
Selesai mengganti pakaiannya yang kotor, Reza melanjutkan perjalanannya. Satya berada jauh sekitar seratus meter, mengikuti dibelakangnya. Reza tiba-tiba merasa risih lalu memanggil Satya.
" Satya... aku merasa tak nyaman kau mengikutiku dari jauh. Aku merasa kau seperti mata-mata saja. Kemarilah, kita jalan bersama lagi."
Satya dengan cepat melompat ke arah Reza. Ia lalu tertawa terbahak-bahak, melihat tingkah Reza.
" Kenapa kau malah tertawa? Kau pikir aku takut? jangan salah sangka, aku hanya tak ingin kita seperti ini terus. Aku sudah berjanji menganggapmu sebagai saudaraku. Jadi, aku tak ingin hubungan kita menjadi jauh karena masalah ini."
" Aku tak apa kau berjalan di depan, tugasku hanya mengawalmu. Bukan menemanimu. Ayo, jalan lagi."
" Satya... kau memang brengsek! aku menawarkanmu kebaikan, malah kau tolak. Menyebalkan..."
" Reza, kau sendiri yang menginginkannya. Kenapa kau berubah pikiran? Dalam kamus hidupku, tak pernah aku menelan ludah yang sudah ku buang."
" Oeekkk... Satya, jangan bicara yang menjijikkan. Membuatku menjadi ingin muntah. Jelas saja, aku juga nggak mau seperti itu."
" Dasar bodoh... itu kata kiasan, apa kau tak pernah disekolahkan?"
" Itu pertanyaan tidak penting, tapi aku tahu maksudmu. Satya, seharusnya kau menuruti perintahku karena kau pengawalku. Jika aku ingin kau berjalan bersamaku, ya ikuti saja. Aku memang sempat lega kita berjalan berjauhan. Tapi, dalam hati kecilku bilang, kalau kita ini saudara. Dalam melakukan tugas yang sama, kenapa harus berjalan sendiri-sendiri."
" Reza, kau itu sama denganku. Walaupun kau mempunyai kedudukan yang tinggi dibanding aku. Tapi, aku tak pernah mengikuti perintah siapapun kecuali dari Bos."
" Kau memang membuat kesabaranku habis, Satya. Baiklah kalau kau terus keras kepala. Terserah kamu saja."
Reza melangkahkan kakinya meninggalkan Satya. Lalu dengan cepat Satya mencegah Reza.
" Reza... tunggu dulu. Jangan mudah tersinggung dengan ucapanku. Aku suka denganmu. Kau sebenarnya orang yang baik, tapi pergaulanmu di masa lalu membuatmu menjadi seperti ini. Kau memang pantas ku sebut saudaraku."
" Tak perlu berkata yang tidak penting Satya. Semua orang punya sisi jahat dan sisi baik. Jadi, jangan berlebihan dalam menilaiku. Aku juga bukan orang yang suka dipuji. Pujian tidak akan bisa merubahku. Aku tetap aku. Aku akan menjalani hidup ini sesuai dengan kehendakku. Jika aku ingin baik, itu karena diriku sendiri. Dan jika aku melakukan kejahatan, itu juga karena diriku sendiri. Jangan pernah sekalipun kau berniat merubahku, Satya."
" Haaahh... baiklah, Za. Semoga saja, hatimu yang putih tak pernah hilang. Agar hatimu yang hitam tak menguasaimu."
" Biarkan saja, Satya. Aku sudah dalam lingkaran hitam. Sudah seharusnya aku berbuat sesuai dengan duniaku. Satya, kalau kau ingin berubah, berubahlah. Tinggalkan pekerjaan ini. Aku akan meminta Bos untuk menghilangkan segala sanksi dalam organisasi jika kau ingin keluar."
" Itu tidak mungkin, za. Aku sudah disumpah untuk tidak berkhianat. Meskipun aku sering membangkang dan tak pernah kena hukuman, tapi aku tetap tak bisa meninggalkan organisasi ini. Keluar dari organisasi sama saja dengan mati, Za."
" Itu aturan darimana Satya? Pemimpin kita itu Bos, dan saat ini aku dekat dengannya. Aku akan memintanya untuk menghapus aturan itu."
" Kau terlalu percaya diri, za. Apa kau pernah membuatnya menuruti keinginanmu?"
" Tidak, tapi dia memberikan semua yang kubutuhkan, Satya. Kau bisa lihat sendiri, kan. Aku memiliki semua yang ku punya, itu semua dari Bos. Itu tanda Bos Wijaya peduli dengan anak buahnya."
