
" Reza, apa yang kau sedihkan? Kenapa matamu berair?
" Oh, maaf Satya. Aku terharu mendengar kata-katamu. Tak ku sangka aku bisa menemukan orang baik dalam pekerjaan yang sangat buruk."
" Reza, hidup itu pilihan. Jika kau merasa pilihanmu itu buruk dan kau tetap ingin melakukannya, lakukan saja. Tapi jika kau merasa pilihanmu buruk, tapi kau melakukannya dengan setengah hati, lebih baik tinggalkan saja pekerjaannmu itu. Masih ada pekerjaan lain yang lebih baik."
" Satya, aku sangat menikmati pekerjaanku ini. Lagipula dengan melakukan pekerjaan ini, aku mendapatkan ilmu bela diri tingkat tinggi. Dan aku juga mendapatkan fasilitas yang mewah dari Bos."
" Baiklah Reza, intinya hanya satu. Kau tak ingin kehilangan apa yang telah kau capai, kan?"
" Itu benar, Satya. Aku tak bisa memungkiri. Apa yang kudapat selama ini membuatku sangat bahagia. Aku tak ingin suatu saat jabatanku diganti orang lain."
" Takkan ada yang akan mengganti jabatanmu Reza, kau adalah orang yang terpilih. Bos tak salah memilihmu. Teruslah setia padanya, dan kau akan mendapatkan apapun yang kau mau sampai kapanpun "
" Tapi aku takut jika ada orang lain yang menggantikanku, Satya. Aku tak ingin kehilangan semua yang telah ku miliki."
" Sudahlah, kau tak perlu cemas. Lakukan saja apa yang diperintahkan Bos. Jangan sekali-kali kau membuat kesalahan. Dan jangan pernah kau membuatnya kecewa."
" Aku tahu itu, Satya. Selama ini aku telah melakukan pekerjaan dari Bos sesuai dengan perintahnya. Aku selalu berhasil mengerjakannya dengan baik."
" Bagus, jika sudah begitu.. kau akan selalu aman. Posisimu takkan pernah bisa tergantikan, Reza."
" Apa kau yakin, Satya? Aku takut kau hanya ingin menenangkanku saja, tapi buktinya banyak sekali yang ingin merebut posisiku."
" Aku yakin Reza. Percayalah padaku."
" Baiklah Satya, aku akan mempercayaimu." Ucap Reza memantapkan hatinya.
Lima jam berlalu, Reza dan Satya mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat. Mereka mencari sungai yang jernih sebagai pilihan yang tepat untuk beristirahat.
" Kita akan beristirahat disini, Reza. Siapkan bekalmu. Dan makanlah."
" Ha? Kau tak membawa bekal?Aku sudah bilang tak akan membawakan untukmu. Kenapa kau masih tak membawa bekal? Jangan berpikir aku akan merubah kata-kataku, Satya."
" Tenanglah, aku tak akan meminta kepadamu. Tunggu disini, aku akan mencari makanan."
Satya pergi meninggalkan Reza, Dengan keahliannya sebagai ninja, dia melompat dari pohon ke pohon untuk mencari makanan.
Reza terketuk hatinya untuk menawarkan makanannya untuk Satya. Dalam hati, dia tak tega membiarkan temannya harus bersusah payah mencari makan, sementara dirinya membawa bekal yang cukup banyak.
" Satya.. tunggu. Kau tak perlu pergi. Aku membawa banyak makanan. Makanlah bersamaku. Jangan pergi.."
" Terima kasih, Za. Makanan itu tak cocok untukku, dalam menjalankan misi seperti ini. Kau saja yang makan."
" Lalu kau mau cari makanan dimana? Ini di tengah hutan. Kalau begitu kenapa kita tidak melewati jalan utama saja. Jadi kita bisa sekalian mencari warung makan."
" Dalam misi seperti ini, aku lebih suka makan daging buruanku, Za. Makanan yang kau bawa itu tak cocok dibawa saat menjalankan misi. Sudahlah buruan makan, aku akan pergi mencari binatang apa saja yang bisa ku makan."
" Satya, kau sungguh keras kepala. Terserah kamu saja." Ucap Reza lalu segera membuka bekalnya.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, Satya datang membawa ikan besar yang ia dapat dari menelusuri sungai.
