SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
BERTEMU SAUDARA DARI JAUH


__ADS_3

Di puncak bukit barat, Novi sedang bersiap-siap untuk pergi ke kota asalnya. Dan untuk sementara, tinggal bersama Paman dan bibinya. Mereka berdua adalah adik dari Ibu Novi. Setelah beberapa bulan yang lalu menelusuri dimana asal usul Novi, mereka mendapat kabar dari tetangga, tempat Novi dulu tinggal.


Mereka menghubungi lewat nomer Hp Wira. Lalu mengatakan jika ada saudara Ibu Novi yang menanyakan tentang keluarganya. Beruntung, sebelum meninggalkan desa asal Novi, Wira sempat menitipkan nomer Hp kepada salah satu warga. Akhirnya tak berapa lama kemudian Paman dan Bibi Novi datang mencarinya.


Awalnya mereka tak tahu jika kedua orang tua Novi, sudah tiada. Mereka hanya tahu dimana Orang tua Novi tinggal, namun tak pernah tahu tentang keadaannya. Jarak yang memisahkan orang tua Novi dan saudara kandungnya membuat mereka tak pernah saling bertanya kabar. Paman dan Bibi Novi pun tak pernah mendatangi orang tua Novi, karena sibuk bekerja.


Dua puluh tahun membina rumah tangga, namun Paman dan Bibi Novi belum mempunyai anak. Segala usaha telah mereka capai, akan tetapi mereka juga tak kunjung mendapatkan momongan.


Hingga pada suatu malam, bibi Novi memimpikan Ibu Novi. Dalam mimpinya, ia menggendong seorang bayi. Setelah terbangun dari tidurnya, dia sangat merasa senang. Dia merasa akan memiliki anak. Dia yakin, meskipun saat itu dia belum hamil, namun mimpi itu mengubah keraguan yang ada dalam dirinya.


Ia pun menceritakan mimpinya pada suaminya. Lalu suaminya berpikir, mungkin dengan menemui orang tua Novi, mereka akan memiliki anak. Bibi Novi pun sependapat dengan suaminya. Lalu mereka memutuskan untuk mendatangi orang tua Novi.


Dua hari dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di depan rumah Novi, yang sekarang sudah menjadi milik orang lain. Ketika Bibi Novi bertanya tentang orang tua Novi, pemilik rumah lalu menanyakan hal itu pada tetangganya.


Beruntung, warga yang dulu mendapatkan titipan nomer Hp dari Wira, lewat dan bertanya pada Bibi Novi, menanyakan maksud kedatangan mereka.


Bibi Novi lalu menceritakan tujuan yang sebenarnya pada orang itu. Setelah tahu tujuannya mencari orang tua Novi, ia pun memberikan nomer Hp Wira. Agar menghubunginya.


Tak menunggu lama, Paman Novi langsung menelpon Wira. Dia menanyakan tentang Orang tua Novi. Namun Wira tak menjawab karena tak tahu apa-apa tentang orang tua Novi. Ia pun meminta Novi yang menjawab pertanyan dari Bibinya.


Dan pada akhirnya mereka saling bertemu. Mereka saling bercerita, saling bercanda. Banyak canda tawa diantara mereka. Membuat suasana di rumah Wira menjadi ramai.


" Pak Wira, apa Anda tidak apa-apa kalau saya tinggal sendiri? Kenapa tak ikut kami saja? Kami sudah lama tak bertemu, dan sekarang mereka ingin saya tinggal bersamanya. Pak Wira, apa Anda keberatan?"


" Tidak Novi, aku masih mendapat tugas dari adikku. Kau tahu nyawa mereka terancam. Aku tak bisa membiarkan ini terjadi. Jika kau mau tinggal bersama Paman dan Bibimu, berhati-hatilah. Jaga kesehatanmu dan jaga bayi kita."


" Iya Pak Wira. Saya janji akan menjaga dengan sebaik-baiknya. Pak Wira tak perlu khawatir. Novi kan, orang yang kuat."


" Iya, aku percaya padamu Novi. Baiklah kalau begitu pergilah. Saat semua sudah membaik, aku janji akan datang mengunjungi kalian sebelum anak kita dilahirkan."