" Tapi apa kau pernah meminta sesuatu padanya, Za? Kau bilang yang kau miliki saat ini semua pemberian Bos. Lalu apa Bos pernah memberi apa yang kau minta?"
Reza menunduk, pertanyaan Satya membuatnya menyadari sesuatu. Wijaya memang selalu memberikan semua yang Reza butuhkan, tapi dia belum pernah meminta sesuatu pada Wijaya.
" Kenapa za? Apa kau sudah menemukan sesuatu yang ganjal? Kalau kau tak percaya dengan kataku, coba saja kau bicara padanya. Tanyakan padanya, apa peraturan itu bisa dihapus."
__ADS_1
"Jika kata-katamu benar, berarti aku juga tak bisa keluar dari organisasi ini Satya?"
" Iya, sudah banyak anak buah Bos yang mencoba melarikan diri karena ingin keluar dari organisasi ini. Tapi, kemanapun mereka lari, mereka tetap mudah ditemukan. Organisasi ini mempunyai jaringan yang sangat luas, Za. Bos Wijaya menaruh beberapa mata-mata di setiap tempat. Kalau kau ingin keluar dari organisasi, kau akan bersiap-siap dengan kematian."
" Satya... apa kau hanya ingin menakutiku saja? Aku lihat Bos tak sekejam itu. Dia sangat baik kepadaku."
" Aku tak berniat apa-apa, Za. Aku hanya bicara apa adanya. Sesuai dengan kenyataan. Kalau kau berniat untuk keluar, aku tak tahu bahaya apa yang akan menimpamu."
" Jadi aku tak bisa keluar dari organisasi... baiklah, tak apa. Aku sudah senang dengan kehidupan ini, Satya. Aku tak perlu repot-repot mencari kekayaan. Bos telah memberikan kekayaan kepadaku. Aku hanya tinggal menuruti kemauannya saja."
"Hahaha.. Reza, mungkin saat ini kau senang dengan kehidupanmu karena kau masih sendiri. Tapi aku yakin, saat kau ingin berkeluarga nanti, kau pasti akan merasakan keresahan yang sangat dalam. Bagaimana kau akan menikah jika kau saja seorang penjahat. Apa calon istrimu akan bisa menerimamu? Itu adalah perasaan yang pernah aku rasakan saat aku mulai jatuh hati pada seorang wanita yang sangat cantik.
Saat itu, istriku tahu aku seorang penjahat. Awalnya dia ingin menolakku. Tapi akhirnya dia menerimaku setelah aku berjanji akan bertobat."
" Jadi seperti itu. Dan saat kau tobat, hidupmu melarat, kan. Hahaha... mungkin belum saatnya Satya. Tapi, dengan bergabung dengan Bos Wijaya kau bisa mendapatkan semua yang kau inginkan. Berbeda kalau kau usaha sendiri."
" Za, kelak kau akan merasakan hal yang sama sepertiku. Tinggal menunggu waktu saja. Jadi, kau jangan mentertawakanku karena itu sangat tidak lucu."
" Aku tahu itu Satya. Sebelum aku mengalami yang seperti itu, lebih baik aku puas-puaskan dengan tertawa mulai sekarang. Hahaha..."
" Bocah edan... sudahlah... Aku tetap pada pendirianku. Aku bekerja sesuai perintah Bos. Mengawal ya mengawal saja, tak perlu berjalan terlalu dekat. Lagipula kau sudah kuat. Serangan mendadak pun pasti kau sanggup mengatasinya."
" Jika mereka banyak dan mengeroyokku bagaimana? Pasti kau akan membiarkanku kesakitan dulu sebelum menolongku, kan?"
" Hahaha... Reza, kalau kau kesakitan itu karena salahmu sendiri. Berapapun orang yang mengeroyokmu, pasti kau bisa mengalahkannya. Kalau kau sampai kesakitan, itu karena kecerobohanmu."
" Hahaha.. kau memang berwatak pemarah, Reza. Hati-hati, kemarahan itu akan membuatmu lemah."
" Berhenti menceramahiku.. Ayo, cepat kita jalan. Sebentar lagi hujan."
" Biarkan saja hujan... Ini kan sedang musim penghujan. Lalu, mengapa kita menghindarinya."
" Aduh... memang susah bicara denganmu. Jelas saja hujan akan membuatmu kebasahan, kau bilang mengapa kita menghindarinya? Satya... apa kau sedang sakit?" Tanya Reza sembari memeriksa dahi Satya.
" Husshh... jangan sentuh-sentuh sembarangan." Ucap Satya sembari menarik tangan Reza dan menghempaskannya.
" Hahaha... ternyata kau lebih pemarah, Satya. Kau tersinggung dengan ucapanku..."
