
Tujuh hari setelah kematian Wira dan Satya, suasana di desa Lereng Bukit terlihat sepi. Ada sebagian warga yang pergi ke kota dan lebih memilih meninggalkan rumahnya untuk mengadu nasib.
Mereka yang bertahan di desa Lereng Bukit adalah orang-orang yang sudah terlanjur mencintai rumah dan desanya. Mereka memilih bertahan, agar desa yang mereka tempati bisa berkembang.
Sedangkan Bono, lebih memilih pindah ke luar kota karena dipercaya oleh Pemerintah daerah setempat untuk bekerja menjaga rumah dinasnya. Ia tak lupa membawa istri dan anaknya ikut bersamanya.
Keputusan Bono sudah Bono tanyakan pada Tanu dan keluarganya. Malah, Tanu sendiri lah yang memberikan Bono pekerjaan itu. Setelah dirasa, Wijaya takkan kembali lagi ke rumah mereka dan melakukan teror kepada mereka.
...----------------...
Di tempat terpisah, Arti dan khalid masih bertahan di kontrakannya yang baru. Berbeda dari pemilik kontrakan yang lama, kali ini pemilik kontrakan mempunyai sifat yang sangat baik. Bahkan khalid dianggap seperti anaknya sendiri.
Pada suatu pagi ketika Arti dan khalid sedang menyantap sarapan pagi mereka, Rani menelpon.
" Halo, Arti.. Assalamualaikum.." sapa Rani dari dalam telpon
" Halo juga, Bu Rani.. Waalaikumsalam.. Bagaimana Bu?"
" Lama nggak ada kabar, apa kamu betah di kontrakan barumu?"
" Hehe.. kalau mau dibilang betah, ya saya betah Bu. Anak saya juga senang tinggal disini. Tetapi, Bu Rani jangan khawatir. Tak kan lama lagi saya akan ke rumah Ibu. Tinggal menghabiskan sisa kontrak bulan ini saja, Bu."
" Oh, tidak apa-apa, Arti. Kalau kamu masih betah dan senang tinggal disitu. Yang penting kamu tidak bernasib sama seperti dulu. Aku tak memaksamu kemari, kalau kau sudah menemukan kebahagiaanmu disitu."
" Eh, bagi saya sama saja Bu. Disini atau ditempat Ibu, sama-sama menyenangkan. Apalagi, dangan adanya Tama. Saya juga merindukan Tama. Khalid juga sering menanyakannya."
" Hahaha.. iya, aku juga nggak tahu. Kenapa Tama itu lebih sering ditanyakan sama orang daripada Rama."
" Mungkin saja karena tingkahnya yang menggemaskan Bu. Saya juga terkadang gemas, lihat Tama mengoceh. Kalau Rama, saya belum pernah melihatnya."
" Kalau begitu.. cepat kemari, Arti. Dia juga lucu, kok. Tak kalah sama kakaknya. Wajahnya juga tampan, lembut sekali tatapan matanya."
" Wah.. saya jadi sudah tak sabar ingin segera kesana, Bu. Tapi, kalau kontrakan ini saya tinggal, sayang uangnya. Soalnya saya sudah kasih uang cash pada pemilik kontrakan hingga akhir bulan ini, Bu."
" Ya sudah.. nggak apa-apa, Arti. Nggak perlu terburu-buru. Aku juga masih bisa kok, merawat Tama dan Rama hingga mengerjakan pekerjaan rumah."
" Ibu sabar dulu, ya.. tinggal belasan hari lagi saya akan ke tempat Ibu."
" Baiklah, Arti.. Kalau begitu sudah dulu, ya. Nanti disambung lagi. Rama menangis, mungkin dia haus. Saya mau menyusuinya dulu. Assalamualaikum, Arti."
" Iya, Bu.. Waalaikumsalam.."
Arti menutup telponnya, ia kemudian melanjutkan menyantap sarapannya. Khalid sudah selesai makan semenjak tadi dan sudah selesai mencuci piringnya.
" Khalid, kau sudah selesai sarapan?" tanya Arti.
" Sudah dari tadi, Ibu. Aku juga sudah mencuci piringnya."
" Eh, siapa yang menyuruhmu mencuci piring? Memangnya kamu bisa? Lain kali biar Ibu saja yang mencuci. Kamu kan, masih kecil."
" Aku sendiri yang mencucinya Bu, tak ada yang menyuruhku. Aku hanya tak ingin Ibu terlalu capek."
"Khalid.. anakku.. aku bangga padamu, Nak. Mudah-mudahan kelak kalau besar kau akan selalu seperti ini sama Ibu. Jadilah orang besar yang baik, anakku."
