SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
Merasa Menjadi Lemah


__ADS_3

Usai Bara keluar dari ruangan, Bono segera masuk untuk menemui Tama. Dia tak sabar ingin melihat kondisi Tama. Namun Bara mencegatnya.


" Eitttt... mau kemana?" cegah Bara sembari menarik lengan Bono.


" Masih tanya.. tentu saja mau lihat kondisi Tama. Kan, sekarang giliranku." ucap Bono.


" Dia lagi tidur. Jangan diganggu dulu. Kasihan, diabutuh istirahat."


" Ah, beraninya kamu melarangku. Kalau kau boleh masuk, kenapa aku tak boleh. Sialan.."


" Tadi dia terbangun saat aku masuk dan memanggilnya. Tapi sekarang dia tidur lagi. Aku rasa dia sangat lelah. Tubuhnya sangat kurus. Aku tak kuasa melihatnya." ucap Bara sembari meneteskan air matanya.


" Apa?! Bukankah dia memang badannya kecil. Jangan mengada- ngada, Bar. Kamu pasti sengaja membohongiku agar aku tak bisa melihatnya, kan."


" Aku tak bercanda, Bono.. Tubuhnya memang kecil. Sudah kecil, sekarang dia tambah kecil. Kalau kau tak percaya, lihat saja sendiri. Tapi jika kamu tak kuat, segera keluar dan jangan mengeluarkan suara apapun."


" Ah.. Ngomong sama kamu berbelit-belit. Lebih baik aku meihatnya sendiri."


Bono pun masuk ke dalam ruangan. Ia kemudian terkejut menatap Tama yang terbaring di tempat tidur di rumah sakit.


" Tama... Kenapa kamu jadi begini, Nak. Paman sangat merasa bersalah. Paman menyesal membiarkanmu sendiri dan meninggalkanmu. Aku orang yang sangat bodoh." Ucap Bono dalam hati.


Ia meremas kedua tangannya, wajahnya memerah. Ingin rasanya dia berteriak. Namun ia tersadar, ia sedang berada di rumah sakit.


Bara menyusul masuk ke dalam. Ia khawatir Bono tak kuasa melihat Tama yang terbaring. Dan benar saja, saat dia masuk. Ia melihat Bono meremas kedua tangannya. Ia pun bergegas menarik lengan Bono dan membawanya keluar.


" Apa yang ingin kau lakukan, Bon! Aku sudah bilang padamu. Jika tak kuat, segera keluar. Kau itu belum begitu bisa mengendalikan emosimu. Jika kau mengamuk di dalam, tak hanya mengganggu Tama, tapi juga mengganggu seluruh penghuni rumah sakit ini."


" Ah, maafkan aku Bar. Aku hampir saja khilaf. Aku merasa sangat berdosa ketika melihatnya. Aku tak kuasa menahan penyesalanku."


" Sudahlah, tak ada gunanya menyalahkan diri sendiri. Sekarang yang terpenting, bagaimana caranya agar Tama segera sembuh. Dan kita pikirkan lagi bagiamana caranya untuk mencari pembunuh keluarga Pak Tanu. Dan lagi, siapa orang yang membakar rumah Pak Tanu."


" Kau benar, Bar. Aku akan meminta Dokter agar Tama segera di tangani dengan baik. Aku ingin dia cepat sembuh. Setelah itu aku akan mencari Wijaya. Pasti dia dalang di balik semua ini."


" Aku setuju, Bon. Kita akan cari sama-sama. Aku juga merasa tak terima ada orang yang tertindas hingga ajal sampai seperti itu."

__ADS_1


" Tidak, Bar.. Ilmumu itu belum seberapa. Lagipula setelah kau mengelola restoran Pak Wira, kau jarang berlatih, kan."


" Aku memang jarang berlatih, tapi aku masih kuat. Apa kau meragukan kemampuanku, Bon?"


" Hahaha.. Bukannya aku meragukanmu. Tapi Wijaya itu bukanlah Wijaya yang dulu. Sekarang dia makin kuat. Aku yakin dia menanam orang di berbagai tempat. Jika kau sudah pernah berhadapan dengannya, kau harus berhati-hati dimanapun kau berada. Bisa jadi ada orang yang mengawasimu."


" Apa kau bilang? Jangan-jangan itu kamu. Kamu kan, bekas anak buah setianya."


" Sembarangan... aku sudah tak sudi menjadi anak buahnya. Bertemu dengannya saja aku sudah muak. Ingin rasanya aku belah jadi tujuh, tubuhnya."


