SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
KEMATIAN RIKO DAN RANI


__ADS_3

Dengan tertatih-tatih, Bulan membawa Raka berjalan mendekati Ibunya. Tubuh berat Raka membuat Bulan tampak kewalahan. Namun ia berhasil membawa Raka mendekat kepada Ibunya.


" Ibu.. dimana Ibu? Jangan menangis, masih ada Raka disini Bu." Raka berusaha menenangkan Rani.


" Bu, kita harus melakukan sesuatu. Kita tidak bisa melakukan apa-apa jika Ibu saja, malah menangis. Ibu harus kuat. Saat ini lah, Ibu yang menjadi pemimpin kami. Katakan sesuatu, Bu. Agar kita semua selamat."


" Baiklah, Bulan. Ibu akan berbicara dengan Wijaya." ucap Rani.


" Wijaya.. apa yang sebenarnya kamu inginkan? jika aku sanggup, dan kalaupun aku harus mati, tolonglah katakan saja sejujurnya. Asalkan keluargaku selamat."


" Hahaha.. Rani! bagaimana aku akan mengatakannya kepadamu. Aku sebenarnya tidak enak untuk mengatakannya kepadamu. Tapi jika kau memohon kepadaku, aku akan berikan persyaratanku kepadamu."


" Syarat apa, Wijaya?"


" Jika kau ingin keluargamu selamat, kau harus menjadi istriku. Dan tanah ini harus menjadi milikku, Rani. Apa kau setuju denganku?"


" Wijaya.. aku tak mungkin meninggalkan mereka. Mereka hartaku satu-satunya yang menentramkan jiwaku. Jika kau menginginkan tanah ini, ambillah. Aku sudah mengikhlaskannya kepadamu."


" Hahaha.. Rani, awalnya aku memang ingin menguasai tanah ini, tapi setelah aku tahu Tanu dan kamu yang memiliki, aku semakin bersemangat untuk memilikinya. Lalu, aku teringat dendam pada Tanu yang telah menyebabkan Putiku meninggal. Dan kau tahu, sejak lama aku sudah membencimu, Rani. Kau menolakku dan lebih memilih Tanu daripada Aku. Dendamku semakin bertambah, aku berniat akan membunuh kalian semua.


Dan sekarang kau memohon kepadaku agar tak membunuh keluargamu. Rani, walaupun aku ini seorang penjahat, namun aku masih mempunyai sisi baik. Kau memohon kepadaku, aku akan mengabulkannya, tapi dengan satu syarat. Jika kau tak menerima persyaratanku, maka sebentar lagi kau akan mengetahui, satu persatu keluargamu akan mati! Hahaha.."


" Wijaya.. apa tak ada persyaratan lain selain itu?" tanya Rani lagi.


" Hemm.. ada. Tapi apa kau sanggup melakukannya?" jawab Wijaya sambil tersenyum sinis.


" Apa itu persyaratannya, Wijaya. Jika aku sanggup, aku akan melakukannya untukmu."


" Rani, meskipun usiamu sudah tak muda lagi seperti diriku, namun kau masih tetap cantik seperti dulu. Tak ada yang berubah dari dirimu. Malah, kau semakin cantik dimataku, Rani."


" Katakan saja apa maumu, Wijaya. Jangan membahas yang tidak penting!" ucap Rani geram.


" Rani, kalau kau tak ingin menjadi istriku, kau cukup melayaniku selama tujuh bulan berturut-turut. Kita lakukan hubungan layaknya suami istri. Apa kau sanggup?"


" Kurang ajar! dasar laki-laki bejat! Ibu, jangan dengarkan dia. Jangan mau terpengaruh oleh kata-katanya."


" Tenang, Bulan. Ibu takkan pernah mau melakukannya."


" Ibu, biar Bulan beri pelajaran pada laki-laki tua gila itu. Mulutnya perlu diberi jotosan."


" Bulan, dia bukan tandinganmu. Memukulnya sekuat tenagamu saja, takan melukainya. Lihatlah Ayahmu, dia kalah oleh Wijaya."


" Tapi, tangan Bulan sudah gatal ingin memukulnya. Bulan tidak terima Ibu direndahkan seperti itu didepan Bulan, apalagi ada Ayah disini. Dia sungguh tak menghargai adanya Ayah."


