SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
Pertarungan Berdarah


__ADS_3

Mendung menyelimuti Desa di Lereng Bukit Barat. Seakan menandakan akan terjadi peristiwa besar di desa itu. Kedua kubu yang saling berseteru, bersiap melancarkan serangan.


Tepat pada pukul 13.00, pertarungan telah terjadi. Leo, Lucky dan Dante memang berambisi untuk membunuh semua penduduk di Desa, namun mereka tak ingin mengakhiri pertarungan dengan cepat. Mereka seperti hanya menahan serangan saja dan tidak membalas serangan Reza dan teman-temannya.


" Hei! kenapa kalian hanya bisa menghindar?! Apa kalian takut menghadapi kami? Dasar pengecut!" ucap Rio yang mulai marah besar karena sejauh ia menyerang, Dante tak membalas serangannya.


" Rio.. Rio..sabar dulu. Kita pemanasan dulu. Jangan terburu-buru. Biarkan Malaikat maut bersantai-santai dulu. Gunakan waktumu untuk berdoa. Semoga saja hari ini kau tak mati. Hahaha.." ucap Dante sembari tertawa lebar.


" Kurang ajar! Jangan sombong kau, Dante! Apa menurutmu kau lebih kuat dariku? Ayo lekas keluarkan seluruh kekuatanmu!"


Rio mulai terpancing emosinya, raut wajahnya memerah. Kepalanya seperti mendidih mendengar kata-kata dari Dante. Namun ia masih bisa menahan emosinya dan menyerang ke arah Dante berkali-kali.


" Rio..seandainya kau tidak mengikuti bocah gila itu, kau tak akan bernasib seperti ini. Dan kita tidak akan pernah bertemu dalam satu pertempuran. Rio, sadarlah. Kau masih muda. Masa depanmu masih panjang. Banyak sekali kenikmatan yang akan kau dapat di dunia ini. Jika kau mati, apa yang akan kamu lakukan. Kau hanya akan mati konyol. Hahaha.."


" Diam kau, Dante! Aku tahu mana yang menurutku baik. Untuk apa aku menikmati dunia yang indah namun menyesatkan. Asal kau tahu, kenikmatan yang ku nikmati kemarin, tak membuatku merasa tenang. Dan aku merasakan kejenuhan. Hidupku tak beraturan.


Dan satu yang membuatku menyesal selama ini menjadi Penjahat. Aku harus kehilangan Ayahku. Gara-gara Wijaya tak mengizinkanku pulang menjenguk Ayahku, aku kehilangan Ayahku yang sangat aku banggakan.


Dia meninggal saat Wijaya memberikanku tugas. Padahal sebelum meninggal, Ayahku menungguku pulang. Dan aku telah berjanji padanya,aku akan segera pulang. Dia ingin berbicara padaku. Namun karena hingga beberapa hari aku tak pulang, Ayahku sudah tak sanggup lagi untuk menungguku. Dia telah pergi untuk selama-lamanya!


Aku sangat menyayangi Ayahku, tapi aku tak bisa membahagiakannya. Dan aku sangat menyesal di akhir hidupnya, aku tak bisa melihat dan menemaninya untuk yang terakhir kali. Wjaya memang Ba****an! Aku tak akan pernah bisa melupakan sikapnya yang memerintahku seenaknya!


Dan inilah saatnya, aku membalaskan kekecewaanku padanya. Aku keluar dan bergabung dengan Reza untuk meluruskan jalan hidupku."


" Hahaha.. Meluruskan jalan hidup? Berapa banyak dosa yang kau lakukan, Rio? Sementara, hari ini adalah hari terakhirmu di dunia ini."


" Kita lihat siapa yang akan mati, Dante! Ayo serang aku!"


" Rio, jangan terpancing dengan kata-katanya. Aku yakin kita bisa mengalahkannya bersama-sama. Saat ini kami sangat mengandalkanmu. Kami akan membantumu melawannya. Tapi kau harus fokus. Dan jangan sampai amarahmu terpancing. Yang ada, seranganmu malah tak pernah ada yang mengenai sasaran. Justru kamu akan kehilangan banyak tenaga, dan dia akan lebih leluasa mengalahkanmu." ucap salah satu teman Rio.


" Kau benar, tak seharusnya aku terpancing gara-gara omongan dia. Aku harus bisa mengendalikan amarahku."ucap Rio sembari mengatur nafasnya.

__ADS_1


" Hahaha.. Rio, aku yakin temanmu itu hanya membual saja. Dia takut mati. Makanya dia mengatakan seolah-olah kalian akan bisa menang dariku. Lucu sekali.."


" Aku tidak membual, Dante. Aku yakin kau tak akan bisa melawan kami semua. Aku tahu kemampuanmu. Dan kau adalah seorang pengecut saat bekerja. Kau mengorbankan teman-temanmu dengan iming-iming upah yang besar. Saat kau menang, kau tidak mengeluarkan uang sepeserpun darimu. Tapi kau membayar mereka dengan uang yang kau minta dari Bos Wijaya, bahkan kau meminta banyak dan kau juga mengambil keuntungan dari itu.


