
Dua hari berlalu, semenjak Wijaya menyuruh Reza datang ke Lereng Bukit Barat. Namun belum ada kabar dari Reza. Wijaya terlihat gelisah. Beberapa kali Wijaya menelpon Reza, namun Reza tak pernah mengangkat telponnya.
" Kemana, si Reza itu. Kenapa sudah dua hari belum mengabariku. Di telpon juga tidak bisa. Padahal Hpnya aktif. Apa dia bertemu Bono, dan Bono telah menghabisinya? Ah, tidak..itu tidak boleh terjadi. Reza adalah anak buah kepercayaanku yang paling setia. Aku tidak ingin dia kenapa-kenapa. Apa lebih baik aku menyusulnya saja." ucap Wijaya dalam hati sembari memegangi dagunya yang berjenggot tebal.
" Ah..kenapa harus aku. Aku punya banyak anak buah, tetapi kenapa aku harus menyusulnya? Apa aku terlalu khawatir kepadanya? Perasaan apa, ini?" gumam Wijaya. Hatinya gundah karena melepaskan Reza pergi.
" Ayolah, Za. Angkat telponku.. dasar anak tidak tahu diri. Aku mengkhawatirkanmu tapi kau seenaknya saja mengabaikan telponku. Apa yang sebenarnya terjadi denganmu?! Apa kau ingin membangkang dan melarikan diri dariku?!" teriak Wijaya dengan keras. Ia menggebrak meja di depannya hingga patah menjadi dua.
Berkali-kali Wijaya menelpon Reza, namun masih belum ada tanggapan dari Reza. Ia pun mulai putus asa lalu bersiap untuk menyusul Reza.
Setelah berganti pakaian, telpon Wijaya berbunyi. Segera, Wijaya mengambil telpon di meja lalu mengangkatnya.
" Halo.. Reza! darimana saja, kamu? Kenapa aku hubungi susah sekali! Ada apa denganmu?"
" Maaf, Bos..aku kecapaian. Aku sedang beristirahat." ucap Reza dengan nada lemas.
" Kecapaian katamu? Kau ini umur berapa, ha?! Bisa-bisanya baru jalan segitu saja sudah kecapaian!"
" Bos, apa Bos masih tidak mengerti? Cedera ditubuh saya ini cukup parah. Saya akan penuhi semua perintah Bos, tapi cobalah mengerti keadaan saya."
" Aku tahu. Tapi kau sudah ku beayai mahal-mahal untuk perawatanmu. Aku lihat kau juga sudah pulih kembali. Alasan apalagi yang akan kau katakan kepadaku?"
" Maaf Bos, saya masih berat dengan perintah Bos. Bos tahu, di desa itu saya dibesarkan. Dan Bos ingin saya menghancurkan desa saya karena ambisi Bos. Saya bukan membangkang atau berani melawan perintah Bos. Tetapi beri saya waktu. Maksimal satu minggu, agar saya bisa melupakan kenangan-kenangan saya disana. Meskipun mereka membenci saya, tetapi saya tidak bisa menyalahkan mereka. Saya yang telah berbuat salah kepada mereka."
" Reza! Apa yang membuatmu menjadi seperti ini! Kita adalah Penguasa dunia. Kita bisa melakukan apa saja dengan kekuatan kita. Apa kau tidak suka dengan kehidupan kita? Apa aku masih kurang memperhatikanmu?"
" Bos..saya menghargai usaha Bos. Selama ini Bos terlalu baik sama saya. Entah, apa yang bisa saya perbuat untuk membalas semua jasa Bos. Mungkin saya tidak akan sanggup membalas semua kebaikan Bos. Tetapi apa yang Bos beri, tidak membuat hati saya damai. Saya mempunyai segalanya karena Bos. Tetapi saya tidak bahagia. Kebahagiaan saya kini telah menjadi milik orang lain. Dan dia sekarang telah memiliki anak.
Hati saya sakit, sampai saat ini saya tidak bisa melupakannya. Saya juga tidak bisa menghapus perasaan saya kepadanya. Maafkan saya, Bos. Saya ini hanyalah seorang Pecundang. Bos telah salah memilih orang kepercayaan seperti saya." ucap Reza sembari meneteskan air matanya.
__ADS_1
" Reza! Ternyata selama ini kau dibutakan dengan cinta. Aku tak menyangka kau bisa menjadi seperti ini. Reza, selama ini aku telah percaya sepenuhnya kepadamu. Kau adalah orang yang paling kupercaya setelah Bono meninggalkanku. Tapi.."
" Bos..maafkan saya. Saya siap menerima hukuman apapun dari Bos. Saya akan patuhi semua perintah Bos, asalkan bukan untuk menyerang dan menghancurkan desa saya. Saya mohon." ucap Reza sembari menangis ditelpon.
" Selama ini kau hidup bergelimangan harta. Kau menikmati banyak wanita-wanita muda sesukamu. Itu karena siapa, itu karenaku! Aku memanjakanmu di Markas ini. Kau bebas hidup sesukamu. Aku memang sengaja tak pernah memberikanmu tugas. Agar kau berterima kasih kepadaku dan selalu mematuhi semua perintahku.
Tapi, apa yang kudapat. Aku salah menilaimu. Kau mabuk-mabukan dan Kau mengotori markasku dengan botol-botol minuman keras yang sudah menumpuk disudut ruangan. Apa kau tahu, siapa yang membuang sampah-sampah di Markas kita?! Itu aku, Reza! Saat ini aku sangat kecewa kepadamu. Mengurus dirimu saja kau tak becus!
Mulai sekarang kau bukan bagian dariku lagi! Kau ku bebas tugaskan. Kau bebas pergi kemanapun yang kamu suka. Tapi jika kau bertemu denganku, tamatlah riwayatmu, Reza!"
