SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
RENCANA LICIK


__ADS_3

Lima menit berlalu, Reza telah mengumpulkan semua energinya. Ia langsung menyerang Wira dengan penuh amarah, tanpa ampun. Dengan menggunakan kedua kakinya dan satu tangan kirinya, ia menyerang Wira secara membabi buta.


Dengan satu tangannya, Reza mampu membuat Wira sering terkecoh. Beberapa kali Wira terkena pukulan Reza.


" Bocah ini memang luar biasa, aku tak menyangka kemampuannya berkembang dengan pesat. Aku harus berhati-hati padanya." ucap Wira dalam hati.


" Wira... aku akan membunuhmu! Akan kubalaskan kematian Satya. Aku takkan memaafkanmu Wira! Aku bersumpah. walaupun aku mati, aku akan tetap mengejarmu!"


" Hahaha... coba saja kalau kau bisa. Aku takkan kalah, Reza. Jangan terlalu percaya diri dengan kemampuanmu.. Kau jauh dibawahku meskipun kau bilang kau mewarisi hampir semua ilmu yang dimiliki Wijaya."


" Buka matamu lebar-lebar... dan aku akan menunjukkan ilmuku kepadamu, Wira! Haaaaa...!


Reza terus menerus mengerahkan seluruh tenaganya. Untuk menghadapi Wira, ia harus mempersiapkan energi yang besar untuk bisa mengalahkan Wira. Tanpa energi yang besar, Wira tak bisa ia kalahkan. Namun, walaupun Reza berusaha sekeras tenaga, Wira tetap bukan tandingannya. Semakin lama ia menyerang, tenaganya semakin berkurang. Wira sendiri, masih terlalu kokoh untuk dirobohkan.


" Hah hah hah..." nafas Reza terengah-engah.


" Mana kekuatanmu yang kau sombongkan, Reza? Apa kau hanya menggertakku saja? Lebih baik kau pulang, dan bawa saudaramu itu. Jika tidak, kasihan dia. Jika kau mati, kau takkan bisa membawa pesannya kepada keluarganya. Apa kau tak takut pesannya tak tersampaikan?"


" Kurang ajar! Beraninya kau bilang begitu padaku! Aku takkan mati, Wira! Bosku akan datang dan akan membunuhmu!"


" Hahaha... Sebelum Bosmu datang, kau sudah mati, Reza. Percayalah. Bosmu takkan datang. Dia hanya memanfaatkanmu, sama halnya dengan apa yang dialami Bono."


" Keparat! Beraninya kau memfitnah Bosku! Aku tak percaya kata-katamu. Lihat saja, Wira.. Jika aku mati, Bos akan mencarimu sampai kemanapun. Kau takkan bisa bersembunyi, Wira!


" Hahaha.. aku takkan lari, Reza. Aku takkan meninggalkan rumahku. Sebesar apapun ancaman datang kepadaku, aku takkan gentar."


" Kau boleh tertawa sepuasmu Wira! tapi, saat Bosku datang, kau takkan bisa tertawa lagi. Hahaha.."


" Hahaha.. kaupun masih bisa tertawa, Reza. Tertawamu simbol ketakutan, kan? Sudahlah, Reza.. tak ada gunanya kita lanjutkan pertarungan ini. Sayangi nyawamu. Kau masih muda, apa kau tak ingin memiliki istri yang cantik? Kalau kau mati, kau kehilangan semua kesenangan di dunia ini, Reza. Apa kau sudah bosan dengan semua yang kau miliki? Aku ingatkan sekali lagi, Reza.. pergilah... tinggalkan tempat ini, dan aku akan mengampunimu."


Reza terdiam, dia tak terima dirinya diremehkan. Ia juga tak ingin dirinya terpengaruh pada orang yang turut mendukung hubungan Rika dengan Bono. Reza pun berusaha mencari cara, agar bisa melukai Wira.


" Wira, apa ucapanmu bisa aku percaya? Mungkin saja jika aku mati, semua yang kumiliki akan kembali diambil oleh Wijaya. Aku tak ingin mati, Wira. Aku masih ingin hidup. Menikmati kekayaanku yang tiada batas. Tetapi, jika aku tak melaksanakan tugasku, aku akan dibunuh oleh Wijaya. Apa kau sanggup membantuku Wira?"


" Reza, jika kau bersungguh-sungguh kembali ke jalan yang benar, ancaman apapun yang mendatangimu, aku akan menyelesaikannya. Aku yang akan bertanggung jawab, Reza. Percayalah kepadaku."


" Tapi, kau tak jauh lebih kuat dari Wijaya, Wira.. Aku khawatir, kau tak bisa membantuku. Aku takut, kau kalah dan akupun mati. Aku tak mau itu sampai terjadi, Wira."