" Iya, Bu.. Khalid berjanji.
__ADS_1
Usai berkata, Khalid menuju ruang tamu untuk bermain dengan mainannya. sementara Arti, melanjutkan menghabiskan sarapannya.
...----------------...
Di teras rumahnya, Tama sedang mencoba menggambar dirinya bersama keluarganya. Entah, dari siapa dia mewarisi bakat menggambarnya. Bukan dilihat dari gambarnya yang bagus, tetapi dari segi pikirannya yang mampu menggambarkan gambar kebersamaan Tama dan keluarganya.
" Tama, kamu menggambar apa?" tanya Rani yang baru saja keluar dari kamarnya.
" Aku menggambar keluarga kita, Bu.." jawab Tama dengan cidal.
" Owh, hehe.. Tama menggambar Ibu sedang menggendong Rama? Terus kamu di gendong sama kak Bulan yang berada di samping Ibu. Ayah di belakang Ibu, kedua kakak kembarmu disamping kanan dan kiri Ayahmu. Benar kan, Tama?"
Tama menanggukkan kepalanya. Apa yang ia gambar, memang menggambarkan suasana kebersamaan keluarga Tanu. Itulah, yang ingin Tama ungkapkan dalam gambarnya.
" Tama, kau itu bakat dalam menggambar. Besuk kalau kamu mau, kamu bisa jadi Arsitek, lho. Kamu juga bisa mengembangkan bakatmu dengan melukis."
" Iya, Bu.. aku mau jadi Arsitek. Biar punya uang banyak agar bisa membelikan susu untuk Rama."
" Hehe.. bisa saja kamu, Tam. Sini.. karena Ayahmu nggak ada, Ibu yang akan memberi kamu nilai."
Rani meminta gambar Tama lalu memberikan nilai di samping bawah gambarnya. Ia juga memberikan tanda tangan dan tanggal pada saat ia memberikan nilainya.
" Nah, sudah Tama. Ibu kasih nilai seratus untuk kamu. Tolong disimpan ya. Soalnya, gambar kamu bagus sekali. Jangan sampai hilang dan jangan sampai dicoret-coret."
" Iya, Ibu.." jawab Tama lalu segera menyimpan gambar hasil karyanya di kamarnya.
...----------------...
Di Rumah dinas Bupati kota Apel, Bono merasa dirinya was-was. Ia tak tahu apa penyebabnya. Pikirannya kalut, dia juga sering lupa kalau dia adalah seorang karyawan yang bertugas menjaga rumah dinas seorang Bupati.
Pagi ini, Bono keluar masuk kamarnya mencari ikat pinggangnya yang mau dipakai untuk bekerja. Sementara Rika tiduran dikamar sembari menyusui anaknya. Ia merasa heran dengan kelakuan Bono yang semenjak tadi terlihat keluar masuk kamar, seperti kehilangan sesuatu. Ia pun bertanya pada Bono.
" Eh, ini Bu.. Ayah lupa menaruh ikat pinggang Ayah. Tadi sudah ketemu, tetapi kenapa malah hilang. Ayah sudah mencarinya kemana-mana tapi tak ketemu juga."
"Ya ampun.. ikat pinggang Ayah itu, dileher Ayah. Yang Ayah kalungkan dileher, itu ikat pinggang, kan?"
" Astaga.. kenapa Ayah menjadi seperti ini, Bu. Pasti ada yang tidak beres. Pertanda apa ini?"
" Ibu juga nggak tahu, Ayah. Memangnya Ayah kenapa? Kenapa sudah seperti orang pikun?"
" Ayah tidak tahu, Bu. Seperti akan terjadi sesuatu. Tapi apa, Ayah tidak mengerti."
" Sesuatu apa, Ayah? jangan buat Ibu resah. Ingat, anak kita masih kecil. Ibu nggak mau bernasib sama seperti Bu Novi."
" Husshhh.. jangan bilang begitu. Ini tak ada kaitannya dengan Ayah. Mungkin saja, ini berhubungan dengan Keluarga Pak Bupati."
" Memangnya akan terjadi apa, Ayah? Ibu kok, jadi bingung. Jika memang akan terjadi sesuatu pada Bupati kita, Ayah harus lebih waspada."
" Maksudnya bagaimana, Bu? Ayah harus waspada bagaimana?"
" Ya, waspada saja.. Ayah. Ibu juga nggak tahu mau bilang apa."
" Hehehe.. Ibu, Ibu.. ya sudah, kalau begitu Ayah mau berangkat dulu."
