SEMUA TENTANG DENDAM

SEMUA TENTANG DENDAM
RESTORAN TEMAN WIJAYA


__ADS_3

Malam yang cerah dihiasi bintang-bintang yang bertaburan di langit, membuat suasana malam menjadi berwarna. Keindahan yang tercipta, mampu menghasilkan kenyamanan bagi siapapun yang merasakannya. Sekumpulan anak muda ataupun orang tua, tertawa bersama merasakan kehangatan, saat bersama teman ataupun keluarga mereka.


Namun berbeda dengan Vina, yang datang ke sebuah restoran kecil di tepi jalan dekat dengan sebuah danau. Vina merasakan ketidaknyamanan karena Papanya terdiam setelah pengakuan Vina tentang uangnya.


" Papa, jangan diam. Vina jadi enggak nyaman kalau Papa enggak mau bicara." Ucap Vina lalu berdiri di depan Wijaya.


" Papa menunggu kamu bicara kok." Ucap Wijaya sambil melepas pegangan tangan Vina.


" Kok di lepas pegangan tangan Vina?" Ucap Vina heran.


" Nanti banyak orang mengira kita pasangan mesra. Papa enggak mau, orang berprasangka buruk pada kita."


" Biarkan saja mereka berpikir begitu. Yang penting kan kenyataanya tidak." Ucap Vina sambil memeluk lengan Papanya kembali dan menyandarkan kepalanya di bahu Wijaya.


" Vina..Sudah, Papa jadi geli." Bisik Wijaya agar Vina melepas pegangannya.


" Geli kenapa? Owh Vina tahu, sama anaknya sendiri Papa juga mau?" Ujar Vina lalu melepaskan lengan Papanya.


" Hussh.. " Wijaya kaget Vina bicara yang tidak-tidak lalu Wijaya menarik hidung anaknya.


" Aduh..duh.. Papa, sakit tahu.." Vina berteriak kesakitan.


" Salah sendiri bicara sembarangan."


" Ya kan Vina cuma menduga saja, Papa. Kalau memang iya, Vina juga pasrah. Terserah Papa mau melakukan apa sama Vina."


" Sttts.. diam, anak Papa ini sepertinya sudah mulai enggak waras. Bicaranya saja kacau. Sudah jangan dekat- dekat dengan Papa." Ucap Wijaya lalu menggeser posisi duduknya.


Vina mengikuti Papanya bergeser, lalu berkata, " Papa, jangan jauh-jauh dari Vina." Ucap Vina lalu memeluk Papanya dari samping.


" Vina, lepaskan Papa. Papa itu malu dilihat sama orang-orang." Ucap Wijaya berteriak namun menghilangkan suaranya.


" Ya sudah kalau Papa enggak mau sama Vina. Biar Vina cari yang lain saja." Ucap Vina ketus.


" Memang harus sama yang lain, Papa enggak mau melalukan dosa." Ujar Wijaya, lalu mengusap rambutnya berkali-kali karena susah, melihat sikap anaknya yang berubah.


" Berarti boleh Pa? " Vina terlihat gembira.


" Boleh kalau sudah menikah. Kalau belum, ya tidak boleh."


" Kalau belum menikah, tetap enggak boleh? Kenapa Pa?"


" Kamu sudah lupa dengan peringatan Papa dulu." Wijaya melotot ke arah Vina.


Vina terdiam lalu berkata,

__ADS_1


" Iya Papa, Vina ingat ancaman Papa."


" Bagus, kalau kamu masih mengingatnya. Papa tak segan menghukum kamu jika bertindak di luar batas." ucap Wijaya dan mengancam Vina lagi.


" Iya, Vina akan selalu mematuhi perintah Papa. Jangan khawatir.


Saat Vina dan Wijaya saling berbicara, manajer restoran mendatangi mereka.


" Mohon maaf, bisa mengganggu waktunya sebentar?" Tanya Seorang manajer wanita kepada Wijaya dan Vina.


" Oh, silahkan." Wijaya memberi waktu Manajer berbicara.


" Bapak dan Ibu muda ini dari tadi belum memesan makanan ataupun minuman. Jika hanya ingin mengobrol, silahkan di belakang restoran ini ada tempat untuk berdua. Tempatnya lebih nyaman dan aman daripada disini Pak." Ucap Manajer Wanita lembut namun tak sopan.


" Saya tahu anda menduga kami ini pasangan mesra kan? Makanya Anda mengusir kami dengan cara halus. Saya disini mau makan, bukan mengobrol. Dan asal Anda tahu, ini adalah Putri saya. Jangan sembarangan menduga." Ucap Wijaya marah, dan hampir saja menggebrak meja di depannya.


" Owh, maafkan kami Pak. Kami telah menduga demikian. Tetapi jika Bapak dan anak Bapak disini hanya mengobrol, silahkan di tempat lain saja Pak. Banyak yang sudah antri menunggu kursi kosong." Terang Manajer Wanita agar Wijaya paham dan mengerti maksudnya.


Mendengar kata-kata Manajer itu, Wijaya menjadi naik pitam. Dia berdiri dan ingin memukul si Manajer. Vina dengan sigap menahan Papanya sebelum mengayunkan tangannya kepada Manajer.


" Papa, jangan..." Teriak Vina, lalu merangkul tangan kanan Wijaya agar tak memukul Manajer perempuan itu.


" Lepaskan tangan Papa, Vina. Papa mau beri pelajaran Manajer kurang pendidikan ini." ucap Wijaya kesal.


