SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
RENCANA PERNIKAHAN


__ADS_3

Setelah Isya, Tanu tiba dirumahnya. Dia setengah terkejut ketika masuk pintu pagar rumah, ada mobil yang terparkir di sebelah rumahnya.


" Jam segini, ada tamu datang kerumah. Siapa dia? Mengapa Rani membiarkannya sampai semalam ini? Baiklah, aku akan segera mengetahuinya." Ucap Tanu lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Tiba di ruang tamu, Tanu kebingungan melihat seorang wanita muda yang belum pernah ia kenal duduk di sofa.


" Eh, selamat malam Pak." Sapa Novi kepada Tanu.


" Malam juga dik. Adik ini, siapa ya? Kalau boleh tahu." Tanya Wira pada Novi, lalu menemani Novi duduk di sofa sebelah depannya.


" Saya Novi Pak, temannya Pak Wira. Eh, bukan. Maksud saya, karyawan Pak Wira. Adik pemilik rumah ini." Jawab Novi. Dia sama sekali tidak tahu, kalau laki-laki didepannya adalah Tanu, suami Rani.


" Oh, jadi begitu. Saya pikir tamu darimana. Ternyata mas Wira. Terus ini pada kemana dik? Mas Wira sama istri saya kok tak kelihatan."


Novi terkejut ketika Tanu menyebut kata istri.


" Eh, maaf Pak, Anda suaminya mbak Rani?"


" Iya dik saya suami Rani. Nama saya Tanu. Maaf ya, saya malah belum memperkenalkan diri."


Novi tersenyum malu. Dalam hati dia berkata, "Jadi orang ini suami mbak Rani, Orangnya tampan, lembut, usianya sama dengan Pak Wira. Namun dia masih kelihatan sangat muda. Seandainya Pak Wira seperti dirimu mas, pasti aku akan melayanimu setiap hari."


Pikiran Novi keliling kemana-mana, saat melihat Tanu. Dia sangat terpesona akan ketampanan Tanu. Pikiran kotornya muncul. Dia membayangkan sosok Wira seperti Tanu, yang tubuhnya tinggi, putih dan kekar berisi. Walaupun tak sekekar Wira. Saat tersadar dari khayalannya, Novi menepuk-nepuk pipinya dan berteriak.


" Ah, tidak, tidak, tidak.. Kenapa aku berpikir seperti itu." Novi kelepasan berbicara.


" Maksudnya apa dik?" Tanya Tanu kebingungan.


" Oh, tidak Pak. Mungkin saya trauma memikirkan sesuatu yang mengerikan." Ucap Novi asal-asalan.


" Dik, apa yang sedang kamu pikirkan? Sepertinya kamu membayangkan sesuatu yang menyenangkan daripada yang kamu katakan."


" Eh, saya memikirkan kalau saya sehabis pulang dari sini, tiba-tiba mengalami kecelakaan Pak."


Tanu tertawa lebar. " Hahaha.. Dik, kamu ini bisa saja mengada-ada. Dik Novi, saya itu bukan anak kecil yang bisa dibohongi. Saya tahu, saat kamu teriak tadi, kamu memang berteriak. Tapi teriakkanmu itu pertanda senang, dari cara saya melihat, kamu memikirkan sesuatu yang membuatmu senang. Kalau kamu memikirkan sesuatu yang mengerikan, kamu tak akan berekspresi seperti tadi."


" Gawat, ternyata mas ini mampu membaca mimik wajahku. Aku tak boleh sembarangan bicara lagi."


"Nov, katakan saja apa yang kamu sembunyikan. Tak akan ada gunanya bagiku."


" Saya tidak menyembunyikan apa-apa kok mas. Serius."


" Baiklah, kalau kamu tak mau terus terang dik."


" Maaf ya mas."


" Tidak masalah, kamu berhak merahasiakan sesuatu, jika menurutmu itu sangat penting."

__ADS_1


Saat Novi dan Tanu berbincang, Rani datang dari arah dapur, dibarengi Wira yang sedang menggendong Tama.


" Eh, Ayah sudah pulang. Kok Ibu nggak mendengar suara motor Ayah?"


" Iya Bu, tadi motornya sebelum sampai rumah, Ayah matikan. Wajar saja kalau Ibu tidak mendengar Ayah pulang."


