
Pagi-pagi sekali Wira datang ke Restorannya, setelah selesai bermeditasi di puncak bukit miliknya. Dia mulai mempersiapkan apa yang dibutuhkan untuk hari ini. Dia memeriksa laporan-laporan yang dikirim lewat admin keuangan.
Setelah selesai, Wira menghubungi supplier-supplier agar mengirimkan bahan yang dia butuhkan.
" Ah, semua sudah beres. Lebih baik aku istirahat sebentar." Ucap Wira sembari duduk bersandar di kursinya.
Tak berapa lama, dia tiba-tiba saja mempunyai inisiatif untuk membersihkan ruangan-ruangan serta meja dan kursi tamu.
" Kenapa jam enam lama sekali, baiknya aku bersih-bersih dulu. Sekali-kali Bos itu harus mau kerja keras. Lagi pula ini milikku, kotor dan bersih itu sudah menjadi tanggung jawabku. Kasihan, jika pelayan yang seharusnya melayani tamu saja, harus bersih-bersih dulu sebelum mengerjakan tugasnya."
Sambil berbicara sendiri, Wira mulai membersihkan restorannya. Untuk menemani aktivitasnya, Wira menyalakan siaran radio di chanel kesukaannya. Chanel yang setiap hari memutar lagu slow rock barat, tahun 80an hingga 90an.
Saat memutarkan lagu milik Richard marx yang berjudul "right here waiting ", Wira duduk di kursi kasir, lalu pikirannya melayang jauh terbawa oleh suasana dahulu, saat bersama mendiang istrinya.
Wira sangat menghayati lagunya. Dia teringat jelas, lagu itu adalah kenangannya bersama mendiang istrinya saat mengutarakan cintanya. Dan juga, istrinya sangat menyukai lagu itu. Salah satu alasan istrinya menerima cinta Wira adalah, karena Wira mampu menyanyikan lagu itu, dengan baik dan indah.
" Dinda, sudah berapa lama kita terpisah? Aku sangat rindu kepadamu. Aku ingin kita bisa bersama-sama lagi seperti dahulu.
Mendengar lagu ini, rasanya aku merasa, kamu masih ada di dunia ini. Lagu ini yang membuatku merasa bersemangat untuk menjalani hidup.
Dinda, apakah kamu bisa melihatku? Mengertilah, aku disini masih setia untukmu. Aku akan terus berjuang, hingga waktu menjemputku. Aku dan kamu akan bertemu lagi, bersama kedua anak kita.
Tuhan, aku masih sabar menunggu Engkau akan menjemputku. Tolonglah, beri aku kesempatan, agar kelak kalau aku mati, bisa bertemu dengan istri dan kedua anakku. Aku sangat merindukan mereka. Pertemukan kami di tempat yang terbaik yang Kamu miliki, Tuhan."
...****************...
Udara pagi yang sejuk dan lantunan lagu kesukaan Wira, membuat Wira tertidur.
Pukul 08.00, Fitri tiba di restoran Wira. Dia melihat Wira yang tertidur di kursi kasir. Fitri langsung meghampiri Bosnya itu lalu membangunkannya.
" Pak, Pak Wira.. Bangun Pak."
" Ha? Eh, Fitri.. Ada apa Fit?" Tanya Wira
" Saya hanya membangunkan Pak Wira saja. Tidak bermaksud lain."
" Oh, iya. Rupanya aku telah ketiduran. Maafkan aku Fit."
" Hehe, tidak apa-apa Pak. Pak Wira tidak salah. Ini kan tempatnya Pak Wira."
" Untung saja, kamu membangunkanku. Kalau tidak, pasti aku jadi bahan tertawaan orang-orang."
" Awalnya, saya takut Pak. Tapi saya beranikan diri untuk membangunkan Pak Wira."
" Hahaha.. Kenapa harus takut padaku Fit. Memangnya aku ini hantu?"
" Hehe.. bukan begitu Pak. Saya takut kalau mengganggu tidur Anda. Apalagi kalau baru beberapa menit tidur, sudah bangun lagi karena saya bangunkan.
__ADS_1
Saya juga begitu Pak. Kalau lagi enak tidur, terus ada yang membuat saya terbangun, pasti saya kesal sekali. Akhirnya, waktu yang seharusnya untuk istirahat, terbuang sia-sia karena saya marah-marah."