Sementara itu Manajer perempuan yang membuat Wijaya emosinya meluap, hanya tertunduk dan diam. Sebagai karyawan senior, baru kali ini melakukan kesalahan. Dia siap menerima hukuman apapun setelah membuat masalah dengan pembeli di restoran tempatnya bekerja.


Mendengar keributan yang terjadi, Pemilik restoran datang ke tempat keributan itu terjadi.


" Ada apa ini?" Tanya Pemilik restoran.


Semua orang pun berdatangan, mengerumuni meja tempat Wijaya dan Manajer restoran berselisih.


" Maaf Pak, Ini semua salah saya." Ucap Manajer pada pemilik restoran.


" Biar saya saja yang urus. Kamu kembali saja ke tempatmu. "


" Baik Pak, Terima kasih." Ucap manajer, lalu kembali ke ruangannya.


" Kamu? Kamu Wijaya?" Tanya Pemilik restoran setelah melihat Wijaya.


" Wira?" Wijaya bertanya balik.


" Iya aku Wira."


Setelah memastikan kalau diantara mereka sudah pernah saling mengenal, Wira dan Wijaya berpelukan layaknya sahabat karib yang sudah sekian lama tidak pernah berjumpa.

__ADS_1


" Apa kabarmu Jay ? Kenapa enggak bilang kalau mau kemari. Ini restoran milikku. Usaha baruku setelah usaha yang lama mengalami kebangkrutan. " Ucap Wira basa-basi.


" Aku enggak pernah tahu kalau ini restoran milikmu.Sebelumnya aku pernah lewat sini, dan melihat- lihat sebentar dari luar.Ternyata tempatnya nyaman. Saat Putriku ingin makan di luar, tempat ini lah yang pertama jadi pilihanku." Ucap Wijaya menyanjung Wira.


" Tempat ini memang nyaman untuk di kunjungi, setiap hari banyak pengunjung datang kemari." Ucap Wira memuji restorannya sendiri.


" Pantas saja, kata Orangmu itu, kalau sudah banyak pengunjung, yang menunggu kursi kosong. Aku pun tak mempunyai tempat yang aman disini."


" Itu manajerku, Dia sudah lama ikut denganku. Dia termasuk orang yang bisa ku percaya dan bisa ku andalkan." Ucap Wira memuji manajer.


" Oh, Orang tadi manajer kamu?" Tanya wijaya pada Wira.


" Benar Jay, maafkan atas kesalahan manajerku."


" Tidak masalah, aku tidak akan memperpanjang Wir. Apalagi ini restoran kamu. Aku tak ingin mengacaukan tempat ini. Dan satu lagi, sebenarnya aku beberapa kali datang kemari. Ku pikir tempat ini masih milik orang yang sama. Ternyata sudah berganti pemilik. Dulu yang memiliki juga sahabatku." Ucap Wijaya.


" Terima kasih Jay. Benar Jay, Aku baru dua minggu membuka restoran ini. Pemilik sebelumnya, pindah tempat di tengah perkotaan. Aku yang mengalami kebangkrutan, sempat menghentikan usahaku.


Tetapi saat mendengar di tempat ini, di lelang, aku menawarkan diri untuk membelinya. Ya, walaupun sebagian uangnya aku dapat dari meminjam di bank. Tapi syukurlah, tempat ini sekarang banyak pengunjung, hanya dalam waktu kurang dari dua minggu, aku bisa mengembalikan pinjamanku. Owh iya malah keasyikan mengobrol, silahkan Kalian mau makan apa? Ini ada daftar menunya."


" Vina kamu mau makan apa?" Tanya Wijaya pada Vina.


" Vina enggak selera makan pa, tiba-tiba perut Vina terasa kenyang." Ucap Vina sambil memegangi perutnya.


" Apa mungkin kejadian tadi membuatmu tidak nyaman Nak?" Tanya Wira pada Vina.


" Tidak om. Ini sudah kebiasaan Vina kok." Jawab Vina lalu merapikan duduknya.


" Kita kesini kan mau makan, kalau enggak mau makan, untuk apa kita kemari." Ucap Wijaya heran.


" Maaf Papa, lain kali saja kita makan di sini." Ucap Vina seperti ingin pergi dari tempatnya duduk.


" E, kalau tidak mau makan tidak apa-apa. Kalian bisa pesan minuman saja. Silahkan pilih menu minuman yang kalian suka. Disini menyediakan berbagai menu." Ucap Wira menawarkan.


" Bagaimana Vin, mau pesan minum apa?" Tanya Wijaya lalu menyodorkan buku menu ke arah Vina.


Vina melihat dulu harga minumannya sebelum memesannya, dia kaget ketika melihat harga, teh manis saja delapan ribu.


" Haa.. cuma teh manis saja harganya delapan ribu rupiah?" Gumam Vina dalam hati.


" Ayo, lekas dipilih Vin. Kamu mau minum apa? Kalau enggak jadi, ya nggak usah kita beli. lebih baik pulang saja. Mungkin kursi yang kita duduki ini sudah ada yang menanti. Kita tak bisa lama-lama disini." Suruh Wijaya menyegerakan Vina memesan minumannya.


" Tidak apa-apa Jay, malam ini kursi dan meja ini untuk kalian. Jangan tergesa-gesa untuk meninggalkan tempat ini." Ucap Wira lalu menahan Wijaya dan Vina yang seperti hendak meninggalkan tempat itu.


......................

__ADS_1


__ADS_2