SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
DERITA DAN KESENDIRIAN BAB 1


__ADS_3

Kesunyian menyelimuti rumah Tanu yang kini tinggal puing-puingnya. Tak ada aktifitas apapun di sekitarnya. Berbeda dengan beberapa hari yang lalu ketika Tanu dan keluarganya masih hidup. Setiap pagi pasti ada saja aktivitas dari orang-orang penghuni rumah.


Tak ada suara musik, tak ada suara anak kecil menangis, tak ada lagi suara orang mengiris bawang, tak ada lagi orang keluar masuk di teras rumah Tanu.


Sekarang yang tersisa hanyalah kesunyian dan merananya kondisi rumah yang dibangun dengan hasil jerih payah mereka.


Tak ada siapapun yang datang ke rumah itu. Desas desus kasus pembunuhan sekeluarga ditempat itu membuat mereka yang ingin melihat lokasi pembunuhan satu keluarga itu menjadi takut.


Ada beberapa orang yang ingin menggunakan rumah Tanu untuk syuting film dan ada juga yang ingin mengexplore tempat itu. Tetapi setelah mereka menyuruh orang untuk mengecek lokasi, tak ada satupun orang yang mau kembali lagi ke tempat itu. Menurut mereka, tempat itu sangat angker. Siang hari pun terdengar suara bayi menangis. Dan juga ada suara-suara orang melakukan aktifitas di tempat itu.


Mereka yang penakut, memilih untuk menjauh dari tempat itu. Namun mereka yang berani datang, terkadang ada orang yang dibuatnya bertekuk lutut karena ulah penunggu hutan di sekitar rumah Tanu.


Sementara itu di belakang rumah Tanu terdengar suara orang memecahkan gelas.


" Aawww..." terdengar suara rintihan anak kecil yang ternyata adalah Tama.


Di belakang rumah Tanu ada sebuah bukit besar yang menjulang ke atas. Dan bukit itu dinamakan Bukit Timur. Di kaki bukit tepat di belakang rumah Tanu terdapat sebuah rumah rahasia milik Tanu. Rumah itu terselubung oleh bukit yang tinggi. Diam-diam Tanu membuat sebuah rumah rahasia tempat menyimpan semua koleksinya. Ia juga menyimpan semua uang yang dia miliki di brangkas rumah itu.


Dan saat segerombol orang mulai berdatangan, Tama sebelumnya belum tidur. Ia keluar dari pintu belakang dan bersembunyi di rumah rahasia milik Ayahnya. Dan saat kebakaran terjadi, ia hanya bisa melihat dan menangisi semua kenangan keluarganya, yang hancur terbakar begitu saja.


" Ibu.. maafkan aku. Aku tak sengaja memecahkan gelas kesayangan Ibu." ucap Tama ketika ia tak sengaja membuat gelas Ibunya yang ia pakai, terjatuh dan pecah.


Perlahan ia meneteskan air mata sembari memunguti gelas yang pecah. Ia teringat dengan semua keluarganya. Lalu ia menoleh ke kanan lalu ke kiri. Dan kemudian ia membalikan badannya ke belakang. Berharap ada salah satu keluarganya yang datang untuk menemaninya. Namun berkali-kali ia menoleh, tak ada satupun yang muncul di hadapannya.

__ADS_1


" Ayah, Ibu.. Kakak.. kalian dimana? Kenapa kalian tak kembali. Aku lapar, perutku sakit." rintih Tama.


" Tuhan, Kamu ada dimana? temani aku. Aku tak punya siapa-siapa lagi sekarang. Datanglah kemari, cepat.. kata Ibuku kau adalah penyayang. Apa kau tak kasihan melihatku sendirian. Cepat temani aku bermain." ucap Tama lagi sembari menoleh ke atas langit-langit lalu menengadahkan tangannya.


" Kak Bulan, aku lapar.. Aku ingin makan bubur. Kak Bulan!!! cepat datang!!!" Tama pun berteriak memanggil Kakaknya yang sudah tiada.


Air matanya terus mengalir, dan kedua tangannya pun tak berhenti mengusap air matanya secara bergantian. Ia kemudian berdiri lalu melihat ke arah jendela luar yang kecil. Tampak dengan jelas, puing-puing rumah Tanu yang menghitam.


" Kenapa, mereka jahat kepada Ibu dan Ayahku? Kenapa mereka membakar rumahku? Apa salah kami?" ucap Tama lagi.


