
" Nah, makanannya sudah datang. Ayo, merapat kemari." ucap Harjo sembari meletakkan beberapa hidangan ke atas meja.
" Wah.. Kakek masak banyak ya, hari ini?" ucap Khalid sembari melirik-lirik makanan mana yang terlebih dahulu ingin dimakan.
" Iya..Alhamdulillah, Kakek dapat banyak rejeki. Makanya Kakek masak banyak. Kebetulan juga, kita kedatangan tamu dari jauh." ucap Harjo sambil tersenyum lalu terbatuk-batuk.
" Kakek, Kak Khalid, terima kasih banyak sudah mengizinkanku datang kemari. Aku juga diperbolehkan makan makanan yang enak disini."
" Sama-sama, Tama. Kami disini senang kedatangan tamu sepertimu."
" Terima kasih, Kakek."
Harjo menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ia lalu mengambil nasi, sayur dan lauk pauk untuk Tama. Sementara Khalid dibiarkan saja mengambil sendiri.
" Tama, ayo dimakan. Pilih saja makanan yang kamu suka." ucap Khalid.
Tama pun mengambil satu persatu makanan yang ada di meja. Ia makan dengan begitu cepat. Saking enaknya, ia lupa bahwa ia sedang makan di tempat orang dan hampir saja menghabiskan sebagian makanan yang tersaji.
Harjo dan Khalid hanya bisa menatap cara makan Tama, tanpa bisa menegurnya. Mereka bisa memaklumi dengan keadaan Tama.
Setelah Tama merasa kenyang, ia baru tersadar telah menghabiskan banyak makanan. Ia pun berhenti makan ketika sadar, Harjo dan Khalid sejak dari tadi melihatnya makan.
" Kakek, Kak Khalid..maafkan aku. Aku hampir saja menghabiskan semua makanan ini. Aku sudah lama tidak makan makanan enak." ucap Khalid sembari mengelap mulutnya yang belepotan akibat makan terlalu cepat.
" Tidak apa-apa, Tama. Kakek senang kalau makanan yang Kakek sediakan, langsung habis. Biasanya Kakek malah membuang makanan karena sudah basi. Kakek sudah tak makan banyak seperti dulu. Kakek juga tidak bisa memaksa Khalid untuk menghabiskan makanan yang Kakek sediakan setiap hari."
" Ia, Tama..tenang saja. Kami tidak marah kepadamu." ucap Khalid sembari menepuk pundak Tama.
" Terima kasih, Kakek, Kak Khalid. Aku janji kalau kesini lagi akan ku bawakan buah-buahan dan sayuran."
" Tidak usah, Tama. Lagipula kamu mendapatkannya darimana?" ucap Harjo.
" Di puncak Bukit, banyak sekali ditanami pohon buah dan sayuran. Aku setiap hari makan dari sana. Kakek jangan khawatir, aku tidak mencuri."
__ADS_1
" Ha? Siapa yang menanam buah dan sayuran disana, Tama? Apa kamu bisa menanam sendiri?" tanya Khalid penuh keheranan.
" Sebenarnya pohon buah dan sayuran disana, Ayahku yang menanamnya. Aku tidak tahu kalau aku tidak naik ke Puncak Bukit. Aku hanya berniat pergi untuk mencari makan dan mencoba keberuntungan dengan menaiki Bukit itu. Akhirnya aku sampai di atas, dan menemukan banyak buahan dan sayuran segar yang tumbuh dan berbuah. Lalu aku memanennya setiap hari."
" Buah apa yang tumbuh disana,Tama? Dan sayuran apa yang kamu petik? Bukankah sayuran itu tidak tumbuh lama. Lalu bagaimana kamu bisa makan buah dan sayut setiap hari?" tanya Harjo lagi.
" Banyak, Kek..ada buah mangga, buah pepaya, semangka, buah jambu, dan masih banyak lagi. Kalau sayuran, ada sayuran kangkung, sawi juga kol. Iya memang kalau sayuran, tidak bertahan lama. Aku menanamnya kembali kek."
" Kamu bisa menanam sayuran? Kapan kamu mulai bisa menanam?"
" Aku bisa, Kek.. Aku belajar dari Ayah. Semua yang bisa ku lakukan sampai saat ini karena aku mengingat semua yang pernah diajarkan oleh Ayah dan Ibuku. Ya, walaupun dengan susah payah."
" Kasihan sekali nasibmu, Tama. Aku sangat prihatin dengan keadaanmu. Tapi aku sangat senang kau selamat dan masih diberikan umur panjang hingga bertemu kami disini."
