SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
KEMATIAN BULAN


__ADS_3

Wijaya mendekati Tanu. Ia memaksa Tanu untuk berdiri dan melihat lebih dekat mayat-mayat yang bergelimpangan di halaman rumah Tanu.


" Tanu.. apa kau lihat? kedua anak laki-lakimu mati. Istrimu juga mati, Tanu. Apa kau sudah merasa sakit hati?" Hahaha.."


" Wijaya.. Kau memang Iblis! Kelak kau akan merasakan hal yang sama denganku!" ucap Tanu lirih.


" Oh, kau masih sanggup bicara? Hahaha.. Tanu, siapa yang akan memperlakukanku seperti apa yang ku lakukan kepadamu? Akulah orang yang terkuat di dunia ini, tak ada yang bisa mengalahkanku!"


" Pasti akan ada yang akan mengalahkanmu, Wijaya! Kau akan mati dengan cara yang sama!"


" Hahaha.. jangan bermimpi, Tanu. Aku takkan membiarkan itu terjadi.


Wijaya tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Tanu yang seolah mengutuknya. Tapi bagi Wijaya, ucapan Tanu hanyalah ocehan orang yang sudah sekarat. Ia tidak takut tentang hal itu.


...----------------...


" Reza, bagiku kau lebih kejam daripada Tuan Wijaya. Aku tak akan memaafkan semua perbuatanmu!"


" Hahaha.. Kau hanya belum tahu saja kekejaman Bosku, Gus.. Lalu kau mau apa jika aku lebih kejam dari Bosku?"


" Tentu saja aku akan menghentikanmu! Kau memang Ba****an! Kau tak pantas hidup di dunia ini!"


" Hahaha... justru seorang Ba****an sepertiku malah lebih memiliki usia yang panjang dibanding dengan orang baik sepertimu, Bagus."


" Terserah kau mau ngomong apa. Kau harus menebus segala perbuatan yang telah kau lakukan, pada keluarga Pak Tanu!"


" Haha.. kau ini kenapa? Kau ingin menjadi Pahlawan bagi orang itu? Tapi jika kau mau, Aku akan mengalah untukmu. Jika kau bisa mengalakanku dalam tiga pukulan, aku tak akan mengeluarkan ilmu kesaktianku. Tapi jika ka tak bisa mengalahkanku dalam tiga pukulan, aku akan membunuhmu langsung dengan jurus andalanku."


" Baiklah, kau harus berjanji. Jika aku bisa mengalahkanmu dalam tiga pukulan, kau tak akan mengeluarkan jurusmu."


" Baik, aku berjanji." ucap Reza.


Bagus kemudian memusatkan tenaganya. Ia bersiap untuk menyerang. Kali ini Bagus lebih cepat dalam menyerang Reza. Dan dengan tiga pukulan yang mengenai Reza, Bagus mampu menjatuhkannya.


" Prok prok prok.." suara tepuk tangan Reza.Ia kagum pada kehebatan Bagus. Ternyata lawannya tidak bisa ia remehkan.


" Kau memang hebat, Mas Bagus. Kau pantas disebut sebagai pahlawan bagi orang itu. Hahaha.."


" Jadi, apa kau akan menepati janjimu, Reza?"


" Oh, tunggu dulu. Aku memang tak akan mengeluarkan jurus andalanku jika kau berhasil memukulku dengan tiga pukulan. Tapi, aku belum selesai bicara. Jika kau berhasil memukulku tiga kali dan aku kalah, aku tak akan mengeluarkan jurus andalanku. Tapi, jika kau terus memukulku hingga berulang kali, aku tak akan segan mengeluarkan jurus andalanku, Mas Bagus."

__ADS_1


" Kau memang biadab, Reza! Persetan dengan kata-katamu. Aku akan tetap menyerangmu meskipun nyawaku, taruhannya!"


" Hahaha.. kau sungguh ngotot, mas Bagus. Baiklah, ayo serang aku lagi. Kali ini aku tak akan kalah."


" Celaka, orang ini jika bertarung dengan tangan kosong, aku lah yang menang. Tapi dia mempunyai ilmu yang sangat mengerikan. Bisa-bisa aku mati dengan tubuh hangus." gumam Bagus dalam hati.


" Ada apa, Mas Bagus? apa kau sudah ingin menyerah? Menyerahlah dan tinggalkan tempat ini jika kau sayang dengan nyawamu." ucap Reza, setengah meremehkan Bagus.


" Aku tak takut padamu, Za. Kalah atau menang aku tak akan pernah mundur. Apalagi disini masih ada orang yang bisa aku selamatkan."


" Siapa yang kau maksud? Tanu atau gadis itu? Tanu sebentar lagi akan mati. Jika dia kena mental, ketika aku menyetubuhi gadis itu pastinya dia akan langsung mati terkena serangan jantung. Hahaha.."


" Aku tak akan membiarkan kau menyentuh gadis itu, Reza!"


" Hahaha.. apa kau menyukainya? Kenapa kau keberatan sekali jika aku akan melakukan sesuatu dengannya."


" Itu bukan urusanmu! Yang penting aku tak akan membiarkanmu mendekatinya!"


" Reza.. biar Bagus aku yang urus. Gadis itu milikmu. Menjauhlah darinya." Wijaya menyela pertarungan Reza dan Bagus dan menyuruh Bagus untuk menghentikan pertarungannya.