" Hei, kalian berdua. Apa yang sedang kalian bicarakan? Aku tak mau menunggu lama. Cepat katakan, Rani! Mau atau tidak menjadi pelayanku selama tujuh bulan berturut-turut?"

__ADS_1


" Wijaya, aku tak bisa. Aku tak mau. Tolong beri persyaratan yang lain."


" Tak ada syarat lain, Rani. Kalau begitu, kau akan melihat Satu persatu keluargamu akan mampus. Reza! bunuh anak ingusan itu!"


" Jangan!! aku mohon, jangan Wijaya!" teriak Rani sembari menangis.


Tak mengindahkan teriakan Rani, Reza memukul dada kiri Riko dengan keras. Seketika itu, tubuh Riko yang awalnya masih terlihat kokoh berdiri, kini lemah dan tak berdaya. Kedua bawahan Reza pun melepaskan Riko.


" Riko!!! teriak Rani Bulan dan Tanu secara bersamaan.


" Riko, kenapa dengan Riko? Apa yang terjadi dengannya?" ucap Raka dalam hati. Dia merasakan cemas yang sangat besar. Tubuhnya pun mulai berkeringat.


" Riko..." ucap Rani dan Bulan dengan lemas.


" Wijaya! kau benar-benar kejam! kau membunuh putraku! Aku takkan membiarkanmu!" Teriak Tanu dengan penuh amarah.


" Hahaha.. itu semua salah istrimu, Tanu. Jika saja istrimu mau melayaniku, aku takkan membunuhnya."


" Kurang ajar! Wanita manapun takkan sudi menerima persyaratan itu, Wijaya! Istriku adalah orang yang setia! Dia bukan wanita murahan seperti wanita-wanitamu!"


" Hahaha.. istrimu memang bodoh, Tanu. Seharusnya, jika dia sayang keluarga. Dia merelakan dirinya berkorban untuk keluarganya."


" Diam kau, Wijaya! Aku bersumpah akan membunuhmu!"


" Sial! kenapa aku harus kalah dengannya. Apa yang harus ku lakukan. Tapi aku tidak boleh menyerah. Aku masih mempunyai dua kaki untuk menendangnya." ucap Tanu dalam hati.


" Ayo, Tanu. Tunggu apalagi. serang aku kalau kau bisa! hahaha.."


" Baiklah, Wijaya. Aku akan menyerangmu!"


Tanu berlari menuju ke arah Wijaya. Ia mulai memukul dan menendang ke arah Wijaya. Namun tak satupun pukulan dan tendangannya yang mengenai sasaran. Tanu dibuat seperti mainan oleh Wijaya.


" Wijaya... jangan menghindar! Ayo serang aku!" Tanu merasa jengkel karena Wijaya seolah-olah mempermainkannya.


" Hahaha.. dengan tanganmu yang patah, kau bisa apa? Jika aku menyerangmu, pasti kau langsung mati."


" Bunuhlah aku jika kau memang ingin membunuhku, Wijaya! Ayo serang aku!"


Mendengar teriakan Tanu yang menginginkan Wijaya segera membunuhnya, membuat Wijaya tertawa cekikikan. Tubuh yang terluka dihadapannya, membuatnya sangat geli. Bisa-bisanya orang yang terluka parah, masih sempat mencoba memukul dan menendang ke arahnya. Apalagi, gerakan Tanu seperti robot yang sudah rusak dan tak bisa dikendalikan.


" Ayah.. kasihan sekali, Ayah. Kau jadi bahan mainan dan tertawaan Wijaya dan teman-temannya." ucap Rani lirih sambil menangis melihat tubuh Tanu yang sudah lemah, namun dipaksakan untuk bergerak.


" Ibu.. biarkan Bulan membantu Ayah. Kasihan dia, Ayah sudah tak sanggup lagi untuk melawan Penjahat itu. Izinkan Bulan membantunya, Ibu."


" Bulan, Penjahat itu ada dimana? bawa aku mendekat kepadanya. Aku akan membalaskan dendam atas rusaknya kedua mataku. Dimana dia, Bulan?" ucap Raka dengan geram, ingin sekali menghajar Wijaya.