" Tidak apa-apa, Kakek. Aku sudah menjalani hidupku dengan susah payah. Mulai sekarang aku harus semangat berjuang. Aku akan mencari banyak teman agar aku tidak kesepian dan bisa berteman baik dengan semuanya."
" Tama, berapa umurmu sekarang?" tanya Harjo sembari menyeruput teh pahit kesukaannya.
" Kamu yakin sudah berusia tujuh tahun? Bagaimana kamu tahu kalau kamu sudah berusia tujuh tahun?" Khalid menyela pembicaraan Harjo dan Tama.
" Aku tahu... Aku melihat tanggal lahirku di kertas dalam almari rumahku."
" Memangnya, Kamu bisa membaca?" tanya Khalid setengah tidak percaya dengan kata-kata Tama.
" Aku bisa membaca, aku juga bisa menulis namaku dalam kertas." jawab Tama.
" Aku tidak menyangka bocah ini mempunyai kecerdasan yang luar biasa. Darimana dia mendapatkan semua itu, sementara dia hanyalah seorang diri. Pak Tanu, berbahagialah di sana. Putra Anda kini selamat dan dia telah tumbuh menjadi anak yang cerdas. Saya berjanji akan merawat dan membesarkannya." gumam Harjo dalam hati.
" Baiklah, Tama.. Kakek ingin menawarkan sesuatu kepadamu. Apa kamu mau menerima tawaran Kakek?"
" Tawaran? Tawaran apa, Kakek?" tanya Tama sembari menggaruk kepalanya.
" Apa kamu bersedia tinggal disini bersama kami? Kakek juga akan menyekolahkanmu. Apa kamu mau?"
__ADS_1
" Aku sangat senang, Kek. Tapi aku tidak bisa tinggal bersama kalian. Aku harus memberi makan ikan-ikanku setiap hari."
" Kamu memelihara ikan di rumahmu?"
" Iya, Kek. Ikan-ikan itu hadiah dari Ayahku. Sampai sekarang ikannya sudah banyak. Tapi ada beberapa yang sudah mati."
" Hahaha.. Kakek sangat bangga kepadamu, Tama. Kamu tumbuh dengan sangat baik. Kamu juga memperhatikan ikan-ikanmu juga. Ya sudah, Kakek tidak bisa berkata-kata lebih banyak lagi. Kamu memang anak ajaib, menurut Kakek."
" Terima kasih, Kek. Tapi aku ingin sekolah seperti Kakak-kakakku dulu. Aku ingin punya banyak teman."
" Baiklah, besok Kakek akan antar kamu ke sekolah. Kakek akan daftarlan kamu masuk sekolah."
" Asyikk.... Terima kasih, Kek." ucap Tama lalu memeluk Harjo.
" Sama-sama, Tama. Oh iya, bukankah rumahmu sudah dibakar. Lalu dimana kamu tinggal, Tama? Dan bagaimana kamu berlindung dari hujan dan teril matahari? Sebaiknya kamu tinggal bersama Kakek dan Khalid saja. Ya, walaupun rumahnya seperti ini, tapi lumayan bisa untuk berlindung."
" Aku tinggal di rumah rahasia, Kek. Malah, kalau tidak keberatan, Aku ingin Kakek dan Kak Khalid tinggal dirumahku."
" Rumah rahasia? Dimana itu?" tanya Khalid.
" Dibelakang rumahku yang terbakar. Rumah di bawah tanah, Kak."
" Jadi selama ini kamu tinggal di sana? Pantas saja kamu susah di temukan."
" Iya, Kak. Maafkan aku telah merepotkan banyak orang."
" Tidak apa-apa, Tama. Yang penting kamu selamat." ucap Khalid lalu mengelus-elus rambut Tama yang halus.
Matahari semakin meninggi, suasana di rumah dari bambu yang beratapkan daun kelapa menjadi ramai dengan kedatangan Tama. Tama menceritakan banyak hal kepada Harjo dan Khalid. Cerita sedih yang di katakan oleh Tama membuat hati Harjo sedih. Namun ia merasa bangga dengan kehebatan Tama yang mampu berjuang sendiri demi mempertahankan hidupnya.
Anak yang bernasib buruk karena ditinggal keluarganya, kini sudah tumbuh menjadi anak yang cerdas dan hebat. Berkali-kali Harjo memuji keberanian dan kepandaian yang ada pada diri Tama.
......................
__ADS_1