
" Bono, apakah kau pernah merasakan bercinta dengan mantan kekasihmu? Seperti apa rasanya?" Rika merangkul leher Bono, nafas harumnya seakan bertemu dengan nafas Bono. Mereka pun dilanda kenikmatan walaupun hanya dengan sebuah pelukkan.
" Eh.." Bono menjadi takut ketika Rika menanyakan pernah tidaknya bercinta dengan mantan kekasihnya. Dia kemudian melepaskan pelukkan Rika.
" Apa aku boleh jujur Rik? Jika aku katakan, kamu janji tidak akan marah?"
" Kenapa kamu bilang begitu? Tinggal jawab sudah atau belum pernah saja kan, enak. Kenapa harus pakai basa-basi."
" Jujur aku pernah sekali Rik, dan baru beberapa hari ini."
Mendengar kata Bono, Rika seperti tersambar petir. Hatinya hancur mendengar kejujuran Bono. Bagi Rika kejujuran itu sangat penting, namun kata-kata Bono adalah kejujuran yang sangat menyakitkan hatinya.
Rika menundukkan kepalanya. Dari sudut matanya, mengalir tetesan air mata yang perlahan mulai deras. Bono melihat kesedihan Rika lalu berkata kepada Rika.
" Maafkan aku, mungkin kejujuranku membuatmu sedih. Aku tahu kamu kecewa padaku. Sekarang, aku hanya bisa berharap, kalau kamu bisa memaafkanku dan menerimaku apa adanya. Jika tidak, aku akan pergi sekarang juga."
" Bono! Bisa tidak, kamu berhenti untuk mengucapkan kata pergi? Aku butuh kamu."
" Aku merasa diriku ini hina Rik, aku tak pantas untukmu."
" Siapa bilang kamu tak pantas untukku? Asalkan kamu bertobat dan nggak akan mengulangi kejahatanmu lagi, aku pasti mau menerimamu Bono."
" Rika, Pikirkan dulu masak-masak sebelum memutuskan untuk berhubungan denganku. Aku ini seorang penjahat yang kejam. Aku telah banyak membunuh orang, dan terakhir aku bercinta dengan seorang wanita hingga aku membunuhnya."
" Apa?? Kamu bercinta dengan seorang wanita hingga tega membunuhnya?" Rika menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan kelakuan Bono yang bejat dan kejam.
" Iya benar Rik, aku menyesal telah melakukannya. Aku benar-benar sangat berdosa besar. Apa Tuhan masih mau mengampuni manusia sepertiku?"
" Setelah kamu menikmatinya, kamu tega membunuhnya? Kamu sungguh bejat Bono!"
" Aku melakukannya karena terpaksa, Rika. Aku terpengaruh dengan kata temanku. Aku menjadi hilang kendali dan meluapkan hawa nafsuku. Nafsu bercinta dan nafsu balas dendam menjadi satu."
" Kelakuanmu sungguh nggak bisa dimaafkan Bono, aku nggak tahu lagi harus berkata apa. Aku akan berpikir lagi jika ingin hidup bersamamu."
" Aku tidak memaksa, silahkan tentukan pilihanmu. Jika memang didunia ini sudah tak ada wanita yang mau denganku, aku tidak apa-apa. Mungkin itu sudah takdirku. Sebagai karma atas semua dosa-dosa yang telah ku perbuat."
" Bono, karma itu pasti ada. Tapi kamu nggak perlu khawatir. Pasti Tuhan akan menolongmu jika kamu menyadari kesalahanmu, bertobatlah dan meminta ampunan kepadaNya."
" Iya Rika, ku harap ada pertolongan untukku. Ya sudah, sekarang kita mau kemana?"
" Kita akan pulang ke desa. Pasti warga mencariku karena aku pergi tanpa pamit sama kakek."
" Apa? Jadi kamu diam-diam pergi dari rumah?"
" Iya." Ucap Rika sambil menganggukkan kepalanya.
" Aduh, ini akan menambah masalah untukku Rika, sebaiknya kamu pulang sendiri. Aku akan menyusulmu nanti."
" Aku memang sengaja Bono, agar mas Reza cemburu dan mengamuk. Kalau ada kamu, aku yakin dia takkan sanggup mengalahkanmu."
" Bukan itu masalahnya Rika. Aku tak ingin warga desa menuduhku berbuat tidak baik. Apalagi datang dengan membawamu. Padahal ini masih pagi. Pasti mereka mengira, aku membawamu lari dari tadi pagi. Setelah bercinta denganmu lalu aku mengantarkanmu pulang."
