SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
MELARIKAN DIRI DARI SATYA


__ADS_3

Pada pagi hari yang sejuk, burung-burung liar berkicauan di atas pepohonan yang rimbun, di hutan tempat Reza dan Satya bermalam.


Kala itu Satya sudah siap menyantap daging rusa bakar buruannya. Sementara Reza, masih tertidur dalam tenda hingga mendengkur.


Angin yang berhembus, membawa aroma nikmat dari daging rusa panggang buatan Satya. Hingga masuk ke dalam tenda Reza.


" Ahh... siapa pagi-pagi begini yang memasak, terasa nikmat sekali. Hemmm... aromanya membuatku merasa lapar. Lebih baik aku lihat keluar."


Reza pun keluar tenda sembari mengucek kedua matanya yang masih sipit. Ia menoleh ke kanan lalu ke kiri, namun Satya yang sedang asyik menyantap daging rusanya, berada di belakang tenda Reza dan menyapanya.


" Sudah bangun, Za? Lebih baik kau cuci muka dulu. Setelah itu, kau boleh makan daging rusa ini."


" Ihh... kaya Ibu-ibu saja, sebelum makan mesthi diminta cuci muka dulu sehabis bangun tidur. Menyebalkan. Lagipula, siapa yang akan minta dagingmu itu.."


" Bukan begitu... mukamu itu, seperti kain yang sudah satu bulan dipakai, dan tak pernah dicuci."


" Apa kau bilang? Mukaku seperti kain? Masa bodoh... Walapun begini, aku punya banyak uang."


" Hahaha... sombong sekali kau, Za. Ingat.. Tuhan bisa saja mengambil kekayaanmu dalam sekejap."


" Hahaha... siapa yang mau dengan hartaku? Kupikir tak ada yang mau merebut hartaku. Lagipula, aku takkan membiarkan siapapun merebutnya dariku."


" Bagaimana dengan kesehatanmu? Jika kau sakit dan tak sembuh-sembuh, bisa jadi uangmu habis untuk beaya kamu berobat."


" Sttttttsss... jangan bilang tentang penyakit. Kau membuatku takut. Aku tak ingin memikirkan hal itu. Ceramahmu itu terlalu dalam dan menakutkan, Satya."


" Hahaha... apa kau takut berubah menjadi baik, Za?"


" Aku akan berbuat baik pada orang tertentu saja. Aku tak mau berbuat baik pada semua orang. Terkadang mereka melonjak jika kita berbuat baik padanya."


" Bukannya semakin banyak kau berbuat baik, kau akan terbiasa dan membuatmu berubah, za?"


" Itu beda Satya, sudahlah... jangan berbicara tentang hal itu. Jiwaku tak ingin menerimanya."


" Hemhh... benar-benar bandel... susah di nasehati." ucap Satya dengan lirih.


" Apa kau bilang? Satya jangan berbisik-bisik. Katakan apa yang baru saja kau katakan..."


" Ah... tidak, sudah lupakan saja. Sebaiknya kau cepat pergi ke sungai itu cuci mukamu. Kalau perlu, mandi sekalian. Keringatmu sangat bau."


" Diam kau! berisik saja, alumni Ibu-ibu arisan ini..." Ucap Reza dengan keras, lalu bergegas menuruti perintah Satya, pergi ke sungai untuk mandi.


Satya menggelengkan kepalanya berkali-kali menatap Reza yang sedang berjalan ke sungai.


" Jangan lama-lama mandinya... keburu daging rusanya habis..." Ucap Satya sambil tertawa kecil melihat muka Reza yang sedang jengkel padanya.


" Cerewet... kalau kau habiskan, aku tak sudi berjalan bersamamu lagi. Pulang saja sana, menyebalkan!"


" Hahaha... kau sangat lucu kalau sedang jengkel, Za." ucap Satya dalam hati.


Mendengar celotehan Satya, dalam perjalanannya ke sungai Reza mengomel sendiri. Ia sangat jengkel pada Satya.


" Manusia kurang asem... kenapa juga, dia sekarang mendadak cerewet dan banyak bicara. Membuatku menjadi resah... Apalagi membahas tentang penyakit... Dulu aku flu saja rasanya ingin segera sembuh. Bagaimana kalau penyakit yang lebih serius lagi. Ah... Satya brengsek! Membuat beban dipikiranku saja."

__ADS_1


Meskipun sudah tiba di tepi sungai, Reza masih belum juga turun untuk membersihkan badannya. Ia merenung memikirkan kata-kata Satya. Dia juga merasa tubuhnya kedinginan sehingga membuatnya malas untuk menyentuh air.