" Baiklah kalau begitu, Ayah. Pamit sama anaknya juga. Jangan sampai nggak pamit sama anaknya, lho."
__ADS_1
" Oh, iya.. Narendra, Ayah berangkat kerja dulu, ya. Jangan nakal ya, kalau butuh apa-apa, nanti minta sama Ibumu. Assalamualaikum."
Bono mencium pipi Narendra dan keningnya. Ia kemudian mencium kening istrinya lalu bergegas keluar menuju rumah dinas Bupati untuk berjaga disana.
...----------------...
Di sekolah SMA Bangun Jaya, Tanu tak sengaja bertemu dengan Wijaya. Bahkan, ia menyambut kedatangan Wijaya dengan baik. Dia juga sempat berbicara panjang lebar pada Wijaya. Ia tidak tahu, kalau Wijaya adalah ancaman terbesar dalam hidupnya.
" Selamat pagi, Pak.." Sapa Tanu sembari memberikan senyum hangat pada Wijaya.
" Pagi, juga. Saya hanya mau melihat-lihat sekolah ini. Boleh, kan?" ucap Wijaya sembari membusungkan dadanya.
" Oh.. silahkan, Pak." Ucap Tanu lalu pergi meninggalkan Wijaya dan membiarkannya berjalan-jalan, melihat sekolah mendiang Putrinya.
Di Pos satpam, terlihat Bagus celingukan melihat ke arah Wijaya. Setelah ia tahu Tanu sudah tak bersama Wijaya lagi, dan suasana sedang sepi, Bagus mendatangi Wijaya.
" Pak Wijaya.." sapa Bagus dengan penuh hormat pada Wijaya.
" Oh, kamu Gus.. ada apa kau mencariku? Bukankah tadi, kita sudah bertemu?"
" Eh, saya mau berbicara sedikit, Pak Wijaya. Apa saya mengganggu Anda?"
" Mau bicara apa? sepertinya sangat penting, sehingga kau menyempatkan menemuiku, disaat orang-orang mengerjakan aktivitas mereka."
" Iya, penting atau tidak.. saya hanya mau memberitahu kalau yang barusaja bicara dengan Anda, adala Pak Tanu."
" Tanu? aku seperti tak asing dengan nama itu. Dimana tempat tinggalnya?"
" Rumahnya di lereng Bukit utara sana, Pak. Saya belum perna kerumahnya. Tapi saya tahu alamatnya."
" Lereng Bukit? Apa dia warganya Wira? Ahh... masa bodoh, apa pentingnya dia bagiku. Aku tidak punya waktu untuk mengurus dia." ucap Wijaya dalam hati.
" Ehem... " Bagus berdehem lalu dia menyadarkan Wijaya yang seperti sedang melamun.
" Maaf Pak, Wijaya.. kenapa Anda terdiam? Apa Anda mengenalnya?"
" Oh, tidak.. aku belum pernah bertemu orang itu. Lalu, kenapa kau memberitahuku tentang dia?"
" Begini, Pak Wijaya.. Pak Tanu itu Guru yang sangat di idolakan di sekolah ini. Dia Guru teladan yang mempunyai banyak prestasi. Makanya para murid wanita, banyak yang menyukainya. Terutama..."
" Terutama siapa? jangan membuatku menebak-nebak, Bagus! Apa kau mau cari mati?"
" Eh, maaf Pak Wijaya.. terutama Vina, putri Anda."
" Vina katamu? Jangan mengada-ada, Gus! Apa kau sudah bosan hidup?"
" Eh, saya berkata apa adanya.. Pak Wijaya. Bahkan saya pernah melihat mereka berduaan di parkiran sekolah ini dikala sepi."
"Apa?? Gus... jangan keterlaluan! anakku tidak mungkin berbuat seperti itu! Kubunuh kamu!"
" A... ampun, Pak. Saya mengatakan yang sebenarnya. Dan saya menduga, kematian Vina ada kaitannya dengan Pak Tanu."
" Kurang ajar! apa maksudmu, Gus? jika kamu mengarang cerita, ku buat kau malam ini sudah tak bisa menghirup udara bebas lagi!"
" Eh, maaf.. Pak.. saya.." Bagus merasa gugup. Ia tak mampu mengatakan apa-apa. Melihat wajah Wijaya membuatnya merasa seperti melihat puluhan polisi yang sedang menggrebeknya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Kepala sekolah mendatangi Wijaa dan Bagus. Ia menyapa Wijaya dan mengajaknya bicara di ruang kepala sekolah. Hati Bagus merasa sedikit lega. Ia berharap, Wijaya melupakan kata-katanya.
......................