" Tidak Bono, mereka akan menyambutmu dengan baik jika kamu berperilaku sopan. Katakan saja yang sejujurnya."
" Lalu aku harus mengatakan apa pada mereka? Rika, aku tidak setuju dengan rencanamu. Aku akan mengantarmu pulang sampai perbatasan desa. Lalu kamu berjalan sendiri pulang ke rumahmu."
" Aku nggak mau, Bono. Aku mau pulang bersamamu. Aku takut pulang ke rumah sendirian. Aku juga takut kakek memarahiku habis-habisan karena pergi dari rumah tanpa pamit. Aku mohon temani aku." Rika merengek memaksa Bono menemaninya pulang.
" Rik, aku tak mau gegabah. Yang ada nanti kakekmu juga tambah membenciku dan untuk mendapatkanmu, akan terasa lebih sulit lagi. Rika, dengarkan aku. Aku akan bantu kamu dengan caraku. Mari ku antar kamu pulang."
" Kalau kamu nggak mau mengantarku pulang sampai rumah, lebih baik aku akan tetap disini bersamamu."
" Jangan Rika, nanti orang-orang akan mencarimu dan akan memburu siapa yang sedang bersamamu. Aku tak mau kalau sampai itu terjadi."
" Bono, kamu kan hebat. Kalau mereka mau mengganggu kita, hajar saja mereka sampai nggak sadarkan diri."
__ADS_1
" Aku bisa saja menghabisi mereka semua hanya dengan hitungan menit saja Rika, tapi hukum di negeri ini tetap berlaku. Dan aku sekarang sudah bukan Bono yang dulu lagi, yang kebal hukum. Aku sudah bukan menjadi bagian dari Bosku dulu. Jika melanggar aturan negara, aku tetap terkena hukuman."
" Jadi kamu dulu kebal hukum? Pantas saja kamu menyerang warga, tapi tak ada tindakan dari pihak berwenang. Enak ya jadi kamu."
" Ada beberapa warga yang melapor pada polisi tentang perbuatanku. Namun polisi hanya menerima laporannya, dan tak memprosesnya. Jadi aku bebas berkeliaran dimanapun sesuka hatiku."
" Jadi begitu, sekarang kamu ku tangkap. Aku takkan membiarkanmu melakukan kejahatan lagi. Aku sayang kamu dan tak ingin kamu kembali ke masa lalumu." Ucap Rika sambil memeluk Bono dengan erat.
Bono tersenyum cerah, dia menyambut pelukkan hangat Rika. Merekapun menikmati pelukkan yang mereka ciptakan.
" Bono..rasanya aku tak ingin pulang. Bawa aku pergi bersamamu." Bisik Rika di telinga Bono.
" Aku juga ingin selalu berdua bersamamu Rika, tapi kalau kita sudah sah menikah. Aku tak mau melakukan perbuatan dosa lagi Rika. Aku mohon jangan memancingku."
" Ihh, kenapa harus tunggu menikah? Kita pacaran dulu saja kan bisa. Jadi kita tetap bisa pergi kemanapun berdua."
" Rika, aku menyayangimu. Aku tak mau kebersamaan kita sebelum menikah akan membuatmu ternoda. Kamu gadis emas bagiku Rika. Aku akan menjaga kehormatanmu."
" Bono, ucapan Kamu sungguh tulus. Aku menyukai itu. Tapi aku tetap saja tidak terima kamu pernah melakukan hubungan suami istri dengan wanita lain. Aku cemburu!" Perlahan Rika berkata lirih dan kemudian setengah keras karena kesal dengan Bono.
" Aku melakukannya karena terpengaruh hawa nafsuku Rika. Apa kamu mau seperti dia, setelah nafsuku kulampiaskan padamu, terus aku meninggalkanmu?"
" Aku nggak mau seperti itu, aku mau kamu melakukannya dengan ketulusan dan itu berlangsung lama. Ihh, Bono.. kenapa aku tiba-tiba kesal padamu. Huuh.."
" Sayang, jangan begitu. Harap maklum dengan keadaanku. Sadarlah aku ini dulu seorang penjahat. Kamu harus bisa menerimanya. Jika kamu tidak bisa, lebih baik jangan mencariku lagi. Aku tak ingin kamu dikemudian hari mengungkit-ungkit masa laluku hingga membuat hubungan kita berantakan."
