SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
MENCARI CARA


__ADS_3

Malam harinya, Kakek Rika datang ke rumah Reza, yang rumahnya berada di paling ujung sendiri, dekat dengan gapura desa. Reza adalah cucu pendiri desa lereng bukit yang disegani. Kakek Reza pun orang yang paling dekat dengan Wira. Beliau meminta bantuan Wira untuk mendidik cucunya yang bandel. Karena orang tuanya bercerai, dan saat ini orang tuanya hidup terpisah di luar negeri, Reza tinggal bersama Kakeknya. Seiring berjalannya waktu, Reza tumbuh menjadi anak yang nakal. Hingga akhirnya beranjak dewasa, kenakalannya di masa lalu masih terbawa.


" Tok tok tok.." Kakek Rika mengetuk pintu rumah Reza.


Kakek Reza membukakan pintu, melihat siapa yang datang ke rumahnya.


" Eh, mas Punto. Mari silahkan masuk mas." Ucap Kakek Reza.


" Terima kasih Pak Harjo." Ucap kakek Rika lalu masuk ke rumah Harjo sambil memandangi setiap sudut rumahnya.


" Ada apa mas, malam-malam datang ke rumahku? Apa ada sesuatu yang ingin Mas Punto katakan?"


" Em, langsung saja ya Pak. Oh iya, Nak Rezanya kemana Pak? Kok kayaknya rumah sepi. Biasanya terdengar suara musik keras hingga terdengar dari luar."


" Hahaha.. Itu kebiasaan buruk cucuku mas, anaknya susah diatur. Saya malah takut, kalau menasehatinya. Terkadang saya sendiri yang malah dibentaknya."


" Iya sepertinya Nak Reza berwatak keras, dan itu yang sebenarnya ingin saya bahas Pak harjo."


" Oh, jadi begitu. Katakan, apa yang ingin mas Punto katakan."


" Sebenarnya begini Pak, Rika tidak setuju dengan sifat kasar Nak Reza. Kemarin saya hanya menegur, agar jangan sampai memancing kemarahan pemuda asing itu. Dan akhirnya saya kena bentak dan sampai menggebrak meja. Rika mengetahui kelakuan Nak Reza, diapun menegur Nak Reza secara langsung. Reza tak terima, sebelum pergi dia mengatakan kalau kami tidak mendukungnya."


" Walah.. walah.. Sampai segitunya kelakuan cucu saya. Sebagai Kakeknya, saya merasa malu sekali mendengar berita ini. Tapi saya tidak berani untuk menasehatinya, mas. Saya takut dia akan minggat dari rumah dan pergi semaunya. Itu yang sangat tidak saya inginkan Mas. Saya ingin mendidik dia dengan baik, agar menjadi orang yang berguna. Saya juga meminta Pak Wira melatihnya ilmu beladiri, agar mampu bertarung melawan musuh yang jahat, seperti Pemuda asing itu. Tapi saya tidak tahu kalau kelakuannya buruk, diluar pengawasan saya."


" Dia sangat arogan Pak, kasar dan tidak suka menerima kritikan. Rika menjadi tak senang dengannya. Rika pun meminta saya untuk membatalkan pernikahannya dengan Nak Reza."


" Apa? Rika mau membatalkan rencana pernikahannya? Mas Punto, itu pilihan yang sangat sulit. Bukan hanya untuk diri saya tetapi untuk Mas Punto juga."


" Sulitnya dimana Pak Harjo? bukankan dibolehkan, orang sudah lamaran dan pernikahannya malah dibatalkan."


" Bukan itu masalahnya, jika pernikahannya dibatalkan, pasti Reza akan murka dan melakukan sesuatu di luar batas, Mas. Sulit untuk mengendalikannya."


" Lalu bagaimana caranya Pak, agar pernikahan mereka tetap tak bisa dilaksanakan? Terus terang saya menjadi kasihan pada cucu saya. Dia gadis yang lugu yang tidak pernah mendapat perlakuan kasar dari siapapun. Dia juga gadis yang terjaga dari sentuhan pria manapun. Jika seandainya menikah dengan Nak Reza itu membuatnya susah, saya meminta untuk dibatalkan saja."


