SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
Menjelang Pesta Kembang Api


__ADS_3

Kehancuran Desa Lereng Bukit Barat semakin nyata. Para pembela yang ingin menyelamatkan Desa, kini semua telah tiada. Reza sebagai pejuang terakhir pun mati. Namun ia tak rugi karena bisa menyerang Lucky hingga telak.


" Kurang ajar Reza.. Kau berhasil menyerangku.. Akhhh... pergilah kau ke neraka dasar jahanam!!!" umpat Lucky sembari menahan rasa sakit dan panas kulitnya yang melepuh akibat serangan Reza.


Sementara itu Leo dan Dante yang tengah asyik tiduran di bawah pohon di Puncak Bukit, terkejut mendengar suara ledakan dari bawah.


" Dante.. Apa kau mendengar suara itu?"


" Leo.. Tentu saja aku mendengarnya. Kupingku masih normal."


" Coba kau lihat ke bawah. Apa Lucky telah menghancurkan desa tanpa menunggu kita."


" Ahh..kau saja. Aku malas. Biarkan saja jika dia memulai lebih dulu. Yang penting aku tadi sudah bilang padanya untuk menunggu kita. Jika memang dia sudah memulai, biar aku hajar nanti jika aku turun."


" Tapi aku khawatir terjadi apa-apa dengan Lucky. Perasaanku tidak enak."


" Biarkan saja..aku yakin dia baik-baik saja. Tak perlu khawatir."


" Dante.. aku tahu Lucky itu suka sembrono. Aku khawatir dia lengah dan mereka bisa melukai Lucky."


" Rio dan Pemuda desa itu bukan tandingan Lucky. Sudahlah..jangan mengganggu ketenanganku." ucap Dante lalu memejamkan matanya kembali.


" Teman macam apa kau itu.. Meninggalkan temannya seorang diri saat bertarung." ucap Leo lalu bergegas turun untuk nelihat keadaan di arena pertempuran.


" Aku sudah terbiasa di tinggalkan oleh dia. Jadi aku tak salah kalau aku meninggalkannya. Lagi pula, Lucky bisa menjaga dirinya sendiri."


Leo hanya menggelengkan kepalanya mendengar kata-kata Dante. Ia prihatin dengan sikap temannya itu. Namun ia tak bisa menyalahkan Dante. Semua sifatnya itu karena mereka hidup dalam kejahatan. Semua ingin menang dan mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri.


Beberapa menit kemudian Leo telah tiba di bawah. Ia melihat semua orang sudah tak bernyawa termasuk Reza. Namun ia tak menemukan Leo.


" Kemana Leo... Kenapa dia tak ada disini. Apa dia menyusul naik ke atas." gumam Leo.


" Tapi jika dia naik ke atas, seharusnya bertemu denganku. Kemana sebenarnya dia pergi?"


Leo menyusuri jalan Desa. Ia memasuki rumah-rumah warga sambil mencari Lucky. Ketika dia sampai di rumah barisan ketiga, ia mendengar suara orang merintih. Leo pun mendobrak pintu rumah itu lalu mencari dimana sumber suara itu.


Ia menggeledah seisi ruangan rumah namun tak menemukan siapapun. Namun dia tak menemukan apapun di dalam rumah itu. Ia lalu memutuskan untuk keluar rumah. Bulu kuduknya merinding ketika suara rintihan itu terdengar lagi.


Leo mencoba memusatkan pikirannya. Ia mencoba mendengarkan suara itu dengan lebih teliti.


" Suara itu sepertinya berada di belakang rumah ini. Aku akan mencoba melihatnya." gumam Leo lalu perlahan membuka pintu di depannya.


" Krekk krekkk..." Leo mulai memegang handle pintu lalu membukanya.

__ADS_1


" Kurang ajar! Ternyata dikunci. Dasar warga bodoh.. Sudah tak ada barang berharga satupun disini, masih saja dikunci. Ah..biar ku dobrak saja."


" Brakkkk..." pintu itu roboh hanya dengan sekali dorongan.


Leo tiba-tiba terkejut melihat seorang yang bertubuh gosong sedang mandi di kolam belakang rumah.


" Hei... Siapa kamu?" tanya Leo sembari memegang handle pintu dan beraiap-siap pergi dari tempat itu.


" Leo.. Apa kau tak ingat denganku? Aku Lucky.." jawab Lucky lirih.


" Lucky? Tidak mungkin! Apa kau penunggu tempat ini?" tanya Leo sekali lagi.


" Leo! Jangan banyak tanya.. Cepat tolong aku.. Tubuhku kesakitan, bisa-bisanya kau meragukanku!" teriak Lucky dengan nada marah.


" Ah.. Kalau aku kenal suara itu. Lucky.. Apa yang terjadi denganmu?" tanya Leo namun masih ragu untuk menolong Lucky.


" Berhenti bertanya dan cepat tolong aku! Nanti aku ceritakan kejadian sebenarnya!"


Leo plonga-plongo mendengar teriakan Lucky. Setelah memastikan kalau dalam kolam itu adalah Lucky, ia segera membantunya dan mengangkatnya dari atas kolam.


" Lucky.. Apa yang terjadi.. Kenapa tubuhmu menghitam begini?"


" Aku butuh obat.. Bawa aku pulang. Aku ingin Bos menyembuhkan lukaku."