" Reza, lihatlah.. aku dapat makanan enak."
" Satya, cepat sekali kau kembali. Darimana kau mendapatkannya?"
" Tentu saja dari berburu di sungai. Aku tak sengaja saat melewati sungai di sebelah sana, aku mendengar suara seperti seseorang sedang berenang. Saat ku dekati, ternyata ikan. Aku langsung menangkapnya."
" Apa? Satya.. apa kau tak takut? Bagaimana jika ikan ini, ikan jadi-jadian?"
" Hahaha.. ada-ada saja kamu, Za. Kalau ini bukan ikan sungguhan, sudah dari tadi aku buang."
" Ya siapa tahu kau tak mengerti hal seperti itu. Ini di hutan, bisa saja kalau ikan itu jelmaan setan."
" Hahaha.. setan akan takut pada kita, Za. Kita ini juga bagian dari setan. Kenapa harus takut pada setan."
" Cukup kamu saja yang menyamakan dirimu dengan setan. Aku tidak mau. Lagipula aku juga takut pada setan. Makanya sebelum malam, kita harus keluar dari hutan ini."
" Hahaha.. lucu sekali. Kau takut pada setan? Reza.. berapa kali kau membunuh orang? Apa kau masih menyebut dirimu itu manusia? Hahaha.."
" Iya, aku akui aku ini bukan manusia. Tapi aku tak mau disamakan dengan setan. Cukup kau saja. Lagipula aku membunuh, juga karena disuruh. Bukan atas kemauanku sendiri."
" Tapi kau mau melakukannya juga kan, Za. Seharusnya kau bisa menolaknya."
" Kalau aku menolak, aku yang akan mati Satya. Kau tahu itu, kan? Setelah bergabung dengan organisasi ini, kita tidak bisa memutuskan sesuatu atas kemauan kita sendiri."
" Iya.. kau benar, za. Ya sudah, kita tak perlu membahas itu lagi. Teruskanlah makanmu. Aku akan membuat api untuk memasak ikanku."
" Siapa juga yang mau menawarimu makan. Hari ini aku tidak makan nasi dan sayur sepertimu. Kalau kau minta, perutku tak kan terisi penuh."
" Ya sudah makan saja sendiri. Dasar pelit. Egois!"
" Hahaha.. yang benar saja. Kau bilang aku pelit, egois. Bukannya itu kamu?"
" Sudahlah, aku malas bicara sama kamu." Ucap Reza lalu dengan segera menghabiskan makanannya.
Selang setengah jam, Ikan bakar Satya sudah matang. Dia berkali-kali mencium bau sedap yang berasal dari asap ikan bakarnya. Sambil dengan sengaja mengiming-iming Reza, berharap Reza tertarik dengan ikan bakarnya.
" Ahh.. enak sekali ikan bakar ini. Seharusnya, tadi aku mencari yang banyak sekalian untuk makan besok pagi. Ahh, hari ini aku makan besar. Nyam.. nyam..nyam.." ucap Satya sambil memakan ikan bakarnya sedikit-sedikit membelakangi Reza.
Reza yang dari tadi tak peduli dengan kata-kata bodoh Satya, tiba-tiba saja perlahan mendatangi Satya. Dia kemudian mendekatinya dan melihat Satya yang sedang makan dengan lahap.
" Satya, apa ikanmu enak?" tanya Reza sembari menelan ludahnya.
" Kau tak perlu bertanya Reza. Bau sedap ikan bakarku ini, sanggup membuatmu datang kemari. Jadi aku tak perlu menjawabnya."
" Eh, kau dapat darimana ikanmu itu? Aku juga ingin menangkap yang lebih besar darimu."
" Hahaha.. apa kau yakin bisa menangkapnya? Anak manja sepertimu, seharusnya tak kan sanggup."
__ADS_1
" Kurang ajar! tak usah menghinaku! Kalau kau tak mau memberitahu, biar aku cari sendiri ikan seperti itu menyusuri sungai ini." Ucap Reza dengan nada marah lalu melangkah pergi hendak meninggalkan Satya.
" Tunggu.. kau tak perlu menangkapnya. Kemarilah, aku tak mungkin menghabiskan ikan ini sendirian. Ini terlalu besar bagiku. Jika aku sendiri yang memakannya, bisa untuk dua hari. Tapi aku tak suka makanan yang sudah terlewat satu hari. Ayo, bantu aku menghabiskannya."