Selang beberapa jam, hujan mulai reda. Sinar matahari mulai masuk menerangi seluruh Bukit. Tama menghapus air matanya lalu ia perlahan-lahan membuka pintu rahasia bagian depan.


Dia melihat-lihat rumahnya yang kini telah berubah. Semua basah. Tak ada satupun barang yang tersisa. Bahkan semua mainannya pun lenyap terbakar. Ia lalu teringat dengan teman-teman setianya. Dengan berjalan setengah berlari, ia menuju ke halaman depan. Matanya tertuju pada sebuah kolam ikan di sudut rumahnya.


Hingga menjelang siang, Tama masih duduk melihat ikan-ikannya. Tanpa sadar, ia telah menabur banyak makanan ikan ke dalam kolam hingga air dalam kolam tertutup oleh makanan ikan.


" Ikan-ikanku, habiskan makananmu. Mungkin aku tak kembali lagi kesini. Aku akan mencari teman baru yang bisa mengajakku berbicara."


Setelah bicara dengan ikan-ikannya, Tama lalu berdiri. Ia berharap, makanannya cukup untuk membuat ikan-ikannya kenyang sampai beberapa lama.


Ia pun mencoba melangkahkan kakinya meninggalkan kolam ikannya. Ada tiga jalan di depan halaman rumahnya. Kali ini ia berjalan mengambil jalan yang belum pernah ia lewati. Karena dua jalan lain yang berada di depan rumahnya adalah menuju ke atas bukit dan yang satunya lagi menuju ke jalan raya.


" Aku sudah tahu kedua jalan itu menuju kemana. Yang satu menuju ke atas Bukit. Dan yang satunya lagi, menuju ke arah penjahat semalam datang. Aku tak mau bertemu dengan mereka. Aku mau lewat jalan ini saja. Mudah-mudahan aku bisa mendapatkan teman." gumam Tama dalam hati.

__ADS_1


Ia pun melangkahkan kaki mungilnya menuju jalan pintas menuju ke arah kota. Dengan penuh harapan, ia melangakahkan kakinya dengan cepat agar segera bertemu dengan teman-teman baru.


Hingga kurang lebih tiga ratus meter berjalan, Tama merasakan kelelahan. Nafasnya terengah-engah. Perutnya keroncongan.


" Ibu, Ayah.. Kemana aku akan berjalan. Aku tidak menemukan siapa-siapa ditempat ini. Dimana orang-orang berada?" keluh Tama sembari duduk di sebuah batu yang cukup besar, lalu memijit-mijit kakinya dengan lembut.


Ia lalu menengadahkan wajahnya ke langit. Wajahnya muram, ia seakan ketakutan ketika langit berubah menjadi hitam.


" Apa air-air itu akan turun lagi dari atas sana? Aku tidak mau, aku takut suara itu." keluh Tama lagi.


Tanpa berpikir panjang, ia lalu berdiri dan meneruskan perjalanannya yang tertunda. Tubuhnya seakan lemas seketika, ketika ia baru berjalan beberapa meter saja. Kaki mungilnya tak mampu menahan beban tubuhnya walapun tak seberapa. Kelaparan yang melandanya, membuat dirinya tak kuasa untuk berjalan lagi.


Dan hujan pun mulai turun. Butiran-butiran kecil air hujan yang berhamburan ke bawah, kini mulai membesar. Tama pun mencari tempat untuk berlindung.


" Aku lapar.. Tak ada makanan apapun disini. Ayah, Ibu.. Aku tak kuat untuk berjalan lagi. Bantu aku... aku takut dengan suara yang seperti memecah telingaku itu."


Tak lama kemudian, hujan mulai turun dengan lebatnya. Beruntung Tama mendapatkan tempat berlindung di bawah rerimbunan pohon pisang. Dan diatasnya juga terdapat pohon besar yang mempunyai daun yang sangat lebat. Walaupun hujan sangat lebat sekalipun, tubuh Tama masih terlindungi oleh daun pisang di atasnya.


" Terima kasih daun.. Kamu mau melindungiku dari air-air yang dingin itu. Tapi aku lapar.." ucap Tama sembari memegang perutnya yang terlihat kempis.


Mungkin Tuhan masih memberikan perlindungan kepadanya, Tama mendapatkan keberuntungan dari tempatnya berteduh. Ia melihat buah pisang yang sudah matang di samping dia berteduh. Beban berat dari buah pisang itu membuat pohon pisangnya tak mampu untuk menahannya. Dan pohon itu pun tumbang hingga ke bawah tanah.


......................

__ADS_1


__ADS_2