" Mas Punto, sebaiknya ini dibicarakan baik-baik dengan cucu kita masing-masing. Agar mereka tahu, dan apa alasan dibatalkan, cucu saya juga berhak tahu dari ucapan Rika sendiri Mas."


" Saya kok jadi takut ya Pak, jika menghadirkan mereka dalam satu ruangan membahas masalah ini. Saya takut Nak Reza marah dan melakukan sesuatu pada cucu saya."


" Tenang dulu Mas Punto, sebaiknya kita juga menghadirkan Pak Wira agar bisa menenangkan Reza. Jika ada beliau, pasti Reza tak bisa semaunya melakukan sesuatu."


" Tapi kita harus mencari beliau kemana, Pak? Sudah hampir dua minggu ini beliau tak datang kemari."


" Iya Mas Punto, menurut kata Pak Wira, dia sedang menyiapkan untuk acara pernikahannya, dengan seorang gadis yang dulu adalah anak angkatnya."


" Oh jadi begitu, lalu dimana mereka akan melangsungkan pernikahannya Pak? Dan kapan? Saya khawatir, Pak Wira belum bisa ditemui tetapi tanggal pernikahan cucu kita sudah tiba."


" Sabar dulu Mas Punto. Anda jangan lalu terbayang dengan sesuatu yang buruk yang akan terjadi. Nanti malah membuat Mas Punto sakit karena terlalu memikirkan masalah ini. Sebaiknya kita pasrahkan saja pada Tuhan. Apapun keputusan yang Tuhan tentukan, adalah yang terbaik untuk kita semua."

__ADS_1


" Iya Pak Harjo, saya juga sudah berusaha membuat hati dan pikiran saya setenang mungkin, namun perasaan saya terus tidak enak. Seperti akan terjadi sesuatu."


" Sudahlah Mas, sekarang pulanglah dulu. Bicarakan lagi dengan Cucu mas Punto, siapa tahu dia berubah pikiran lagi. Atau mau minum-minum dulu, saya buatkan."


" Hehe, tidak usah Pak Harjo. Saya langsung pulang saja. Nanti saya bicarakan lagi dengan Rika. Kalau begitu saya mohon diri dulu Pak."


" Silahkan Mas Punto. Nanti saya akan sampaikan ke Pak Wira jika beliau datang kemari. Baru kita bicarakan ini dengan cucu-cucu kita."


" Baik Pak Harjo, Saya pulang dulu. Takut Rika khawatir lalu menyusul datang kemari. Selamat malam."


" Iya, Mas Punto. Hati-hati di jalan."


Kakek Rika pulang ke rumahnya tanpa hasil apa-apa. Dalam perjalanan dia masih tampak bingung. Pertemuannya dengan Harjo tidak membuahkan hasil apapun. Hanya sebuah solusi yang belum tentu semua bisa menerimanya.


" Aduh, bagaimana ini Rika. Kakek tidak bisa membawa kabar gembira untukmu." Ucap Punto sambil mengusap keringat yang menetes di kening, dari sela-sela rambutnya.


Tiba di rumah, Punto tampak lemas. Wajahnya yang keriput tampak pucat. Dia duduk dan bersandar di sofa baru yang dia beli, setelah rumah barunya selesai di renovasi. Rika keluar dari kamarnya menemui Punto lalu duduk disebelahnya.


" Kakek, bagaimana hasilnya? Kenapa kakek pucat begitu? Apa mas Reza melakukan sesuatu pada Kakek?"


Punto menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menghela nafas dan berkata pada Rika.


" Kakek tidak bertemu dengan Reza. Kakek hanya bertemu dengan Kakeknya."


" Memangnya mas Reza kemana Kek? Kenapa malam-malam pergi?"


" Apa dia pergi bersama gadis lain, Kek? Kalau iya, Rika tak akan pernah memaafkannya."


" Jangan berburuk sangka, siapa tahu yang dia lakukan itu baik. Kita tidak bisa menilai seseorang itu semau kita."