" Ahh... Satya brengsek! Kenapa kamu malah berbicara yang menggoyahkan keyakinanku... Aku tak mau sakit, aku ingin diriku ini selalu sehat, kuat dan tak terkalahkan. Kau malah membuat mentalku menjadi jatuh. Kampret!"


Reza menggerutu, dia mengambil batu seukuran kepalan tangan lalu melemparnya ke tengah sungai. Merasa hatinya belum cukup tenang, ia kemudian mengambil batu lagi dan melemparkannya ke sungai hingga beberapa kali.


" Za... cepat... sebelum dagingnya habis..." Tiba-tiba Satya berteriak memanggilnya membuat Reza terkejut dan terperosok jatuh ke sungai.


" Aduhh... aakh... Satya sialan! Belum puas kau membuatku jengkel?" teriak Reza sembari memukul air dengan kedua tangannya.


Sementara itu, Satya masih terlihat asyik menyantap daging rusa panggangnya, tanpa tahu jika Reza sedang menaruh dendam padanya. Ia tak tahu, teriakannya telah membuat Reza terperosok jatuh ke sungai.


" Ah, Reza lama sekali. Dasar anak manja. Mandi saja lama sekali, kaya cewek. Hahaha... daging rusa ini sangat lezat sekali, sebenarnya aku tak ingin berbagi dengannya, tapi aku ini manusia yang tak punya rasa egois. Aku takkan tega membiarkan dirinya bersusah payah, mencari buruan dan memasaknya sendiri."


" Satya!" teriak Reza, yang ternyata sudah berada dibelakang Satya.


" Apa yang kau lakukan? Membuat kaget saja tiba-tiba sudah muncul dibelakangku."


" Apa yang kau lakukan katamu? kau lihat, diriku terjatuh ke sungai dan basah gara-gara teriakkanmu. Menyebalkan!"


" Hahaha... aku hanya memanggilmu, karena kau lama sekali. Lagipula teriakanku tidak keras, kenapa bisa membuatmu terjatuh?"


" Berisik! aku malas sekali berbicara denganmu..." Reza kemudian duduk dan menyambar daging rusa panggang yang masih tersisa.


" Aku juga malas bicara denganmu anak manja... Sudah, habiskan saja semua. Aku sudah kenyang."


" Tak usah memerintahku! Aku memang akan menghabiskan daging ini sendiri. Kau sudah banyak makan, kan?"


" Tapi, daging itu mengandung kolestrol tinggi. Aku tak mau terlalu banyak memakannya. Sebaiknya aku makan lima potong saja. Sisanya, kau makan lagi saja."


" Kau bisa menyimpannya untuk nanti siang. Perjalanan kita masih belum seberapa. Kita tak tahu dihutan berikutnya, apakah kita akan mendapatkan binatang buruan."


" Kau benar, lebih baik aku menyimpannya untuk makan siang kita."


" Kamu saja yang makan, Za. Aku sudah kenyang. Nanti siang aku takkan makan lagi."


" Kenapa? Apa kau mau diet? Menggelikan sekali."


" Tidak... aku sudah terbiasa seperti itu. Seorang petualang itu ya memang seperti itu. Beda denganmu, sebentar-sebentar lapar. Payah sekali."


" Satya... jangan memancing kemarahanku. Kau tak usah terus-terusan menghinaku. Aku dan kamu mempunyai hidup sendiri-sendiri. Jadi, jangan samakan dirimu denganku."


" Ya sudah... lanjutkan saja makanmu. Lalu kita akan lanjutkan perjalanan kita. Sudah dua hari kita berjalan, tapi baru dapat beberapa kilo saja. Kita butuh waktu sekitar dua minggu jika terus-terusan begini."


" Kenapa? jangan khawatir... tugas kita saat ini adalah tugas santai. Tidak terlalu terburu-buru. Jadi, nikmati saja perjalanan ini."


" Tapi kita tidak bisa terlalu santai, Bos itu susah ditebak. Kemarin bilang begini, sekarang bisa jadi bilang begitu. Kau jangan terlena akan kebaikkan dan kesabarannya, Za. Bisa jadi, Bos bilang padamu hari ini tugas santai, tapi siapa yang akan tahu, nanti sore dia meminta kita mempercepat tugas kita."


" Kubilang jangan khawatir, ini tugasku dan aku yang bertanggung jawab. Jika ada kesalahan, aku yang akan maju untuk menerima hukumannya."


" Baiklah... tapi jika Bos murka, aku takkan membelamu."


" Aku tak butuh pembelaan darimu Satya brengsek! bisa-bisanya aku berteman dengan pengecut..."

__ADS_1


" Hahaha... tak perlu dimasukkan ke hati, Za. Aku ini suka bercanda. Hidup itu memerlukan candaan. Jangan terlalu serius, nanti kesenggol sedikit saja sudah mengamuk."


