
Pada pagi hari, pemilik kontrakan mendatangi Arti. Dia menanyakan kepada Arti apakah kontrak rumahnya akan dilanjutkan atau akan berhenti sampai hari ini. Namun Arti kebingungan menjawab pertanyaan Pemilik kontrakan.
" Bu Arti, bagaimana dengan kontrakannya? Apa mau lanjut, atau cukup sampai hari ini saja?"
" Eh maaf Bu, saya belum mempunyai uang untuk membayar kontrakan untuk sebulan kedepan, tapi saya masih ingin mengontrak disini. Menunggu sampai seratus hari suami saya. Apa saya boleh, membayarnya akhir bulan berikutnya Bu?"
" Bu, saya ini usaha. Kontrakan ini usaha saya satu-satunya. Setiap bulan saya harus mendapatkan uang. Untuk kebutuhan saya, kalau Bu Arti nggak sanggup bayar, biar saya alihkan pada pengontrak lain. Lagi pula sekarang dimana-mana beaya kontrakan, semuanya naik. Saya akan menaikkan harga kontrakan saya. Jika Ibu nggak sanggup dengan harga satu juta, silahkan angkat kaki dari sini. Biarkan orang lain mendapatkan kesempatan ngontrak di rumah ini."
" Bu, saya mohon. Saya janji akan membayarnya tepat tanggal tiga puluh nanti."
" Bu Arti, kamu hanya seorang pengangguran. Darimana kamu mendapat uang? Mencuri? Menjadi pelacur?"
" Astaghfirullah, bu.. jaga ucapan Ibu. Saya tidak mungkin melakukan hal itu. Saya juga tahu tentang agama Bu."
" Alah.. Jangan bawa-bawa agama, nggak perlu sok suci. Saya tahu, dulu waktu tinggal dirumah Bu Siti, kamu menggoda suaminya kan? Dan kabar itu tercium oleh suamimu dan membunuh suami Bu Siti dengan sadis. Tapi, yang namanya orang bersalah pasti ada saja, apesnya. Akhirnya suamimu yang bodoh itu tewas tertabrak Mobil akibat kebodohannya. Hahaha.. Bu Arti, malang benar nasibmu."
" Bu, saya tidak pernah menggoda suami Bu Siti. Saya sadar diri saya ini siapa. Tak mungkin saya melakukan itu. Coba Ibu tanyakan sendiri pada Bu Siti, apa benar yang Ibu katakan itu?"
" Oh, jadi kamu mau bukti? Baik, saya akan membuat Bu Arti mendengarkan rekaman suara Bu Siti tadi malam saat mengobrol di rumahnya."
" Bu Siti, sekarang setelah Bapak tak ada, dirumah terasa sepi ya, rasanya ada yang kurang. Biasanya, kalau saya lewat depan rumah Bu Siti, saya selalu melihat kalian berdua duduk di teras rumah ini ngobrol sambil minum kopi. Sekarang, saya tak pernah melihat kebersamaan itu lagi."
" Haahh.. Iya Bu.. Saya sangat merasa kehilangan atas meninggalnya Suami saya. Kenapa saya harus mengalami nasib seperti ini. Belum juga, diberi momongan meskipun sudah dua puluh tahun menikah, sekarang saya harus kehilangan suami saya."
" Saya turut berduka Bu Siti. Dan ikut prihatin atas apa yang menimpa Bu Siti."
" Tidak apa-apa Bu Erni. Tetapi saya belum bisa ikhlas kehilangan suami saya. Kenapa juga saya dahulu mengizinkan Arti tinggal disini. Semenjak ada Arti di rumah saya, suami saya sering mengajak bertengkar. Saya berpikir, apa ini ada kaitannya dengan Arti. Dan benar saja, saya pernah memergoki suami saya meremas buah dada milik Arti. Saya mengetahui hal itu, saya tahu persis. Arti sangat menikmati remasan tangan Suami saya. Namun dia tahu saya melihat kejadian itu, dia pura-pura berteriak dan berlari membawa anaknya keluar rumah.
Awalnya suami saya ingin mengejarnya, namun saat tahu saya keluar dari kamar saya, dia pura-pura berlari mencari suara siapa yang berteriak."
" Oh jadi begitu ceritanya. Lalu bagaimana dengan suami Bu Arti? Kenapa dia tiba-tiba datang dan membunuh suami Bu Siti?"
" Saya yakin Bu, setelah saya pergoki, Arti bicara yang tidak benar dengan suaminya. Pasti dia mengarang cerita yang seolah suami saya yang salah."
