
Awan mendung pekat menyelimuti langit di atas Rumah Sakit. Seperti akan datang hujan lebat yang mengguyur seluruh kota. Di dalam ruang IGD,Vina dan Tasya menyiapkan barang - barangnya untuk dibawa pulang. Sementara Tanu dan Rani juga Tama sudah dahulu pulang karena Tama rewel.
" Sya buah apelnya jangan di masukkan kantong dulu. Mau aku makan. "pinta Vina pada Tasya yang sedang mengantongi buah -buahan.
" Owh okay... kamu butuh berapa Vin? tanya Tasya.
" Satu saja Sya.Tolong bersihkan terus kupasin juga ya Sya. Hehe.."
" Ehh.. manja bener nih anak, Padahal sudah nggak sakit. Hemm.." ucap Tasya sinis.
" Owh jadi gitu.. Tasya baiknya sama aku tu kalau pas sakit aja? " ucap Vina protes.
" Hehe enggak Vina ku sayang... Aku cuma bercanda. Jangan di masukkan ke hati. " Tasya menghibur Vina yang sepertinya hampir tersinggung karena ucapannya.
" Hemmhh.. Iya deh. Nggak akan ku masukkan ke hati, tapi ke kulkas biar beku ! " teriak Vina kesal.
" Hahaha... sudah bisa marah, berarti sudah sehat beneran nih. Syukurlah.. aku nggak khawatir lagi."
" Sudah.. mana Apelnya ? Lama banget sih.. "
" Sabarrr... Nih, tinggal makan aja rewel... "
" Tinggal melamun terus sih jadi lama kerjaannya." ucap Vina jengkel.
" Sudah , buruan makan sebelum kita di usir dari ruangan ini."
" Iiiyaaa... " Ucap Vina singkat lalu segera menggigit buah apelnya.
......................
Sementara itu di rumah Vina, Laki -laki bertubuh kekar, penuh tato di lengannya datang ke rumah Vina. Dia melihat di sekeliling rumah Vina. Seperti sedang mencari sesuatu.
" Vinn.. Viinna.. dimana kamu? " teriak lelaki bertubuh kekar yang ternyata adalah Papa Vina.
" Kemana nih bocah... Pagar rumah nggak di gembok, pintu nggak di kunci. Dasar bocah sembrono ! "
Sambil mengomel - ngomel, Papa Vina masuk ke dalam rumahnya. Dia mengamati sekeliling rumah. Tanganya menyentuh setiap barang yang ada.
" Hemhh... rumahnya masih sama seperti dulu. Vina memang pintar. Aku pun pasti tak sanggup merawat rumah ini sendiri" gumam Wijaya dalam hati.
__ADS_1
Sambil mengamati segala yang ada di lantai bawah, wijaya menaiki tangga ke lantai atas. Kamarnya saat masih seranjang berdua dengan istrinya masih terjaga. Dia memasukinya.
" Hemmh.. Istriku.. aku merindukanmu.. Di kamar ini aku jadi teringat saat kita selalu bersama. Tidur bersama, berdoa bersama, menonton TV bersama." ucap wijaya sambil menatap foto - foto kebersamaan dia bersama keluarga kecilnya yang terpajang di dinding kamarnya.
" Dinda.. bagaimana kabarmu di sana? Apakah Tuhan memberikanmu kehidupan yang lebih layak? ataukah sebaliknya? Maafkan aku, suami bodoh ini yang membiarkanmu pergi.. "
Tanpa disadari setelah berbicara dengan foto istrinya, Wijaya meneteskan air mata. Berkali - kali ia memejamkan matanya, dan mencoba melupakan semuanya. Namun usahanya selalu gagal. Ia tak bisa menghapus memori kenangan bersama istri dan anak-anaknya.
Tiba - tiba saja tubuhnya lemas seketika. Semakin dia ingin melupakan kenangannya, namun kenangan itu kembali muncul. Dan terus menerus memenuhi pikirannya. Hal ini membuatnya sakit kepala. Lalu dia mencari sebotol minuman keras di ranselnya. Lalu Wijaya meminumnya.
" Akkhhhh... sudah berapa botol aku mabok - mabokkan, tetapi semua tak ada yang bisa membuatku melupakanmu Dinda.. " ucap Wijaya dalam hatinya. Dia berjalan keluar melihat keadaan di luar. Berharap Putrinya pulang dan memeluknya.
Sambil minum, dia berdiri menunggu putrinya dan meletakkan kedua tangannya di atas pagar pembatas lantai atas. " Vina, Papa kangen kamu Nak... Di mana kamu ? Kok jam segini belum pulang sekolah? "
" Apa aku perlu mencarinya? Ahhh.. tidak.. tidakk... dia sudah dewasa, ku pikir dia bisa jaga dirinya sendiri. Kembali hati Wijaya bergumam sendiri.
Setelah menunggu beberapa lama, Wijaya merasa ingin ke toilet. Dia sudah tak bisa menahan kencingnya. Dengan berjalan senggoyoran, Wijaya pergi menuju toilet.