" Haha.. Aku tak suka marah-marah kok Fit, Marah itu tidak membuatku kenyang, tidak membuatku sehat, juga tak membuatku panjang umur. Malah kebalikannya. Makanya aku sekarang jarang sekali marah.."
" Ya, syukurlah kalau begitu Pak. O, iya Pak berarti hari ini buka kan Pak?"
" Iya Buka, Fit. Aku sudah memesan semua bahan yang dibutuhkan. Aku kira sebentar lagi bahan-bahannya akan segera tiba."
" Semoga saja begitu Pak. Ya sudah saya siap-siap dahulu Pak. Mau ganti baju."
" Silahkan Fit. Jangan ajak aku ya." Ucap Wira usil.
" Ah, Pak Wira ini, bisa saja. Seandainya saya mengajak Pak Wira, apa Pak Wira mau?"
" Fitri yang sepertinya polos, ternyata kalau dipancing, keluar juga tingkah nakalnya." Ucap Wira dalam hati.
" Haha.. Aku sudah tak nakal lagi Fit. Jangan membuatku bersemangat. Aku tak mau kalau sampai terjadi sesuatu, yang membuat kita menyesal."
" Pak Wira, apakah Pak Wira akan menyiakan kesempatan ini?" Pikiran gila Fitri mulai memuncak. Dia mendekatkan tubuhnya pada Wira. Rasa haus akan kasih sayang, pelukan dan belaian dari seorang laki-laki, sangat mengganggu jiwanya.
" Fit, apa yang kamu katakan? Jangan bicara aneh-aneh. Dan jangan ganti memancingku. Tadi aku hanya bercanda."
" Pak Wira lah yang salah karena telah membuat saya begini. Tolong Pak, sebentar saja. Mari kita lakukan berdua. Masih ada waktu sekitar setengah jam lagi untuk melakukannya."
" Fit, Fitri.. Jangan. Aku tak mau melakukannya. Sudah, cepat ganti bajumu dan bekerjalah dengan baik."
" Pak, saya sudah bersemangat. Ayo kita lakukan Pak." Fitri semakin mendekatkan tubuhnya pada Wira hingga bajunya menempel dengan baju Wira.
Karena tak melihat ke arah belakang, Wira tersandung kaki kursi. Dia terjatuh terduduk di kursi. Fitri yang tak menyangka Wira terjatuh, dia pun ikut terjatuh bersamaan dengan Wira.
" Buukk.." Tubuh Fitri menindih tubuh Wira.
Kedua pasang mata saling berhadapan. Wira dan Fitri terdiam. Perasaan mereka berkecamuk.
Fitri yang saat itu mengenakan rok pendek, saat terjatuh mengenai Wira, membuat pahanya terlihat.
Wira yang sudah terlalu puas dengan banyak wanita cantik, tak tertarik dengan Fitri meskipun Fitri menggodanya. Malah sebaliknya, dia memarahi Fitri.
" Fitri! Menyingkirlah!" Teriak Wira.
Fitri yang di marahi Wira, malah semakin lengket pada Wira. Dia mencoba memeluk Wira dengan erat.
Walaupun Wira sudah berkali-kali bermain dengan Wanita, namun gairahnya masih kuat membara. Lama kelamaan, Fitri mampu mempengaruhi Wira.
"Fitri! Hentikan! Stop! Kamu dengar tidak! Bodoh!" Wira mengumpat keras.
Namun Fitri tak mau melepaskan pelukannya. Dia duduk di pangkuan Wira dalam posisi berhadap-hadapan.
__ADS_1
Pada saat mereka saling ribut, Novi tiba dari arah gerbang masuk. Mendengar suara orang ribut, Novi berlari mencari suara tersebut. Sampai di ruang kasir, Novi melihat Wira dan Fitri sedang melakukan perbuatan yang tak senonoh.
" Oh, maaf Pak Wira saya telah mengganggu Anda." Setelah tahu, yang dilakukan Wira, Novi pergi menghindari mereka berdua.
" Novi, Nov. Jangan salah paham dulu. Aku dan Fitri tidak melakukan apa-apa. Percayalah padaku." Wira mendorong Fitri agar tak menindihnya lagi. Lalu mengejar Novi yang sudah menunggu di paviliun.
