SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
KAMU TAK MENJADI DIRIKU


__ADS_3

Keesokan harinya, Wijaya dan Bono sudah sampai di bandara. Tepat pukul 09.00, Wijaya dan Bono berangkat kembali keluar kota. Sebelum Wijaya masuk pesawat, dia telah mengirim pesan untuk putrinya.


" Vina, putriku yang paling cantik. Papa pamit, pergi kembali ke luar kota. Bos Papa sudah menghubungi Papa dan meminta Papa untuk segera kembali.


Maafkan Papa yang tak sempat menemuimu dan juga, tak sempat mencium keningmu. Papa berharap, Vina bisa memaklumi keadaan Papa.


Jaga diri baik-baik ya di situ. Dan jangan pernah mengabaikan perintah dan larangan Papa. Kalau sampai itu terjadi, Papa akan sangat marah sekali.


Sekian pesan dari Papa, jangan nangis karena tak sempat melihat papa pergi. Papa akan baik- baik saja. Jangan khawatirkan keadaan Papa.


Sampai jumpa lagi Putriku, Bye..


Hingga pukul 11.00 pesan Wijaya yang dikirim pada Vina belum juga terbaca. Karena begadang semalaman hingga subuh, Vina dan Tasya belum bangun dari tidurnya meskipun sudah siang.


Namun Tasya tiba-tiba mengigau hingga berteriak keras,


" Jangan!"


" Aku mohon jangan!"


Mendengar teriakan Tasya, sontak saja membuat Vina terperanjat. Dia tersadar, lalu bangun dan melihat di sekelilingnya.


" Tasya, ih.. ngigau ya. Ku kira ada apa. Mengganggu orang tidur saja." Ucap Vina lirih, lalu melanjutkan tidur lagi.


Sepuluhan menit berlalu, Vina mencoba untuk tidur lagi, namun matanya tak mau terpejam.


" Aduh, gara-gara Tasya aku jadi tak bisa tidur lagi." Keluh Vina lalu iseng-iseng membuka hpnya.


" Ha? Papa pergi lagi? Kenapa disaat kita berjauhan, Papa malah pergi meninggalkan Vina. Papa kenapa tak datang menemui Vina untuk pamit." Tak terasa Vina meneteskan air mata. Namun karena berat hatinya ditinggal Wijaya, Vina menangis histeris.


" Papa!!" Teriak Vina.


Mendengar teriakan Vina, membuat Tasya yang sedang tidur nyenyak menjadi terganggu.


" Vina.. Kenapa?" Tasya memeluk Vina.


Vina terus menangis, lalu dia juga memeluk Tasya dengan erat.


" Ada apa Vin? Kamu tidak megigau kan?" Tasya membelai rambut Vina.


Vina yang tak bisa membendung tangisannya, hanya bisa memberikan Hpnya pada Tasya. Dia tak bisa berkata-kata.


Tasya melihat Hp Vina, lalu membaca pesan Vina yang dikrimkan oleh Wijaya.


" Papamu pergi lagi? Kenapa cepat sekali? Katamu, mungkin Papamu akan lama disini?"


Vina hanya menggelengkan kepalanya. Air matanya terus mengalir deras. Hatinya sangat sakit menahan rindu yang belum terpuaskan akan Orang tuanya.


" Sya, kenapa Papaku seperti itu? Aku iri denganmu, setiap saat bisa ketemu orang tuamu. Kalau pergi, selalu pamit padamu. Kenapa Papaku tidak seperti orang tuamu?"


" Vin, sudahlah jangan membanding-bandingkan seperti itu. Semua orang mempunyai kepentingannya masing-masing. Juga mempunyai sifat-sifat yang berbeda. Kamu dan aku saja berbeda, apalagi orang tua kita. Dibalik sesuatu yang tak kamu senangi, pastinya ada yang bisa membuat kamu senang dari Papamu. Jadi jangan berpikir, orang tuamu itu buruk. Orang tuaku juga sama Vin. Kadang ada yang membuatku senang, kadang juga bisa membuatku merasa jengkel."