" Tidak! Aku tak mau, kau lalu menghinaku terus menerus, karena aku mau menerima tawaranmu."
" Jangan berprasangka buruk dahulu kepadaku. Apa yang sudah aku berikan, tak mungkin aku mengungkitnya kembali. Ayo, segera makanlah. Kau tak perlu malu."
" Baiklah.. aku akan menerima tawaranmu. Tapi aku anggap ini adalah hutang. Suatu saat aku akan membayarnya."
" Hahaha.. tak semua bisa kau bayar dengan uang Reza. Aku tahu kau banyak uang, tapi kau melewatkan sesuatu yang sangat penting."
" Maksudmu?" tanya Reza karena bingung dengan ucapan Satya.
" Eh, bukan apa-apa. Ayo, makan lah dahulu. Keburu ikannya dingin. Kalau sudah dingin, ikan ini rasanya sudah tak enak karena terlalu tua."
" Aku akan memakannya, tapi jawab dulu pertanyaanku."
" Baiklah.. maksudku, kau melewatkan sesuatu yang sangat penting. Apa itu, itu adalah tentang umur seseorang. Kau bilang pemberianku adalah hutang yang akan kau bayar. Sementara, kau tak tahu sampai kapan aku hidup. Sampai kapan kau hidup. Reza, kata-katamu itu tadi membuatmu terlilit kewajiban. Kau harus benar-benar membayar hutangmu kepadaku."
" Baiklah, aku sudah paham Satya. Aku juga tidak akan membayar hutangku dengan uang. Tapi aku bisa saja mengganti dengan yang lain. Atau, aku bisa membayarnya dengan makanan juga."
" Baiklah kalau begitu Za, kau sudah paham maksudku. Tapi bagaimana jika aku sudah tiada, kau mau membayar hutangmu kemana?"
" Satya, apa yang kau bicarakan? Jangan bicara tentang kematian. Aku takut membahas soal itu."
" Hahaha.. Kau bahkan pernah membunuh orang, tapi kau takut mati. Kau itu laki-laki apa Reza? Hahaha.."
" Berhenti menghinaku Satya! Sudah cukup! Aku tak takut diriku mati, tapi aku hanya takut kau mati."
" Kenapa harus takut? Seharusnya keluargaku yang takut kalau aku mati. Kau bukanlah siapa-siapaku, Reza."
" Dulu mungkin aku menganggapmu sebagai bawahan biasa, tapi sekarang aku berubah Satya. Aku merasakan diriku terikat denganmu. Aku ingin sekali memanggilmu dengan sebutan kakak."
" Kakak? hahahah.. Reza, kau sangat lucu sekali. Hahaha.." Satya tak berhenti tertawa mendengar kata dari Reza.
Dia tahu sejak awal, Reza adalah orang yang arogan. Dia tak mau bergabung dengan siapapun. Saat mendapat tugas, dia selalu bekerja sendiri. Hingga membuatnya mendapatkan prestasi. Dan hasilnya, Reza mendapat kepercayaan penuh dari Wijaya.
Namun, Reza sangat dibenci teman-temannya. Sifatnya yang sombong dan cenderung tak mau dibantu temannya, membuat teman-temannya menjauhinya.
" Satya! apa yang kau tertawakan? Kalau kau tak suka, aku akan mencabut kata-kataku."
" Hahaha.. baiklah, kau boleh menyebutku dengan panggilan apa saja. Kau boleh menganggapku sebagai kakakmu. Tapi aku tak ingin kau memanggilku dengan sebutan kakak. Aku sangat geli. Hahaha.."
" Sialan! Berhenti tertawa!" Bentak Reza lalu membungkam mulut Satya dengan potongan daging ikan bakar yang berada di genggaman tangannya. "
" Hahaha.. kau tak perlu menyuapiku meskipun sekarang aku Kakakmu, Reza. Hahaha.."
" Kurang ajar! Menyebalkan!" Ucap Reza lalu kembali ke posisi semula. Ia kemudian mengambil kembali daging ikan bakar yang tersisa lalu memakannya dengan lahap.
__ADS_1
......................