Sesampai di toilet, Wijaya menemukan baju seragam sekolah Vina yang tergantung di gantungan baju di dinding toilet.
" Hemhhh.. ini apa lagi.. seragam sekolah di gantungkan di toilet. Mana ini kotor lagi.. Kenapa nggak di cuci sekalian? Dinda.. lihat ini kelakuan Putrimu, sudah besar tapi dia tidak serajin dirimu. Dia masih perlu didikanmu Dinda. Kembali lah pada Kami. Kita perbaiki semua dari awal. Anak kita menbutuhkan sosok dirimu. Hanya kamu yang mampu merawatnya dan menjadikan mereka anak - anak yang berguna. " Ucap Wijaya, dan bergegas keluar dari toilet dan membawa seragam Vina keluar menuruni tangga dan hendak ke tempat pencucian pakaian di sebelah dapur.
Saat sampai di anak tangga ke tiga dari bawah, Vina dan Tasya masuk ke dalan rumah. Vina yang melihat Papanya pulang langsung berlari dan memeluk Wijaya.
" Iya Vina.. " jawab Wijaya singkat.
" Sejak kapan Papa pulang ke rumah ini? Kenapa nggak bilang - bilang dulu Pa kalau mau pulang? Tanya vina sambil terus memeluk tubuh Papanya yang sangat kekar.
" Sudah 50an menit yang lalu kalau nggak salah Vin."
" Hah... Sudah lama kalau begitu Yah?
" Yahh.. lumayan lama Vin.."
Tak disadari kepulangan Wijaya ke rumahnya membuat rasa rindu Vina terobati. Dia terus memeluk Papanya dengan erat tanpa melihat di sekelilingnya.
Tasya hanya diam melihat kedekatan di antara mereka. Ternyata Papa Vina masih mempunyai kasih sayang yang besar kepada Vina, meskipun dia membenci Vina.
Melihat Vina dan Papanya berpelukan terlalu lama, Tasya menjadi kurang nyaman, dia membunyikan bahasa isyarat andalannya agar semua orang memperhatikannya.
__ADS_1
" Ehhmm ehemmm.. ehemmm... " Tasya mendehem, berharap antara Vina dan Papanya mendengarkannya.
Wijaya yang mendengar itu langsung melepaskan pelukan Vina, lalu berkata " Owh iya Vin.. Siapa dia? tanya Wijaya penasaran.
"Itu Tasya , teman sekolah Vina Pa. Dia yang tadi ngantarin Vina ke Rumah sakit."
" Apa? kamu ke Rumah Sakit? ngapain Vin? Tanya Wijaya penasaran.
" Enggak kok Pa. Vina hanya kecapekan, terus Tasya membawa Vina ke Rumah Sakit. "
" Apa benar yang dikatakan anak saya Nak? " Tanya wijaya pada Tasya.
Dengan perasaan gugup Tasya menjawab pertanyaan Wijaya.
" I.. iiya Pak, eh Om.. " Dengan tampang sangarnya , dan badannya yang kekar membuat Tasya kebingungan harus memanggil Papa Vina dengan panggilan apa.
" Kamu nggak perlu takut padaku. Aku bukan pemakan orang. Kemari lah."
Mendengar kata Wijaya, Tasya menjadi lega. Dia mendekat kepada Wijaya.
" Namaku Wijaya, Aku Papanya Vina. Kamu bisa memanggilku Om. "
" E iya om.. " ucap Tasya singkat lalu bergegas mundur beberapa langkah dari Wijaya.
Entah mengapa saat didekat Wijaya, Tasya merasakan ketakutan yang besar. Semula ia lega mendengar kata - kata Wijaya yang membuatnya berani berbicara dengannya. Namun setelah mendekat kepadanya, Bulu kuduk Tasya berdiri. Dia seperti merasakan aura jahat di dalam diri Wijaya.
Vina yang melihat keanehan dalam diri Tasya, segera mendekatinya dan berkata,
" Tasya.. ada apa? " Tanya Vina penasaran.
" Emhh.. enggak Vin. nggak da apa-apa." jawab Tasya dengan bibir gemetar.
Wijaya yang melihat keanehan Tasya pun ikut bertanya pada Tasya.
" Kamu kenapa Nak? Apa ada yang aneh pada diriku? "
" Eh.. nggak ada Om, Emhh Tasya hanya.." Tasya kebingungan mau bicara apa. Sebenarnya dia sangat Takut pada Wijaya, namun dia tidak berani bicara jujur.
" Hemmhh... Ya sudah, Aku mau beristirahat dulu, badan ku sakit - sakit semua setelah perjalanan jauh. Tasya, anggap saja di sini seperti di rumahmu sendiri. Jangan sungkan, jika butuh sesuatu, bilang saja sama Vina. nanti aku akan mengantarkannya untukmu.
__ADS_1
" I iiya Om.. Baik, terima kasih Om." ucap Tasya gemetaran.
......................