" Tenanglah, Reza.. kita masih mempunyai orang-orang yang hebat seperti Bono dan Bara. Wijaya takkan sanggup menghadapi mereka berdua. Kemampuan mereka berdua melebihi kekuatanku. Sepuluh tingkat lebih kuat daripada aku. Jika kau ingin bergabung dengan kami, ikuti aku. Kau akan hidup tenang, tanpa harus menanggung resiko yang sangat berat. Aku tak mengambil hartamu, aku tak meminta kekayaanmu, Reza."


" Baiklah Wira, jika mulutmu bisa ku percaya, aku akan bergabung denganmu. Aku akan bersedia menerima Bono dan Bara sebaga rekanku."

__ADS_1


" Bagus, Za... aku yakin kau tetap akan menjadi orang yang setia. Setialah pada kebenaran. Hidupmu akan tentram."


" Baiklah, Wira.. Ayo, kita akan pergi kemana?"


" Ikuti aku, Reza.."


Wira mengajak Reza berjalan menyusuri jalan setapak. ia bermaksud memberi rumah pertama miliknya, untuk Reza.


Reza mengikuti Wira dibelakang. Tetapi ia teringat oleh Satya. Ia pun menjadikan Satya sebagai umpan.


" Wira, apa kau tak kasihan pada Satya. Dia tewas olehmu. Sebelumnya dia bercerita kepadaku bahwa dia ingin sekali hidup bebas tanpa tekanan. Dan ingin kembali hidup sebagai orang biasa bersama keluarganya. Dia sudah menunjukkan kesungguhannya untuk berhenti menjadi orang jahat, Wira. Apa kau tega membiarkannya terkapar sendirian disana dalam kegelapan?"


Wira termenung, ia berpikir Reza saat ini telah berubah. Kepeduliannya pada Satya, membuat Wira semakin percaya, kalau Reza benar-benar ingin bergabung dengannya.


" Reza, dia temanmu. Kau boleh membawanya. Bukankah kalian selama ini bekerja bersama? Seharusnya kau juga membantunya jika kau merasa, kau adalah temannya."


" Apa kau sudah lupa dengan luka di tangan kananku hasil perbuatanmu Wira? Jika kau masih punya hati, kau takkan berpikir menyuruhku membawa Satya."


" Baiklah, Reza. Aku akan membawa jasad Satya. Aku akan mengendongnya. Aku juga merasa Satya tak sejahat dulu. Dia pun masih memiliki hati yang bersih. Aku akan memakamkan jasadnya di Puncak Bukit milikku. Untuk mengenang kebaikan dan kebijaksanaannya."


" Terima kasih, Wira. Aku sangat beruntung bisa mengenalmu. Jika tidak, aku pasti takkan setenang ini. Kau memang orang tua yang baik Wira. Pantas saja, Bono dan Bara sangat menyukaimu. Mereka hidup damai. Apalagi Bono, dia menjadi sangat baik. Selalu menjaga istrinya dengan sangat hati-hati. Aku tak tahu, bagaimana nasib Rika jika dia bersuamikan aku. Pasti hidupnya tak pernah bahagia."


" Tak perlu memujiku, Reza. Aku sama sepertimu, aku juga orang tua yang masih belajar. Aku pernah mengalami kegagalan sebagai orang tua, tetapi kini aku telah menemukan kembali jalan hidupku.Yaitu bisa bertemu Novi dan memiliki Novi seutuhnya. Tak ada yang mampu merusak kebahagiaan hidup kami."


" Reza, kau hanya butuh merubah gaya hidupmu. Wajahmu tak buruk, tubuhmu juga bagus. Kalau kau bisa menjaga hatimu, kau akan mendapatkan yang lebih baik dari istriku, Za."


" Mulai sekarang, aku akan mengubah diriku, Wira. Aku akan menjadi orang sepertimu. Menjadi orang yang baik, memiliki istri yang baik, aku yakin kelak anakmu juga akan mewarisi sifatmu, Wira."


" Berusahalah, Reza.. aku akan terus mendukungmu. Kau pasti bisa menjadi sepertiku, asal kau bersungguh-sungguh."


" Aku akan berusaha, Wira. Kalau begitu, tolong angkatlah Satya. Kau yang mempunyai tubuh kekar dan sehat. Sementara aku, kurus dan tanganku sedang sakit. Aku tak bisa berbuat apapun untuk Satya."


" Aku akan mengangkatnya, Satya. Jangan khawatir. Oh, iya apa kau mau membawanya ke tempat kakekmu? Kalau iya, aku akan membawanya kesana."


" Iya, aku telah berjanji padanya Wira. Aku akan membawa Satya pada Kakek. Dia pasti tahu, apa makna rajah yang ada pada tubuh Satya."


" Kalau begitu, lebih baik kita kesana segera, Za. Ayo.. Kau berjalanlah lebih dulu. Jalan disini berlubang-lubang, sebaiknya kau mencarikan jalan yang baik Reza."


" Wira aku sudah sangat mengantuk, penglihatanku sudah buram. Aku tak bisa melihat dengan baik di kegelapan."


