
" Ahh, dimana letak warungnya? Apa aku harus berpenampilan seperti ini?" Bono mencoba menyeberangi jalanan sepi lalu berjalan menyusur ke utara.
" Itu dia warungnya. Syukurlah aku menemukannya." Bono lega, dia menemukan warung makan yang dia cari.
" Pak.." Panggil Bono setelah bertemu dengan penjual makanan di warung itu.
Penjual dan para pembeli merasa ketakutan karena pakaian Bono yang sobek-sobek. Dan darah kering menempel di bajunya.
" Eh, maaf. Mas ini darimana, kenapa bajunya sobek-sobek dan banyak bercak darah di baju mas." Tanya penjual pada Bono.
Bono kebingungan harus menjawab apa dengan pemilik warung itu, dan akhirnya hanya terdiam dan tak bicara.
Semua orang menggelengkan kepala melihat Bono. Namun mereka tak berani mendekat ataupun mengajak Bono bicara.
" Kamu tak perlu bertanya apa-apa padaku, Pak tua. Aku kemari hanya untuk mengambil makananku, yang dipesan oleh orang yang bernama, Wijaya."
" Oh, baiklah. Maafkan saya Tuan. Saya akan mengambilkan pesanan Tuan." Ucap pemilik warung setelah Bono menyebut nama Wijaya. Dia kemudian merasa jantungnya berdegup kencang teringat dengan Wijaya yang belum lama ini datang ke warungnya.
" Cepat pak tua, aku buru-buru. Dan aku juga sudah sangat lapar!" Suruh Bono sambil menggebrak meja didepannya.
Seorang Pemuda berbadan besar dan sepertinya pandai bela diri, menegur Bono.
" Mas, jangan membentak-bentak orang tua. Orang tua ini ibarat seperti orang tuamu sendiri. Dia juga memiliki anak. Bagaimana perasaanmu kalau orang tuamu dibentak oleh orang lain?"
" Kamu siapa?Jangan sok jadi pahlawan! Aku minta maaf jika aku salah, kamu tak perlu mengguruiku!"
" Aku hanya mampir di warung ini. Aku pendatang dari jauh mas. Aku tidak mengguruimu, aku hanya menasehati saja. Kasihan Bapak itu, dia sudah tua dan masih kamu bentak-bentak."
" Cukup! Pergi sana! Jangan menampakkan wajahmu di hadapanku atau?" Bono berhenti berbicara, tak ingin meneruskan perkataannya.
" Atau apa?" Tanya Pemuda sembari mendekati Bono dan membusungkan dadanya.
" Atau aku akan menghajarmu! Hyaaat!!!" Bono meninju si Pemuda dengan pelan, namun mampu membuatnya melayang dan terlempar jauh hingga ke luar warung.
Melihat itu seisi warung berlari pontang panting agar tidak terkena imbas dari amukkan Bono. Namun pemilik warung yang sudah tua, hanya bisa pasrah. Untuk berlari sudah tidak mungkin. Dia hanya tertunduk diam dan menanti Bono menghampirinya.
Bono melangkah ke tempat Pak tua berdiri.
" Pak Tua, maafkan aku. Melihatmu aku seperti melihat orang tuaku. Dimana Pak Tua makananku?"
" Ini Tuan, tidak apa-apa. Wajar saja kalau orang muda sepertimu mudah tersulut emosinya. Saya sebagai orang tua tidak berani berkata apa-apa. Biasanya orang seperti Tuan akan sadar dengan sendirinya saat Tuan merasakan kesesihan di dalam kesendirian. Di saat itu orang akan mudah mengambil hati Tuan. Namun saat ini, Tuan tidak seperti itu, saya tidak bisa memberi nasehat apapun."
" Ya sudah Pak Tua, aku pergi dulu. Terima kasih makanannya."