" Jadi begitu ya Bu, saya tak menyangka kalau Bu Arti orangnya tak sebaik yang saya kira."
Pemilik kontrakan mematika rekaman suara dari Hpnya. Arti tertunduk sedih, dia berulang kali mengucap kata istighfar. Sementara Pemilik kontrakan terus mencoba membuat Arti tak betah tinggal di kontrakannya dengan terus mengolok-olok Arti.
" Bu Arti, apa gunanya kamu Shalat setiap waktu, memakai jilbab, sementara akhlakmu buruk. Aku tak menyangkanya. Ternyata kamu tak sebaik penampilanmu."
__ADS_1
" Bu, Anda tak perlu menghina saya. Semua orang punya kesalahan, tapi demi Tuhan saya tidak melakukan apa yang dituduhkan Bu Siti."
" Maling mana mau mengaku maling, sudahlah bu Arti. Tak perlu ditutup-tutupi. Lagi pula semua sudah jelas. Dan bukannya Bu Arti bebas dari tuduhan ikut merencanakan pembunuhan suami Bu Siti. Jadi apa salahnya mengaku saja."
" Bu, saya tidak akan pernah mau mengakui apa yang tidak saya lakukan. Jika Ibu mau menghina saya, mau menjelek-jelekkan saya, saya terima. Tapi jangan memaksa saya untuk mengakui perbuatan apa yang tidak pernah saya lakukan."
" Halah, keluarga Bu Arti itu hanya pembawa sial saja. Kasihan Bu Siti, dua puluh tahun menikah belum diberi keturunan, sekarang malah ditinggal suaminya meninggal. Dan itu gara-gara suami Bu Arti. Yang perempuan suka merebut suami orang, yang laki membunuh suaminya orang, anaknya besok mau jadi apa? Mau mengikuti jejak orang tuanya? Lebih baik pergi saja dari kontrakan saya. Jangan lama-lama disini. Lagi pula, orang lain ada yang mau mengontrak disini dengan harga dua kali lipat yang Bu Arti bayarkan."
Arti terus menangis mendengar ucapan pemilik kontrakan yang terus membuat hatinya sakit. Namun dia tak punya daya apa-apa. Khalid kasihan melihat Ibunya terus menangis, kali ini dia tahu siapa yang membuat Ibunya menangis. Khalid pun membela Ibunya dan menyuruh pemilik kontrakan untuk berhenti membuat Ibunya menangis.
" Bu, pergi dari sini! Jangan membuat Ibuku menangis. Pergi! Pergi!" Ucap Khalid sambil berusaha mendorong-dorong Pemilik kontrakan agar menjauh dari Ibunya dan lekas pergi dari rumahnya.
" Eh, enak saja.. Ini rumah saya. Kalian hanya megontrak disini. Kalian yang harus pergi dari sini. Dasar anak nggak tahu diri, pemilik kontrakan malah mau diusir."
" Pergi, cepat pergi! Kalau tidak aku akan marah dan memukul Ibu." Khalid terus berusaha mendorong pemilik kontrakan.
Arti tiba-tiba tersulut emosinya mendengar kata-kata yang semakin menyakitkan hatinya. Apalagi pemilik kontrakan membawa-bawa Khalid ke dalam masalah keluarga Arti.
" Bu, cukup! Saya akan pergi dari kontrakan Ibu! Ayo nak, kita bereskan pakaian kita. Kita akan pergi dari sini."
" Ibu, kita mau kemana? Disini rumah kita kan, Bu?"
" Tapi Bu, bukannya Ibu membeli rumah ini dengan uang Ibu? Khalid tidak mau pergi dari rumah ini Bu."
" Khalid, kita hanya mengontrak sayang. Rumah ini harganya sangat mahal, Ibu tidak sanggup untuk membelinya. Uang yang dulu Ibu kasihkan ke Ibu itu, Hanya untuk beaya kontrak. Sekarang waktu kontraknya sudah habis, kita harus meninggalkan rumah ini."
" Oh jadi begitu ya Bu." Ucap Khalid, lalu terdiam. Dia tak tahu Ibunya berbohong atau berkata yang sebenarnya atas rumah yang dia tempati. Namun dia tak ingin memikirkan hal itu. Lalu khalid pun menyusul Ibunya membereskan barang-barangnya.
Pada pukul sepuluh pagi, Arti telah membereskan semua barang-barangnya. Di depan teras, pemilik kontrakan sudah menunggunya.