" Sya, kamu tak menjadi diriku. Seandainya kamu menggantikanku, pasti kamu akan merasakan hal yang sama."


" Vin, jangan pernah bilang seandainya kau jadi diriku. Kamu nggak tahu, hidupku pun sama sepertimu. Kelihatannya bahagia terus, tapi tidak begitu juga. Aku selalu bahagia karena selalu bersyukur dalam hidupku. Kalau menginginkan sesuatu yang tak bisa ku dapat, memang terkadang aku mengeluh, teriak-teriak, tapi aku langsung bisa menyadari, hidup ini akan sia-sia jika kita terus mengeluh."

__ADS_1


" Sya, kamu belajar dari siapa? Kenapa jadi seperti orang tua? Bisa-bisanya, membuatku menjadi tenang." Ucap Vina lalu menghentikan tangisnya dan mengusap air matanya.


" Haha.. Aku hanya asal bicara kok Vin, mungkin jika aku disuruh jadi kamu, aku tak setegar kamu." Ucap Tasya sembari tertawa lebar.


" Sya, kamu itu sudah cocok jadi orang tua lho, pastinya cowok yang jadi kekasihmu kelak, akan sangat bahagia memiliki kamu."


" Untuk sekarang, aku cuma mau fokus sama sekolahku Vin. Nggak mau mikir kekasih. Masih ingin membahagiakan orang tua dengan prestasi-prestasi. Masa depanku masih panjang. Hehe.."


" Hehe.. Kamu memang anak yang baik Sya. Aku bangga menjadi teman kamu." Ucap Vina sambil memeluk Tasya.


" Katanya kita bukan cuma teman, tapi saudara kan?" Ucap Tasya protes, tak terima dengan ucapan Vina.


" Haha, iya, iya.. Kita saudara Sya."


" Itu baru benar, semoga kita menjadi saudara selamanya ya Vin. Kita sekolah bersama, kuliah bersama, menikah kalau bisa, kita juga sama-sama."


" Aku tidak mau, masa menikah juga sama-sama. Kalau aku tak laku-laku, apa mungkin kamu mau menungguku sampai dapat Sya?"


" Ihh, ini anak bikin kesal saja. Aku sudah semangat bicara lho. Masa kamu merusaknya dengan menolak keinginanku. Hemh.."


" Haha, kok jadi cemberut begitu? Aku cuma becanda Sya."


" Nggak mau, aku nggak mau tahu."Ucap Tasya lalu membelakangi Vina.


Vina yang merasa bersalah dengan kata-katanya mencoba merayu Tasya.


" Tasya yang cantik, pintar, sopan dan tidak sombong, Vina minta maaf ya. Please."


" Tidak ada kata maaf." Ucap Tasya.


" Ah, nggak mau. Kebiasaan, Vina itu selalu membuat aku geli. Perutku bisa sakit, tahu."


" Hehe.. Biar saja, salah sendiri membelakangiku. Anak sombong." Ucap Vina.


" Enak saja, bilang aku sombong. Dasar plinplan! Padahal tadi bilang, kalau aku ini cantik, pintar, sopan dan tidak sombong. Eh, sekarang mengatakan aku ini sombong. Padahal baru beberapa menit yang lalu kamu bilang padaku. Kenapa sekarang berubah?"


" Haha, aku cuma becanda Tasya. Tak mungkin aku bilang padamu Anak sombong dengan sepenuh hatiku. Kalau kamu sombong, sudah pasti kamu tidak menjadi temanku."


" Iya deh, Eh Vin. Tiba-tiba aku jadi merasa lapar. Ayo, keluar cari makanan. Hari ini aku malas masak. Lagipula masakanku tidak enak. Mana mungkin aku memberimu makan, makanan yang tidak enak."


" Makanan seperti apapun kalau halal, tidak membuat sakit, tidak menyebabkan kematian, aku doyan kok Sya. Coba saja kamu masak, aku mau mencicipi masakanmu."


" Tidak mau, hari ini aku mau malas-malasan. Kalau lapar begini, mau tak mau ya harus keluar. Kita cari angin, juga cari perhatian cowok-cowok. Hehe.."