__ADS_1
" Iya Tuan, Oh ini uangnya Tuan Wijaya masih sisa banyak Tuan. Saya tidak berani menerimanya. Sementara Tuan hnya habis duapuluh ribu. Tuan Wijaya menitipkan pada saya dua puluh juta."
" Pak Tua, uang itu untukmu. Itu bukan sekedar dittipkan. Ambillah dan gunakan baik-baik."
" Tapi Tuan, saya tidak berhak mendapatkannya. Saya hanya mau mendapatkan uang dengan hasil kerja keras saya sendiri meskipun sedikit. Saya takut uang ini hasil.." Pak Tua hampir saja keceplosan berbicara, ketika sadar ia menghentikan perkataannya.
" Pak Tua, kami ini penjahat. Tapi uang ini bukan hasil merampok atau dari hasil kejahatan. Kami mempunyai usaha yang bersih dari dosa selain dari hasil kejahatan kami."
" Tapi Tuan, saya.."
" Pak Tua, terimalah. Kalau tidak uang ini akum ambil kembali namun warungmu ini akan ku hancurkan."
" Oh jangan, jangan Tuan.. Baiklah, saya akan menerima uang ini. Jika memang ini bersih, bolehkah saya membagi sedikit untuk anak yang kurang mampu?"
" Terserah kau saja Pak Tua, uang itu sudah menjadi hak kamu. Mau kamu apakan uang itu, ya terserah kamu. Aku tidak akan sampai hati, untuk mempertanyakannya."
" Terimakasih Tuan. Kebaikkan Tuan tidak akan pernah saya lupakan. Sekali lagi, sampaikan terima kasih saya kepada Tuan Wijaya juga, Tuan."
" Pasti akan saya sampaikan. Selamat tinggal Pak Tua. Oh ada yang saya butuhkan padamu pak Tua. Bisakah kamu memberiku korek, atau alat penerang?"
" Untuk apa Tuan?"
" Aku bersembunyi di hutan untuk menghindari musuhku. Jika aku berjalan malam begini, aku kesulitan melihat. Berikan aku penerang apa saja."
" Bagus, itu mempermudah jalanku Pak Tua. Baiklah kalau begitu, mana senternya?"
" Sebentar, saya ambilkan dahulu." Ucap Pak Tua lalu pergi ke belakang untuk mengambil senter kecil yang dia taruh di meja tempat dia menerima uang pembayaran.
" Ini Tuan." Pak Tua memberikan senter miliknya pada Bono.
" Baiklah, terima kasih Pak Tua. Aku pergi dulu. Ini uangku untuk beli senter lagi." Bono memberikan sepuluh lembar uang pecahan lima puluh ribuan pada Pak Tua.
" Tidak Tuan, uang pemberian Tuan Wijaya sudah cukup untuk membeli senter lagi. Tuan tak perlu memberi lagi. Saya tidak mau menerimanya. Bagi saya uang segitu terlalu banyak. Lagipula saya buka warung hanya untuk menyambung hidup. Untuk sekedar mengisi hidup. Saya sudah tidak memerlukan uang yang berlimpah lagi. Ambil kembali uang itu Tuan. Anda masih muda, Anda pasti akan membutuhkannya."
" Pak Tua, apa kamu merasa sudah mampu? Jangan sombong Pak Tua, aku memberimu ikhlas, dan ini uang halal. Bukan uang hasil kejahatan. Percayalah padaku."
" Tapi Tuan, lebih baik Tuan berikan kepada yang lebih membutuhkan saja. Barangkali, dalam perjalanan Tuan menemukan pengemis, atau orang miskin yang butuh santunan. Berikan saja pada mereka, Tuan."
" Aku tidak punya waktu untuk itu Pak Tua, terimalah. Jika kau tidak mau, berikan saja pada orang yang membutuhkan seperti yang kamu katakan. Pasti banyak orang miskin atau pengemis yang akan datang ke warungmu ini Pak Tua. Berikan saja pada mereka."