" Aku tetap menerima kamu apa adanya. Tapi, tetap saja kalau aku belum bisa merasakan apa yang seperti kamu rasakan pada wanita itu, aku tetap masih kesal padamu."
" Rika, nanti kamu juga akan merasakannya. Bersabarlah, tunggu kelanjutan kisah kita selanjutnya. Sekarang aku akan mengantarkanmu pulang. Sampai di perbatasan desa, kamu berjalanlah. Lewat jalan belakang saja yang jarang orang lalui. Aku akan menunggumu di perbatasan. Sampai rumah, katakan padaku apa yang kamu alami setelah kamu pergi meninggalkan rumah. Apa kamu mendapat perlakuan tidak baik dari kakekmu. Ini nomer telponku. Jika ada apa-apa, hubungi aku secepatnya."
" Hemhh, iya aku akan simpan nomer kamu. Kalau begitu sekarang saja. Aku akan pulang sebelum orang-orang ribut mencariku kemana-mana."
" Ayo kalau begitu cepatlah. Masuk ke mobil."
" Kenapa kamu melihatku terus? Nyetir yang benar. Kalau nabrak pohon atau masuk jurang bagaimana?" Ucap Rika karena dia tahu sejak dari tadi melihatnya terus.
" Enggak apa-apa. Memangnya tidak boleh aku melihatmu terus?"
" Nggak boleh, nanti cepat bosan " Ucap Rika.
" Aku tak akan pernah bosan melihatmu, apalagi memilkimu. Aku akan menemanimu sampai dunia ini berakhir.
" Gombal! Haha.."
" Serius.. Aku akan buktikan ucapanku. Kamu meragukanku?"
" Aku hanya tak ingin begitu mudah percaya dengan kata-kata orang yang baru aku kenal. Itu sama saja dengan rayuan laki-laki pada umumnya."
" Tapi aku tidak sama dengan mereka. Aku bisa menjaga diriku. Namun aku tak bisa menahan nafsuku kalau kamu terus-terusan bersamaku memakai rok itu."
" Hehe, kamu mau, apa yang ada didalamnya?"
" Rika, sudah jangan bicara itu lagi. Aku tak mau sampai kejadian. Bercinta denganmu."
" Nggak apa, kalau kamu mau bertanggungjawab. Kalau kamu lari, aku akan terus mengejarmu."
" Haha.. Aku takkan bisa lari dari kamu, karena kamu adalah rumahku, Rika."
" Bono! Hentikan kata-kata gombalmu itu. Nanti bisa buat aku semakin rela, kamu apa-apakan." Rika memukul lengan Bono lalu memeluknya.
" Aduh, Tuhan berikan aku kesabaran dalam menghadapi gadis pujaanku ini. Jangan sampai aku menodainya." Ucap Bono dalam hati. Dia pun rela dipeluk Rika saat sambil menyetir.
Lima belas menit berlalu, mereka tiba di perbatasan desa. Rika turun dari mobil dan bergegas mengambil jalan belakang desa untuk menuju rumahnya.
Tiba di teras rumahnya, Reza dan teman-temannya sudah menunggu kedatangan Rika.
__ADS_1
" Mas Reza, kenapa Pagi-pagi sudah datang ke rumah. Ada apa?"
" Rika, aku sudah menunggumu dari tadi. Ada sesuatu hal yang ingin kusampaikan padamu."
" Hal apa? Oh iya kakekku kemana? Kenapa nggak menemani kalian?" Rika merasa heran karena tak melihat Kakeknya bersama Reza dan yang lainnya.
" Ada didalam, kakekmu terjatuh dan mukanya memar-memar. Aku tadi sudah menolongnya. Masuklah, temani kakekmu." Ucap Reza seolah menggiring Rika masuk kedalam rumahnya.
Rika pun menuruti kata Reza masuk ke dalam rumah untuk melihat kakeknya.
" Kakek! Kakek kenapa mukanya seperti ini? Mas Reza, aku yakin kakekku bukan jatuh. Tapi ada orang yang memukulnya."
" Hahaha.. Iya Rika, dia memang kena pukul seseorang." Ucap Reza sembari menjentikkan jari-jarinya, memberi isyarat teman-temannya untuk mengunci rumah Rika dari luar.
" Mas Reza! Apa yang ingin kamu lakukan? Kakek, kenapa ini?"