" Reza, aku tak tahu diriku ini kenapa. Aku tak peduli, tapi ku mohon saat aku berbuat kesalahan, tolong sadarkan aku."
" Ah... dasar kau ini.. sepertinya kau sudah mulai ada tanda-tanda kepikunan, Satya."
" Aku tak tahu, Za. Sudahlah... aku tak mau memikirkannya. Lebih baik kita sembari jalan saja."
" Baiklah, ayo..." Ucap Reza lalu menarik pundak Satya dan mengajaknya berjalan bersama.
Dalam perjalanan, Reza tersadar akan sesuatu. Ia tiba-tiba menjauhi Satya. Keringat dingin mengalir deras di sekujur tubuhnya. Tubuhnya bergetar, lalu ia memberanikan diri untuk bertanya pada Satya.
__ADS_1
" Sat, satya... kau..." ucap Reza dengan terbata-bata.
Satya hanya menatap Reza tanpa mengatakan sesuatu apapun. Ia mendekati Reza yang berjalan mundur menjauhinya.
" Satya... apa kau Satya? tadi kau masih tertidur diatas pohon dan saat aku sudah sangat jauh pergi darimu, tiba-tiba kau sudah berada didepanku. Apa jangan-jangan kamu?" tanya Reza dan bersiap berlari menjauh dari Satya.
" Za, apa yang kamu pikirkan? Iya aku Satya. Apa kau kerasukan setan? Jangan membuatku bingung."
" Tidak, kau bukan Satya. Kau setan, kan. Ayo mengaku. Jangan mengelabuhiku."
" Bocah semprul! Lihat, aku ini benar-benar Satya. Lama-lama aku yang malah menjadi takut kepadamu."
" Tapi bagaimana bisa kau sampai disini dengan begitu cepat?"
" Itu tidak penting. Yang jelas itu adalah salah satu kemampuanku."
" Satya, darimana kau mendapatkan ilmu itu? Bisakah kau mengajarkannya kepadaku?"
" Boleh, tapi ada syaratnya..."
" Apa itu syaratnya? Ayo cepat katakan padaku, Satya..."
" Reza, aku bukanlah seorang guru. Aku mendapatkan ilmu itu dari Bos Wijaya. Dia yang mengajariku. Sebenarnya ilmu itu sangat sulit. Butuh waktu beberapa bulan untuk bisa menguasainya. Namun karena kesungguhanku, aku bisa menguasainya dalam waktu lima hari."
" Kalau begitu, ajari bagaimana caranya agar aku bisa bersungguh-sungguh dalam berlatih, Satya. Aku juga ingin sepertimu. Bisa berjalan dengan cepat."
" Reza, kau tak perlu mengejar ilmu itu padaku. Jika kau sudah sampai ke Puncak Bukit dan menyelesaikan tugasmu, pasti kau akan dengan mudah menguasai ilmu itu.Tapi kau harus belajar sendiri dengan Bos."
" Aku ingin belajar denganmu, Satya. Terlalu lama jika menunggu bertemu Bos. Aku ingin sekali bisa menguasai ilmu itu. Aku mohon, Satya. Ajarkanlah kepadaku."
" Aku tidak bisa, Za. Bersabarlah... dan tunggu saat itu tiba. Kau masih terlalu muda untuk menguasai ilmu itu."
" Baiklah, aku akan menunggu. Aku benar-benar suka dengan ilmu itu. Aku bisa berpindah dari tempat satu ke tempat lain dengan cepat. Bos, aku tak sabar menyelesaikan pekerjaanku dan bertemu denganmu, untuk belajar ilmu itu."
" Za, ayo segera kita lanjutkan perjalanan kita. Jika seperti ini terus kita takkan sampai-sampai di Puncak Bukit."
" Sabar, Satya. Aku sedang membayangkan. Guru, mengajariku ilmu bela diri yang hebat. Aku akan menjadi yang terkuat dan tak terkalahkan. Hahahah.."
" Jangan mimpi yang berlebihan, Za. Diatas langit masih ada langit. Ingat, kesombongan itu akan membuatmu celaka."
" Aku tak peduli, Satya. Aku harus jadi kuat. Tak peduli kau bilang aku sombong. Yang penting aku bisa melampaui siapapun."
" Terserah kamu, Za. Aku malas bicara denganmu."
Satya melangkah dengan cepat meninggalkan Reza. Ia merasa jengkel, nasihatnya tak didengarkan oleh Reza. Namun Reza tak peka dengan gelagat Satya. Dia lebih memilih melambatkan jalannya agar tak berjalan bersama Satya.
......................
__ADS_1