" Aku diserang oleh Reza. Tenyta pengkhianat itu masih hidup dan mampu menyerangku saat aku lengah. Padahal aku pikir, di sudah sampai di neraka. Tapi buktinya, dia bisa membuatku seperti ini."


" Kurang ajar..dia memang masih jago dalam mengelabuhi musuh. Tapi tenang saja, dia sudah tewas. Aku tadi melihatnya dia sudah tak bernyawa."


" Hahaha.. Aku yakin dia sudah bertemu teman-temannya di neraka. Dasar Pengkhianat!"


" Sudahlah.. Jangan banyak gerak. Kau mau sembuh atau tidak?"


" Apa yang kau katakan, Leo? Tentu saja aku ingin sembuh! Ayo cepat bawa aku pulang!"


" Lah kamu sendiri yang banyak bicara. Aku kira sudah tidak merasakan sakit. Kau juga sudah bisa tertawa."


" Kau belum pernah kan mengalami nasib sial seperti ini? Apa kau ingin mencobanya? Jika kau ingin, aku akan pinta Bos untuk menyerangmu."


" Kenapa harus aku, sudahlah jangan banyak bicara. Aku punya penawarnya. Tak perlu minta pada Si Bos."


" Apa.. Jadi kau punya penawarnya. Darimana kau dapatkan itu?"


" Bos yang memberikannya untukku. Untuk berjaga-jaga kalau Reza menggunakan ilmunya untuk menyerang kita."

__ADS_1


" Ah..syukurlah.. Beruntung Bos memperhatikan kita. Aku tak menduga bisa mengalami kejadian sial seperti ini."


" Sudahlah.. Cepat minum ramuan ini. Dan aku akan mencoba mengalirkan tenaga dalam ke tubuhmu."


Leo mengerahkan tenaga dalamnya dan menyalurkannya ke seluruh tubuh. Tak berapa lama kemudian luka-luka di tubuh Lucky mulai menghilang dan pulih seperti semula.


" Hahaha.. Aku sembuh, Leo. Tubuhku pulih kembali. Ayo kita berpesta, Leo!" ucap Lucky dengan girangnya.


" Pesta apa, disini tak ada makanan maupun minuman. Memangnya kau mau masak?"


" Bukan itu.. Kita Pesta kembang api. Bakar rumah-rumah yang berdiri di atas tanah ini. Hahaha.."


" Tunggu sampai menjelang malam. Biar terlihat lebih indah, Lucky. Sabarlah sebentar. Lebih baik kau ikut aku naik ke atas. Kau harus memulihkan tenagamu dulu."


" Ah.. Baiklah.. Aku akan menunggu. Lalu dimana si Dante itu. Kenapa dia tak ikut bersamamu?"


" Dia masih diatas dan sedang menikmati khayalannya. Sudah biarkan saja dia. Ayo kita naik sebelum hari menjelang petang. Disana kita akan menikmati matahari terbenam sambil makan."


" Makan? Memangnya kau bawa makanan? Kita kan, hanya membawa bir saja."


" Tidak.. Ada makanan disana. Aku mencabut pohon singkong di sana. Tinggal memasak saja. Lumayan bisa untuk mengisi perut kita."


" Syukurlah.. Aku pikir kita akan meninggalkan tempat ini dengan perut kosong."


" Jangan khawatir.. Aku tak pernah membiarkan temanku kelaparan. Aku yang bertanggung jawab atas kalian berdua."


" Aku suka katamu, Leo. Bos memang tak salah memilihmu menjadi ketua. Aku pikir, Dante lah yang akan dijadikan Pemimpin dalam misi kita. Kalau dia yang jadi Pemimpin, pasti aku sudah sangat repot."


" Sudahlah.. Kita ini satu tim. Aku tidak menganggap kalian sebagai anak buah. Kalian tetap temanku. Ayo.. Kita naik ke atas. Kita akan berpesta malam ini. Setelah pukul sepuluh malam, kita akan mulai bakar tempat ini."


Leo dan Lucky meninggalkan desa untuk pergi ke atas Bukit. Sementara Dante telah menyiapkan kayu bakar dan tengah membakar singkong yang sudah Leo siapkan.


" Leo...bau apa ini? Sepertinya bau singkong bakar? Tanya Lucky sembari menghirup-hirup aroma dari singkong bakar yang tengah dibakar Dante.


Leo tersenyum namun ia tak bisa menyembunyikan perasaan ingin tertawanya. Ia pun menutup mulutnya sambil berbatuk agar Lucky tak curiga bahwa dia sedang tertawa.


" Ditanya malah batuk-batuk. Kamu keselek batu, Leo?" tanya Lucky.


" Tidak.. Aku hanya kemasukan binatang kecil ke dalam mulutku. Entah nyamuk atau sejenis serangga lainnya. Tapi sudah tak apa-apa sekarang."


" Oh.. Ku kira kamu menyindirku. Menuduhku ketakutan karena bau singkong bakar."


" Hahaha.. Tidak, Lucky. Sudahlah..ayo teruskan perjalanan kita."

__ADS_1


Leo pun berjalan lebih cepat meninggalkan Lucky. Ia tak sabar ingin melihat Dante yang badannya sangit karena dekat dengan bara api. Sementara Lucky mengikuti dibelakangnya sembari menciumi aroma singkong bakar disepanjang perjalanan.


__ADS_2