri, dia memeluk kedua kaki Wira dan terus memohon kepadanya.
__ADS_1
" Saya mohon Pak Wira. Saya khilaf. Maafkan kesalahan saya. Saya tak akan berhenti seperti ini sebelum Bapak membatalkan pemecatan saya."
Melihat Novi terus memohon kepadanya, Wira berubah pikiran. Dia segera menarik bahu Novi dan membuatnya berdiri.
Novi yang tadi bersujud dan tertunduk, setelah Wira mengangkatnya, Wira melihat tetes air mata Novi. Hatinya bergetar. Ternyata sifat keras Novi pun mempunyai kelemahan.
" Novi, kamu menangis? Sudah, hapus air matamu. Jangan cengeng. Aku hanya bercanda." Ucap Wijaya menghibur.
" Pak Wira, bagaimanapun saya hanyalah perempuan. Jika saya merasakan sakit, saya pasti menangis." Ucap Novi dibarengi dengan tangisannya, yang perlahan mulai terlihat.
" Tadi kamu bilang akan bertarung dengan Wijaya, tetapi hanya dengan begini saja kamu menangis. Jika benar kamu mau bertarung dengannya, kamu mau jadi apa?
Meskipun kamu menang atau kalah, namun anak buah dan teman-temannya sangat banyak. Kemanapun kamu pergi, mereka akan mencarimu. Jika tak menemukamu, keluargamulah yang akan jadi taruhannya.
Jika sampai berurusan dengannya, aku tak menjamin nyawamu, dan nyawa keluargamu akan selamat. Makanya aku peringatkan kamu berulang kali."
" Jadi sehebat itukah dia, sekejam itukah dia? Maafkan saya Pak, saya tidak memperhitungkannya. Namun saya sudah bilang, bukan ingin mencari masalah dengannya, namun hanya ingin mencoba kemampuannya."
" Urungkan saja niatmu itu Nov. Meskipun hanya mencoba. Dia tak segan sampai membunuh, meskipun lawannya hanya menjajal kemampuannya. Dia mempunyai kebiasaan buruk, yang tak bisa dia kendalikan." Wira terus menceritakan tentang Wijaya, dan berharap Novi berhenti memikirkan Wijaya.
" Kebiasaan buruk? Apa kebiasaan buruknya?" Tanya Novi sambil mengernyitkan keningnya.
" Sudahlah, tak ada gunanya aku bercerita. Jika kamu memang ingin berhadapan dengannya, kamu akan tahu setelah melawannya."
" Tolong jawab dulu pertanyaan saya Pak." Novi memaksa Wijaya menjawabnya.
" Haahh.." Wira menghela nafasnya lalu menjawab pertanyaan Novi.
" Kebiasaan buruknya adalah, dia tak pernah memberi ampun bagi siapapun yang melawannya."
" Baiklah Pak Wira, saya tak kan melawannya. Saya cukup bergetar mendengar cerita Anda. Terimakasih sudah mengingatkan saya." Ucap Novi lega.
" Syukurlah Novi, saya merasa lega sekarang. Jadilah manajerku di Resto yang ku kelola ini. Dan jangan sampai kamu kembali ke kehidupanmu yang dulu. Hargai kepedulianku."
" Baik Pak, saya berjanji. Saya tak akan membuat repot Bapak."
......................
__ADS_1