" Oh, begitu.. baiklah, aku akan berjalan terlebih dahulu. Berhati-hatilah, Za. Ikuti aku."

__ADS_1


" Baik, Wira.."


Wira berjalan terlebih dahulu. Tanpa berpikir buruk, ia membawa tubuh Satya tanpa beban. Hingga ia terlena dan melupakan keberadaan Reza yang sebenarnya berniat buruk pada Wira.


Diam-diam Reza mengambil pedang seperti samurai milik Satya yang telah berpindah tangan kepadanya. Dia mencabut pelan-pelan Pedang yang melingkar di pinggangnya.


Disaat Wira lengah, Reza tiba-tiba menebas punggung Wira, yang sedang berjalan memapah tubuh Satya di depan.


" Srrreeetttt..." Pedang Reza berhasil melukai punggung Wira.


Wira tak menyangka kalau Reza akan berbuat licik. Tiba-tiba setelah tebasan pedang Reza, Wira merasakan tubuhnya dingin. Ia kemudian meletakkan tubuh Satya ke tanah. Lalu membalikkan badannya menghadap Reza.


" Hahaha... Ternyata dugaanku benar.. Tak semua orang hebat itu, pintar. Dan itu ada pada dirimu, Wira. Kau sungguh bodoh! Bisa-bisanya termakan oleh omonganku.. Hahaha..."


" Kau memang sangat licik, Reza! Keparat! Aku tak menyangka, diriku tertipu oleh sifat busukmu! Akhhh..."


" Bagaimana,Wira? Bagaimana rasanya terluka? Apa kau merasa kesakitan?" Hahaha.."


" Diam kau bangsat! Aku bersumpah akan membunuhmu detik ini juga!"


" Hahaha.. Coba saja kalau kau bisa! Lukamu lumayan dalam, jika kau tak mengobati lukamu, kau akan kehabisan darah dan kau akan mati, Wira. Itu pembalasan yang setimpal untuk kematian Satya."


" Kau memang tak pernah berubah, Reza.. Suatu saat kau akan merasakan hal yang sama dengan yang ku alami."


" Wira, dibawah kepemimpinan Bos Wijaya, tak akan ada siapapun yang akan mencelakaiku. Siapapun yang berusaha menjatuhkanku dari belakang, akan menemui ajalnya sebelum menyentuhku. Wira, kau tahu siapa aku sekarang? Aku adalah kepercayaan Bos Wijaya. Bos para mafia seluruh negeri. Jangan meremehkan seorang Reza. Di mata para mafia, namaku sudah terkenal. Aku bisa saja menyuruh mereka menghabisi siapapun yang aku mau. Hahaha..."


" Siall.. aku lupa kalau dia anak buah kepercayaan Wijaya. Dia bisa saja menyuruh orang untuk membunuh sipapun yang dia kehendaki. Kenapa aku tak berpikir sampai disitu. Dan kenapa aku malah lengah. Pantas saja, dia tak mau ku suruh berjalan di depan. Jadi itu rencananya. Akhhh.. tubuhku lemas. Aku harus segera menutup lukaku agar darah yang mengalir tak keluar terlalu banyak. Semoga saja pedang itu tak beracun. Akhhh..." ucap Wira dalam hati, ia lalu berusaha memusatkan tenaga dalamnya lalu mengalirkannya ke tubuhnya yang terluka. Dengan sekejap saja, tubuhnya yang terluka telah tertutup.


Reza terkejut melihat Wira tiba-tiba berdiri dan seolah tak terluka sedikitpun. Ia ketakutan, lalu mencoba berjalan mundur saat Wira berjalan maju mendekatinya.


" Manusia setan! Kenapa kau tak mati-mati juga.."


" Za, aku takkan semudah itu mati ditanganmu.. Sekalipun kau mencoba membunuhku dengan seluruh tenagamu. Kau bukanlah tandinganku, Reza. Sekarang inilah giliranku.. Bersiaplah za, Malaikat pencabut nyawa sudah menjemputmu!"


" Wira! tunggu! Aku menyerah.. aku tak mau mati. Wira aku mohon!" teriak Reza, lalu duduk bersujud dihadapan Wira.


" Aku takkan tertipu lagi, Reza.. Kau sudah menipuku berkali-kali..


" Aku janji, Wira.. Kau boleh membunuhku, jika aku ingkar janji."


Wira tak peduli dengan kata-kata Reza. Api amarah yang membara dalam dirinya menghancurkan hati nuraninya. Ia tak mempunyai hati untuk mengampuni Reza.

__ADS_1


Tubuh Reza bergetar sangat hebat, ia sangat ketakutan ketika Wira mengeluarkan cahaya berbentuk mata tombak ditangan kanannya. Ia pasrah jika harus mati ditangan Wira. Mencoba bicara pada Wira pun, percuma. Wira sudah seperti kerasukan setan. Ia sudah tak bisa lagi dicegah.


......................


__ADS_2