" Tapi, Saya.." Pak Tua menghentikan kata-katanya.
" Pak Tua, saya juga ingin menjadi baik. Ini salah satu usahaku. Aku sudah banyak berbuat dosa. Sekarang aku masih hidup, aku ingin selama aku diberi nyawa, aku masih bisa melakukan kebaikkan, walaupun aku masih melakukan dosa. Suatu saat kalau aku mati, aku masih punya penolong, untuk bisa masuk ke nirwana, karena kebaikkan yang ku lakukan, Pak Tua.
__ADS_1
" Tuan, sebenarnya Anda orang baik. Bertobatlah, dan kembali ke jalan yang benar. Masih ada kesempatan untuk membenahi diri."
" Pak Tua, kamu memang pandai berbicara. Tapi bagiku sangat sulit. Aku sudah terbiasa dengan hidupku yang hitam. Tidak semudah itu mengubahnya menjadi putih."
" Maafkan saya Tuan, saya hanya sekedar memberi saran. Mungkin bagi saya, jika saya yang menjadi Tuan, juga tak sanggup untuk langsung bisa menjadi orang baik. Tapi jika berusaha terus menerus, pasti akan mampu melakukannya."
" Kamu benar Pak Tua. Kamu sangat mulia sekali. Anakmu pasti sama sepertimu. Suatu saat aku akan datang kemari lagi, jika masih diberi umur panjang, untuk menimba ilmu kepadamu, Pak Tua."
Pak Tua tersenyum lebar, hingga dia tertawa sampai terbatuk-batuk. Baru kali ini, dia menemukan orang jahat, yang mau berbicara padanya. Bahkan dia bukan penjahat biasa yang hanya bermodal keberanian. Namun kali ini, pemuda yang dihadapannya selain mempunyai keberanian yang tinggi, juga memiliki kemampuan yang tak bisa diukur, oleh manusia biasa.
" Asal Tuan tahu, dulu saya berasal dari orang yang jahat. Saya penjudi, pemabuk, pembunuh, pemain wanita, juga seorang pencuri. Saya bukan orang baik seperti yang Tuan katakan. Anak saya juga sama seperti saya, pada waktu lalu. Dan sampai sekarangpun, dia mewarisi sifat dan kelakuan saya pada masa lalu."
" Apa? Jadi Kamu dulunya seperti itu Pak Tua. Aku sngguh tidak menyangka. Orang sebaik kamu, dulunya orang yang jahat."
" Iya Tuan, saya mengatakan yang sebenarnya. Tapi, itu sudah puluhan tahun yang lalu. Saya mulai bertobat setelah saya memperkosa, sampai membunuh kekasih saya sendiri. Padahal saya sangat mencintainya, namun hawa nafsu saya yang sedang memuncak, membuat saya menjadi gelap mata. Saya memperkosa kekasih saya, yang awalnya menolak saya ajak tidur bersama sebelum perkawinan."
" Apa? Kenapa kamu tega sekali Pak Tua. Bahkan dengan orang yang saya cintai, saya tidak punya daya untuk memaksanya."
" Maka dari itu Tuan, saya sangat merasa berdosa sekali. Dan sampai sekarang saya masih menyesalkan kejadian itu. Saya berulang kali sesak dadanya, mengingat perbuatan saya di masa lalu. Apalagi anak saya juga melakuka hal yang sama seperti apa yang saya lakukan."
" Binatang! Anakmu juga seperti itu Pak Tua, dimana dia sekarang? Apa aku boleh memberinya pelajaran?"
" Saat ini dia sedang berada dipenjara. Dia divonis penjara sepuluh tahun atas perbuatannya. Saat ada kekacauan di penjara, Anak saya berhasil melarikan diri. Polisi sudah berusaha mengejarnya, namun anak saya lolos dari kejarannya.