" Baik, Bos. Saya beruntung. Saya sudah berjanji padanya jika ia bisa mengalahkan saya hanya dengan tiga pukulan, saya tak akan menggunakan jurus andalan saya."


" Kalian memang biadab! Percuma aku bicara dengan kalian! Ayo.. kalian berdua, hadapi aku!"


" Hahaha.. apa yang kau sombongkan, Gus? melawan satu orang saja kau tak bisa. Apalagi mau melawan kami berdua." ucap Wijaya sembari tertawa lepas.


" Ahh...persetan dengan itu semua! Biarpun aku mati, kematianku tak akan sia-sia! Ayo majulah kalian berdua!"


" Bagus! aku sendiri yang akan melawanmu! Aku akan memberimu pelajaran yang sangat berharga di hidupmu. Bersiaplah!"


" Tidak, Wijaya! Aku tetap akan melawan kalian berdua!"


" Kurang ajar! keras kepala! Reza... ayo serang dia!" Wijaya menjadi murka mendengar kata-kata Bagus. Ia lalu menyuruh Reza untuk menghajarnya bersama-sama.


Kemampuan Bagus yang tak seberapa, membuat Bagus sangat kewalahan menghadapi serangan Wijaya dan Reza. Ia merasakan tubuhnya sangat lemah. Reza mengikat kedua lengan Bagus dan Wijaya menghajarnya secara membabi buta.


Bulan yang melihat kejadian itu, berteriak keras.


" Hentikaaannn!!! Dia sudah tak berdaya, jangan dipukuli lagi! Aku mohon." Pinta Bulan sambil menangis.


" Hahaha.. ternyata masih ada juga yang peduli dengan nyawamu, Gus. Reza.. lepaskan dia."

__ADS_1


Reza melepas Bagus dan membiarkannya tersungkur ke tanah.


Tubuh Bagus terasa sangat berat. Wajahnya memar-memar. Kedua matanya tak mampu melihat dengan jelas karena pelipisnya mengalirkan darah yang menetes hingga menggenangi kedua matanya. Namun jiwanya masih kuat. Ia tak ingin mati sebelum menyelamatkan salah satu keturunan Tanu, agar kelak bisa membalaskan dendamnya, kepada Wijaya ataupun Reza.


" Bulan, apa kau menyukainya? Kenapa kau melarang kami membunuhnya?" tanya Reza sembari mendekati Bulan.


" Aku tak menyukai siapapun! Aku masih kecil, nggak ingin memikirkan sesuatu tentang orang dewasa. Aku hanya ingin kalian membiarkannya bebas. Jangan libatkan dia dalam urusan keluarga kami."


" Hahaha.. Bulan, dia sendiri yang menginginkannya. Apa kami salah?"


" Iya.. kalian salah. Kalian bersalah telah mengganggu kebahagiaan orang lain!"


" Reza.. tak perlu berlama-lama, lakukan yang ingin kau lakukan." Perintah Wijaya pada Reza.


" Baik, Bos. Ayo Bulan.. kau harus ikut aku. Ayo masuk kedalam kamarmu. Tunjukkan mana kamarmu dan aku akan menjadikanmu seperti istriku."


" Aku tidak mau! jangan lakukan itu padaku!" teriak Bulan ketika Reza berusaha meraih tangannya dan berusaha menyeretnya masuk ke dalam rumahnya.


" Ayo! jangan membantah! Apa kau sudah bosan hidup?!" bentak Reza.


" Aku tidak mau! Ihhh..." Bulan berusaha menolak Reza. Ia lalu menggigit jari tangan Reza hingga putus.


" Akkkkhhhh...." teriak Reza ketika ia mendapati jari kanannya putus oleh gigitan Bulan.


Reza menjadi murka. Ia menjadi hilang kendali. Ia kemudian menampar pipi Bulan dengan sangat keras. Hingga membuat Bulan terlempar dan terbanting dengan sangat keras ke dinding rumahnya, dan jatuh ke lantai.


Saat itu Tama sudah berdiri di depan jendela dan membawa Rama yang masih tertidur dengan pulas. Ia melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri, Kakak perempuannya meregang nyawa dihadapannya.


Ia menangis tersedu. Ia tak tahu kenapa ia menangis, namun ia tahu ia merasa Kakak perempuannya merasakan sakit akibat ditampar oleh Reza. Namun Tama tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menangis tersedu dan terus menatap ke luar jendela.


" Reza! kau telah membunuhnya juga!" teriak Bagus namun tak memiliki suara.


" Hahaha... apa yang kau katakan, Gus? Aku tak mendengarnya." Ucap Reza sembari tertawa. Ia lalu dengan segera menutup lukanya dengan kain yang ia dapatkan dengan merobek bajunya.


...----------------...


Kematian Bulan sangat membuat hati Tanu terpukul. Ia menangis menjadi-jadi. Namun tubuhnya yang seperti telah kehilangan hampir seluruh nyawanya tak bisa melakukan apa-apa.


" Kalian memang iblis! Kelak kalian akan merasakan balasan yang setimpal dengan apa yang telah kalian lakukan terhadap kami! Putraku, Tama.. pergilah.. menjauhlah. Selamatkan dirimu. Jadilah besar dan balaskan dendam atas kematian semua anggota keluargamu." ucap Tanu dalam hati.


......................

__ADS_1


__ADS_2