" Oh, pantas saja. Ya sudah kalau begitu Ayah mandi dulu, Ibu sudah memanaskan air untuk mandi."


" Iya Bu. Eh, mas Wira. Apa kabarnya mas? Lama tidak kemari." Setelah berbicara dengan Rani, Tanu menyapa Wira yang sedang mengendong anaknya.


" Kabarku baik-baik saja, Tan. Sebenarnya aku sering ke bukit, untuk menenangkan diriku yang sedang galau. Hahaha."


" Mas, mas. Apa yang membuat dirimu merasa galau? Umur kita sudah tak muda lagi. Kenapa harus galau? Nikmati saja sisa umur kita. Jangan pernah mengeluh. Perbanyaklah bersyukur. Dan jangan lupa mas, hidup ini diatur oleh Tuhan. Jadi jangan lupa, kewajibanmu kepadaNya. Perbanyaklah mengingatNya, dan kita terima saja apapun yang diberikan Tuhan untuk kita. Orang seperti kita banyak mengeluh itu hanya memperpendek umur kita. Karena dengan seperti itu, kita mendatangkan sebuah penyakit. Yang datangnya dari pikiran kita. Makanya hati-hati mas dengan pikiran kita."


Wira hanya mengangguk-angguk saat mendapat kata-kata yang menurutnya pedas, Dia tidak bisa berkata apapun. Baginya Tanu adalah orang yang luar biasa, dia seorang guru yang mempunyai kepribadian yang tak banyak orang miliki. Sehebat apapun dirinya, jika dibandingkan dengan Tanu, dia bukanlah apa-apa.


" Nah, baru ketemu sekali sudah dapat ceramahan kan mas. Makanya hati-hati kalau bicara dengan Ayahnya Tama." Rani tersenyum meledek Wira.


" Pak Wira, dengarkan kata mas Tanu. Agar hidup Anda selalu bahagia. Nanti saat hidup sama saya, kalau tak bahagia, saya harus berbuat apa?" Novi menyela pembicaraan.


" Lho, maksudnya apa? Saat hidup sama saya? Kok saya jadi kurang paham." Tanu bertanya pada Novi dengan keheranan.


Saat Novi akan bicara, Rani dan Wira juga akan mengatakan hal yang sama. Namun, Rani lah yang terlebih dahulu mengatakannya.


" Begini Yah, Mas Wira itu, mau menikah sama dik Novi ini. Mereka kemari mau membahas rencana pernikahan mereka."


" Iya benar Tan, kami mau minta bantuan kalian. Agar rencana pernikahan kami berjalan lancar." Wira membenarkan kata Rani.


" Bukan hanya manajer, Ayah. Dik Novi ini ternyata anak angkat mas Wira. Kaget lagi nggak Yah?"


" Astaga, kamu mau menikahi anak angkatmu mas? Yakin? Aku tidak menyangka kamu melakukannya mas."


" Eh, apa tidak boleh Tan, aku menikahi anak angkatku? Dia kan tidak haram aku nikahi." Tanya Wira cemas kalau dilarang oleh agama.


" Boleh mas, tapi kalau aku jadi mas, aku tak sampai hati melakukannya."


" Tapi, aku menyukainya Tan. Aku kasihan melihat dia setiap waktu. Dia angkuh dengan semua lelaki. Itu membuatnya jauh dari jodohnya. Aku tak ingin dia menjadi perawan tua Tan'. Aku menyayangkan hal itu. Makanya aku mencoba untuk mendekatinya. Hingga dia mau menjadi calon istriku."


" Jadi itu alasan kamu mas? Ya sudah, kalau aku tidak akan mempermasalahkannya. Namun apa kalian sudah saling sepakat?"


" Kami sudah berkomitmen Tan. Aku sudah memberinya beberapa persoalan. Namun ia mau menjalaninya meskipun berbagai ujian dalam rumah tangga terus-terusan menghampiri kami."


" Apa benar yang dikatakan mas Wira, Dik?" Tanya Tanu, memastikan kebenaran Wira, apa bisa dipertanggungjawabkan kata-katanya.


" Benar mas, Pak Wira berbicara apa adanya. Saya sudah setuju dan mau menerima Pak Wira apa adanya."


