
Betapa bahagianya Tanu mendengar kalau Rani hamil. Dia tidak pernah menyangka kalau akan mempunyai anak lagi.
Walaupun masih baru dugaan, tapi Tanu sudah merasa kebahagiaan menghampirinya.
Dia mengira kalau Tama adalah anak terakhirnya. Ternyata tidak, Tama memiliki adik lagi. Bulan pun senang mendengar ucapan Ibunya kalau sedang hamil. Rasanya dia belum puas bermain dengan Tama. Namun Saat Tama masih kecil , Bulan harus rela berbagi dengan adiknya Tama. Itu membuatnya merasa kasihan pada Tama. Bulan terus memandangi Tama lalu mendekatinya.
" Tama, besok kalau adik lahir kamu mau main sama siapa? Nanti kak Bulan jagain Adiknya Tama. Terus kamu sama siapa? huuuu.." Bulan mengajak Tama bicara namun, Tama malah berteriak teriak sendiri.
" buwaahhhh..yaa yayyyaaaaah...." celoteh Tama di lantai , di bawah kursi Bulan sambil makan buah jeruk kesukaannya.
" Ahaaahhhaa.. Tama ini di bilangin bukannya sedih, tapi malah senang. " Bulan melihat Tama lalu mencubit pipinya yang gemesin.
" Bulan, buruan sarapannya. Nanti keburu terlambat ke sekolahnya. " ucap Rani dari kamar belakang.
" Iya Bu. Ini sudah mau selesai." mendengar panggilan Ibunya, Bulan segera menghabiskan sarapannya .
Tepat pukul 06.15, Tanu dan Bulan mulai berangkat ke sekolah. Ayah dan anak ini, satu tujuan ke sekolah. Hanya saja Tanu mengajar di SMA, Bulan sekolah di SMP yang masih jadi satu yayasan. Karena itu mereka selalu berangkat sekolah bersama-sama namun memakai kendaraan sendiri-sendiri.
" Ayah nanti Bulan ikut ke dokter ya, Bulan ingin segera tahu hasilnya. Ibu hamil lagi atau karena sakit saja." Pinta Bulan pada ayahnya di tengah perjalanan.
" Ayah nanti izin pulang jam 12 Bulan, memangnya kamu pulang jam berapa?" Tanya Tanu pada Bulan, yang mengendarai motor di sampingnya.
" Jam 13.30, Ayah. Tapi Bulan juga mau izin pulang juga."
" Nggak usah. Nanti kamu ketinggalan materi pelajarannya. Sebaiknya jangan ikut. Nanti kamu akan Ayah kasih tahu kalau sudah keluar hasilnya."
" Yaahh.. sekali ini saja Ayah. Kan, Bulan pengin segera tahu sendiri. Nggak mau terima, kalau hanya dapat kabar dari Ayah." ucap Bulan memaksa.
" Sama aja kan. Ayah akan kasih kabar sesuai apa yang di katakan dokter. Jadi Bulan tetap sekolah tertib. Jangan suka minta Izin untuk hal yang tidak seharusnya di kerjakan olehmu. " Tanu tetap melarang Bulan untuk minta izin pulang lebih awal.
" Nggak mau Yah.. Pokoknya Bulan tetap ingin temani ibu ke dokter." Ucap Bulan terus memaksa ikut.
__ADS_1
" Hemh.. Putri Ayah ini ternyata pengertian juga ya. Padahal setahuku dia cuek dengan masalah orang tua." Sambil ketawa kecil, Tanu menyindir anaknya.
" Sekarang Bulan beda dengan yang dulu, Yah. Sekarang Bulan ingin berubah." Ujar bulan dengan penuh keyakinan.
" Ya sudah kalau begitu kita sudahi ngobrol kita. Fokus ke jalan dan hati-hati. "
" Siap Ayah.."
Tiba di sekolah, Tanu menyapa penjaga sekolah. Tidak seperti biasanya Bagus yang dulunya ramah, kini menjadi acuh pada Tanu. Karena kejadian kemarin, Tanu kehilangan kehormatannya. Sungguh hal ini sangat di sayangkan.
" Selamat pagi Pak Bagus." Sapa Tanu dari luar Pos Satpam.
Namun Bagus tak menjawab sapaan Tanu. Meliriknya saja pun tidak. Dia lebih fokus menonton Tv di Pos Satpam.
Tanu terdiam. Dia menggelengkan kepalanya lalu memarkirkan motornya di parkiran khusus Para Guru.