" Kenapa Pak? Sudah selesai? Anda belum saling membuka baju kan? Saya sarankan untuk melakukannya di dalam ruangan, agar tidak menimbulkan kecurigaan orang-orang." Ucap Novi dengan ketus.
" Novi, aku menolaknya melakukan itu. Kamu bisa lihat kan tadi. Aku berteriak-teriak memarahinya."
Novi percaya, Wira tak melakukan apa-apa dengan Fitri. Namun rasa kesalnya masih menguasai hatinya. Hingga dia terus berbicara dengan ketus.
" Novi! Sini kamu!" Panggil Wira pada Fitri.
Novi datang untuk memenuhi panggilan Wira.
" Maafkan saya Pak, saya terlalu terobsesi. Saya sangat malu Pak. Dan tak ingin mengulang kejadian tadi."
" Saya sudah peringatkan kamu Fit, tapi kamu malah terus mencoba memancingku."
Fitri hanya menunduk dan menggenggam tangannya.
" Fitri, jelaskan pada Novi kejadian yang sebenarnya. Aku tak mau Novi berprasangka buruk padaku."
" Maafkan saya Bu Manajer, saya khilaf. Tadi saya sempat menggoda Pak Wira. Saya benar-benar seperti dalam pengaruh alkohol. Yang saya rasakan, terasa nikmat sekali. Sekali lagi saya minta maaf atas kelancangan saya. Pak Wira orang yang baik, meskipun saya menggodanya, namun Beliau tidak tergoda sama sekali."
" Sudahlah Fit, aku tak tertarik dengan kata maafmu. Pak Wira, mulai hari ini saya mengajukan resign. Ini surat pengunduran diri saya."
Fitri terdiam, dia merasa sangat diabaikan oleh Novi. Dan sebaliknya, Wira tiba-tiba terkejut dengan ucapan Novi. Lalu Wira berkata,
" Novi, apa maksudmu? Kamu mau mengundurkan diri? Apa alasannya? Kenapa mendadak sekali?"
" Pak Wira, Anda tahu saya orangnya keras. Saya tidak pernah menarik ucapan saya."
" Nov, selama ini usahaku maju berkat kamu. Sekarang usaha kita sedang berkembang pesat, kenapa kamu mau meninggalkan kami?"
" Pak Wira, saya sudah terlalu lama ikut dengan Anda. Maju tidaknya usaha Anda, itu bukan karena saya. Saya hanya mengikuti arahan Anda. Saya tidak bisa bekerja tanpa perintah Anda. Kalau saat ini usaha restoran ini ramai pelanggan, itu karena berkat Anda sendiri bukan karena saya, Pak."
" Aku mohon, jangan mengundurkan diri Nov, apapun alasanmu, aku tidak akan menerimanya. Dan aku tak mengizinkan kamu meninggalkan restoran ini."
" Keputusan saya sudah bulat, maafkan saya Pak Wira. Saya mendoakan, semoga setelah kepergian saya, restoran ini tidak pernah sepi pengunjung. Selamat siang Pak, mohon pamit." Novi melangkah meninggalkan restoran.
Menyadari Novi akan pergi meninggalkan restoran, Wira meraih tangan Novi lalu mendekapnya.
" Novi, aku sudab berjanji tidak akan mengkhianati kesetiaanku pada istriku. Aku sangat mencintainya, tak ada yang bisa menggantikan posisi dia dihatiku.
Tetapi dia sudah pergi untuk selamanya. Sudah tak ada lagi yang tersisa darinya, selain kenangan-kenangan saja bersamanya. Tetap saja, aku selalu merasa kesepian Nov.
__ADS_1
Dan sekarang ini, mungkin hidupku lebih bermakna, lebih bergairah bukan karena istriku, namun karena kamu Nov. Kamu yang memberiku gagasan-gagasan yang hebat. Kamu yang selalu mengkritikku, yang selalu mengingatkanku atas kesalahan-kesalahanku. Novi, aku mohon tetaplah bersamaku."
Beberapa detik dipelukkan Wira, membuat Novi salah tingkah. Dia memaksa melepaskan pelukan Wira. Fitri yang saat itu berdiri di samping mereka, hanya bisa menunduk malu. Tak sanggup melihat kedekatan mereka.