Tapi ketika kau kalah, kau membiarkan teman-temanmu tewas. Sementara kau lari dan berdalih pada Bos Wijaya, lawanmu terlalu kuat.


Kini aku tahu kemampuanmu, Dante. Kau hanya besar dimulut saja namun sebenarnya tak mempunyai ilmu apa-apa." ucap salah satu teman Rio.


Dia berusaha membalikkan keadaan dengan menghasut Dante agar terpancing emosinya, sehingga menyerang Rio dan teman-temannya dengan tak beraturan.


Ia berharap Dante termakan oleh kata-katanya. Namun usahanya tak berhasil. Dante justru terlihat senang dengan kata-katanya.


" Hahaha.. Reno, kau tahu aku itu siapa. Kita sama-sama besar dalam kejahatan. Setiap keberhasilan dari kejahatan kita, itulah yang membuat kita menjadi besar. Dan akhirnya kita memiliki sebuah kekuatan. Kekuatan untuk menduduki kekuasaan. Dan sekarang ini aku sedang berada di tengah, Reno. Hahaha.."


" Reno, orang itu memang sudah sinting. Dia sudah kebal dengan trik licik. Jadi percuma saja kau memancing amarahnya dengan kata-katamu itu. Lebih baik kita serang dia bersama-sama. Jangan beri dia celah untuk menghindar maupun menyerang. Kita bertujuh dan dia hanya sendiri. Semesthinya kita harus menang melawan dia." ucap Rio.


" Iya..aku tak menyangka dia punya kepercayaan diri yang cukup besar. Rio, apa kau yakin kita bisa mengalahkannya?" ucap Reno.


" Baiklah, Rio.. Ayo kita serang lagi."


Rio dan teman-temannya menyerang secara bersamaan ke arah Dante. Berbagai serangan mereka arahkan dengan sekuat tenaga.


Dante kewalahan menghadapi Rio dan teman-temannya. Ia pun berhenti bermain-main dan mulai bersungguh-sungguh dalam menyerang.


Hingga setengah jam bertarung, Dante membuka kemenangan dengan melukai salah satu teman Rio.


" Akkhhh..." teriak salah satu teman Rio, yang terdorong ke belakang karena terkena tendangan Dante.


" Doni..." teriak Reno lalu mundur dan menolong Doni yang terluka cukup parah.


Rio menghentikan serangannya dan menyuruh semua temannya untuk mundur dan membantu Doni.

__ADS_1


" Hahaha..apa cuma segitu kemampuan kalian? Rio..aku sudah katakan kepadamu, kalian bukan tandinganku. Lebih baik kalian mundur dan akan kubiarkan kalian tetap hidup."


" Kurang ajar kau, Dante! beraninya kau melukai temanku!"


" Kau menyalahkanku? Hahaha...dia yang menyerangku, kenapa aku tidak boleh melukainya? Aku hanya membalas serangannya. Rio, jangan egois."


" Rio, biar aku yang hadapi dia. Kalian tunggu disini. Aku harus memberi pelajaran orang busuk itu!" ucap Reno lalu berdiri dan bersiap melawan Dante.


" Jangan, Reno..kita tidak bisa melawannya sendiri-sendiri. Itu akan sangat berbahaya. Dia kuat, tapi juga licik. Kita sudah tahu dia, kan."


" Tapi aku tak terima dia melukai Doni. Dia keluargaku satu-satunya. Aku tak bisa melihat saudaraku terluka."


" Aku tahu, Reno. Tapi kau tak akan bisa menyerangnya sendiri. Malah itu menjadikan keutungan bagi dia."


" Tidak, Rio..aku harus menghadapinya. Aku ingin menjajal kemampuannya. Selama ini dia hanya seorang pecundang. Aku ingin tahu, sampai dimana ilmu yang dia miliki."


" Reno, kita harus dengarkan kata-kata Reza. Kita tidak boleh menyerangnya sendiri-sendiri. Itu akan sangat berbahaya."


" Maafkan aku, Rio. Aku paling tidak bisa melihat saudaraku kesakitan karena orang lain. Aku harus membalasnya."


Tak mempedulikan kata-kata Rio, Reno segera melayangkan serangan ke arah Dante. Namun serangannya gagal dan tak mengenai sasaran. Dante yang lincah selalu bisa membaca gerakan Reno. Dengan kelebihannya itu, ia berhasil memukul Reno dan menendangnya hingga terguling-guling ke tanah.


" Akkkhhh..."


Suara Reno memekik. Darah keluar melalui mulutnya. Pandangannya pun mulai kabur. Ia tak menyangka, serangan Dante sangat telak mengenai dirinya.


Rio segera berlari dan membawa Reno mundur. Ia membaringkan tubuh Reno disamping Doni.


Tubuh Rio seketika lemas. Dengan cideranya dua temannya, akan sangat berpengaruh pada keberhasilannya untuk mengalahkan Dante.


" Bertujuh saja masih kewalahan menghadapi Dante, apalagi cuma berlima. Aku tahu kemampuan teman-temanku yang masih tersisa. Mereka jauh dibawahku. Bagaimana mungkin aku bisa mengalahkan Dante." gumam Rio dalam hati.

__ADS_1


......................


__ADS_2