" Kau bilang mau mencarinya untuk membalaskan dendam. Kalau kau muak bertemu dengannya, bagaimana caranya kamu akan melakukan balas dendam. Aneh sekali.."


" Ahhh... Kamu ini memang pintar meneliti kesalahan orang. Sudahlah.. Aku sudah bilang padamu. Kau tak perlu mengurusi Wijaya. Biar aku yang mengurusnya."


" Apa kau sanggup bekerja sendirian? Kau bilang dia makin kuat. Lalu apa kau merasa dirimu tambah kuat, sekarang?"


" Aku tak tahu. Yang jelas aku ingin sekali bertarung dengannya. Aku ingin membalas kekalahanku waktu itu."


" Bon, dendam itu tidak baik. Apalagi kau ingin mencarinya sendirian. Siapa yang akan menjagamu kalau kau dikeroyok hingga babak belur. Siapa yang akan menolongmu?"


" Ehh.. Jangan... Jangan menakutiku. Aku takut dengan hal yang seperti itu."


" Halah.. Dasar penakut. Ya sudah kalau begitu aku akan melihat kondisi Bi Arti. Kau tunggu Tama. Jika dia bangun saat aku tak disini, tolong beritahu aku secepatnya."


" Baiklah.. Jangan khawatir. Aku pasti akan memberitahukan kepadamu kalau Tama sudah sadar nanti."


Bono pun meninggalkan Bara dan berjalan menuju ruangan lain untuk melihat keadaan Arti.


Di saat Ia hendak masuk ke ruangan၊, Bono terkejut karena melihat Khalid terduduk sendirian dan menangis tersedu-sedu di kursi ruang tunggu.


" Khalid.. ada apa? Kenapa kamu menangis?" Tanya Bono.


" Paman...." ucap Khalid sambil memeluk erat Bono.


" Tenanglah.. katakan apa yang terjadi, kenapa kamu menangis begitu?"

__ADS_1


" Ibuku kejang-kejang, tadi. Aku berteriak memanggil Paman, namun tak kunjung datang. Lalu aku bertemu suster dan memintanya untuk melihat kondisi Ibuku."


" Lalu, Ibumu masih ditangani Dokter?"


"Iya, Paman. Aku takut sekali. Aku takut kehilangan Ibuku. Aku hanya punya orang tua satu-satunya yang sampai saat ini menemaniku. Tolong, Paman.."


" Eh, apakah Dokter masih di dalam?" tanya Bono.


"Masih, Paman. Ada Dokter laki-laki dan tiga Dokter perempuan."


" Kalau begitu, tunggu mereka keluar. Lebih baik kita berdoa semoga Ibumu tidak kenapa-kenapa."


" Paman.. Aku takut. Aku tak mau kehilangan Ibuku. Lalu bagaimana aku tinggal. Siapa yang akan memberiku makan?"


" Tenanglah, Khalid... Jangan khawatir. Masih ada Paman disini. Jika kau butuh apa-apa, bilang saja sama Paman."


Khalid menganggukkan kepalanya lalu ia mengusap air matanya yang tak berhenti mengalir.


Sementara itu, Bono menelpon Bara untuk memberitahukan keadaan Arti.


" Bara.. ada kabar yang kurang mengenakkan. Bi Arti, kejang-kejang. Saat ini sedang dalam penanganan Dokter."


" Apa?! Kenapa bisa begitu?" Bara terkejut mendengar berita dari Bono.


" Aku juga tidak tahu. Saat aku tiba. Aku sudah melihat Khalid menangis sendirian di kursi ruang tunggu."


" Ah.. Bagaimana ini. Kalau begitu kau tunggu saja disitu. Biar aku yang disini menunggu Tama. Ku tunggu kabar selanjutnya darimu."


" Baiklah.. Jaga Tama yang benar. Jangan mengecewakanku, Bar."


" Beres, Bos.."


Bono menutup telponnya lalu mencoba melihat lebih dekat ke arah pintu masuk kamar Arti. Sekilas ia melihat bayangan dari pintu kaca kamar Arti, beberapa orang sedang berusaha menangani Arti.


" Ah.. Kenapa Dokter itu lama sekali. Apa yang sebenarnya terjadi. Kasihan anak itu. Aduh.. Kenapa aku harus menghadapi hidup yang seperti ini. Kenapa aku menjadi orang yang lemah dan merasa kasihan jika melihat penderitaan orang lain." ucap Bono dalam hati. Ia pun kemudian duduk disamping Khalid yang masih memegangi wajahnya karena masih tak kuasa menahan tangisnya.

__ADS_1


......................


__ADS_2