" Bu, kami hanya bisa membawa pakaian-pakaian kami. Peralatan masak setrika dan peralatan mandi, masih ada d dalam. Namun kami telah menjadikannya jadi satu. Saya menitip dulu, besok kalau saya sudah mendapatkan kontrakan lagi, saya akan ambil Bu."
" Enak saja menitip, kalau mau nitip harus ada ongkos menitipnya. Di dunia ini tak ada yang gratis Bu Arti." Ucap Pemilik kontrakan dengan nada sinis.
" Ya Tuhan, Bu saya hanya mau menitip. Jika nanti saya dapat kontrakan lagi, saya aka ambil hari ini juga, tak perlu menunggu besok Bu."
" Aku yakin kamu takkan mendapatkan kontrakan dengan mudah lagipula bukannya kamu nggak punya uang, lalu bagaimana kamu akan mengontrak? Dengan meminta belas kasihan orang? Sekarang ini, hal semacam itu sudah tak berlaku lagi Bu Arti."
" Bu, saya akan berusaha. Saya tidak akan meminta belas kasihan orang."
__ADS_1
" Baiklah, begini saja. Itu barang-barangmu yang ada di dalam, daripada kamu repot membawanya, aku akan membelinya. Bagaimana? Lumayan kan bisa untuk tambahan mengontrak rumah lagi"
Arti berpikir sejenak, dia kemudian membenarkan ide Pemilik kontrakan, dengan menjual barangnya setidaknya dia bisa mendapatkan tambahan uang untuk mengontrak rumah.
" Baik, Bu. Jika Ibu mau, saya akan menjualnya untuk Ibu."
" Baiklah, kalau begitu. Ini saya kasih uang cash." Ucap Pemilik kontrakan sambil memberikan uang pecahan lima puluh ribu sebanyak tiga lembar.
" Ini sudah semua Bu?" Tanya Arti.
" Iya, kenapa? Masih kurang? Itu sudah cukup mengingat barang-barangmu yang sudah bekas."
" Tapi Bu, barang-barang saya terutama alat masak, wajan, panci, teko, semua masih baru. Setrika juga baru dua kali di pakai Bu, Suami saya yang membelinya tiga bulan yang lalu. Itu semua harganya lebih dari satu juta. Setidaknya Ibu membelinya dengan harga yang wajar."
" Bu Arti, saya hanya menawarkan. Itu juga kalau Ibu mau, kalau tidak saya juga tidak memaksa. Saya hanya mau membeli dengan harga segitu. Kalau Bu Arti minta lebih, saya tidak sanggup. Silahkan bawa semua peralatan milik Bu Arti. Saya mau menghubungi orang yang mau mengontrak disini."
" Ya Tuhan, baiklah Bu kalau memang Ibu mau membelinya dengan harga segitu."
" Bagaimana? Bu Arti mau tidak? Kalau tidak ya tidak apa-apa."
" Iya Bu, saya mau."
" Nah, kalau begitu, ini uangnya. Sekarang pergilah. Saya mau lihat-lihat kontrakan saya dulu. Ada yang perlu dibersihkan atau tidak."
" Saya sudah membersihkannya semalaman Bu. Saya rasa semua sudah bersih."
" Oh, begitu. Baik, tapi saya tetap akan melihat dulu."
" Baik kalau begitu kami mohon pamit Bu. Terima kasih selama ini sudah mengizinkan mengontrak dirumah ini. Saya merasa sangat tertolong."
" Iya." Ucap Pemilik kontrakan lalu masuk menutup pintu rumah kontrakanya.
Arti menghela nafas, betapa berat cobaan hidupnya. Sementara anaknya masih kecil. Dia harus merasakan hidup yang tak mengenakkan bagi dirinya.
" Ya Tuhan, jika cobaan ini karena dosa-dosa kami, hamba akan menerimanya. Namun jika cobaan ini karena usaha kami yang belum maksimal, maka berikan kami petunjuk dan kekuatan agar kami bisa melalui semua ini dengan ikhlas."
Khalid menatap Ibunya. Dalam hatinya, dia tak ingin melihat Ibunya susah. Dia berjanji pada dirinya sendiri, saat besar nanti akan membahagiakan Ibunya.
" Ibu, Khalid akan membahagiakan Ibu. Tunggu saat itu tiba. Khalid berjanji takkan membiarkan air mata Ibu terjatuh." Ucap Khalid lirih, namun tak terdengar oleh Arti.
__ADS_1