" Bos..maafkan saya. Saya siap mematuhi perintah Bos. Tapi saya minta, Bos jangan ganggu Desa saya. Saya mohon." Reza merengek di telpon. Ia sangat berharap belas kasihan dari Wijaya. Namun Wijaya tetap pada keputusannya.
" Ini kata-kata terakhirku, Reza. Ku harap kita tidak akan bertemu lagi. Selamat tinggal, Za." Wijaya menutup telponnya karena kesal dengan Reza. Ia pun menggantikan Reza dengan Anak buah pilihannya yang lain untuk pergi Ke Puncak Bukit Barat.
Reza berusaha menelpon Wijaya namun Wijaya menolak panggilannya. Selama tiga puluh panggilan, Wijaya tidak juga merespon telponnya.
" Ah..kenapa nasibku menjadi seperti ini. Aku memang pecundang. Aku pecundang!" teriak Reza sembari menghantamkan tangannya ke pohon besar di sampingnya.
Reza tak mempedulikan itu. Ia jatuh terduduk lalu bersandar pada pohon besar yang sudah tumbang. Ia menangis meratapi kisahnya.
Mimpi yang ia alami pada waktu lalu membuatnya gundah. Dalam mimpinya, Satya datang kepadanya. Ia mengatakan kepada Reza bahwa kini hidupnya telah tenang. Ia berharap Reza bisa mengikuti jejaknya dan meninggalkan kenakalan dan juga kejahatannya.
" Satya..kau yang menyuruhku menjadi seperti ini. Kau harus bertanggung jawab, Satya. Hahhh!!!" teriak Reza sembari memukul tanah di depannya.
" Satya..mungkin kau benar. Sudah saatnya aku menebus semua kesalahanku. Aku akan kembali ke desa. Menjaga desa kelahiran keluarga kita. Aku akan melindungi desa dari serangan Bos Wijaya. Jika aku kalah, setidaknya aku telah berusaha menyelamatkan desaku. Kini aku sudah tak punya apa-apa lagi. Aku hanya memiliki desa yang pernah kulupakan. Kini aku akan kembali untuk memperbaiki namaku."
Ketika sedang merenung, tiba-tiba telpon Reza berbunyi. Ia segera mengambil Handphone di saku celananya. Ia berharap itu telepon dari Wijaya. Tetapi ia salah. Salah satu dari tujuh anak buahnya yang ditugaskan untuk berangkat ke desanya, menelponnya.
" Bos, kami sudah tiba di gapura desa, Bos dimana? Kami siap menunggu perintah."
__ADS_1
" Batalkan penyerangan. Aku tidak mungkin menyerang desaku sendiri. Disana banyak sekali kenangan-kenanganku saat kecil hingga aku besar. Aku tidak mungkin merusaknya begitu saja."
" Bos, bukankah Bos sudah diusir dari desa? Bos juga ingat, kan. Kakek Bos sendiri sudah tidak mau mengakui Bos sebagai cucunya."
" Aku tahu itu. Itu semua karena kesalahanku. Aku yang membuatnya seperti itu. Mereka semua membenciku, terutama Kakekku yang secara terang-terangan mengatakan kepadaku, kalau dia tak mau mengakuiku lagi.
Kini aku sadar.. apa yang selama ini aku lakukan, tak membuatku bahagia. Hanya ada satu yang sebenarnya bisa membuatku bahagia, tetapi dia kini telah menjadi milik orang lain.
Aku telah berusaha melupakannya, dan menikmati semua yang kupunya. Mencari penggantinya itu susah. Tetap saja hanya dia yang aku cinta."
" Bos.. apa yang Bos maksud itu, gadis kembang desa yang pernah Bos ceritakan dulu?"
" Benar..hanya dia tujuan hidupku. Tapi kini sudah sirna. Jika seumpama Tuhan membalikkan tangannya. Membuat Rika menjadi milikku, pasti Rika juga sudah kecewa denganku, yang sudah penuh dengan dosa ini."
" Sepertinya Bos sudah kena racun cinta. Tapi apa Bos sudah bilang pada Bos Wijaya tentang pembatalan ini? Lalu bagaimana tanggapannya?"
" Bos memecatku, dia membebaskanku. Aku boleh pergi kemanapun aku suka. Tetapi jika bertemu dengannya, dia akan membunuhku."
" Apa?! Jadi Bos sudah dikeluarkan, lalu bagaimana dengan nasib kami? Bos tidak bisa seenaknya seperti itu. Setidaknya perhatikan kami juga."
" Keputusanku sudah bulat. Jika kalian masih ingin bergabung dengannya, kalian tinggal bilang padanya. Katakan jika kalian tidak sepertiku. Katakan bahwa kalian masih setia kepadanya."
Ketika sedang berbicara, salah satu anak buah Reza yang lain bertanya pada Reza.
" Bos, apa Bos sudah yakin dengan keputusan Bos itu? Kami masih ingin hidup. Kami tak ingin mati ditangan Bos Besar kita sendiri. Maaf, aku tidak sependapat denganmu, Bos. Aku akan kembali untuk membicarakan ini pada Bos besar."
" Rio! Lancang sekali kau padaku! jika kau ingin memihak Bos Wijaya, silahkan saja. Tapi asal kau ingat, jika kau menyerang desa, berarti kau akan berhadapan denganku!"
Reza menjadi naik pitam mendengar ucapan Rio, yang tak lain adalah temannya dulu yang ia ajak bergabung dengan Wijaya. Setelah mendapatkan keuntungan darinya, Rio membangkang pada Reza. Itu membuat darah Reza mendidih. Sembari menelpon, Ia pun segera melanjutkan perjalanan menyusul ke Desa Lereng Bukit.
__ADS_1
......................