" Tapi aku sedang tak ingin bercanda, Satya. Aku sudah dua kali dibuat jengkel olehmu. Aku tak ingin tertawa apalagi tersenyum padamu."


" Hahaha... kau mirip seorang perempuan, Za. Mudah emosi."


" Bilang sekali lagi, akan ku cabuti gigimu, Satya!"


" Hahaha... maaf, Za. Baikah, aku akan diam dan jangan mengajakkku berbicara." Ucap Satya sembari tertawa. Ia pun kemudian pergi meninggalkan Reza lalu melompat ke atas pohon melihat keadaan di sekitarnya.


" Kuharap kau pergi saja... tak usah kembali. Kau hanya membuat hari-hariku tak bersemangat. Satya brengsek..."


Sembari makan, Reza tak henti-hentinya mengomel. Dia berulang kali memaki Satya. Namun Satya yang lebih tua dan dewasa darinya tak begitu mempedulikan makian Reza. Ia tetap tenang dan lebih sering mengalah agar tak terjadi perseteruan diantara mereka.


Satu jam berlalu, Reza telah menghabiskan sisa daging rusa panggangnya. Ia kemudian membongkar tendanya dan berkemas untuk melanjutkan perjalanan.


Diam-diam Reza meninggalkan Satya yang tertidur diatas pohon. Dia mengendap-endap, perlahan-lahan menjauhi tempat dia mendirikan tenda.


" Dasar kerbau... bisa-bisanya tidur diatas pohon. Mendengkur lagi, kupikir suara tawon. Ah... biar saja, dia ku tinggal. Aku harus cepat agar dia tak bisa mengikutiku."


Setelah menjauh puluhan meter dari tempat Satya, Reza dengan sekuat tenaga berlari bagaikan kuda yang dipacu. Tanpa menoleh ke kanan dan kiri, ia terus berlari agar tak terkejar oleh Satya.


" Hah... hah... hah..." nafas Reza terengah-engah karena berlari terlalu cepat.


" Sudah berapa jauh aku meninggalkan Satya, ku harap dia belum bangun dan mengetahui kalau aku sudah meninggalkannya. Hahaha... aku sebenarnya ingin tahu bagaimana reaksinya, melihatku sudah pergi jauh meninggalkannya."


Dalam pelariannya, Reza tertawa terbahak-bahak membayangkan Satya yang kebingungan mencarinya.


Ia terus berlari tanpa henti agar Satya tak bisa mengejarnya lagi. Dia ingin selama dalam perjalanan, tak ada siapapun yang mengganggunya. Dia ingin bepergian sendiri. Baginya, kesendirian membuatnya lebih tenang.


Baru saja dia merasa dirinya terasa ringan, karena Satya yang hanya menjadi pengganggunya tak mengejarnya. Tiba-tiba saja, ia terpeleset dan jatuh ditempat becek. Demi menghindari orang yang tiba-tiba berdiri di depannya, sekitar dua puluh meter darinya.


" Akhhh... sialan! Kenapa kamu ada dimana-mana, Satya! Minggir... jangan halangi jalanku!" Teriak Reza pada orang yang menghadangnya, yang ternyata adalah Satya.


" Reza, kenapa kau ingin kabur dariku? Apa aku ini hantu bagimu?"


" Iya! Kau memang hantu, hantu yang sangat menyebalkan. Kau hantu keturunan setan! Kau lihat pakaianku kotor begini gara-gara ulahmu, Satya! berhentilah mengikutiku!"


" Reza, kau takkan bisa pergi sendirian, banyak bahaya yang mengancam. Apa kau tak takut pada hantu?"


" Tidakkk!!! aku lebih takut kepadamu, Satya!!!"


" Jangan teriak-teriak, tenangkan dirimu. Cepat ganti bajumu, dan lekas pergi. Kalau kau tak ingin berjalan bersamaku, biarkan aku mengikutimu dari belakang."


" Satya! dengar.. sebaiknya kau pulang saja. Tak perlu mengikuti perintah Bos. Lagipula kau sering membangkang, Bos pun tak marah kepadamu. Pergilah, daripada kau mengikutiku, lebih baik kau pulang kepada keluargamu. Apa kau tak merindukan keluargamu?"


" Reza, aku tetap akan mengawalmu. Itu perintah Bos. Jangan mengganggu pekerjaanku."


" Baiklah... Tapi kau harus menjaga jarak denganku."


Satya menganggukan kepalanya tanpa mengatakan sepatah katapun pada Reza. Dalam hatinya terusik kata-kata Reza tentang keluarganya. Ia begitu merindukan keluarganya. Sudah sangat lama ia tak bertemu keluarganya. Namun ia tak bisa meninggalkan pekerjaannya dalam mengawal Reza.


......................

__ADS_1


__ADS_2