__ADS_1


" Kak, kalau berjalan saja kakak tak mampu, bagaimana akan menghajarnya. Lebih baik Kakak jaga Ibu saja. Biarkan Bulan yang menghajarnya."


" Tidak, Bulan. Aku ini laki-laki. Aku takkan membiarkan kau menyerangnya sendirian. Aku tahu kemampuanmu belum seberapa. Jangan memaksakan dirimu, aku tak ingin kau terluka."


" Raka, Bulan.. sudahlah. Kalian jangan berdebat. Biar Ibu saja yang akan membunuhnya."


" Ibu, bagaimana Ibu akan membunuhnya jika Ibu saja tak mempunyai kemampuan ilmu bela diri. Biar Bulan saja, Bu." pinta Bulan pada Rani.


" Iya.. Bulan benar, Bu. Ibu tak perlu melawannya. Biar kami saja." ucap Raka sembari memegang pundak Ibunya, berharap Ibunya tak melakukan apa yang telah dikatakannya.


" Anakku...Ibu akan mencoba, meskipun Ibu tak mempunyai kekuatan, Ibu masih mempunyai pikiran. Kalian tetap disini. Jika Ibu berhasil, Ibu tak yakin Ibu akan selamat. Tapi jika Ibu gagal, Ibu berharap salah satu dari kalian bisa membalaskan semua perbuatan Wijaya."


" Tapi Ibu, bagaimana caranya?" tanya Raka dan Bulan bersamaan.


" Ibu punya cara tersendiri. Kalian tetap disini, Ibu akan bicara pada Ayah kalian." ucap Rani lalu bergegas mendekati Tanu yang sudah lemas terduduk di hadapan Wijaya.


" Wijaya.. menyingkirlah dari suamiku! Aku ingin berbicara sebentar dengan suamiku." Pinta Rani pada Wijaya, Wijaya pun menyingkir dan bergabung dengan Reza dan teman-temannya.


"Ayah, apa kau masih sanggup bertahan?" tanya Rani sembari menahan pundak suaminya yng hampir saja roboh ke tanah.


" Ibu.. tubuhku sudah sangat lemah. Mungkin waktu Ayah, sudah tak banyak lagi." ucap Tanu lirih.


Rani menangis sembari memeluk tubuh suaminya yang lemah dan penuh luka. Ia lalu berkata pada suaminya.


" Ayah, biarkan Ibu membunuhnya. Apa Ayah, Ikhlas mempunyai istri seorang pembunuh?"


" Ibu.. jika Ibu mampu, lakukanlah.. Ayah tak akan membenci Ibu. Kita semua disini hanya membela diri, bukan sengaja melawan mereka."


" Baiklah, Ayah. Jika Ayah sudah ridho, Ibu akan melakukannya." ucap Rani, lalu ia memeluk dan mencium suaminya lalu membaringkan tubuh Tanu.


Dengan langkah pelan dan hati-hati, Rani berjalan menuju ke arah Wijaya lalu berkata kepadanya.


" Wijaya.. ada yang ingin ku katakan kepadamu. Kemarilah." Pinta Rani, lalu berjalan menjauhi Wijaya dan anak buahnya.


Wijaya pun mengikuti keinginan Rani, namun Reza sudah berjaga-jaga. Ia khawatir Rani melakukan sesuatu pada Bosnya. Dalam diam dia mengerahkan tenaga dalamnya dan memusatkannya ke telapak tangannya.


" Wijaya, mendekatlah kepadaku. Peluk aku, asal kau bahagia dan bisa menghapus dendam kamu."


Dengan senang hati Wijaya menuruti keinginan Rani. Namun disaat Wijaya mendekat dan hampir memeluknya, Rani mengeluarkan pisau dapur dan berniat menusuk ke arah jantung Wijaya.


" Bos.. awas!" teriak Reza lalu dengan secepat angin melesat ke arah Wijaya dan memukul Rani hingga terpental jauh sejauh dua puluh meter hingga keluar halaman rumahnya.


Tubuh Rani melayang dan jatuh terkapar ke tanah, tubuhnya hangus. Dalam beberapa detik ia tak sadarkan diri dan langsung menghembuskan nafas yang terakhir.


......................

__ADS_1


__ADS_2