" Baiklah, kalau kalian sudah saling setuju. Terus apalagi yang mau kita bahas disini?"

__ADS_1


" Masih banyak yang mau kita bahas Yah. Tapi sebaiknya Ayah mandi dulu saja. Nanti airnya dingin lagi. Lagi pula sudah terlalu malam. Nggak baik kalau menunda mandi, hingga lebih malam lagi." Suruh Rani pada Tanu agar segera mandi


" Iya Bu, Ayah hampir lupa. Keasyikan ngobrol jadi begini "


" Ya sudah, Kamu mandi dulu saja Tan. Nanti kita bahas lagi setelah kamu mandi. Biar badanmu segar."


" Baiklah kalau begitu, Ibu suruh mereka makan dulu ya. Ayah tidak makan karena tadi sudah makan di sekolah. Dapat masakan gratis dari warung sebelah sekolah, tempat Ayah mengajar."


" Wah, Tan. kalau kami makan, Tuan rumah juga harus makan. Walaupun sedikit, tetapi bisa untuk menemani kami."


" Bagaimana Yah? Masih kuat nggak perutnya?" Tanya Rani .


" Kelihatannya masih, Bu. Tapi kalau nunggu Ayah, nanti setelah Ayah mandi lho Bu."


" Iya, nggak apa-apa Ayah."


" Ya sudah kalau begitu, Ayah ke kamar mandi dulu Bu." Tanu berjalan menuju kamar mandi.


Sebelum ke kamar mandi Tanu masuk ke kamarnya mengambil pakaian gantinya. Setelah itu keluar dan menuju ke arah kamar Bulan.


" Lan, kok nggak keluar. Ada Pakde kamu, sudah menemuinya belum?" Tanu memanggil Bulan karena dari tadi belum melihatnya.


Tanu membuka kamar Bulan, dia kaget ketika Bulan tidak ada di kamarnya. Dari depan pintu luar kamar Bulan, Tanu berteriak bertanya pada Rani yang masih duduk bersama Wira dan Novi di ruang tamu.


" Ibu, Bulan kemana ya kok tidak ada dikamarnya?"


" Bulan? Oh, bulan menginap di rumah temannya, Ayah. Tadi sempat pamit sama Ibu." Rani menjawab tanya Tanu dengan berteriak juga.


" Oh, ya sudah kalau begitu." Ucap Tanu lalu bergegas masuk ke kamar mandi.


Di ruang tamu, sembari menunggu Tanu. Rani, Wira, dan Novi sedang asyik menemani Tama bermain.


" Tama, kalau besar mau jadi apa? Apa mau jadi pengusaha seperti Pakde, atau mau jadi Guru mengikuti jejak Ayahmu?"


" Pa..pa..pa.." Celoteh Tama.


" Pa, pa, pa? Kamu ngomong apa Tama, keponakkanku yang tampan, yang kuat, yang sehat."


" Dia belum bisa diajak bicara. Dia baru bisa menirukan suara mas. Kalau mas menanyakan apa, dia akan bilang apa. Soalnya dia hanya menirukan saja, bukan menjawab pertanyaanmu."


" Iya maklum Ran, anakku dulu juga umur segini baru bisa seprti Tama. Tapi Tama ini aku rasa kalau besar bisa menjadi kuat lho Ran, kelak aku akan mengajarinya ilmu beladiri."


" Nggah usah mas, aku tak ingin anakku berlatih seperti itu. Aku ingin Tama mengikuti jejak Ayahnya saja menjadi Guru. Kalau diajari bela diri, takutnya hanya digunakan untuk berkelahi dengan sesama temannya."


" Tapi beladiri sangat penting Ran, aku ingin dia mampu menjaga dirinya. Jika terancam bahaya, setidaknya jika mempunyai sedikit ilmu beladiri saka mampu mengatasinya."


" Hemh, ya kita lihat saja nanti mas. Apa dia mau mempelajari ilmu itu atau tidak. Mudah-mudahan kita diberi umur panjang, hingga bisa melihatnya menjadi orang sukses mas."

__ADS_1


" Aamiin." Wira dan Novi bersamaan mengaminkan doa Rani.


......................


__ADS_2