" Anda benar berjanji? Kalau begitu saya tak khawatir lagi. Pak Wira juga jaga diri baik-baik. Jika ada apa-apa telpon saja Novi. Jangan sampai tak memberi kabar, ya."


" Iya, aku akan memberi kabar setiap waktu. Jangan khawatir." ucap Wira kemudian mencium kening dan perut Novi lalu memeluknya.

__ADS_1


" Nak Wira, kami pamit dulu. Terima kasih telah menjaga ponakan kami. Kami sangat beruntung bisa menemukannya. Kalau tidak, kami tak tahu harus mencari kemana lagi." ucap paman Novi lalu menyalami Wira dengan sangat lembut.


" Iya Paman, saya juga minta bantuan paman agar menjaganya dan menjaga anak saya yang masih dalam kandungannya. Jangan sampai mereka kenapa-kenapa."


" Aku berjanji akan menjaga mereka nak Wira. Jangan khawatir. Jika ada waktu longgar, segera saja susul kami."


" Baik Paman, mudah-mudahan semua masalah disini segera selesai. Saya juga tak ingin lama-lama berpisah dari istri saya."


Bibi Novi menyela pembicaraan Wira dan Paman Novi. Katanya, "wajar, jika pengantin baru itu saling berjauhan, maka akan timbul rindu yang sangat dalam."


" Hehehe.. pengalaman ya, Bi. Pasti dahulu, Paman dan Bibi jika sehari tak bertemu, rasanya sudah sangat rindu. Seperti ada yang kurang."


"Tepat sekali.. Pamanmu itu sudah seperti nyawa Bibi sendiri. Jangankan pergi ke kota lain, di belakang rumah saja Bibi rasa sudah seperti di tinggal pergi jauh."


" Hahaha.. memangnya apa yang dilakukan Paman di belakang rumah, Bi?"


" Biasa... mengurus hewan peliharaannya. Dulu Pamanmu punya banyak sekali hewan peliharaan. Tapi sekarang, semua sudah dijual."


" Kenapa dijual Paman? Wah, berarti sekarang rumah kalian sepi."


" Eh, maaf Bi. Bibi jangan bersedih. Sekarang kan, ada Novi dan calon anak saya. Jadi, rumah kalian takkan sepi lagi. Kalian nanti akan sangat sibuk." ucap Wira seraya menenangkan Bibi Novi.


Paman Novi pun tertunduk sedih. Ia juga merasa sangat sedih, tak bisa memberikan istrinya keturunan. Disaat istrinya bilang tak apa-apa tak memiliki anak. Paman Novi sedikit lega, ia bersyukur punya istri yang sabar dan tidak suka mengungkit-ungkit kesalahan. Namun hatinya teriris, disaat istrinya berkata pada orang lain, kalau hidupnya sepi karena tak mempunyai anak. Hati paman Novi remuk ketika beberapa kali Bibi Novi mengatakan kata sepi.


" Paman, bibi.. sudahlah. Jangan memikirkan tentang hal itu. Aku bersedia menjadi anak kalian, jangan bersedih. Itu akan membuat diantara kalian merasa bersalah dan saling menyalahkan. Cukup, hentikan kesedihan kalian. Novi ingin hidup ditengah-tengah kalian. Membahagiakan kalian. Aku tak ingin kalian terus memikirkan tentang itu." Ucap Novi, memecah kesedihan Paman dan Bibinya.


" Benar Paman, Bibi.. kalian tak perlu khawatir. Ponakanmu itu juga anak kalian, bayi dalam kandungan istriku sebentar lagi juga akan menjadi cucu kalian. Jangan khawatir, meskipun bukan anak kandung ataupun cucu kandung, kami akan selalu menyayangi kalian. Kalian tak perlu cemas."