" Tapi Kakek tahu sendiri kan bagaimana kelakuan dia terhadap Kakek dan Rika. Rika ragu dia bisa membuat Rika bahagia. Bisa-bisa Rika mati muda."


" Rika bersabarlah, kita tunggu kedatangan Pak Wira. Beliaulah yang bisa menyelesaikan semua ini."


" Tapi hari pernikahan kami sebentar lagi Kek. Undangan juga sudah jadi, kita tinggal membagikan undangannya besok. Bagaimana ini kek. Apa yang harus kita lakukan?"


" Rika, Kakek juga tidak tahu. Pikiran kakek sudah tidak seperti dulu lagi. Tak bisa untuk diajak berpikir keras."


" Kakek jangan memaksakan diri kalau tidak bisa menemukan jalan keluar. Besok Rika yang akan datang ke rumahnya dan bilang langsung pada mas Reza."


" Jangan Rika, terlalu berbahaya. Kakek mengkhawatirkan keselamatanmu."


" Memangnya jika di rumah, Rika akan selamat? Kan tergantung sama mas Rezanya, Kek."


" Aduh, kakek jadi bingung. Ya sudah Kakek istirahat dulu." Punto masuk ke kamarnya meninggalkan Rika yang masih bingung dengan nasibnya.


" Ayah, Ibu.. kenapa hidup Rika jadi seperti ini. Tolong Rika. Kasihan kakek, harus ikut memikirkan nasib Rika." Rika menangis sambil memandang foto Ayah dan Ibunya di dinding ruang tengah."

__ADS_1


Rika mengusap air matanya, lalu diam-diam membuka pintu kamar kakeknya. Rika melihat Kakeknya masih duduk di ranjang, menatap ke jendela kamarnya sembari memegangi kepalanya.


" Kek, kasihan sekali kamu. Rika harus melakukan sesuatu. Tapi bagaimana? Apa aku harus pergi dari desa ini dan menemui Bono lalu meminta bantuannya?"


Rika menutup kembali pintu kamar kakeknya. Dan masuk ke dalam kamarnya .


" Tuhan, bantulah aku agar terselamatkan dari jodoh yang tidak baik. Aku ingin hidup bahagia di dunia ini. Agar kakekku bahagia bisa melihat aku hidup bahagia. Dia sangat menyayangiku, pasti dia berpikir keras untuk mencari cara agar aku batal menikah dengan mas Reza."


Rika merenung memikirkan apa yang akan terjadi besok, jika menikah dengan Reza. Baginya Reza bukanlah laki-laki idamannya. Dia menerima lamaran Reza karena menghargai Wira. Seandainya bukan karena Wira, Rika tidak akan menerima lamaran Reza.


"Pak Wira, kenapa Anda harus mengenal mas Reza, bahkan Anda melatihnya ilmu bela diri. Rika takut dia menyalahgunakan kekuatannya untuk sesuatu yang tidak baik. Pak Wira, datanglah. Bantulah kami memecahkan masalah kami. Anda pasti tahu kekurangan kami. Saya hanya seorang gadis yang tidak banyak pengalaman, sementara Kakek saya sudah tua. Dalam menghadapi sesuatu, kami selalu berpikir keras untuk memecahkan dan mencari solusi terbaik. Kini masalah yang kami hadapi lebih rumit lagi. Bahkan Kakekpun tak punya cara untuk membatalkan pernikahan saya dengan mas Reza. Andalah kunci dari masalah ini. Datanglah dan temui kami. Kami sangat mengharap, bisa mengetahui Anda dimana."


Rika duduk meringkuk di kamarnya. Dia menangis meratapi nasibnya. Bayangan akan masa depannya jika bersama dengan Reza, terus menghantuinya. Beberapa menit kemudian terdengar suara batuk Punto di ruang tengah. Rika mengusap air matanya lalu membuka pintu untuk melihat keadaan di luar kamarnya.


Gelap, Kakek Rika sengaja mematikan lampu di ruang tengah agar dia bisa berpikir tenang. Rika berjalan menuju ruang tengah lalu menghidupkan lampu.


