
Setelah pertempuran usai, Warga kembali ke desa mereka. Rumah warga yang runtuh akibat pertarungan Wijaya dan Bono, langsung di perbaiki.
" Syukurlah mereka sudah pergi. Aku kira tak akan bisa melihat mentari esok lagi." Ucap kakek Rika lega.
" Benar kek. Aku tak bisa membayangkan, apa jadinya jika orang itu membawaku. Pastinya hidupku akan sangat menderita." Ucap Rika sambil memeluk kakeknya.
" Tetapi, sepertinya orang yang melawan pemuda itu adalah temannya. Tetapi kenapa mereka bermusuhan, Rika?"
" Mungkin saja temannya tak suka Bono, berbuat kejahatan, kek."
" Itu juga bisa terjadi, Rika. Tetapi Kakek merasa keduanya sama-sama kejam. Mereka mempunyai sifat yang sama. Namun kelihatannya pemuda itu lebih baik daripada temannya."
" Baiknya dimana, kakek? Jelas saja, dia mau membawa paksa aku. Bisa saja dia menjadikanku budak nafsunya kek."
" Kakek juga tidak mengerti, Rika. Aku hanya merasa seperti itu. Tetapi ya sudah, mereka sudah pergi. Kita sudah aman sekarang. Mudah-mudahan jika mereka kemari lagi, Pak Wira berada disini."
" Hemhh, sayang sekali Pak Wira tak berada disini. Aku sangat berharap Pak Wira bisa mengalahkannya." Ucap Rika berharap.
Hari sudah mulai malam. Wira yang sedang mengalami kekecewaan karena Novi, pergi ke puncak bukit, untuk menenangkan dirinya.
Namun untuk kesana, ia terlebih dahulu singgah di pendopo desa, tempat Rika dan kakeknya tinggal.
Wira terkejut ketika sampai di desa,
" Kenapa ini? Sepertinya sudah terjadi perkelahian." Ucap Wira lirih.
Merasa ada yang tidak beres, Wira menyelinap diam-diam. Dia berlari secepat kilat untuk mengunjungi kakek Rika.
" Tok tok tok.." Wira mengetuk pintu rumah Rika.
" Siapa?" Jawab Rika dari dalam rumah.
" Aku, Wira." Sahut Wira dari luar.
" Tungu sebentar, saya bukakan pintu dulu." Ucap Rika, lalu bergegas membuka pintu rumahnya.
" Silahkan masuk, Pak Wira. Bagaimana kabar Anda? Lama tidak kemari Pak." Sapa kakek Rika.
" Iya, kek. Saya sibuk mengurus warung saya. Ini karena libur, saya bisa punya waktu luang untuk kemari."
" Oh, silahkan duduk Pak."
" Baik kek, apakah saya boleh beristirahat di sini semalam saja."
Mendengar Wira mau menginap di rumahnya, Kakek Rika sempat kebingungan. Sebenarnya rumah Rika tak luas. Di dalamnya hanya ada satu tempat tidur. Bahkan Rumah Rika tak memiliki teras maupun ruang tamu. Untuk menerima Wira saja, menggunakan tempat tidur Rika.
" Eh, maaf Pak Wira. Bukannya saya menolak, tetapi Pak Wira tahu sendiri, kami tak punya tempat yang luas. Kami tak mampu membuat rumah yang besar.
" Oh, maaf kek. Saya salah bicara. Maksud saya, saya hanya ingin menitipkan mobil saya di sini. Setahu saya di sini, tempat yang paling aman."
" Kalau masalah itu, silahkan saja Pak Wira. Di belakang rumah ini juga masih ada tanah kosong. Jika mau menitipkan mobil, masih cukup kok." Ujar kakek Rika sambil menunjukkan arah belakang rumah.
" Baiklah kalau begitu saya akan mengambil mobil saya dulu kek. Tunggu sebentar ya." Ucap Wira lalu berlari cepat melewati bukit belakang rumah.
__ADS_1
Rika dan kakeknya terperanjat ketika mereka mengikuti Wira keluar dari kamar. Dalam hitungan detik, Wira sudah tak ada di depan mereka.