" Iya, terima kasih banyak buat kalian. Tak sia-sia kami datang kemari. Awalnya kami khawatir tak menemukan siapapun disini. Dan kami memang sangat khawatir, ketika mendengar kabar kakakku dan suaminya sudah tiada. Bibi sangat syok. Eh, tak sengaja bertemu Ibu-ibu, yang ternyata memiliki informasi tentang keluarga kakakku. Akhirnya kami bisa sampai disini. Novi, yang dulu masih baru umur setahun sekarang sudah segini, sudh menikah dan sebentar lagi memiliki bayi. Bibi sangat senang."


" Bi.. jika Bibi selalu berdoa pada Tuhan, pasti doa Bibi akan dikabulkan. Jika Bibi terus bersedih, itu akan semakin membuat harapan Bibi semakin jauh. Tuhan tidak menyukai orang yang mengeluh. Mengeluh itu tanda orang yang kurang bersyukur."


" Hehe, kamu benar Wira. Bibi mungkin kurang bersyukur. Yah, sekarang Bibi hanya bisa ikhlas. Yang penting sekarang Bibi sudah bertemu keluarga Bibi."

__ADS_1


" Ya sudah Nak Wira, kami pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik." Ucap Paman Novi sembari menghidupkan mobilnya.


" Baik Paman.. Novi jaga dirimu dan anak kita baik-baik. Jangan terlalu mengkhawatirkanku. Aku tak ingin kamu banyak fikiran, dan mengganggu kesehatanmu. Aku tak ingin kalian kenapa-kenapa."


" Iya Pak Wira, Anda jangan khawatir pada saya. Saya akan selalu patuhi kata-kata Pak Wira." ucap Novi.


" Eh, Novi..sebentar." cegah Wira saat Novi akan menutup jendela mobil yang ia tumpangi.


" Ada apa Pak Wira? Sudah mulai kangen, ya?" Tanya Novi sambil tersenyum.


" Besok, ketika anak kita lahir aku ingin anak kita di beri nama Satriya Acala."


" Wah, Pak Wira sudah menyiapkan nama untuk anak kita. Saya malah belum terpikirkan untuk memberinya nama."


" Iya, aku sudah memikirkannya saat usia kandunganmu berumur tujuh bulan. Setelah tahu anak kita laki-laki, aku mencari nama yang cocok untuknya. Dan nama itu yang terpilih."


" Oh jadi begitu, baiklah. Sepertinya nama itu bagus sekali."


" Iya, ya sudah kalau begitu. Pergilah, jangan lupa baca doa."


" Iya Pak Wira, kami pergi dulu. Segera tuntaskan masalah disini. Kalau semua sudah beres, tengok saya dan anak kita. Anak kita menunggu kedatangan Ayahnya."


" Jangan khawatir.. Yang penting jaga dirimu dan anak kita. Aku tak ingin anak kita kenapa-kenapa. Jaga makannya, jangan sampai telat. Jangan terlalu capek juga."


" Siap Bos, hehehe.." ucap Novi sambil tertawa.


Mobil yang dikemudikan Paman Novi pun melaju membawa Istrinya dan Novi. Mereka akan kembali ke rumahnya dan membawa Novi untuk tinggal bersamanya.


Setelah kepergian Novi, Wira kembali merasa cemas. Bukan karena khawatir tentang Novi, namun tentang dirinya sendiri. Dia merasa ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.


Kemudian Wira duduk bersandar di kursi di teras depan rumahnya. Dia mencoba menenangkan dirinya dengan memperbanyak doa. Namun semakin ia berdoa, ketenangan dirinya semakin berkurang. Dia tak mampu mengendalikan gejolak dalam dirinya.


" Akhh.. kenapa dengan diriku, baru kali ini aku merasakan tubuhku seperti ini. Seperti sakit tapi tidak sakit. Kemana aku harus mengambil langkah?" Keluh Wira, lalu dia memutuskan untuk berjalan masuk kerumahnya. Dan tak berapa lama kemudian, dia terhuyung lalu jatuh pingsan di sofa ruang tengah.

__ADS_1


Mimpi yang Wira alami akhir-akhir ini. Lalu cerita dari mimpi Tanu dan Rani yang hampir sama, membuat Wira berpikir keras. Apa sebenarnya maksud dari semua itu.


......................


__ADS_2