Punto hanya bisa pasrah, dia tak mampu berkata apa-apa, saat Rika bertanya kepadanya. Dia pun hanya bisa melihat saat Reza berusaha melangkah mendekati Rika yang terus berjalan mundur.
"Mas Reza! Apa yang ingin kamu lakukan? Hentikan."
" Rika, aku pikir aku akan bisa bersenang-senang denganmu selama mungkin. Bercinta denganmu setiap hari. Tetapi, kali ini aku sudah muak denganmu! Kau gadis pengkhianat! Beraninya kau menemui seorang Ba****an diluar sana, dan bercumbu mesra dengannya. Wanita Bre***ek! Aku sudah memberimu waktu untuk mempersiapkan pernikahan kita, tapi kau malah asyik berduaan dengan pemuda asing itu! Perbuatanmu tak bisa aku maafkan Rika!"
" Mas Reza, apa maksudmu? Rika tidak mengerti."
Reza melempar beberapa lembar foto dari saku bajunya ke arah Rika.
Rika pun mengambil satu persatu foto yang berhamburan ke lantai.
" Ini? Darimana mas Reza mendapatkannya?" Rika mulai khawatir dan diam-diam mulai menghubungi Bono.
" Kamu tak perlu tahu darimana foto-foto itu ku dapat. Sekarang aku tak peduli dengan pernikahan lagi. Rika, kemarilah!" Reza membuka bajunya lalu berjalan melangkah mendekati Rika.
"Mas Reza, jangan mas." Ucap Rika sembari memanggil Bono dengan Hpnya secara diam-diam.
" Rika, aku sudah lama menantikan ini. Tubuh indahmu sangat sayang dimiliki laki-laki manapun. Tapi kamu sudah sedikit ternoda dengan memberikan pelukan dan ciuman pada laki-laki lain. Kali ini aku hanya ingin bercinta sekali denganmu saja Rika. Ayolah kemari." Reza terus melangkah mendekati Rika yang berjalan mundur menjauhi Reza.
Ketika nafsunya mulai memuncak, Reza tak mampu lagi menahan emosinya. Dia berlari ke arah Rika dan berhasil menangkapnya.
" Mas Reza, jangan.. Lepaskan aku mas." Rika meronta mencoba melepaskan pelukkan Reza.
Reza berusaha melepas baju Rika, namun Rika mempertahankannya. Baju Rika pun sobek di bagian depan dadanya. Beruntung Rika memakai kaos dalam, sehingga *********** masih tertutup oleh kaos dalam yang ia kenakan.
Punto,menangis melihat apa yang ada di depannya. Dia tak menyangka ini akan terjadi. Dia hanya pasrah dan berdoa, Tuhan menyelamatkan Rika.
" Mas Reza, lepaskan! Akh.." Rika menangis sambil menahan tangan Reza yang berusaha melepas kaos dalamnya."
" Rika, turuti kemauanku dan aku akan melepaskanmu setelah aku menikmati tubuh indahmu. Ayolah, jangan sampai aku memaksamu."
" Pemuda Ba****an! Apa yang kamu lakukan terhadap Rika. Aku akan membunuhmu!" Teriak Bono dari perbatasan desa. Kepalanya seakan mendidih mendengar teriakan Rika dari telpon yang tersambung.
Bonopun segera keluar dari mobilnya dan berlari sekencang angin menuju rumah Rika melewati belakang jalan desa. Tiba disamping rumah Rika, Bono melangkah menuju teras. Teman-teman Reza berusaha menghadangnya.
" Bono! Mau apa kamu kemari? Mau mengantarkan nyawa?" Ucap salah satu teman Bono.
Tanpa basa-basi, Bono mengalirkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuh. Lalu dia berjalan maju menuju pintu rumah Rika yang terkunci.
Tujuh orang teman Reza berusaha menghalangi, namun dengan mengayunkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri, tujuh teman Reza terpental jauh hingga sampai jatuh di atap warga.
Tak ada lagi orang yang menghalanginya masuk, Bono mendobrak pintu rumah Rika dengan sebuah tiupan kecil.
" Huufftt..." Angin tipis berasap keluar dari mulut Bono, dan menhancurkan pintu rumah Rika yang terbuat dari kayu jati tebal.
Pintupun terbuka dan ambruk tepat di depan Reza, yang berusaha melepas Rok yang dikenakan Rika.
......................
__ADS_1