
Kini keinginan Tama untuk mendirikan kembali rumahnya telah terwujud. Hanya butuh waktu satu bulan saja, rumahnya yang dulu hancur, kini berdiri kembali. Semua berkat bantuan Novi. Restoran miliknya yang telah mempunyai banyak cabang memberinya penghasilan tinggi. Ia sampai kewalahan dalam menyimpan uangnya.
Saat Tama menelponnya, ia pun langsung setuju dengan apa yang diinginkan Tama. Ia pun mengambil uang tabungannya dan membelanjakan semua yang dibutuhkan Tama.
Setelah semua lengkap dan bisa di tinggali, Tama mulai mengisi rumahnya dengan beberapa perabotan rumah. Ia juga membeli alat-alat fitnes untuk membentuk tubuhnya.
Sementara rumah rahasia yang berada di belakang, ia gunakan untuk melatih kemampuan bela diri untuk dirinya sendiri.
" Kak, sekarang semua sudah lengkap. Kita punya alat-alat untuk membentuk tubuh kita. Disini lah tempatnya, kita akan menyusun kekuatan. Kita tinggal mencari orang yang bisa membantu kita." ucap Tama pada Khalid yang sedang duduk di bawah pohon mangga, sedikit menjauh dari Tama.
" Kamu benar, Tama. Ini semua berkat bantuan Bibi Novi. Tanpa dia, kita tak mungkin bisa mewujudkan keinginan kita. Tentang mencari orang, itu tidak mudah. Kita harus pandai-pandai merayu dan meyakinkan mereka. Pertama, kita akan cari orang-orang yang tak suka dengan penjahat itu."
" Lalu bagaimana kita mengetahui jika orang itu tak suka dengan Penjahat itu, kak?"
" Penjahat itu bertindak semaunya hampir di seluruh negeri. Mereka mempunya komplotan yang besar dan tersembunyi. Mereka juga menjunjung tinggi sebuah kesetiaan kepada Pemimpinnya. Untuk mencari orang yang akan kita jadikan sekutu kita, kita harus bisa banyak-banyak berbaur dengan masyarakat."
" Jadi, kita harus berkumpul dan menanyai mereka satu persatu, Kak?"
" Bukan begitu.. Maksudku, kita berbaur dengan masyarakat. Pasti disaat tertentu, mereka pasti sedang membicarakan sesuatu. Dan kemungkinan, dari sekian pembicaraan mereka, pasti ada satu pembicaraan tentang Si Penjahat itu. Ah..pokoknya, kita pasti akan mendapat celah untuk mengajak mereka bergabung dengan kita."
" Aku masih belum mengerti.." ucap Tama dengan polosnya.
" Aduh... Aku tak bisa menjelaskan panjang lebarnya. Yang penting, kita akan bertindak bersama. Kamu lebih baik mengikuti arahanku saja." ucap Khalid sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Iya.. Baik, Kak."
__ADS_1
...----------------...
Sore hari saat sekolah libur, Khalid dan Tama memanfaatkan waktunya untuk memindah barang-barang mereka dari kos, menuju Lereng Puncak Bukit. Mereka menyewa mobil angkutan untuk membawa barang-barang mereka.
Hingga hari menjelang maghrib, semua barang-barang dari kos sudah tiba di rumah baru mereka di Lereng Puncak Bukit.
Rasa lega terpancar di wajah Khalid dan Tama. Ia kemudian berkata pada Tama yang sedang berulang kali menghapus keringat di wajahnya.
" Tama, aku lega sekarang kita bisa memiliki rumah sendiri. Kita tak perlu lagi repot-repot memikirkan beaya kos yang setiap tahun melonjak. Aku sangat berterima kasih kepadamu, Tama. Berkat kamu, aku sekarang masih diberikan rejeki. Coba saja kalau aku tak bertemu denganmu, entah sampai kapan aku akan hidup sendiri dalam kekurangan."
Mendengar kata Khalid, Tama menjadi tersenyum. Ia tak tahu harus berkata apa. Sebenarnya selama ini, Khalid lah yang melindungi dirinya. Ia juga yang selama ini membantu dan tumbuh besar berkat Khalid.
" Kak, tak perlu berterima kasih kepadaku. Kakak telah banyak membantuku. Kakak juga telah melindungi dan menjagaku hingga aku segede sekarang ini. Jadi apa yang kakak dapat hari ini, adalah karena perjuangan Kakak selama ini."