" Kakek, Kenapa disini? Gelap-gelapan lagi. Kakek belum tidur? Katanya kepalanya pusing dan sudah ngantuk tadi?" Tanya Rika, lalu duduk disamping Punto.


" Kakek tidak bisa tidur. Di kamar terasa sesak. Disini lebih nyaman."


" Oh jadi begitu, besok kita beli kipas angin ya Kek. Di pasang di kamar Kakek. Biar kalau panas, nggak kepanasan. Tinggal nyalakan kipas angin lalu bisa tidur pulas. Hehe.."


" Rika, kita tidak punya uang untuk membelinya. Lagipula Kakek tidak membutuhkannya. Kakek kalau lagi kepanasan biasa pindah kesini. Disini bagi kakek ruangan yang paling nyaman. Tempatnya luas dan dingin."


" Kita masih punya uang pemberian Pak Wira kan, Kek. Kita gunakan untuk membeli kipas angin, masih sisa banyak kok. Daripada disini, mending di kamar Kakek saja. Kan sudah bagus kamar kakek. Tinggal memasang kipas angin saja agar ruangan kakek dingin."


" Rika, karena uang itu kita jadi tidak bisa menolak lamaran Reza. Padahal, Kakek tidak menyukainya sejak awal. Tetapi berhubung dia datang melamar diikuti Pak Wira, Kakek terpaksa menerimanya. Ini semua karena uang yang diberikan Pak Wira pada kita."


" Lalu bagaimana Kek? Apa sisanya kita kembalikan saja pada Pak Wira. Terus uang yang kita pakai untuk renovasi rumah ini, kita kembalikan kalau Rika dapat pekerjaan."


" Mau kerja apa, Rika? Sekarang mencari pekerjaan susah. Lagipula jika kamu bekerja, siapa yang akan menemani kakek? Kakek sudah tua dan tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain kamu." Punto menangis, dia mengusap air matanya berkali-kali namun air matanya tetap terus mengalir.


" Rika, kenapa di ruangan ini menjadi alasan kakek bilang tempat yang paling nyaman?"


" Rika tidak tahu Kek, bagi Rika biasa-biasa saja. Perbedaannya mungkin memang disini terasa dingin, karena ruangannya yang luas."


" Tidak Rika, bukan karena itu. Disini adalah tempat berkumpul keluarga. Dulu nenek, Ayah dan Ibumu, juga kakak-kakakmu berkumpul disini. Ayahmu sibuk menggambar, Ibumu sibuk menjahit, Kakak-kakakmu sibuk belajar. Sementara Kakek dan Nenek sibuk menonton Tv. Kami semua berkumpul di ruangan ini. Rasanya Ramai dan seru sekali. Kadang Kakek melihat raut wajah mereka saat melakukan aktifitasnya, yang terkadang membuat kakek tertawa. Sekarang semua sudah sirna. Di tempat seluas ini, hanyalah kita berdua. Bagaimana jika Kakek sudah dipanggil yang Maha Kuasa, apa tidak bertambah sepi?"


" Kakek jangan memikirkan masa lalu, itu akan membuat Kakek merasa sedih. Lupakan saja Kek, kita lihat masa depan yang cerah. Rika akan mencari jodoh yang baik, dan memiliki anak yang banyak agar bisa menjadi teman untuk kakek."


" Bukan itu masalahnya Rika. Seandainya mereka masih ada, pasti kita tidak mengalami masa sulit seperti sekarang ini."


" Ya sudah Kakek istirahat saja. Jangan terlalu dipikirkan, nanti Kakek malah sakit lho."


Punto memeluk cucunya lalu mencium keningnya. Dia merasa terharu dengan hidupnya. Setelah dirinya menerima bantuan dari Wira, dia menjadi seperti hutang budi dengan Wira. Apapun yang berhubungan dengan Wira, hatinya selalu bergetar. Seakan hatinya terketuk untuk selalu membalas budi baiknya. Apalagi saat Wira diminta untuk melamar Rika untuk Reza.


......................

__ADS_1


__ADS_2