Seminggu keluar dari penjara, banyak sekali hal buruk yang dia lakukan. Merampok dan membunuh korbannya hingga tiga kali dan dia berhasil kabur. Memperkosa wanita yang sedang hamil muda dimalam hari saat dia pulang dari bekerja, namun anak saya berhasil melarikan diri. Wanita itu meninggal setelah mengalami pendarahan hebat di kemaluanya. Kejadian itu sempat terekam oleh seseorang yang kebetulan lewat, dan mendengar seorang wanita minta tolong. Sebelum anakku kabur, orang itu memfoto anak saya, lalu melaporkannya pada Polisi.
Tapi meskipun Polisi menemukan kejahatan-kejahatannya, dia masih bisa lolos dari kejaran. Hingga akhirnya, anak saya ketahuan mengedarkan narkoba pada remaja yang masih duduk di bangku SMA. Kebetulan sekali anak itu anak Polisi. Dia sengaja menggunakan anaknya untuk menyamar menjadi pembeli. Dan saat kejadian, Polisi itu sudah berada di belakang Anak saya bersama dengan beberapa anggota Polisi yang lain.
Anak saya berhasil ditangkap. Setelah diperiksa, ternyata anak saya adalah buron yang selama ini banyak dicari. Dengan semua kejahatannya Anak saya di vonis dengan hukuman seumur hidup. Tapi saya tidak tahu, tiba-tiba saja saya mendapat kabar, kalau anak saya mendapat hukuman mati. Setahun lagi baru akan dieksekusi. Kini saya sudah tidak bisa mengharapkan siapa-siapa lagi selain dari saya sendiri. Istri saya meninggal beberapa tahun yang lalu karena kelelahan. Kini saya hanya tinggal sendiri, sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Saya sudah tua, dan selalu kesepian. Makanya saya melakukan usaha ini sekedar untuk mengisi kegiatan. Daripada saya hanya duduk diam dan selalu merasa kesepian. Dengan membuka warung ini, saya jadi mempunyai banyak teman. Saya sudah tak merasa kesepian lagi."
" Pak Tua, ceritamu membuatku bersedih. Mungkin jika aku tua, nasibku akan sama sepertimu, jika masih melakukan kejahatan lagi. Pak Tua, aku juga sama sepertimu, tidak mempunyai siapa-siapa. Kedua orang tuaku meninggal saat aku masih kecil. Mereka semua dibunuh orang. Sebelum dibunuh, dia memperkosa Ibuku. Saya tak tahu harus melakukan apa. Hingga akhirnya saya ditemukan orang yang selama ini berjasa dalam hidup saya. Meskipun dia penjahat, namun saya sangat menghormatinya. Dia itu Bos Wijaya."
" Saya sudah mengira, Tuan ini sebenarnya orang yang baik. Namun kejadian yang menimpa Tuan dimasa lalu lah yang membuat Tuan seperti ini. Kita berlawanan Tuan. Saya berasal dari orang jahat dan berusaha menjadi orang baik. Sedangkan Tuan sendiri, berasal sari orang baik, malah berbuat jahat."
" Saya melakukannya karena terpaksa Pak Tua, Saya ingin bisa belajar kuay agar bisa membalaskan dendam orang tua saya. Setelah dendam saya terbalas, saya akan mengakhiri kejahatan saya."
" Baiklah kalau begitu Tuan, saya tidak berani melarang keputusan Tuan. Semoga saja dendam Tuan segera dituntaskan dan segera bertobatlah sebelum Tuan kebahisan usia."
" Aku akan segera melakukannya Pak Tua. Tunggulah aku Pak Tua, saat aku berhasil mengalahkannya, aku akan kembali dan bersedia menjadi anakmu dan menjagamu, sebagai ganti dosa-dosaku. juga sebagai ganti orang tuaku yang sudah tiada."
Pak Tua tersenyum ceria, wajah keriputnya semakin terlihat saat dia tersenyum. Namun dapat terlihat sinar kebahagiaan di dalam jiwanya.
......................
__ADS_1