" Katanya tak ingin memikirkan kekasih, mau fokus sekolah terus kuliah dulu. Kenapa sekarang berubah?"


" Hahaha.. Sekali-sekali kan, boleh Vin. Buat refreshing. Hidupmu tak berwarna jika kamu hanya diam. Dan melakukan sesuatu yang itu-itu saja, sangat membosankan Vin."


" Haaah.." Vina menghela nafas. Dadanya terasa agak sesak.


" Kenapa Vin?"


" Aku susah bernafas. Rasanya tubuhku panas."


" Kok bisa Vin? Jangan menakut-nakuti ku seperti itu to."

__ADS_1


" Hehe.. Nggak kok Sya. Aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Ya sudah, ayo kita mencari makan." Vina mencoba menenangkan Tasya yang mulai khawatir dengan keadaannya.


" Kamu sehat-sehat saja kan Vin? Kalau sakit, bilang padaku. Jangan tunggu nanti sudah parah, kamu baru bilang sakitmu."


" Hahaha.. Tasya, aku beneran tidak apa-apa. Sudah, ayo kita pergi sekarang. Nanti perutmu kebiru sakit."


" Iya, iya. Tapi kita belum cuci muka lho. Masa kita pergi dengan tampilan seperti ini."


" Tak apa, kita kan cantik. Dandan biasa saja sudah terlihat cantik. Tak dandan pun malah terlihat menarik. Hehe.."


" Hehe kamu bisa saja Vin."


Setelah setengah jam bergantian bercuci muka, Vina dan Tasya pergi ke sebuah warung makan kecil di pinggir jalan.


Setibanya di warung, Tasya menawarkan minuman pada Vina.


" Kamu mau minum apa Vin?"


" Es jeruk manis saja Sya."


" Es jeruk terus? Memang nggak bosan Vin?"


" Tidak, minum es jeruk itu, ibarat aku berteman denganmu. Haha.."


" Haha, gombal kamu Vin. Ya sudah, kamu mau makan apa tinggal pilih. Lauknya juga, bebas pilih. Jangan tanya harganya berapa, jika kamu mau, ambil saja. Nanti aku yang bayar."


" Serius? Aku mau semuanya." Ucap Vina sambil tersenyum senang.


" Boleh, kamu borong saja semuanya. Tetapi janji, harus di habiskan hari ini juga. Tak lebih dari tiga puluh menit."


" Apa? Mana aku sanggup. Aku saja tak doyan makan sepertimu. Makan berapa suap saja, sudah kenyang."


" Oh, pantas saja. Sekarang kamu tambah kurus Vin. Kamu nggak sedang diet kan Vin?"


" Tidak, aku tak suka aneh-aneh dengan tubuhku. Bersyukur tubuhku tidak gemuk, jadi aku tak perlu melakukan diet."


" Vin, Vin.. Kasihan, pasti kamu terlalu memikirkan hidupmu yang berat kan."


Vina merunduk. Wajahnya nampak murung. Matanya merah berair.


" Sya, apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar susah melupakan masa lalu.


Aku sendiri bingung dengan hidupku.


Dulu dan sekarang, hidup itu seperti tak ada artinya. Semenjak aku kehilangan Mamaku, hidupku menderita. Dirumah yang sebesar itu, aku tinggal sendiri. Melakukan apa-apa sendiri. Adikku satu-satunya yang ku miliki, aku tak tahu kemana Papaku membawanya pergi. Dia selalu bilang, adikku baik-baik saja. Namun medengar suaranya saja, belum pernah. Aku seperti tak memiliki keluarga Sya jika Papa tak dirumah. Sementara dia kalau pergi, Tidak tentu kapan akan kembali."


" Vina, aku tahu kamu sanggup menjalani ini semua. Berjuanglah. Aku akan menemanimu sampai kapanpun Vin."


" Baiklah Sya, aku akan berjuang."


" Yang semangat dong Vin. Jangan lemas begitu."


" Iya iya.. Aku semangat kok Sya."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2