Sampai di parkiran Tanu menhela nafas, " Hemhh.. YaTuhan kenapa ini terjadi? Selama ini saya tidak pernah melakukan hal buruk di sekolah ini. Semua baik, semua menghargai saya, tetapi karena masalah kemarin Pak Bagus saja sudah membenciku. Sepertinya ini akan menjadi masalah buruk di kemudian hari."
" Pagi Pak Tanu." Sapa Sastro sambil menepuk pundak Tanu.
Tanu terkejut, setelah sadar bahwa itu Sastro dia pun menjawab sapaannya.
" Ehh Pak Sastro.. pagi juga Pak. Tumben Anda hari ini berangkat lebih awal.."
" Iya ini Pak Tanu. Saya hari ini mengajar di jam pertama. Makanya saya berangkat lebih awal."
" Owh gitu ya Pak Sastro. " ucap Tanu lalu kembali mengarahkan pandangannya ke langit.
" Eee.. Pak Tanu." Sastro menahan bicaranya. Dia hampir lupa apa yang hendak mau di katakan.
" Iyaaa.. Ada apa Pak? " Tanu menyahut panggilan Sastro dengan nada tinggi karena terkejut.
__ADS_1
Sastro yang melihat itu menjadi penasaran dengan Tanu.
" Sebenarnya apa yang terjadi dengan Pak Tanu.. kenapa dia seperti orang bingung. Banyak melamun. Apa dia sedang ada masalah? " Sastro berbicara sendiri dalam hatinya lalu dia menanyakannya pada Tanu.
" Sepertinya Pak Tanu sedang ada masalah. Kalau boleh tahu apakah itu Pak? Maaf kalau saya lancang . "
Tanu kebingungan mau jawab apa. Dia berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Sastro.
" Eeee.. Ini Pak, Saya..." Tanu menghentikan katanya. Dia belum bisa menemukan apa yang akan di katakan selain harus berkata jujur.
Sastro melihat,memperhatikan setiap gerak gerik bagian wajah Tanu. Dia menunggu jawaban apa yang akan di katakan Tanu.
" Eee ya sudah Pak kalau Pak Tanu berat mengatakannya. Saya nggak berhak untuk memaksa. Cuma kalau memang ada masalah, kalau saya bisa bantu saya akan bantu Bapak." ucap Sastro mengharap kalau Tanu akan cerita.
Mendengar kata Sastro, Tanu menjadi tak enak hati. Selama ini mereka terlihat sebagai dua orang Guru yang berteman baik. Meeka selalu sharing tentang masalah mereka. Jadi jika Tanu tidak memberitahukan masalahnya kemungkinan suatu saat Sastro juga tidak akan melibatkan Tanu dalam masalahnya.
" Eee.. ini Pak.. Istri saya sakit perut.. kemungkinan dia sedang hamil. Nanti saya izin pulang lebih wal untuk mengantar istri saya ke dokter. " Akhirnya setelah berpikir sekian menit Tanu bisa memberi Sastro jawaban.
" Owh jadi begitu to.. Selamatt ya Pak.. Kirain kenapa.. Harusnya Pak Tanu senang. Bukan malah merenung gini.. seperti orang susah."
" Hehe iya Pak Sastro, saya hanya baru menduga istri saya hamil. Tapi kalau tidak, saya kepikiran istri saya sakit apa. Soalnya kemarin sehat sehat saja. tidak ada keluhan apapun." Ucap Tanu sembari menggaruk dahinya yang tidak gatal.
" Berpikir positif saja Pak Tanu... Agar semuanya baik. Lalu kenapa Pak Tanu nggak izin cuti sehari saja Pak. Siapa tahu Ibu sudah membutuhkan perawatan. " ujar Sastro menyarankan Tanu agar segera membawa istrinya ke dokter.
" Saya nggak enak sama Guru yang lain Pak, soalnya hari ini saya full time mengajarnya. "
" Sudah nggak apa Pak Tanu. Nanti biar saya sampaikan ke Guru lain dan Kepala Sekolah. Yang penting istri Bapak bisa segera sehat. "
" Oh ya sudah kalau begitu saya ucapkan terima kasih banyak Pak Sastro. " ucap Tanu lalu menaiki motornya pulang ke rumah.
" Sama - sama Pak Tanu.." Kalau ada apa apa hubungi saya saja. Saya siap membantu kapanpun. Jangan sungkan pada saya. " ucap Sastro lalu juga segera meninggalkan tempat parkir.
__ADS_1