" Ha? Kemana Pak Wira perginya kek?" Tanya Rika sambil melihat-lihat ke atas pohon.
" Kakek juga tak tahu, Meskipun dalam kegelapan, jika orang biasa, kakek mampu melihatnya. sedangkan Pak Wira, dia bahkan seperti bukan manusia. Kakek mencium baunya, pun tak mampu."
" Kek, Aku jadi tertarik, ingin bisa bela diri. Kakek mau, mengajarariku?"
" Rika, kakek sudah terlalu tua untuk mengajarimu bela diri. Seandainya bisa pun, ilmu kakek ini hanya dasar-dasarnya saja. Jika kamu ingin bisa seperti Pak Wira atau orang misterius itu, kamu harus mencari guru yang lebih hebat dari kakek."
" Tidak apa-apa kek, Aku mau menanggung segala resikonya. Meskipun baru dasar-dasarnya, setidaknya aku bisa menguasai sebagian kecil, ilmu bela diri.
Aku butuh ilmu bela diri untuk melindungi diriku yang lemah ini kek. Dan pastinya akan melindungi dan menjaga kakek yang sudah semakin tua ini. Hehe" Ucap Rika sambil memeluk kakeknya .
" Kamu itu bisa saja, Jangan panggil kakek itu sudah tua. Kakek memang sudah tua, tetapi jika berlari cepat, kakek masih kuat." Ucap kakek sambil tersenyum.
" Yang benar kek? Coba perlihatkan sama aku. Ayo kejar Pak Wira. Cepat mana kakek sama Pak Wira?" Ucap Rika menantang Kakeknya.
Rika menarik lengan kakeknya dan mendorong-dorong tubuh kakeknya agar segera keluar mengikuti Wira pergi.
Saat mereka asyik berbicara, Wira sudah ada di depan mereka.
Sontak saja, Rika dan kakeknya terperanjat dari tempat duduk mereka.
" Eh, Pak Wira. Dari kapan Anda disini? Mobilnya sudah di bawa kemari Pak?" Dengan nafas terengah-engah kakek Rika bertanya pada Wira.
" Sudah lima menit yang lalu, kek." Wira tersenyum.
" Apa?" Kakek Rika dan Rika saling menatap.
" Baik Pak Wira, saya siap menjalankan perintah Pak Wira." Ucap Kakek Rika senang.
" Ini buat kakek dan Rika. Perbesarlah rumah kalian. Aku rasa uang itu cukup banyak untuk membuat rumah baru." Wira menyodorkan satu amplop besar yang tebal, berisi uang seratus juta.
Karena tak pernah melihat uang sebanyak itu, tubuh kakek Rika gemetaran. Dia tak mampu untuk menyentuhnya.
" Maaf Pak Wira, bukannya saya menolak. Tetapi uang ini terlalu banyak. Saya tak akan pernah mampu untuk mengembalikannya."
" Kakek, Rika, uang ini bukan aku pinjamkan. Tetapi, aku berikan untuk kalian. Terimalah, dan besok, segera perbarui rumah kalian."
" Tapi Pak Wira, uang ini.." sebelum Kakek meneruskan perkataanya, Wira terlebih dahulu memotongnya.
" Tak pelu khawatir. Uang ini halal. Ini jerih payah saya, selama membuka restoran yang baru. Ayolah..terima saja, dan jangan takut. Saya tidak membohongi kalian. Uang ini benar-benar bersih."
" Baiklah kalau begitu Pak Wira. Saya ucapkan banyak terimakasih sudah banyak membantu kami.
Jika untuk mengumpulkan uang sebesar itu, seumur hidup pun saya tak sanggup. Semoga Tuhan membalas kebaikan Pak Wira, dengan sesuatu yang lebih besar dari ini. Tetapi ada satu masalah lagi Pak."
" Apa itu, kek?" Wira kaget.
" Dimana kami akan menyimpannya? Kami tak mempunyai almari. Wadah juga tidak ada."