" Hehe.. Sudahlah, Kak. Kejadian pada masa lalu. Jangan diingat-ingat lagi. Lagi pula, orang-orang yang dulu jahil kepadaku, sekarang menjadi teman-teman baikku. Mereka sudah tak ada masalah denganku, Kak. Daripada memikirkan masalah itu, mending kita makan dulu. Aku sudah lapar."
" Hahaha.. Kenapa tak bilang dari tadi. Aku juga sudah lapar. Sebentar, aku akan ambilkan piring dan sendok dulu."
" Untuk apa, Kak?"
" Untuk makan.. Untuk apa lagi?"
" Tak perlu. Aku makan pakai tangan saja. Kakak ambil minum saja."
" Haha..baiklah. Aku akan ambilkan minumnya."
__ADS_1
Kedua bocah kakak beradik yang tak mempunyai hubungan darah itu menyantap makanan bersama di depan rumah baru mereka. Setelah perjuangan beberapa tahun lamanya, mereka mengarungi hidup bersama yang penuh dengan sesuatu yang pahit. Kini mereka berhasil melaluinya dengan baik. Canda tawa diantara mereka berdua, seakan menghilangkan semua kesedihan yang telah melekat di diri mereka.
...----------------...
Usai memanjakan perut mereka dengan makanan lezat, Khalid tiba-tiba kembali mengatakan tentang rencana untuk balas dendam. Namun Tama seakan tak menyukai arah pembicaraan Khalid. Tama sebenarnya ingin sekali menikmati hidupnya sekarang, tanpa balas dendam. Ia merasa hidup lebih tenang dengan tanpa memikirkan beban. Apalagi beban balas dendam atas tewasnya keluarganya. Namun ia tahu, apa yang ia lakukan selama ini memang untuk balas dendam. Akhirnya, dia pun menanggapi kata-kata Khalid dengan sedikit cuek.
" Kak, bahas itu besok saja. Aku ingin kepalaku biar tenang dulu. Aku tidak bisa memenuhi isi kepalaku dengan dendam. Bukankah, aku harus banyak belajar agar aku bisa menjadi lebih pintar dari sekarang." ucap Tama lalu menyandarkan tubuhnya pada dinding di teras rumah.
Khalid terkejut mendengar ucapan Tama. Ia merasa Tama tak suka dengan kata-kata yang barusaja ia katakan. Ia pun berdehem lalu meminta maaf pada Tama.
Tama hanya mengangguk lalu tak berkata lagi. Matanya mulai menyipit kala angin sepoi pada sore hari menerpa matanya. Tak lama kemudian ia pun tertidur.
Khalid menggelengkan kepalanya. Ia heran dengan sikap Tama. Baru kali ini ia tak mau membahas tentang langkah selanjutnya, untuk rencana balas dendam pada Bos mafia dan antek-anteknya.
Namun ia bisa mengerti dengan sikap Tama. Ia pun memilih diam dan menjauh dari Tama, lalu ke depan halaman untuk mengamati di sekitar Bukit.
" Ah..aku juga perlu menenangkan pikiranku. Aku juga tak mau diriku terbebani oleh dendam. Hidupku lebih bebas, dengan tanpa menyimpan dendam pada siapapun. Tapi, bagaimana dengan Ibuku yang telah meninggal, Aku masih tak terima dengan kejadian itu." gumam Khalid.
Ia kemudian mengambil pecahan batu kecil lalu melemparnya ke atas bukit. Meskipun ia tahu itu perbuatan yang tak berguna, namun karena itu ia menemukan ide untuk naik ke atas bukit. Tanpa berpikir panjang, Ia berjalan menapaki jalan setapak di samping rumah lalu perlahan dia menaiki jalan yang mulai menanjak.
Beberapa saat kemudian ia tiba di sebuah gubuk kecil di Puncak Bukit. Ia kemudian duduk sembari memandangi langit barat dan Matahari yang sebentar lagi akan tenggelam.
Sementara itu, Tama yang sudah tertidur pulas tak mengetahui kalau Khalid sudah tak berada di dekatnya. Ia malah semakin terlelap didalam tidurnya ketika angin sore yang mulai dingin, bertiup dan menerpa tubuhnya.
......................
__ADS_1