Mendengar Kakek bicara begitu, Wira lalu memandang kakek dan Rika. "Kasihan sekali mereka harus hidup seperti ini. Di desa ini, hanya mereka yang paling miskin."
__ADS_1
" Kakek bisa menyimpannya di bawah bantal, atau bawah kasur. Jangan di masukkan ke dalam celengan bambu. Nanti uangnya hancur, dimakan hama bambu.
Besok sekalian, kalian beli lemari juga untuk menyimpan baju-baju kalian. Uangnya masih cukup untuk membeli itu."
" Baik, Pak Wira. Terima kasih banyak sudah membantu kami. Anda bagaikan malaikat penyelamat kami Pak Wira. Huhuhu.." Tiba-tiba kakek Rika menangis tersedu. Dia tidak percaya, namun dia melihat sendiri, dirinya seperti mendapatkan durian runtuh.
" Sudah Kek, jangan menangis. Rika, simpan uangnya. Saya mau pergi sekarang juga."
" Baik Pak Wira." Rika menerima uangnya dan segera menyimpannya di bawah tempat tidurnya.
" Kakek, Rika, saya ke atas dulu. Permisi." Ucap Wira lalu berjalan keluar meninggalkan rumah Rika.
Saat berjalan keluar, dia merasa ada keganjilan di sekitar rumah Rika. Dia berpikir sejenak, lalu dia melihat pohon besar di depan Rika yang tinggal sepanjang badan orang dewasa. Lalu, Wira balik lagi dan menemui Kakek Rika.
" Kek, dimana pohon besar di depan rumahmu? Apakah roboh?" Tanya Wijaya heran.
" E, itu anu." kakek Rika bingung mau berkata.
" Pohon itu tumbang di hantam oleh orang tak dikenal Pak Wira." Ucap Rika jujur.
" Apa? Pantas saja dari tadi saya penasaran, seperti ada yang berbeda di rumah kakek. Rika, katakan, siapa yang meghantamnya?"
" Namanya Bono Pak Wira. Saya tidak tahu menahu asal usul orang itu. Awalnya saya berkenalan dengannya di pinggir jalan.
Namun setelah tahu kelakuan dia kasar, saya melarikan diri pulang ke rumah.
Saya tak mengira, dia mampu menemukan rumah saya. Saat saya keluar rumah, dia sudah merobohkan pohon itu."
" Bono, siapa orang itu? Saya belum pernah mendengar nama itu. Apa dia tinggi dan kekar?" Tanya Wira pada Rika.
" Benar Pak Wira, orang itu sangat kasar. Dan telah melukai banyak penduduk desa. Dua orang hampir dia bunuh, jika tidak segera dibawa lari dari tempat pertempuran.” Ucap Rika dengan wajah jengkel, karena mengingat kejadian tadi sore.
" Terus kemana orang itu, Rika?" Wira semakin penasaran dengan cerita Rika.
" Temannya membawanya pergi. Sebelumnya mereka sempat bertarung, hingga merobohkan bagian belakang rumah warga, yang paling dekat dengan tempat bertarung.
" Teman? Tetapi mengapa mereka bertarung?" Wira semakin penasaran dengan cerita Rika.
" Saya juga tidak tahu, tetapi beruntung, temannya datang. Kalau tidak, mungkin kami sudah di bantai olehnya."
" Apa kalian tahu, siapa nama teman orang itu?"
" Kalau tidak salah, Bono memanggilnya Bos Wijaya." Rika menjawab setengah ragu.
" Wijaya?" Mendengar nama Wijaya, Wira seperti mendengar guntur di telinganya.
" Benar, Pak Wira." Kakek Rika membenarkan kata Rika.
" Ternyata dugaanku benar, Wijaya memang orang yang hebat. Kalian berhati-hatilah jika bertemu dengannya lagi.
" Apa Pak Wira mengenalnya?" Tanya Rika.
" Dia teman sekelasku, juga bersama Rani dan Tanu waktu SMA.
__ADS_1
Rika dan kakeknya saling memandang. Mereka tak menyangka, dalam satu kelas, banyak yang menjadi hebat.
......................